
Kita memiliki tanggung jawab untuk membantu orang di sekitar kita dan membantu orang lain yang membutuhkan.
Biar bagaimanapun aku berhutang padamu, hiduplah dengan baik!
*****
Anneke yang sedang menggendong Livia, bayi perempuannya dan Nicky yang semakin beranjak besar, baru saja akan turun dari taxi yang mengantar mereka menuju kantor Warmen. Mereka terkejut ketika Taxi yang mereka tumpangi ditabrak mobil kijang dan itu mendorong taxi sampai beberapa meter.
Ketiganya berteriak panik dan berpegangan pada pintu mobil yang disamping mereka dan Anneke memegang pula pada kepala Livia yang awalnya terlelap menjadi menangis. Sopir taxi yang ditumpangi berusaha menginjak rem namun terdorong mobil di belakangnya, sehingga dercitan suara mobil menjadi berisik di jalanan.
Bum... hingga taxi menabrak dinding tembok di salah satu pertokoan yang letaknya tidak jauh.
Dug, dan kepala Anneke terbentur kaca jendela mobil namun bayinya masih dalam dekapannya. Anneke seolah melayang dan samar mendengar jeritan bayi dan Nicky yang bergantian.
"mama... mama Anne... Nicky takut... Mama... Mama bangun !" teriakan Nicky di telinganya, dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Anneke terpejam dan seolah melayang akan terbang tapi suara itu masih berputar di sekitarnya.
"oe... oe... oe.... "tangis bayi yang dudekatnya bersuara kencang juga tidak mampu membuat Anneke terjaga.
Hingga Anneke merasa ada yang memapahnya, dan suara berat pria itu juga samar terdengar. Entah siapa tapi Anneke merasa melayang dan begitu ramai suara orang bising disekitarnya.
"Ada kecelakaan... itu sopir kijang di belakang mati tergencet...
"Untung dua anak ini gak kenapa-kenapa, Gusti Allah masih melindungi. ... Ibunya terluka parah!" Seru seseorang lagi yang ada di sekitarnya.
"Mama bangun..!" Mama... Bangun... kita harus pergi ke kantor papa, ma!"
Suara Nicky masih bergema di sekitarnya. Entah mengapa Anneke tidak mampu membuka matanya. Ia ingin segera menjawab dan menolong anaknya, tapi mengapa ia tidak memiliki tenaga. Lemah sekali dan ia merasa melayang,
Seolah putih di sekitarnya. Hening Sesaat tapi terdengar dengungan suara orang bercakap-cakap kembali.
"Permisi... aku keluarganya... Aku akan membawanya ke rumah sakit!"
"Oh untunglah ada keluarganya," Suara orang lain lagi berdengung kemudian suara tangisan masih ada.
"Nicky... kamu ingat aku?" Aku Om Adi... ingat yang waktu itu kita jalan-jalan dan bermain di kolam belakang dan bermain tembak-tembakan di kampung.... Sekarang kamu pergi ke papamu,... kamu berlari ke kantor Amang-mu itu.... tidak jauh dari sini, suruh ia ke rumah sakit PELNI ... Dengar kau harus berani dan ceritakan semua pada Amangmu, Aku akan membawa mamamu ke rumah sakit itu!" Cepetan ya!"
"Ya om."
Anneke merasa tubuhnya diangkat seseorang dan dia kemudian tidak tahu lagi apa yang terjadi. Apakah aku buta? Apakah aku akan mati? Bagaimana dengan anak-anakku nanti? Aku harus segera sadar... tapi kenapa tubuh ini tidak bisa bekerja sama dengan otakku?"
"Anneke... "panggil suara yang sudah lama tidak pernah didengarnya lama sekali sehingga membuat Anneke menoleh ke arah sumber suara.
Sedikit terkejut Anneke melihat Ayahnya yang sudah lama tidak dijumpainya. Pria itu terlihat gagah dan lebih muda daripada masa ia temui terakhir kali.
"Ayah... kenapa ayah bisa ada disini?" Anneke merasa bahagia melihat ayahnya kembali
"Aku akan menjemputmu nak... dunia ini terlalu keras untukmu... ibumu sudah menunggumu...!" Sahut Setiono pelan.
"Apakah disana menyenangkan Ayah?"
"tentu saja... kau bisa melihatnya nanti... aku punya hadiah yang sangat kau impikan..."
"Aku mau ayah....tunjukkan jalannya!"
