
Hatimu lebih kuat dari yang kau duga. Lebih hebat dari yang kau sangka. Percayalah, kepergiannya akan segera digantikan dengan bahagia.
*****
Handoyo terbangun ketika matahari sudah bersinar tinggi. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Rasa lapar menghampiri dan dia terbangun sendirian di kamarnya.
Aroma pergulatan dengan Nadia masih tertinggal di ranjangnya dan wanita itu sudah menghilang. Sepanjang malam Nadia berkata untuk merelakannya bersama pria lain. Handoyo terdiam saja dan dia membiarkan wanita itu yang lebih banyak bertindak dan bergerak diatasnya.
Jujur saja Handoyo menikmati perlakuan Nadia seolah melupakan amarahnya, tapi menyadari pagi ini kesendiriannya, rasa kecewa kembali hadir. Benar kata Nadia semalam, Ada kalanya kita harus saling melepaskan yang memungkinkan itu adalah pilihan terbaik bagi mereka.
Apakah dirinya akan menghabiskan masa tuanya sendirian? Tidak , bukankah cita-citaku untuk membalas kematian Lidya terpenuhi, dan aku bisa mati sekarang? Handoyo mengusap wajahnya perlahan.
Ditariknya nafasnya lagi. Ada satu lagi yang harus kulakukan. Menemui pria yang menghancurkan ibunya dan mengetahui lebih detail masa lalunya. Tapi sanggupkah dia? JIka dia menghampiri pria yang diduga adalah ayahnya, bagaimana Nadia? apakah wanita itu aman bersama Pramoedya? Apakah Nadia menyesal menikahi Pramoedya? Salahkan jika dia tidak mhanemberitahukan pada Nadia tentang masa lalunya?
Handoyo terdiam dan merenung dengan posisi berbaring. Dia masih belum berpakaian. Hatinya masih bergejolak. Belajar merelakan mudah untuk dikatakan tapi sulit dilakukan. Lebih mudah dia berkelahi atau bertaruh nyawa daripada diam-diam menyerahkan separuh hatinya.
Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia juga cinta padaku, tapi dia tak mau jika aku cuma memberikan separuh hatiku untuknya dan separuh untuk Lidya yang sudah meninggal.
Salah di aku. Salah... aku tak tahu harus bagaimana meyakinkan Nadya. Merelakannya... aku tak rela. Benarkah hatiku akan baik-baik saja jika Nadya bersamanya.
"Mas Han... kamu akan baik-baik saja dan melihatku biasa saja... aku yakin itu... cuma jika aku menghubungimu suatu hari nanti, kau harus datang karena itu akan berkaitan dengan anakmu... kumohon tetap pedulikan dia... berjanjilah mas Han...!" Suara Nadia masih terngiang di benaknya.
Handoyo hanya mengangguk demi memuaskan Nadia. Wanita itu terlelap kembali dipelukannya semalam dan pagi ini dia menghilang tanpa pamit.
"Aku pasti menjagamu Nad... meski yang kau lahirkan itu mungkin bukan anakku " Handoyo berkata sendirian dalam kamarnya. Ia menyerah untuk merebut Nadia. Handoyo percaya dia mampu melewatinya karena ia memiliki tujuan lain yaitu menemui ayahnya dan keluarganya. Ia ingin membalaskan kematian ibunya. Persetan dengan Nadia.
*****
-Hari Pernikahan -
Pesta pernikahan Nadia dan Pramoedya yang megah itu tidak dihadiri oleh keluarga besar Jendral Suhartono. Hanya keluarga dari Jendral Gaffar dan tentu saja Handoyo yang memang berperan sebagai Adiguna. Nadia dan Handoyo tidak bertemu sampai hari ini.
Sebelum prosesi akad itu , Adiguna sudah hadir bersama Jendral Gafafr dan Ibu Aleesha , Ia datang dengan legawa. Jika mereka tidak disatukan sebagai suani istri, ia bisa melihat bahwa kemauan Nadia bisa terlaksana dengan baik.
