Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
57. Lapas 2


__ADS_3

Perubahan itu memang menyakitkan,


Perubahan dapat menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, takut dan marah.  Tapi bagiku, Perubahan itu memang harus dilakukan, aku ingin melihat dunia yang berbeda dan menjadi orang yang berbeda.


 


*****


 


Handoyo kesal dengan gedoran kencang di pintu teralis kamar isolasinya. Gedoran itu terasa nyaring dan memekakan telinga dan mengganggu alam mimpinya.  Handoyo menjawab  dengan malas supaya gedoran yang menyakitkan itu berhenti.


"Ya.... aku sudah bangun. Ada apa? Siapa itu?"  Jawab Handoyo dengan suara sengaunya.


Ruangan isolasi itu gelap, karena Handoyo belum menyalakan saklar lampunya.


"Akhirnya bangun juga... Ini aku, Pak Indra...  Tolong nyalakan lampu di dekat teralis ini dan keluarlah dari bilikmu.... sekarang waktunya kamu  makan malam sudah hampir jam 7 malam,... hanya  tinggal kau saja yang  belum keluar.... setiap jam makan malam kau harus sudah berdiri di dekat pintu teralis ini!" Karena ini hari pertamamu, aku berikan dispensasi bahwa kamu belum tahu aturan disini." Sahut Indra dengan penuh ketegasan.


"Terimakasih atas pengertianmu, Pak Indra .... jika itu aturan di sini, maaf aku tak tahu, aku ketiduran tadi jadi tidak menyalakan lampu.... apakah jam makan juga harus sesuai  aturan jam makan malam di sini?" Meski aku belum lapar?"


"Ya... tidak laparpun kau harus makan dan semua makanan  harus habis, besok pagi kau sudah harus kerja... jadi makanlah!? Jangan sampai sakit disini, dokter hanya kontrol seminggu sekali!"


"Baik terima kasih pak Indra, " Sahut Handoyo pelan dan menerima makanan dari pak Indra.


Setiap jam makan malam pintu teralis itu dibuka dan Handoyo dapat melihat samar-samar , ada beberapa ruangan di seberangnya yang lampu bilik sel isolasinya sudah menyala. Cukup jauh jaraknya namun lampu berwarna kuning itu memberikan petunjuk bahwa ada kehidupan disana.


"Apakah jika siang hari, sesama penghuni tidak bisa berkomunikasi, Pak Indra?"


"Tidak jika kau belum menghasilkan 20 kg jagung dalam 3 bulan... hanya seijinku, kau boleh ngobrol, tapi sebaiknya besok kau bertanya bagaimana cara berkebun dahulu... jika kau ketahuan dalam sehari tidak bekerja di kebun , maka kau akan pindah ke isolasi hitam dan disana lebih tidak manusiawi... jangan sia-siakan kebijakan dari kepala sipir yang memang menguntungkanmu!"


"Baik pak indra, aku akan patuh dan tidak akan cari perkara.... mohon bimbingannya ya!"


"Handoyo...selain itu, sesungguhnya aku kagum sama kebaikan hatimu membunuh para penjahat yang menyengsarakan orang lain dan kau menanggungnya sendirian... itu satu hal hebat yang kau lakukan!"


"Ah ... Bapak bisa aja... "Sahut Handoyo pendek dan mulai menikmati makan malamnya berupa nasi putih, ikan asing dan sayur tumis.


 


*****


 


Sudah 25 hari Handoyo berada di lapas di Pulau Nusa Kambangan  ini. Tubuhnya semakin kekar  dan atletis karena dia setiap hari harus mencangkul tanah dan menanam, mengangkat air untuk menyiram  kebun singkong yang harus dijaganya.

__ADS_1


Tanah kosong yang semula gersang itu sudah diisi bibit jagung yang kemungkinan bisa dipanen 3 bulan mendatang. Ada beberapa batang sudah mulai tumbuh dan itu satu hal yang menyenangkan. Dari dulu Handoyo memang suka bercocok tanam untuk pengisi waktunya di Lampung.


Satu perubahan yang luar biasa harus dilakukan Handoyo. Hidupnya berputar cepat seperti roller coster dari  kehidupannya yang nyaman dan menggunakan senjata untuk menarik nyawa seseorang berganti tukang kebun. Kehidupan yang  harus ditinggalkan demi rasa ingin tahunya pada dunia baru yang di tawarkan oleh "BIg Mama" dan Organisasi "Elang hitam"


Benarkah ada organisasi yang kuat dan mampu melawan orde ini? Mengapa Warmen tidak menyetujui usulannya untuk bergabung? Apakah keputusannya kemarin itu salah dan memilih bergabung dengan organisasi ini.