******
Nicky berlari sangat kencang dari lokasi kecelakaan itu menuju kantor papanya, "Warman Amsterdam Sitompul & Partner" Ia tidak berfikir mampu berfikir panjang, yang penting mamanya selamat.
Pesan pria itu adalah,segera pergi ke papa dan segera ke rumah sakit PELNI. Dan itu ayahnya tepat berdiri di depan kantor sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Warmen tampak sedang berbicara dengan petugas keamanan di depan kantornya dan ia baru mendapat info mengenaii terjadinya tabrakan beruntun di depan kantornya. peristiwa itu imulai dari Taxi yang berhenti di pinggir kantor, kemudian diseruduk oleh kijang tua dan sebuah truk kontainer yang diduga mengalami rem blong. Taxi yang akan menurunkan penumpang itu terdorong hingga beberapa meter dan menabrak dinding pusat pembelanjaan yang letaknya tidak jauh dari kantor Warmen.
"Amang... Amang... Amang," teriak Nicky yang masih berlari kencang dan itu membuat Warmen terkejut.
"Nicky... Nicky... kenapa kamu berlarian? Mana Mama Anne?"
Nicky langsung menubruk ayahnya dan ia sibuk mengatur nafasnya."Amang kita harus ke rumah sakit ... ayo... ayo amang !" Mama Anne terluka dalam kecelakaan dan adik bayi juga.... kita harus segara susul mereka>"
"Hah... tunggu kau ceritakan yang benar dulu!" Bagaimana awalnya?"
"Tadi kami mau turun dari taxi, terus kami akan turun dan membuka pintu taxi disini... terus... mobil ditabrak dari belakang dan kami berpegangan pada pintu... kepala mama sudah berdarah... dan kupanggil-panggil tadi... mama diam saja... dan adik bayi juga kepalanya berdarah...Ayo Amang kita ke Rumah Sakit!"
__ADS_1
Warmen shock mendengar penjelasan Nicky dan segera berteriak memanggil sopirnya untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Kakinya mendadak lemas dan jantungnya berdetak kencang.
" Antar kami ke lokasi kecelakaan. Pak !" Kita lihat dulu ke sana!"
"Baik Pak Warmen!"
Bagaimana jika Anneke akhirnya meninggal dan ia tidak sempat berpamitan dengannya? Bagaimana juga dengan Livia, buah cinta mereka yang kata Nicky terluka? Oh Tuhan , Tolong kami!" Warmen terus berbicara dalam hati dan seolah kecemasan memuncak sehingga ia tidak mampu berfikir jernih.
Warmen terus berdoa dalam hatinya dan ia merasa takut kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Baginya Anneke adalah separuh jiwanya yang selalu ada untuknya. Ia tak sanggup kehilangan orang sebaik Anneke. Sebuah jemari kecil menyentuhnya.
"Amang... Om Adi bilang kita menyusulnya ke Rumah sakit PELNI saja!"
"Siapa Nick ?'
"Om Adi... dia yang dulu mengajak kita jalan-jalan dan bermain di kolam belakang rumah Om Alex dan bermain tembak-tembakan di kampung itu lho!"
Warmen tersentak ketika mendengar penjelasan Nicky. Adi?" Adiguna-kah itu? Semoga saja benar-benar temannya itu yang menolong istrinya.
"Pak kita langsung ke rumah sakit PELNI!" Warmen langsung meminta sopir mengarahkan pada tujuan yang diminta oleh Nicky.
Hanya 10 menit saja perjalanan mereka dan sudah tiba di rumah sakit PELNI. Ketika Warmen tiba, ia langsung berlari menuju gawat darurat, dan terlihatlah Handoyo sudah menantinya.
"Han... untung kau ada di sana dan membantu anak dan istriku, terimakasih ya!"
" Sudahlah itu nanti kita bicarakan .... sekarang kamu cepat temui dokter yang sudah menantimu untuk tanda tangan operasi bedah... Anneke sedang kritis dan kurasa harus segera mendapat tindakan."
'Thanks bro!" Aku titip Nicky ya!"
"Ya.
*****
"Ayah.... taman ini begitu indah tapi kenapa disini tenang sekali?" Apakah tidak ada orang lain yang bisa masuk taman ini?"
"Ya ... disiniadalah tempat khusus dan tidak boleh sembarangan orang datang, Ne."
"Kau suka Ne?" Ibumu akan datang sebentar lagi!"
