
Ikatan seorang Kakak dan adik itu terkadang terjalin erat, terkadang longgar tanpa sebab yang pasti , namun tidak pernah putus.
*****
Suara dua orang ngobrol di telinga Jessy terdengar semakin jelas. Ia pun membuka matanya. Seperti suara kakak lelakinya yang jarang ditemui Jessy.
Sosok itu duduk di ranjang Jessy sambil terus bertanya pada Jenny, apa penyebab dirinya terluka dan apa yang dilakukan Jenny dan Jessy selama pria itu tidak ada di sampingnya. Pria itu hanya berselisih empat tahun lebih tua darinya.
Pria itu selama Jessy sekolah selalu menjaganya. Semenjak memutuskan menikah dan tinggal di Jakarta, pria itu jarang sekali menemuinya, terlebih setelah ibu telah meninggal. Terkadang Jessy ingin menghubunginya di saat dirinya sedih dan bercerita pada kakak lelakinya itu.
Dulu kakak lelakinya selalu maju terlebih dahulu jika ada yang mengganggunya. Kakak lelakinya sempat marah pada Jessy dan ibunya karena melarangnya untuk menghajar "Al" yang dianggap telah menipunya. Waktu pernikahan Jessy, kakak lelakinya tidak bisa hadir, karena bersamaan dengan istrinya melahirkan keponakannya yang lucu.
" Mas Yogi.... kapan datang?" Sapa Jessy dengan senyum hangatnya ketika melihat kakak lelakinya yang sudah hampir setahun ini tidak pernah ditemuinya.
"Baru saja sekitar beberapa menit yang lalu... Mas marah sama kamu, Jess!" kalo aku tidak bertanya kabar kamu ke pak RT, maka kamu tidak mau menghubungi ataupun mengabari mas yogi.... Jess, memang mas, gak punya telepon di rumah, tapi kan bisa suruh Jenny untuk telephon ke kantor, tempat kakak kerja, pasti pesan kalian nyampe ko.... kamu gak anggap mas lagi ya?" Yogi berkata marah pada adiknya yang baru tersadar dari alam mimpinya.
'Maafin Jessy, mas Yogi .. bukan begitu maksud Jessy, ... ini juga gak sengaja ko masuk rumah sakitnya..." Jessy berkata pelan sambil menunduk.
Tiba-tiba saat Jessy menunduk untuk menghindari pandangan kakak lelakinya, Jessy melihat buku jari tangan kanan kakaknya yang sedikit berdarah dan merah-merah. Kemudian ia beranikan menatap mata kakaknya.
"Mas yogi, habis berkelahi ? " Tanya Jessy yang sangat terkejut,
Jessy memandang jelas pria itu dengan seksama dan ia melihat bahwa ada sedikit luka di lengan dan bagian belakang kepala kakaknya ada perban. Perkelahian konyol. Jessy memang tidak menyukai adanya kekerasan.
"Mas.... mas yogi kenapa?" Jessy bertanya sambil sedikit mendesak lelaki itu menjawab pertanyaannya.
Yogi sengaja mendiamkan adik perempuan satu-satunya. Yogi mengetahi bahwa adikknya mampu mendengar suara hatinya. Sengaja ia hanya berkata dalam hatinya. Aku baru saja menghajar si "Brengsek itu di depan parkiran rumah sakit. Tentu saja Jessy mampu mendengar suara di hati kakak lelakinya dengan jelas.
__ADS_1
Ketika Jenny mengantar Handoyo keluar dari ruang perawatan dan di dekat pintu keluar, Jenny melihat mobil hitam yang sering dipakai oleh Al ketika mengunjungi Jessy, Untuk itu Jenny meminta Handoyo mencari alternatif jalan lain untuk menghindari Al.
Jenny memang mendengar pembicaraan Jessy dan Handoyo yang harus menghindari Al. Beruntungnya di saat bersamaan Jenny melihat Yogi yang baru akan memasuki rumah sakit. Segera ia memprovokasi kakak lelaki ,Jessy yang memang sangat membenci Al. Hingga mereka berkelahi.
Awalnya memang Yogi menghajar Al tanpa henti dan melukai Al cukup banyak sehingga beberapa orang yang menontonnya menyayangkan tidak ada perlawanan dari pria yang dihajar, Hingga seorang pria yang berbadan tegap lainnya dan diduga sebagai teman Al, membantu menendang Yogi hingga Yogi terlempar ke aspal dan harus mendapat jahitan di kepalanya.
"Mas Yogi menghajar Al... dan kalah ya?" Jessy tersenyum dan sedikit mengejek kakaknya. "Sudah Jessy bilang kan mas gak usah banyak gaya mau menghajar Al,... dia itu kan rajin karate dan ikut latihan fisik setiap hari.... ya gak akan menang kali !"
"Hei.... si brengsek itu sebenarnya tidak berani melawanku... tapi temannya yang menendang kepalaku dan hampir mematahkan lenganku hingga terluka.... tadi aku dijahit dulu, makanya aku terlamabat ke sini... harusnya tadi aku bareng Jenny kemari dan makan siomay.... ngomong-ngomong kenapa Al masih ada di sekitaran sini, Jess?" .. bukannya dia sudah memutuskan tidak akan mengganggumu lagi, Jess dan Bukankah ia yang memilih hidup dengan istrinya?' Kamu memilih jadi selingkuhan dia ya?"