Akh biarlah, Warmen  kan memang ada keluarga yang harus dijaga , sedangkan aku tidak ada siapapun yang harus kujaga. Benarkah Organisasi berhaluan kiri itu benar-benar ada? " Semoga perkiraanku tidak meleset dan aku tidak harus membuang waktu disini. Pikiran itu selalu ada di otaknya selama beberapa hari ini.


Warna kulit Handoyo semakin coklat eksotik. Ia menjalani kegiatan harian ini dengan sukarela. Tidak ada keluhan apapun. Belajar menjadi  petani jagung juga tak masalah karena ia suka menjalani apapun selagi masih ada kesempatan. Baginya perubahan itu memang harus dilakukan, Handoyo  ingin melihat dunia yang berbeda dan menjadi orang yang berbeda.


Rasa Amarah pada Tuhan dan keadilan itu akhirnya sudah hilang semenjak dendam atas kehilangan Lidya sudah brhasil  dibalas. Bagi Handoyo, pembunuhan itu adalah hal yang setimpal. Tidak masalah dia dipenjara disini, tapi dia hanya ingin menikmati hidup dengan cara yang berbeda sebelum Lidya menjemputnya.


Teriakan Indra yang masih agak jauh menuju kebun membuatnya menghentikan kegiatan siang itu.


"Handoyo.... kamu diminta untuk ke kantor, ada yang menjengukmu!" Katanya penting!" Teriak Indra sambil mengatur nafasnya.


"Salah orang kali... aku tidak ada yang boleh menjenguk pak Indra selama 2 tahun  aturannya!" Handoyo berkata santai.


"Justru itulah , ini dari kejaksaan tapi ada yang aneh, wanita itu bilang istrimu.... setahuku, istrimu sudah meninggal di Lampung dalam peristiwa kebakaran ," Panggil Indra yang menhampiri Handoyo di ladang.


Peluh keringat  Handoyo masih menetes di kening dan terus menetes dari rambutnya. Handoyo menatap dingin pada Indra yang menjelaskan info ada yang mencarinya dan membahas kematian Lidya. Ada rasa tidak suka mendengar perkataan Indra.


"Maksudmu ? " Seharusnya tidak ada yang bisa menjengukku disini kan Pak Indra?"  Dari kejaksaan?"   Handoyo menjawab sambil merapihkan peralatan kebunnya.


"Benarkah?"


"Yang aku tahu, Pak Kepala hanya memanggilnya ibu Lidya dan dia bisa menunjukkan surat-surat dari kejaksaan dan surat pernikahan kalian pada tahun lalu...  oleh sebab itu Pak kepala memintaku bertanya padamu dahulu, jika bukan istrimu, maka sudah dipastikan dia bukan dari kejaksaan... dan dia akan ditangkap karena penipuan." Indra berkata cukup jelas hingga membuat    Handoyo tercekat. Mungkinkan itu suruhan Organisasi Elang HItam? Nadya yang mengaku sebagai Lidya?


"Istriku memang bernama Lidya, tapi dia hanya pegawai di kejaksaan dan gak punya peran penting disana.... mungkin ada orang penting yang membantunya, aku ingin menemuinya!"


"Bukannya istrimu yang bernama lidya itu sudah meninggal?"


"Kau menyelidikiku? Istri pertama dan keduaku memang bernama Lidya,... aku hanya mau menikahi wanita yang memiliki nama Lidya " Handoyo berkata tenang dan berjalan meninggalkan kebun menuju areal perkantoran yang letaknya jika berjalan kaki sekitar 30 menit.


"Hebat sekali kau Handoyo," Sahut pak Indra. " Istrimu itu  membawakan kami juga banyak makanan enak dari Jakarta.... eh ada roti yang sangat lembut kurasa... bisakah kau membagi kami nanti?"


"JIka memang Lidya mengijinkan, kau adalah orang pertama yang kuberi," Sahut Handoyo santai.


Handoyo dan Indra  berjalan kaki dengan cepat menuju kantor. Dalam pikiran Handoyo, dia berfikir ini pasti sesuai perkataan BIg Mama, yang mengatakan bahwa Nadya akan menjemputnya. Tapi bagaimana jika bukan? Handoyo terus berfikir dalam perjalanannya.


Begitu terlihat  kantor lapas itu,  Handoyo tersenyum melihat mobil hitam yang terparkir di dekat gerbang. Senyum menghiasi di bibirnya mengingat itu adalah mobil hitam yang pernah menghentikan perjalanannya menuju lapas sementara dirinya belum divonis. Mobil milik BIg mama.


 

__ADS_1


 


 


 


 


*****


 


Happy Reading Guys.  Bolehkah tinggalkan jejak disini?


Thanks atas kebaikan hatinya membaca novel keduaku ini!"


JIka ingin mengetahui versi lain Handoyo senior, silahkan membaca " Cinta Kan Membawamu Kembali"


Thanks a lot Guys


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2