Wanita itu cantik sekali hari ini dan sangat terlihat anggun. Dia menggunakan kebaya putih sementara Pramoedya menggunakan kemeja putih dan jas hitam. Adiguna memperhatikan Nadia seolah tanpa kedip. Ia antara melepas dan sakit hati menatap Nadia.
Tatapan keduanya bertemu dan Nadia seolah menarik nafas kesal , tatapan itu seolah berkata bahwa Adiguna harus melepaskannya. Hal itu tentu saja diperhatikan oleh Pramoedya yang berfikir Nadia menyesal menikah dengannya dengan tarikan nafas kesal yang dikeluarkan dengan kencang.
Nadia dan Pramoedya saat ini sedang duduk di kursi pelaminan dan hanya tamu dari kelangan tertentu dan yang ditunjuk oleh kesepakatan Jendral Suhartono yang diijinkan datang. Pesta yang megah namun tidak dihadiri oleh banyak orang.
"Kenapa Na? Apakah kau menyesal sekarang menikahiku ?" Tanya Pramoedya sambil menarik pinggang Nana lebih dekat dan menghapus jarak diantara keduanya.
"Tidak... bukan begitu... aku hanya merasa bersalah padamu ... bisakah kita menjumpai papa dan mamamu nanti?'
"Untuk apa?" Pramoedya keheranan mendengar jawaban dan dia mulai berfikir bahwa Nana kesal karena ketidak hadiran ayahnya.
"Berterimakasih lah karena akhirnya mengijinkan seorang wanita miskin dan bukan dari kastanya , menikahi anak bungsunya?"
"Lupakanlah itu... yang penting kita bahagia, Na.." Jangan kelihatan wajah cemberutmu itu, kau jadi tidak cantik dan akan membuat orang-orang berfikir aku yang memaksamu menikahiku !"
"Baiklah... Maaf..!" Nadia tersenyum manis pada Pramoedya dan pria itu ikut tersenyum sebelum mendengar perkataan berikutnya dari nadia.
"Mas Pram... bisakah di hari ini saja ... kita menjadikan temanku si Adi itu sebagai supir mobil pengantin kita?"
"Bisa saja... kenapa ?" Pramoedya keheranan dan matanya mencari-cari pria yang dimaksud Nadia dan menemukan pria itu sedang bercakap-cakap dengan Jendral Gaffar.
__ADS_1
"Aku belum berpamitan karena aku berhenti kerja di tempat Ibu Aleesha. Rasanya tidak enak... tapi mas Pram yang bilang ke dia untuk jadi sopir kita , bisakah?"
"Baiklah.. jika itu maumu !" Ujar Pramoedya meninggalkan kursi pengantinnya dan segera beranjak ke arah tempat Adiguna berada.
Pramoedya menghampiri Adiguna yang sedang duduk di salah satu meja resepsi dan menikmati makanannya. Pria itu berkata seolah Adiguna adalah bawahannya. Ditepuknya pundak Adiguna, hingga pria itu menoleh. Adiguna cukup terkejut menghadapinya.
"Hei... nanti kamu anta kami pulang ke rumah Nadia... ada yang harus kuambil, dan aku mau kau yang menjadi supir kami!"
"Kenapa dengan sopirmu Pram? " Sahut Jendral Gaffar kebingungan. "Dia anakku, bukankah kau juga mengenalnya?"
"Aku ingin berbicara sebentar dengannya... jika kau tidak keberatan sekaligus kita ngobrol dan menikmati segelas wine di rumah Nadia, bagaimana?"
"Baik...tak masalah ...!' Adiguna berkata dengan tegas dan menjabat tangan Pramoedya.
"jangan lupa janjimu Adi ya... anggap saja sebagai hadiah pernikahanku!"
'Siap !" Adiguna berkata sambil berdiri dan memberikan hormat dengan tulus.
*****
Pesta telah usai pukul 10 malam dan semua tamu telah pulang. Adiguna menepati janjinya akan mengantarkan Pramoedya dan Nadia pulang ke rumah Nadia yang memang letaknya di belakang rumah Handoyo. Tak masalah mengantar orang yang dikasihinya, tapi menemani pria ini minum segelas wine menjadi pertimbangan lain yang terpaksa tidak bisa ditolaknya.