Anneke mengangguk riang. Namun sebuah suara seolah berbisik ditelinga kanannya. Suara yang dikenalnya dan hampir menggoyahkan semangatnya untuk menemui ibunya.
Bisik suara itu seolah memanggil namanya berulang kali.
"Anneke... Ne... kembali... kami semua menunggumu... Anneke kembalilah !" Anne .. tolong kamu sadarlah... Livia dan Nicky membutuhkanmu!"
"Ayah... apakah kau mendengar sesuatu?
"Tidak anakku. Kenapa? Apakah ada yang kaudengar?"
"Sebuah suara yang memanggilku ayah dan memintaku kembali.. tapi aku tak tahu kembali ke mana dan siapa?"
Anneke dan Ayahnya saling menatap dalam keheningan. " Kamu tak ingat, Nak?"
"Tidak Ayah... entahlah... suara itu seperti memanggilku dalam tangisan... aku merasa tak nyaman mendengar suara itu.. aku harus menemuinya, Ayah !"
"Tugasmu memang belum selesai di dunia Nak... ada empat orang yang menantimu disana?" Kamu mau pilih kemana? Apakah mau disini bersama kami atau selesaikan tugasmu dahulu , baru menemani kami disini?"
Anneke terdiam kembali. Ditatapnya pria yang sangat disayangi dan dibencinya itu. Pria yang amat dirindukannya.
Tugas apa yang belum diselesaikannya di dunia. Bukankah kita memang berada di dunia. Kenapa ia harus memilih? Bukankan kita masih bisa bersama dan menyelesaikan seluruh tugas bersama-sama dengan kedua orang tuanya.
Mengapa Ayahnya ini aneh sekali. tapi bukankah sedari dulu ayahnya adalah pria aneh yang punya banyak rencana. Pria besar dimasanya yang begitu ditakuti oleh anak buahnya. Bagi orang-orang , ayahnya adalah Jendral yang kejam tapi bagi Anneke, Ayah adalah pria yang hangat dan pengertian,
"Ayah... bisa antar aku menyelesaikan tugasku seperti dulu saat aku masih sekolah , ayah?" Ujar Anneke sambil tersenyum mengingat masa lalunya selalu sekolah di antar ayahnya
"Baiklah... aku yang akan mengantarmu!" Bilang pada temanmu disana... untuk menjagamu dan katakan pada mereka Biar bagaimanapun aku berhutang pada kalian semua , hiduplah dengan baik!"
"tentu saja... kami hidup dengan baik, ayah!"
*****
Anneke membuka matanya seolah tertidur sekian lama. Ruangan itu serba putih dan sedikit berisik menurut pendengaran Anneke. Ia merasa haus dan ingin sekali minum. Matanya melirik dan melihat seseorang di sampingnya tengah berdoa menutup mata, mulutnya berkomat-kamit dan ia tidak dapat mendengarnya.
Nut... Nut... Nut... berulangkali berdenyut dari Suara mesin di sampingnya ikut membuat Anneke teralihkan dari pria yang berdoa dengan menggenggam tanganya.
__ADS_1
"Abang..." Panggil Anne pelan sambil menggerakkan tangan yang sedang digenggam suaminya
"Puji Tuhan ... Anne...kamu telah sadar, Ne !" teriak Warmen sedikit histeris, dan itu membuat Nicky dan Handoyo yang berbaring di sofa terbangun dan seraya bangkit menuju tempat Anneke.
"Abang yang memanggilku tadi ketika Anneke bersama Ayah!"
"Untunglah aku tadi berdoa terus... karena kata dokter, jika sampai besok kau tak sadar, ne... maka kami akan kehilanganmu, ne !'
"terimakasih abang sudah mendoakanku... Bagaimana Livia dan Nicky?"
'Mama Anne.. aku disini... aku dan Om Adi mendoakan juga supaya mama cepat sembuh !" Timpal Nicky dengan semangat.
"Livia ada di ruang perawatan bayi dan yang membawamu ke rumah sakit adalah Adiguna, ne!" Warmen menjelaskan sambil menggenggam jemari istrinya.
"terimakasih bantuannya Pak Adi... maaf kami selalu merepotkan Pak Adi seperti dulu... !"
'Tidak apa-apa.. seharusnya aku yang berterimakasih kamu selamat. Biar bagaimanapun aku berhutang padamu, hiduplah dengan baik, Ne !"
