
"Jangan pernah menoleh pada masa lalu jika itu hanya untuk membuatmu mengulangi kesalahan, cobalah berfikir ke depan dan melangkahlah!"
*****
Waktu menunjukkan hampir pukul 3 sore, Warmen sedang mengecek berkas hukum klien besar yang sedang ditangani. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya di buka dari luar tanpa diketuk. Pandangannya segera teralihkan pada sosok wanita cantik yang memasuki ruangannya tanpa ijin . Dita sang sekretaris kantor berlari dibelakang wanita itu dan terkesan takut pada Warmen namun tidak berani menolak kedatangan wanita itu.
" Maaf Pak Warmen... tadi ... " Kta Dita agak panik.
Warmen langsung mengangkat kode tangan" ya artinya tidak masalah" pada sekretarisnya.
Wanita cantik yang baru datang tanpa ijin itu berpostur tinggi langsing, berambut ikal yang menggunakan kaca mata hitam sambil menggendong seorang anak kecil yang terlelap di pelukannya. Wanita itu memandang berkeliling dan meletakkan anaknya di sofa coklat dan membaringkan putranya yang sedang terlelap dan akhirnya ia menarik nafas lega, karena berat juga ia menggendong pria kecil itu.
Pandangan mereka akhirnya bertemu, Wanita itu langsung duduk memandang Warmen yang terkejut akan kedatangannya.
"Melinda.... kapan kamu datang? Kenapa tidak bilang ....Aku bisa menjemputmu!" Warmen tersenyum di kursi kerjanya menutupi keterkejutannya atas kedatangan mantan kekasihnya ke kantor biro hukumnya di kawasan Thamrin.
"Apakah tidak ada pelukan untukku Warmen?" Sahut Melinda sambil bangkit dari Sofa dan meninggalkan putra kecilnya yang masih terlelap menuju kursi tempat pria itu duduk dengan banyak berkasnya
Warmen masih terdiam memandang kedatangan Melinda. Diperhatikan wanita itu lebih mendalam, dan ingatannya melayang pada aktifitas panas mereka 3 tahun yang lalu. Wanita itu seperti tidak ada perubahan. Melinda mengacak-ngacak meja kerjanya dan dibiarkan oleh Warmen.
"Kamu masih seperti dulu... emh berkas -berkas ini masih menemanimu...." Ujar Melinda.
"Ya.... kamu kapan datang, Mel?"
"Dua minggu yang lalu.... cuma baru sempat menengokmu sekarang... kelihatannya perkembangan kantor hukummu makin pesat... tapi memang belum sehebat kantorku, Warmen!"
"Apakah kau ada masalah di sana?" Warmen melihat tatapan sedih dari wanita yang pernah mengisi hatinya itu.
Melinda tersenyum manis dan tidak menjawab apapun padanya. Wanita itu duduk di pangkuan Warmen dan mengelus wajah Warmen perlahan. Dikecupnya kening Warmen dengan lembut, lalu ciuman itu turun ke mata kiri dan mata kanan Warmen, lalu turun ke hidung dan bibir Warmen. Warmen menikmati perlakuan Melinda yang membangkitkan hasratnya di sore hari ini. Ia pun merindukan wanita yang duduk dipangkuannya.
"Aku merindukanmu, Warmen.... apakah kamu juga ?" Goda Melinda dan membuat tangan Warmen sudah tidak pada tempatnya dan menyentuh tubuh wanita itu dan tangannya sudah berada di balik blouse Melinda.
__ADS_1
"Aku juga.... kenapa gak bilang padaku? Aku bisa menjemputmu.... akh,... Mell... " Warmen semakin tidak konsentrasi dan menjatuhkan berkasnya akibat ulah nakal Melinda yang terus memancing hasratnya.
"Dia tidak bisa membahagiakanku di atas ranjang Warmen... dia hanya memberiku materi...." Sahut Melinda sambil menciumi pria itu dan makin membuat keduanya panas.
Wamen makin liar dan melupakan pekerjaannya dan Anneke yang ada di rumah. Ia merindukan mantan kekasihnya yang datang ke kantor dengan aroma tubuh yang wangi. Tangan pria itu sudah membuat blouse terbuka dan dapat dilahapnya.
"Katakan padaku Warmen .... sekarang wajahmu bersih dan perutmu makin gendut begini, apakah ada wanita lain yang merawatmu Wamen?" Melinda berkata sambil memukul perut Wamen tapi masih duduk di pangkuan Wamen dan tangan kanan Melinda masih berada di leher Warmen, hingga pria itu yang sedang menciumi tubuh bagian atas melinda yang terbuka itu terhenti.
Pertanyaan itu sedikit menyadarkan Warmen akan posisi dirinya yang telah memiliki istri. "Ya.... bukankah kau yang bilang padaku... aku boleh menikahi siapapun... seperti yang kau lakukan ? Bukankah Itu anakmu dengan pria pengusaha itu? " kenapa kau datang mendadak, Mel ?' Kau belum menjawab apapun dari tadi... ada apa? Kau tidak mungkin kemari tanpa sebab... katakan apa yang bisa kubantu?" Warmen mulai tersadar dan melepaskan Melinda dan merapihkan pakaian Melinda yang dibuatnya kacau.