Nadia sudah berganti baju pestanya agar lebih nyaman. Dan dia duduk di begian belakang mobil bersama Pramoedya, sementara Adiguna yang mengemudikan mobil dengan ikhlas. Tak masalah baginya menjadi sopir mobil pengantin, tapi pikirannya terus berkecamuk, apa yang akan dibahas jika mereka ngobrol dan minum-minum. Apakah Pramoedya mencurigai Nadia.
Mobil itu tiba dan Handoyo memasukkan mobil itu ke garasi,sementara Pramoedya menunggunya hingga ia keluar dari mobil dan memasuki rumah Nadia bersama.
"Kudengar kau tinggal dekat sini ya Di?"
"Benar mas Pram... Di belakang rumah Nadia.!"
"Benarkah ? "
"Entahlah... kurasa aku bisa berteman denganmu seperti Nana berteman denganmu, Di!"
"Baik Mas Pram..! " Handoyo sesungguhnya bingung dengan situasi ini dan ia harus menemani Pramoedya minum segelas sebelum pulang demi etika sopan santun.
"Kau harus nikmati Wine yang kudapat ini... kemarin ibuku yang memberinya... katanya wine ini sudah berumur dua ratus tahun, dan tidak ada yang menjualnya... Nah itu Nana sudah menyiapkan untuk kita agar kita bisa menikmati sambil ngobrol disini?"
"Baik Mas Pram.." Handoyo melihat Nadia datang dengan baju tidurnya yang cukup tipis.
Handoyo melihat Nadia sibuk membawa gelas dan Pramoedya bangkit menyambutnya. Pria itu mencium kening istrinya sesaat dan Nadia mendorongnya.
"nanti saja ya, mas Pram... ada yang harus kita bicarakan dengan Mas Adi dulu...!"
"Tapi bukankah ini malam pertama kalian...!" Segera bereskan urusan kalian... kita bisa ngobrol-ngobrol lain waktu.." Adiguna menatap keduanya keheranan dan tiba-tiba ia melihat Nadia tersenyum penuh arti.
Wanita itu menyerahkan segelas wine berisi setengah untuk suaminya dan dirinya. Sementara Nadia juga meneguk segelas yang sama. Mereka bersulang dan menikmati wine yang baru pertama kali dirasakan oleh Handoyo.
"Tunggu di... kau sudah janji, Kau pasti belum pernah coba kan Di? Ini Wine mahal ... tidak ada di negara ini... tidak sembarangan orang bisa minumnya... rasanya nikmat banget!"
"Tambah ya mas Pram... "Nadia menuangkan wine itu segelas penuh dan menyorongkan ke Pramoedya.
"Oke... Adiguna, kau juga harus tambah .. ini enak sekali" Sahut Pramoedya sambil menegak gelas minumannya dan ia kemudian terjatuh seolah tak sadarkan diri.
Untungnya Adiguna adalah pria yang sigap . Ia segara menangkap tubuh Pramoedya yang limbung itu karena mabuk berat. Sementara Nadia hanya menyelamatkan gelasnya agar tidak pecah.
__ADS_1
Nadia tersenyum penuh arti. Dibaringkannya tubuh Pramoedya di sofa.
"Apa yang kau lakukan Nad ?" Handoyo keheranan menatap Pramoedya yang tadi ia baringkan di sofa tengah. "Sekarang dia suamimu... dan ini malam pertama kalian..!"
"Dia takkan bangun sampai besok sore. ... Dulu dia memperkosaku dalam keadaan seperti itu, mas Han... tidak ada satupun yang menolongku , jadi aku hanya membalasnya... aku takkan membiarkan dia menyentuhku lagi... jadi biarkan dia dimimpinya sudah meniduriku...!"
"Maksudmu...
"Tenanglah aku sudah mengatur semuanya... lusa kami akan ke Palembang, mas Han..!"
"Kau akan tinggal disana?
