Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
90. Reaching out a dream


__ADS_3

Jika salah satu mimpimu itu  jatuh dan hancur berkeping-keping, jangan pernah takut untuk mengambil salah satu dari kepingan itu dan memulai lagi dari awal. Itulah awal keberhasilanmu !"


 


 


*****


 


Ballawa terkejut ketika mendapat informasi dari Dody dan Leeroy di pagi itu, bahwa mereka akan balik lagi ke Jakarta. Perjalanan ke Palembang di batalkan dan diundur jika misi utama Mas Pram sukses .


Menurut perintah mas Pram pada Dody dan Leeroy, , subuh tadi Dody diminta mencari dimana Nana berada. Dan Dody sudah meminta kepada beberapa rekannya untuk mencari info dan berita terdekat adalah Nana masih bekerja di tempat yang sama dan itu berarti ada di Jakarta.


Sudah sejauh ini,menempuh perjalanan  dan ternyata harus balik ke Jakarta. Benar-benar tugas yang tidak jelas di pikiran Ballawa terhadap pria yang merupakan anak pemimpin negara ini. Seharusnya pria sepertinya mampu menjaga martabat ayahnya. Ballawa hanya mampu menarik nafas ketika mendengar berita pagi itu.


"Jadi Ball, kita ini akan sering mengalami ketidakjelasan tugas jika bersama mas Pram... tapi panglima kan sudah berpesan pada kita agar selalu menjaga dan melindunginya !" Leeroy berusaha menyikapi dengan bijak karena ia melihat sorot kemarahan di mata Ballawa.


"Aku tak masalah jika harus balik lagi, tapi harus jelas balik itu alasan apa?"  Masakah hanya mencari seorang wanita ?'


"hei.... wanita itu yang membuatku dinyatakan gagal , Bal.." Sahut Dody cepat. "Sudahlah kita  ikuti saja kemauan mas Pram... ribet kalo kita gak patuh dan gak bisa menemukan mbak Nana, maka selesailah misi dan karirku ini !"  tolonglah Ball... aku harus membiayai dua adikku yang masih sekolah semenjak ayahku meninggal... jadi bantuku menemukannya dan terlebih jika Mas Pram bisa menikahi mbak Nana!"


"Baiklah... kita temukan wanita itu !" Kau ada fotonya ?" kerja apa dia?"  Ballawa berusaha mencari tahu berkaitan dengan tugasnya.


"Ini dia yang paling sulit, wanita itu kerja di salah satu perusahaan istrinya Jendral  Gaffar dan rasanya wanita itu kepercayaan dari istrinya,... aku tak tahu detailnya tapi yang kutahu Mbak Nana itu dulu dekat sekali sama Mas Pram, hingga ada satu kejadian... tapi entahlah,... aku takut salah, intinya mereka berpisah<'


"Maksudmu Dod?"


"Waktu itu aku hanya mengantarkan mbak Nana yang sedang menangis dan pakaiannya robek-robek keluar kamar mas Pram... terus  kutanya sama Mbak Nana sambil kuberikan jaketku pada Mbak Nana... tapi mbak Nana gak menjawab apapun..... besoknya mas Pram memecatku dan mengatakan bahwa aku menyukai Nana di depan ayahnya... aku bisa apa? Aku dibawah todongan senjata... aku cuma mengantar Mbak Nana pulang... itu saja... tapi  Jendral Gaffar menyuruhku mengaku..."


"Harusnya kau berkata sebenarnya Dod," Sahut Leeroy pelan.


"Kalo kau dibawah tatapan mata Jendral Suhartono, kau akan takut !"  Dody berkata dengan sedikti frustasi.


"Hei... sudah hentikan... mas Pram keluar dari pendopo, siap-siaplah" Sahut Andre pelan dan menyadarkan mereka semua dan siap di posisi.


Mas Pram memasuki mobilnya dan membiarkan semua anggota timnya masuk ke mobil. Semua hening di dalam mobil itu ketika mobil yang dikemudikan Leeroy sudah mulai berjalan. Mas Pram berusaha memejamkan matanya namun tak bisa. Ia merindukan Nana dan merasa bersalah pada wanita itu.


