Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
101. Apa kita saling mengenal?"


__ADS_3

"Saya  belajar lebih banyak dari sebuah kekalahan daripada sebuah kemenangan. Jadi saya tahu  bagaimana untuk terus berjalan dan menjalani kehidupan ini dengan berkaca dari kesalahan saya di masa lalu."


 


*****


 


 


 


Ballawa memperhatikan dengan seksama, pria yang menggunakan kemeja biru bergaris-garis itu. Pria itu melangkah melewatinya dan seolah menatap tajam padanya. Tatapan itu mengingatkan akan seseorang. Tapi siapa? Apakah dia mengenalnya?" kenapa rasanya wajahnya tak asing?'


Suara  Pramoedya mengganggu konsentrasinya dan mengalihkan pandangannya pada pria yang  melewatinya bersama Nana. Pramoedya terus mendesaknya untuk segera bertindak. Ia meminta menghentikan keduanya yang berjalan menuju kantor untuk menjalani aktifitasnya.


Apa yang bisa dilakukan Ballawa? Dia harus bijak dalam bertindak. Tidak boleh salah memilih kubu, karena ia adalah ajudan dari keduanya.


Pilihan yang sulit. Yang satu adalah anak pemimpin negeri ini, Jendral Suhartono dan ia sudah berjanji bahwa ia akan  menjaga sesuai permintaan ayah Pramoedya yang memintanya melindungi dengan nyawanya. Sedangkan yang satu lagi adalah anak dari atasan langsungnya.


Merepotkan sekali. Jika ini urusan perang ataupun kejahatan lainnya, ia akan serba berani dalam bertindak. Ini urusan perempuan. Tapi perempuan itu bukannya hanya berhubungan dengan Pramoedya, masakah dia memiliki dua kekasih.


"Mas Pram..." Ballawa berusaha menenangkan pria itu dengan memegang pundaknya dan menatap mata pria yang mudah panik itu.


"Cepatlah bertindak Ball... aku tak mau mereka berlama-lama berdua-duaan. Aku ingin kita membawanya ke Jakarta menemui orang tuaku ?" Aku tak ingin kehilangannya , Ball..."  Pramoedya berkata pelan dan tak sabar pada Ballawa. " Ball, aku tak mau kehilangan nana!" Ayo pikirkan caranya!"


"Percayalah, mas Pram...jika dia memang jodohmu, dia takkan menghilang dari genggamanmu... tapi yang jadi masalah bagaimana kita meyakinkan kedua orang tuamu agar mau melamar Nana.."


"Kenapa? Kau juga tak percaya bahwa aku bisa membawa mereka untuk menemui Nana dan keluarganya?"


"Bukan itu mas Pram.... apakah mas Pram  tidak mengetahui bahwa Nana sudah tidak memiliki keluarga lagi? Hanya tinggal adik lelakinya yang sekarang memang sedang sekolah tentara  di Magelang. Hanya istri jendral Gaffar yang menyayangi Nana  dan menjadikan seolah anak perempuannya?" Jadi memang kita harus berhati-hati  dalam bertindak."


Pramoedya terkejut mendengar penjelasan Ballawa. Kemana saja dia selama ini tak mengetahui apapun. Apakah dia sungguh mencintai Nana, tapi tak mempedulikan wanita itu. Apakah dia akan kalah bersaing dengan Adiguna? Tidak. Ia tidak boleh kalah dengan Adiguna.


"Jadi aku harus bagaimana, Ball?'


"Kurasa memang harus ayahmu yang menemui Ibu Aleesha, itu adalah jalan termudah. Sekarang mas Pram, jangan terlalu frontal melawan Ibu Aleesha, ikuti perintahnya saja!' Berpamitanlah baik-baik dengan Nana, aku akan bicara dengan pria itu."


"Aku harus cepat menyusulnya sebelum Nana pergi."


 


Pramoedya segera berlari meninggalkan Ballawa dan mencari Nana yang tadi berlalu bersama Adiguna. Kedua orang yang sedang melangkah  keluar menuju mobil yang terparkir di dekat pos. Mereka akan memasuki mobil milik Nana yang tadi Pramoedya naiki bersama Nana ke rumah Jendral Gaffar.


 


"Nana...."

__ADS_1


Teriakan itu menghentikan langkah Nadia dan Adiguna dan menengok ke arah sumber suara.


"Nana  tunggu!" Pramoedya mempercepat langkahnya menghampiri Nadia yang telah menunggunya bersama Adiguna.


" Nana....  Na , kita harus bicara penting !"


"Bicara apa lagi mas?" Tadi kan kita  sudah ngobrol lama di mobil  ."


"Sekarang  kita bicara di sana!" Pramoedya menunjuk sofa yang ada di teras depan, namun ditolak oleh Nadia.