"Papaku sakit... aku harus melihatnya sebelum dia meninggal, tapi dia malah menjadi sehat setelah bertemu dengan "Nicky".... tapi Warmen, aku ingin kamu melihat dan mengenal Nicky sebelum aku kembali ke Inggris, tiga hari lagi, Dady-nya memang sangat menyayanginya dan menjadikan dia salah satu pewarisnya, tapi salah satu anak dari istri yang sebelumnya, mungkin tidak suka dan bisa jadi akan membunuh Nicky...
"Kau katakan saja pada suamimu itu, tentang ancaman yang akan di dapat Nicky, kenapa juga harus aku? dia kan darah daging dari suamimu dan katakan bahwa kakak tirinya tidak menyukainya...
"Tidak semudah itu Warmen.... " teriak Melinda yang berakibat pada bangunnya pria kecil yang terlelap di sofa itu.
"Mommy.... Mommy.... " Nicky menangis karena kaget.
Nicky terduduk dan membuka matanya mencari mommynya. Pria kecil itu akhirnya tersenyum melihat mommy menghampiri dirinya yang baru bangun dan masih menggigit sebuah dot. Melinda mengangkat pria kecil itu dan memeluknya.
"Nicky.... You must say hallo to your uncle, " Bujuk Melinda pada anak lelakinya. (Nicky... kamu harus memberikan salam pada pamanmu!")
"Uncle .... Uncle , " Sahut Nicky pelan dan ramah. (" Paman... Paman...)
Kedua pria berbeda usia itu berpandangan. Nicky menyentuh hidung Warmen dan tertawa terbahak-bahak. Warmen tersentak. Mengapa anak kecil ini menertawakan dirinya. Warmen berkerenyit ketika anak itu memegang hidungnya kembali. Apakah anak ini anaknya? Berapa usianya? Kapan Melinda pergi itu, hampir tiga tahun yang lalu ... apakah saat itu dia menghamili Melinda?"
"Mel.... katakan dengan jujur? Berapa umurnya Nicky ? " Warmen menatap tajam Melinda yang duduk di seberang kursinya.
Warmen begitu takut mendengar jawaban Melinda. bagaimana jika anak ini anaknya? Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia sanggup melepaskan Anneke? Saat ini Anneke juga sedang mengandung anaknya. OH my God.... kenapa mereka harus ada bersamaan?"
Wanita itu tersenyum dan mengerti kegundahan pria yang sedang memangku anak lelakinya itu. Sengaja ia membuat Warmen berfikir dan terus memandangnya.
'Emh... 7 Januari kemarin Nicky baru ulang tahun, Daddy-nya membelikannya sebuah mobil....dia lahir 7 Januari 1991 dan aku pergi pertengahan april 1990, Jadi kau hitung sendiri deh !"
"Maksudmu.... dia anakku, Mel?" Tindakan kita yang di malam perpisahan itu membuatmu hamil dan ... kau baru memberitahuku sekarang, Mel?" Warmen sedikit marah dan akan bangkit dari kursinya ketika anak kecil yang di pangkuannya menyentuh hidungnya kembali dan menciumnya beberapa kali dan tertawa kembali.
Warmen tersentak dan tersenyum memandang pria kecilnya itu. Anak kecil yang bernama NIcky ini menyukai hidungnya. Anak kecil ini sama seperti Melinda yang suka menyentuh hidung mancungnya. Akhirnya Warmen membiarkan pria kecil bertindak semaunya. Ia tidak bisa marah pada Melinda. Ia menyukai pria kecil yang berada di pangkuannya. Begitu lucu dan mirip dengan dirinya.
__ADS_1
"Kamu tahu Warmen... dia sangat suka makan ikan bakar yang diberi kecap manis... dan itu sangat berbeda dengan kebiasaan Daddy-nya dan anehnya Daddy-nya sekarang sangat menyukainya, " Melinda menjelaskan kesukaan Nicky.
Sama seperti dirinya yang menyukai ikan bakar yang diberi sambal kecap... akh dia memang benar-benar anakku.
"Mel... apa yang kau ingin aku lakukan? "
"Lindungi dia dan jaga dia dari jauh.... jika aku ada apa-apa bahkan aku sampai meninggal , maka kamu harus mengambilnya dan membesarkannya... sama dengan anakmu yang lain dari wanita yang menjadi istrimu!" Bisakah kau lakukan itu untukku Warmen.... aku hanya ingin meminta itu,... buatlah sebuah surat yang menyatakan bahwa engkau adalah ayahnya di Indonesia dan menyerahkan hak pengasuhannya kepadaku, agar jika ada apa-apa, kau bisa membawanya nanti...
"Baiklah jika itu maumu, Mel.... kalo kau merasa tidak nyaman disana< Mengapa kau tidak balik ke sini saja, mel... kita bangun semua dari awal, Mel..." Bujuk Warmen.
Sesungguhnya Warmen mengkhawatirkan pria kecil yang sedang ada di pelukannya. Melinda memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Ikatan darah tidak bisa berbohong.
*****
Happy Reading Guys.... Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks telah berbaik hati membacanya.
Oh iya, Temans jika mau tau sedikit kisah lainnya tentang Warmen dan Handoyo ada di novel " Cinta kan Membawamu kembali"
__ADS_1