"Dod... kamu sudah dapat info tentang Nana?"

__ADS_1


"Belum mas, tapi dari temanku yang bertugas sebagai intel, dia masih tinggal di rumah lamanya, cuma katanya sedang ada tugas perjalanan ke luar kota, Mas... tapi temanku saat ini sedang mencari informasi ada di mana sekarang tugas luar kotanya mbak Nana ,"


"hemm.." Ballawa tersenyum mendengar informasi itu. Matanya tetap terpejam seolah dia kurang tidur.


Pramono sedang membayangkan Nana dan ia merasa wanita itu marah karena tindakannya yang cukup memalukan di akhir pertemuan mereka hingga menolak panggilan telepon ataupun menolak kedatangannya ke rumah Nana. Namun Pramono merasa setelah berjumpa kakeknya, Pramono mendapatkan sebuah kebranian, semangat dan energi baru untuk memulai hubungan baru dengan Nana.


"Tunggu aku Na... aku pasti menemukanmu !"  Ujar Pramono dalam hati.


Tiba-tiba Pramono tersentak seolah mendapatkan ide lain dan menugaskan sang ketua tim-nya yang baru.


"Ballawa... kudengar dari jendral, ide-idemu suka cemerlang.... bantu aku untuk menemukan Nana dan buat dia kembali padaku dan jika dia menjadi istriku, tugas kalian sebagai timku semua selesai dan aku akan meminta pada ayahku, untuk mengembalikan kalian ke tim di satuan tugas kalian,"


"Akan kucoba, Mas Pram !"


"Aku gak mau tahu bagaimana caranya, Ball... tapi saya ingin menikahinya di tahun ini dan waliku adalah si Kakek, sebelum kakek meninggal... jadi kalian yang harus bekerja keras  dan bekerja cepat !"


"Mas Pram... wanita akan lebih senang jika prianya yang menghampiri... saya akan susun rencana, tapi yang menjalankan semua kegiatan harus mas Pram, supaya Mbak Nana bersedia menjadi istri mas Pram, dan merasa dicintai Mas Pram.." Ballawa berkata dengan tegas dan menatap pria yang masih mendengarkan dengan mata terpejam.


"Kau rupanya pengalaman juga menaklukan hati wanita, Ball ?" Leeroy berkata seolah meledeknya. "kau sudah menikah ?"


"Ya, aku sudah menikahi sejak 3 tahun yang lalu." Ballawa berkata dengan tenang dan memandang teman seperjalanannya yang terkejut dengan ucapannya.


"Woow..." Andre tersenyum kagum


"Mas Pram, jika ingin misi kita ini berhasil dan membuat Mbak Nana mau menikahi Mas Pram, boleh saya tahu, apa yang menyebabkan Mbak Nana berpisah dengan Mas Pram?" Ballawa berusaha tenang dan  memberanikan bertanya pada pria itu.


"Dody yang menggodanya... jika bukan karena aku kasihan pada keluargamu, Dod... kau sudah mati ditembak," Pramono berkata dengan penuh kebencian pada Dody.


"Iya Mas... maafkan aku," Sahut Dody lirih dan terus menatap jalanan berupaya fokus pada lalu lintas karena ia yang bertugas mengemudi.


'Dod... "Ballawa memandang rekannya yang duduk di sebelahnya itu  dengan tatapan tidak suka karena mendukung pembohongan yang dilakukan oleh Mas Pram.  "Katakan apa yang terjadi sebenarnya?" Kau ingin misi ini sukses atau gagal?" Katakan semua yanng kau ketahui dan lakukan , aku ingin kau berkata dengan jujur!"


Doddy terdiam dan pandangan matanya melirik kaca spion tengah. Ia bingung berkata di depan pria yang seolah tertidur tapi memojokannya. Sementara Ballawa menuntut untuk mengatakan kejujurannya. Apakah ini upaya Ballawa membantunya atau menghancurkannya.