"Disini saja... aku sudah harus bekerja, mas Pram ... sebentar lagi meeting di kantor akan dimulai. dan Mas Adiguna harus memimpin rapat menggantikan ibu Aleesha."


"Aku mau tahu hubungan kamu dengannya?" Katakan yang sejujurnya, Na." Pramoedya berkata sambil menatap Nadia dan Adiguna bergantian.


"Maksud mas Pram, dia ? Dia itu anak Jendral Gaffar dan dia selalu membantu selama ini... kenapa mas Pram gak suka?


"Aku tak suka padanya!" Pramoedya sambil menunjuk Adiguna.


"Gak papa mas Pram ...  Mas Adiguna adalah  orang baik ko... saya juga tak meminta mas Pram untuk bersamaku atau menyukainya."


"Na,...


Selagi Nadia dan Pramoedya berbicara dengan sedikit emosi. Pundak Adiguna ditepuk oleh Ballawa dan membuat kening Adiguna berkerenyit menatap pria itu.


" Maaf... bisa kita bicara sebentar? Biarkan saja pasangan kekasih itu ngobrol dan saling menuntaskan rasa kangen mereka " Ballawa berkata seolah memprovokasi Adiguna dan disambut pria itu dengan senyum.


Adiguna dan Ballawa melangkah agak jauh meninggalkan Pramoedya dan Nadia yang masih terus berbicara. Adiguna juga sesungguhnya tidak ingin berada di antara mereka. tapi suara di dalam hati kecilnya berharap bahwa Nadia menolak Pramoedya.


"Maaf.... saya bukan melarang anda diantara mbak Nana dan Pramoedya, tapi saya hanya ingin menuntaskan rasa penasaran saya."


"Ya... tak masalah. Apa yang bisa dibantu, Pak?" Adiguna berusaha bersikap sopan dan menatap mata Ballawa yang seolah menyelidikinya.


"Apakah kita pernah bertemu?" Apa kita pernah saling mengenal di masa lalu?" Ballawa langsung bertanya pada pria di depannya.


"Tidak... kita baru bertemu sekarang, Pak."


" Oh... boleh tahu asal usulmu? Sebenarnya saya  bisa saja melihat detail arsip pribadi keluarga tentara. Tapi rasanya saya pernah melihat anda dimana  gitu ?"


"Tak masalah...  saya dulu dibesarkan dan menempuh pendidikan di Pesantren Al Hikmah .. mungkin Bapak pernah mendengar tentang Kiyai Umar pemimpin pesantren di Bengkalis?"


"Oh aku tahu, beberapa waktu yang lalu saya pernah mengunjunginya ... kau pernah belajar dan tinggal di sana?"


"Ya... aku dibesarkan disana."


"Baiklah ... kurasa kita memang belum pernah bertemu. Terimakasih atas informasinya!"


"Tak masalah."  Apakah teman anda itu setiap hari  selalu bersikap seperti itu ?"  Adiguna membuka percakapan dengan Ballawa sambil memperhatikan Nadia dan Pramoedya."

__ADS_1


"Hemm..


"Mungkin karena dia keluarga istana, sehingga kita semua harus patuh dengan semua permintaannya. Tapi tidak mudah meminta Nadia untuk patuh, mungkin kau bisa menjelaskannya !"


"Ya... saya tahu itu."


"Saya pamit, karena saya harus ke kantor, saya akan tunggu mereka di mobil saja deh !" Adiguna berpamitan sambil memberikan hormat pada Ballawa. Pria itu juga memberikan salam yang sama pada Adiguna.


Adiguna melangkah  menuju mobil milik Nadia. Hatinya tersenyum kemenangan karena ia mengenali Ballawa tetapi Ballawa tidak mengenalnya dan dia berhasil mengecoh pria itu. Tampilan sebagai Adiguna yang lebih terawat dan sopan mampu mengecohnya.


"Saya  belajar lebih banyak dari sebuah kekalahan daripada sebuah kemenangan. Jadi saya tahu  bagaimana untuk terus berjalan dan menjalani kehidupan ini dengan berkaca dari kesalahan saya di masa lalu."


 


Ballawa terus memperhatikan Adiguna yang melangkah meninggalkannya. Tiba -tiba seulas bayangan pria di masa lalu yang pernah akan ditembaknya dan gagal seolah hadir. Hal yang mengejutkannya sekarang.


"Hah... Dia seperti Handoyo itu....... tapi tak mungkin dia Handoyo... dia ada di Nusa Kambangan.... apakah dia saudara kembarnya ?'


 


 


 


******


 


 


 


 


Happy reading guys.


Terimakasih telah berbaik hati membacanya. Bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini?


Love you all.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2