"Gak seperti itu kejadiannya, mas Yogi.. sudah ah jangan bahas Al lagi.... dia cuma masa laluku , Kak... "Jessy menjawab sekedarnya.
"Masa lalu... masa lalu tapi masih berhubungan itu namanya apa, Jessy!" Mas gak bisa menjagamu selalu, Jenny apakah benar, salon kalian di rampok?" jadi Jessy terluka begini?" Yogi beralih pada Jessy yang sedang mengupas buah untuk dimakan mereka.
"Aku gak tahu mas Yogi.... aku sudah pulang ke kontrakan....tapi tidak ada barang yang hilang sih kemarin...
" Aku terluka kemarin karena mencoba model potongan baru dan alat baru, dan Jenny yang mengantarku keesokan harinya ko...... mas yogi, Apakah kepalanya masih sakit gak?" Jessy bertanya mengalihkan pertanyaan kakaknya yang tidak akan berhenti jika ia tidak memperoleh jawaban dari Jessy.
Suara ketukan di pintu menghentikan perbincangan mereka dan membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.
Jessy melihat muka yang dipenuhi luka dan kebiruan, rambut dan pakaian Al yang acak-acakan dan terlihat jelas bahwa ia habis dipukuli, Dan ada seorang pria lagi yang disamping Al. Pria itu tampak berbeda lebih rapi dan lebih garang.
Al menatap Jessy sambil tersenyum hangat dan kemudian beralih pada Yogi yang menatapnya sinis.
"Ngapain kamu kemari lagi, Hah.... belum puas tadi hajaranku ?" Atau kau mau menangkapku?" Sini.... kalo bisa aku yang membunuhmu bajingan..... belum puas kamu lukai adikku.... masih berani kesini?" Teriak Yogi sambil bangkit berdiri menghampiri Al yang masih berdiri di dekat pintu masuk kamar.
"Aku cuma mau melihat Jessy.... dan aku ada sedikit pertanyaan pada... "Ucapan Al langsung dipotong kembali oleh Yogi.
" Pergi dan jangan pernah muncul di hadapan adikku lagi!" Ucap Yogi sambil menunjuk arah ke luar. " Belum puaskah kamu melukai dia?" Teriak Yogi kembali.
"Maafkan aku, Mas Yogi... aku kemari mau menjalankan tugas, kumohon mas... "Bujuk Al pada Yogi yang makin emosi memandang Al yang masih tetap di posisinya.
__ADS_1
"Pergilah sebelum aku menghajarmu kembali!"
"Selamat sore pak.... mohon tidak bertindak anarkis... kami berdua sedang menjalankan tugas... sudah cukup saya membiarkan tindakan anda yang tadi.... mohon kerjasamanya, kami harus bertanya pada nona Jessy, dan saat ini , kami adalah petugas negara, saya mohon kerjasamanya... " Sahut John mengambil alih dan berdiri di depan Al untuk menghadapi Yogi yang sedang emosi.
"Aku akan bekerja sama dengan anda, jika pria yang menyakiti adikku segera keluar... "Umpat Yogi berapi-api.
" Mas yogi... sudahlah.... biarkan mereka menjalankan tugasnya!" Jessy berusaha menengahi dari ranjangnya." Kemarilah Al... apa yang mau kau tanya... aku akan menjawab pertanyaan apapun!"
"Tidak... si brengsek ini tunggu di luar, hanya polisi yang satunya saja yang boleh bertanya," Sahut Yogi dengan galak dan menatap tidak suka.
Akhirnya Al memilih mengalah meninggalkan ruang perawatan Jessy. Ia memilih duduk di selasar depan ruang perawatan. Ada rasa sakit di tubuh yang makin dirasa Al itu dan menjalar dari wajah dan perutnya akibat hajaran bertubi-tubi dari Yogi. Tapi sakitnya melihat tatapan mata Jessy dan Yogi lebih terasa. Maafkan aku, bisik Al pelan.
Sebenarnya Al bisa saja tadi membalas untuk menghajar Yogi tapi rasa bersalah pada Jessy membuatnya ia membiarkan menjadi pelampiasan kakak lelaki Jessy. Jika tidak ada kesalahan yang diperbuatnya pada Jessy, tentu Yogi bukan lawan yang sebanding. Dia rela menjadikan dirinya bahan pelampiasan kakak lelaki Jessy. Asalkan kesalahan di masa lalunya di maafkan.
Setelah dua puluh menit John melakukan wawancara pada Jessy, akhirnya pria itu keluar dari ruangan perawatan Jessy dan mengajaknya segera meninggalkan ruangan perawatan itu. Sesungguhnya ia ingin menyapa wanita itu dan berpamitan tapi dengan adanya Yogi yang di samping Jessy membuatnya berfikir ulang untuk menemui Jessy daripada terjadi keributan kembali.
" Bal.... ayo jalan.... aku sudah dapat semua informasi tentang Handoyo..... dia sudah pergi kemarin kata Jessy, emh, kurasa wanita itu mengetahui sesuatu........ seandainya tidak ada kakaknya yang pemarah itu, mungkin kau bisa mendapatkan informasi lebih banyak........Mengapa juga sih kamu biarkan , dia menghajarmu!" John berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala memandang luka sahabatnya.
Al hanya menepuk pundak John dan mengajaknya menuju mobil di parkiran. "Aku akan kembali bertanya padanya.... tenang saja, John...!"
*****
Happy Reading Guys.... Thanks telah berbaik hati membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot.
__ADS_1