"Dod... kau ingin gagal atau berhasil misi ini?" Kau tidak ingin Mbak Nana menikahi mas Pram?" Ballawa berkata dengan nada menyindir seolah tidak mendengar ceritanya pagi ini.


Dody mengedipkan mata sambil menggeleng seolah meminta Ballawa tidak mendesaknya kembali. Ia memahami pria ini menuntut perkataanya yang seperti tadi pagi tapi beranikah dia menjawab pertanyaan itu. Mas Pramono bisa ngamuk ataupun menembaknya saat ini. Bagaimana ibu dan adik-adiknya nanti? Ah.... berengsek kau Ballawa!


'Dod..." Ballawa berkata seolah tidak tahu apa-apa dan tatapannya makin tajam pada Dody yang seolah fokus mengemudi.

__ADS_1


"Aku  cuma mengantar mbak Nana pulang hari itu, karena Mbak Nana menangis dan  bajunya agak robek dan kacau, jadi aku meminjamkan jaketku padanya !"  Dody akhirnya berkata yang sejujurnya.


"Kenapa Mbak Nana menangis Dod?" kenapa bajunya bisa robek dan kacau,  Apa yang kau lakukan padanya ?" Kau harus gentle mengakui kesalahanmu, Dod!" jangan bicara sepotong-sepotong!"


"Aku tidak tahu kenapa dia menangis... tapi aku cuma melihatnya sudah seperti itu... entahlah" ... aku cuma ingin membantunya saja... aku tak tahu, sungguh Ballawa, aku hanya tahu itu.."


Dody berkata sambil terus melirik kaca spion tengah itu dan seolah berharap pria itu benar-benar tertidur. Dody benar-benar pasrah apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Aku yang melecehkannya !" Jadi aku ingin Kau yang membereskannya , Ballawa... terserah bagaimanapun caranya, saya mau menikahi Nana dan kau yang pikirkan caranya, kalau tidak aku akan membunuh seluruh keluargamu dengan tanganku sendiri!"


"Mas Pram..." Ballawa mulai terpancing emosi. 'Mas  ini bukan urusan yang mudah, mas Pram, harus belajar mengendalikan diri, kita dalam menghadapi wanita itu tidak bisa dengan ancaman... jadi mas Pram mau misi ini berhasil atau tidak? JIka ingin misi ini berhasil lakukan dengan caraku, dan jika misi gagal, mas Pram boleh bunuh aku langsung di depan tim ini, Bagaimana?" Ballawa berkata dengan nada memerintah dan semakin berani untuk melawan pria yang benar-benar menurutnya agak aneh dan arogan.


Ballawa sudah tidak suka dengan segala intimidasi dari pria ini. Ia harus menghentikan tindakan sewenang-wenang pria aneh ini. Mas Pram yang semula memejamkan matanya akhirnya membuka matanya dan melihat pandangan Ballawa yang sedang menuju kearahnya. Ada aura ketegasan disana.


"Baik , aku akan ikuti caramu!" Aku pegang ucapanmu, Ball ... dengar kalian semua !" Kalian yang menjadi saksi ucapan pria ini... aku suka akan kebraniannya menantangku... ingat kalo kau gagal membuat Nana kembali padaku, maka tahun depan kau ayng  akan mati di tanganku... itu sebanding dengan harga diriku, yang memintaku untuk patuh padamu!"..... Deal" Mas Pram menyorongkan tangannya ke arah Ballawa dan Ballawa  -pun  menyambutnya dengan genggaman erat.


"Aku akan membuatmu bisa menikahi Nana dengan terhormat, selagi dia belum menikahi pria lain." Balalwa berkata dengan penuh keyakinan dan membuat ketiga temannya yang di dalam mobil terperangah atas kebranian Ballawa.


"Aku setuju dengan semua usulmu, Ball....dan akan mendengarkan semua ucapanmu,asal impianku menikahi Nana tercapai!"  Pramono berkata dengan senyum penuh arti.


 


 


*****


 


Happy reading Guys !"


Terimakasih telah membacanya dan mau mendukung selalu. Boleh tinggalkan jejak disini?" Thanks a lot.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2