Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
92. Restless


__ADS_3

Sendirian bukan berarti kamu kesepian dan kesepian bukan berarti kamu sendirian.


 


*****


 


Handoyo memasuki rumahnya hampir pukul 10.00 malam. Lelah hati dan tubuhnya makin terasa ketika ia memasuki rumah itu dan hanya disambut oleh Mbak Siti, sang asisten rumah tangga. Mandi dengan air hangat mungkin akan menyegarkan tubuh dan mengurangi lelah hatinya.


Setelah mandi dan berpakaian, Handoyo membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Namun pertemuan dengan Jendral Gaffar membuat Handoyo  berfikir ulang tentang musibah yang dialami Lidya dan keluarganya. Apakah benar tidak ada kaitan dengan asal usulnya ataukah hanya suatu kebetulan saja?  Ingin berbagi rasa tapi tidak ada satupun orang yang bisa dibaginya kegundahan hatinya.


Lidya. Sudah berapa lama kamu tak hadir lagi hadir di mimpiku. Apakah perasaanku sudah bergeser ke wanita lain? Kenapa aku tidak mengingat wajahmu lagi? Kenapa sekarang yang ingin kulihat adalah Nadia. Apakah aku mulai menyukainya dan merindukannya?  Apa yang terjadi dengan hatiku?" Handoyo meremas rambutnya dengan frustasi.


Rasa kantuk yang menghilang membuat Handoyo bangkit dari ranjangnya. Dinyalakan televisi di kamar itu dan ternyata  terdapat siaran berita mengenai aktifitas pemimpin negara ini yang sedang melakukan rapat dengan para gubernur, setelah itu pria yang terkenal akan senyumnya melakukan perjalanan ke suatu desa di daerah Jawa Barat, yang merupakan penghasil padi unggulan dan merupakan lumbung  padi nasional


Handoyo memperhatikan wajah pria yang sedang berbicara di televisi itu.  Pria itu terkesan ramah, bijak dan menyenangkan.  Dia sepertinya begitu dicintai oleh rakyatnya.  Pasukan pengawal di sekelilingnya menjaganya ekstra ketat dan belum lagi sang istri selalu mendampinginya.  Bagaimana jika akhirnya ia bisa menemuinya? Apakah ia sanggup memandangnya? Atau mampukah ia menggerakkan pistolnya untuk menembak pria yang jelas-jelas adalah keluarganya. Tapi apa mungkin dia mampu menggapai pria itu dan berada di sekitarnya dan bertanya alasannya. Apakah mimpinya benar, bahwa ia akan gagal dan mengakibatkan Nadia meninggal.


Dering telephone rumah itu kembali berbunyi. Handoyo bangkit dan menuju meja tempat telephone itu diletakan. Ia berharap bahwa itu merupakan telephone dari Nadia. Suara dering telephone itu seolah menambah energinya di malam itu.


Pada panggilan ke lima telephone itu sudah diangkat oleh Handoyo. Dan ketika Handoyo mengangkatnya ternyata sudah dimatikan oleh orang yang menghubunginya. Sedikit kecewa Handoyo terdiam di kursi samping telephone itu. Namun tidak beberapa lama telephone itu berbunyi kembali.


Kring....


"Hallo." Handoyo mengangkat telephon itu dengan cepat.


"Mas Han belum tidur ?"


Handoyo tersenyum mendengar suara orang yang telah dinantinya semenjak tadi. Nadya benar-benar menghubunginya.


"Baru bangun... tapi ketika kuangkat telephone sebelumnya langsung mati. Untungnya, kamu telephone lagi?"


"Maaf tadi aku lupa mematikan kompor, aku sedang masak air untuk bikin teh. Rasanya enak minum teh malam-malam."


"Bener juga ya, Nad... enak juga kalo kita minum teh bersama-sama. " Kapan nih kita ketemu lagi ?"


"Tunggu ya, aku masih ada urusan disini."


"Kamu gimana keadaanmu disana , Nad? " Apakah tugasmu berat mendampingi Big Mama?"


"Biasa aja. sih, cuma memang aku harus mendampingi Big Mama untuk bertemu beberapa orang yang memang berkaitan dengan Diamond Grup, terus kami pulang agak sore di hari ini , sehingga bisa menikmati untuk mengunjungi salon, oh iya tadi  Big Mama menyuruhku menghubungi Mas Handoyo pada malam ini dan memberikan infonya pada mama, besok pagi  ...Gimana pertemuan tadi  dengan Jendral Gaffar?" Apakah berjalan dengan sukses?" Apakah dia mempersulitmu , mas Han?"

__ADS_1


"Oh.. "Handoyo kecewa mendengar penjelasan Nadya. Ternyata wanita itu menghubunginya karena diperintah oleh Big Mama.