Anneke tersentak mendengar ucapan Adiguna. Ia teringat ucapan sang Ayah tadi. Mengapa ucapan itu sama seperti Ayahnya barusan. Kemana Ayahnya kini?" Anneke menoleh pada pintu keluar dan ia melihat Ayahnya tersenyum disana.
Pria yang tadi sebelumnya dilihatnya begitu muda sekarang menjadi sangat tua dan terkesan pucat. Mengapa berbeda. Apakah dunia ini membuat dirinya kesakitan. Anneke merasa bersalah melihat Ayahnya melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Ne... kamu melihat apa?" tanya Warmen sambil melihat ke arah pintu.
Bagi Warmen tidak ada siapapun disana. " Sayang?" Anne... Katakan pada abang.. ada apa?"
"Ada ayahku di sana... dia bicara yang sama dengan apa yang Pak Adi katakan tadi."
"maksudmu Ne?"
" Ayah Bilang tadi padaku untuk menyampaikan pada abang dan Pak Adi ... untuk menjagaku dan juga kata-kata yang sama dengan Pak Adi tadi.... Biar bagaimanapun aku berhutang pada kalian semua , hiduplah dengan baik!"
Warmen dan Adiguna berpandangan. Mereka sedikit lega,s eolah restu telah diberikan pada Warmen, mereka berdua saling tersenyum satu sama lain.
"Aku rasa, Ayah merestui kita, dan pastikan aku menjagamu dan anak-anak kita, Ne!"
"Terimakasih Anneke... Maafkan kesalahanku di masa lalu." Handoyo berkata pelan dan kemudian ia juga menatap ke arah pintu yang terlihat kosong tanpa ada siapapun.
Anneke diam seolah tak mengerti. " Apakah kamu adalah orang yang terlibat di kematian ayahku?"
"Ya... aku memang terlibat dalam peristiwa ayah dan kakakmu itu." Ujar Handoyo dengan tegas. "Kamu layak membenciku, Ne!"
"Apakah kamu adalah pembunuhnya?"
"Ya... Aku adalah manusia kejam itu... jika kamu mau... kamu bisa membunuhku sekarang.. aku tak keberatan... tapi jangan salahkan Warmen, dia tak tahu apa-apa. "
"Jadi kamu adalah....orang yang dibilang cepot berdarah?"
"Ya.. itu aku... maafkan aku adalah orang yang kejam dan brutal." Adiguna berkata dengan pelan.
Nicky langsung menyela dan menghampiri Mamanya itu. ia tidak rela mamanya membenci Adiguna. "Tidak.. Om Adi adalah orang baik , Mama Anne... dia yang menolong kita ketika kecelakaan itu.... dia yang memintaku berlari ke kantor papa dan dia yang membawa mama ke rumah sakit... dan dia yang meminta papa untuk terus berdoa."
Anneke tersenyum mendengar pengakuan jujur Adiguna dan perkataan Nicky. Entah mengapa perasaan dendam itu mendadak hilang dan yang ada sekarang, ia begitu mengasihnya. Terlebih perkataan ayahnya yang seolah menegaskan sudah tidak ada dendam diantara mereka.
"Ayahku bilang tadi... hiduplah dengan baik dan maafkan ayahku juga !"
"Terimakasih Anneke!"
"Boleh aku memanggilmu.. Mas Adi?" Aku ingin menganggapmu kakakku sebagai pengganti kakakku yang meninggal ?"
"tentu saja aku mau. ... tapi jika suamimu mengijinkannya?" Handoyo menoleh pada Warmen ayng tengah mengawasinya.
"Aku tak keberatan selama kau tak jatuh cinta pada istri dan ibu dari anak-anakku, ya Han!"
"Ada-ada saja kau Warmen!" Handoyo berkata sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka tertawa bersama dan Handoyo kemudian menggendong Nicky , kemudian mereka duduk di samping Anneke.
Dari pintu rumah sakit bayangan Jendral Sutiono yang pernah dibunuh oleh Handoyo menghilang dalam hitungan detik menatap kebersamaan mereka. Pengampunan membuat kehangatan sebuah keluarga dapat terjalin dengan baik. Tidak mudah untuk melepaskan sebuah pengampunan.
*****
Happy reading temans.
__ADS_1
Semoga masih setia membacanya. Tetap Jaga kesehatan ya temans. .Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini. Thanks A lot ya, temans.