" Ya, . nanti sembilan bulan lagi aku akan menemuimu disini ...... tapi Aku merindukanmu mas Han... aku mencintaimu selamanya !" Nadia berkata sambil memeluk Handoyo
Handoyo makin bingung ketika Nadia menariknya ke kamar milik Nadia. Sebelumnya ia tidak pernah memasuki kamar itu. Kamari yang bernuansa serba merah muda. Aromanya harum khas Nadia. Kemudian di bawah tatapan Handoyo, Nadia melepaskan pakaian miliknya dan melepaskan juga milik Handoyo
"Nad... Nadia... kau sadar dengan yang kau lakukan?" Kau tahu dia siapa?"
" Mas Han... tenangalh... dengarkan aku.... aku sudah mengandung anakmu mas Han... aku sudah mengeceknya....aku ingin kau menjenguknya sebelum aku pergi ke Palembang ..!" Maukah kau melakukannya mas Han?"
"Maksudmu.... aku... aku seorang ayah?' Bagaimana dengan Pramoedya... Nad.. kau gila...!"
"Aku memang gila...aku tergila-gila padamu mas Han.... aku merindukanmu... katakan padaku... kau juga merindukanku?"
"Kalau begitu kita kabur saja... aku bisa melindungi kalian... lupakan ramalan itu!"
"Tidak... kita masih bisa bersama kalau kita pandai mensiasati takdir... " Nadia berjinjit dan lidahnya yang licin dan lembut sudah bekerja.
Handoyo yang semula diam akhirnya terpengaruh dan mengikuti kemauan Nadia. Malam itu mereka dengan penuh emosional dan saling menyalurkan kerinduan dengan semena-mena. Pastinya ini malam pertama Nadia dengan suaminya digantikan oleh Adiguna. Benar-benar liar.
"Mas Han.... kamu adalah suamiku yang sesungguhnya!" Nadia berbisik di telinga Handoyo dan pria itu memasuki Nadia kembali dengan penuh semangat.
Akh...
Alunan suara penuh kepuasan dari Nadia dan Handoyo terus menggema di malam itu, tanpa terganggu oleh siapapun. Keduanya melupakan segala etika dan norma yang ada demi kepuasan dan dendam yang akan semakin mendalam.
Handoyo tetap di kamar Nadia hingga pagi ,sementara Pramoedya tertidur di sofa tanpa pernah menyadari bahwa pengantin wanitanya telah merencanakan semuanya dengan rapih. Sebelum pergi Handoyo mengangkat tubuh Pramoedya ke kamar dan membaringkan di sebelah Nadia.
Nadia yang baru keluar dari kamar mandi dan berbalutkan handuk meminta Handoyo untuk melepaskan pakaian milik Pramoedya dan membiarkan pria itu terbaring di ranjang bekas percintaan Nadia dan Handoyo. Keduanya tersenyum sambil menatap Pramoedya yang masih tertidur pulas seperti orang mati.
"Inilah pembalasanku padamu mas Pram... kau takkan pernah bisa menyentuhku lagi!"
"Bagaimana kau menjelaskannya Nad?"
"Aku selalu punya cara... percayakan ? Nadia berkata sambil senyum menggoda dan Handoyo menarik kembali Nadia ke pelukannya dan Handuk yang dikenakan Nadia pun jatuh. Masih ada bercak-bercak perbuatan Handoyo sepanjang malam dan pagi ini, tapi itu makin membuat keduanya semakin liar. Handoyo kembali memasukkan senjata miliknya ke inti Nadia.
Mereka berdua seperti tidak pernah lelah dan tanpa segan melakukannya disaat Pramoedya tidak sadarkan diri di kamar itu.
"Nadia aku tidak pernah rela melepasmu untuk siapapun.. tapi aku percaya jika kau akan menjaga anakku , aku akan mengunjungimu di Palembang nanti!"
"Aku pasti menunggumu, mas Han..."
*****
Cukup panas ya temans, semoga bisa membacanya dengan menahan nafas. Terimakasih telah membacanya teman. Bolehkah tinggalkan jejak disini?" Thanks a lot ya
__ADS_1