"Nad, katakan pada Big Mama bahwa semua sesuai rencana, besok aku akan dicek kesehatan dan DNA di Rumah sakit Gatot Subroto... Jendral juga  tadi mengajakku ngobrol beberapa hal soal masalah pertengkaran dengan Big Mama, dan memintaku untuk membantunya mendamaikan,  Itu saja sih , Nad."


"Baiklah terimakasih atas infonya, sekarang  mas Handoyo harus istirahat, biar tes kesehatan besok memperoleh hasil yang baik." Aku tutup ya telephonnya..


"Nad... tunggu dulu ...Nadya tunggu...


" Ya , Mas Han, apakah ada hal lain yang mau kau sampaikan ? "


"Emh... kamu kapan balik ke Jakarta sih?"


"Mungkin dua minggu lagi mas Han? Apakah mau dibelikan sesuatu dari Semarang?"


"Gak usah... tapi bisakah kita tiap malam untuk ngobrol sebentar mengenai aktifitas kita?" Atau bagaimana caraku menghubungimu disana?"


"Mudah-mudahan ya mas Han, aku saja yang menghubungimu, karena tempatku berubah-ubah sedang mas Handoyo kalo malam kan sudah senggang ...  jadi aku usahakan menghubungi mas Handoyo  jika aku tidak ketiduran... sekarang mas Han, harus istrirahat dulu ya !"


"Baik, nadya. Selamat malam dan selamat istirahat."


"Kamu juga mas Han, selamat istirahat!"


 


Handoyo sama sekali tidak bisa tertidur malam itu. Sekalipun dirinya sudah sengaja memejamkan matanya tapi entah mengapa pikirannya tidak berhenti bekerja. Wajah Jendral Suhartono, Jendral Gaffar dan Nadia bergantian sehingga membuat kepalanya terus bekerja.


Entah pukul berapa akhirnya Handoyo terlelap. Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Handoyo akhirnya terjaga. Mbak Siti membangunkannya pagi ini karena Viana sudah datang dan menunggunya.


"Pak Adiguna.... Pak Adiguna... " Suara Mbak Siti sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Ya Mbak,"


:"Ini sudah jam 6 .30 pak, dan Ibu Viana sudah datang menunggu Bapak."


"Ya, Mbak Siti... katakan padanya, aku mandi dulu !"


Handoyo bangkit dari ranjangnya dan harus memulai aktifitas paginya. Hari ini ia tidak hanya ke kantor tapi ia harus juga menemui Jendral Gaffar di RS Gatot Subroto. Setelah selesai berpakaian, Handoyo segera keluar kamarnya dan ia melihat Viana sudah menunggunya di meja makan. Sedikit terkejut ketika wanita itu memberikan informasi dari Nadya dan membuatnya sedikit bahagia di pagi ini.


'Selamat pagi Pak Adiguna... maaf kemarin Mbak Nadia menghubungi saya dan meminta membelikan bapak menu sarapan pagi yang paling Bapak sukai dan sangat cocok untuk sarapan bapak. Menurut Mbak Nadia , Bapak sangat menyukai bubur ayam untuk sarapan pagi , jadi tadi pagi saya sengaja  belikan bubur ayam dari Blok M ini katanya langganan Bapak...  kata mbak Nadia, sarapan bubur ini harus lengkap dengan sate-satenya, biar semangat nanti tes kesehatannya."


Handoyo terkejut mendengar perkataan itu. Dia tidak menyangka Nadia sampai memikirkan sampai sedetail itu. Sesungguhnya ia tidak rewel tentang makanan apapun , tapi Nadia pernah mengajaknya makan bubur ayam di wilayah Blok M dan ia memang menghabiskan beberapa porsi dan beberapa tusuk sate. Hatinya menjadi menghangat mendengar penjelasan Vania itu.

__ADS_1


"Oh terimakasih Viana, maaf merepotkanmu!"


"Mari kita sarapan dulu pak, karena ada beberapa hal yang harus kita diskusikan setelah sarapan , karena bapak hari ini cukup padat kegiatannya!"


"Baiklah Viana."


Handoyo segera menikmati sarapan bubur ayam itu sambil tersenyum menatap bubur ayam yang dibawa oleh Viana. Pikiran Handoyo melayang mengingat momen kebersamaan dengan Nadia beberapa waktu yang lalu. Semoga dirinya tidak salah menerka tentang Nadia. Pagi ini hatinya menjadi hangat dan semangat kerjanyapun mendadak hadir seolah Nadia yang menemaninya sarapan pagi.


 


 


 


******


 


 


 


 


Happy Reading Guys!!" Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks before. Love you , guys!"


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2