
Semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan orang terkasih ataupun kehilangan sebuah kesempatan ataupun suatu hal terpenting di hidupnya, dan mungkin sebuah perasaan yang tak akan pernah kembali lagi. Itulah bagian dari sebuah kehidupan yang membuat kita benar-benar hidup.
*****
Langit Jakarta sedang cerah, Jessy dan Jenny baru tiba di depan Gedung kepolisian tempat Handoyo di tahan. Mereka mengetahui dari berita di televisi yang menyiarkan siaran langsung dan membuat mereka berdua berniat untuk menjenguk sahabat mereka.
Betapa terkejutnya Jessy dan Jenny, ketika melihat cukup banyak bagian dari masyarakat yang hadir disitu dan membawa bunga segar dan tulisan di atas kertas yang berisi serupa yang intinya agar “Cepot Berdarah “ dibebaskan.
Waktu menunjukkan 10.15 ketika Jessy dan Jenny melihat dengan jelas tuntutan dan teriakan masyarakat yang mulai memadati halaman depan markas polisi. Mereka berkerumun dan berteriak-teriak di halaman depan kantor kepolisian RI itu dengan sukarela. Tidak ada yang membayar perjuangan mereka untuk berdiri dan merasakan kepedihan atas tertangkapnya idola mereka.
Bagi mereka "Si Cepot" ataupun "Cepot berdarah adalah pejuang keadilan yang mewakili hati masyarakat untuk memperjuangkan keadilan dengan caranya, dan sebagian masyarakat menganggap Handoyo adalah "Polisi Malam".
Di masa tahun 90-an, tindakan seperti itu adalah tindakan yang pertama kali, dan hal itu cukup mengguncang negeri ini. Liputan televisi makin banyak dan mulai ada beberapa televisi asing mulai menyoroti. Suatu hal baru yang fenomenal.
----
“Bebaskan si Cepot , Sang pembela kaum tertindas”
“Bebaskan si Cepot, pejuang keadilan!’
“Bebaskan Cepot, jagoan makasar!’
“Jika polisi tidak bisa membereskan penjahat, maka biarkan Cepot yang bekerja dengan caranya!
"Cepot adalah Polisi malam yang dicintai rakyat.
-----
Berdasarkan berita semalam yang disiarkan oleh Televisi Nasional Republik Indonesia(TNRI) Handoyo
ditangkap dan diduga bahwa dia adalah “Cepot berdarah “ yang di cari- cari setahun terakhir. liputan itu yang membuat massa berkerumun di depan markas besar kepolisian dengan tujuan masing-masing.
Sebagian Wajah dan kehidupan pribadi Handoyo akhirnya menjadi terbuka dan dijadikan konsumsi publik dan dijadikan pembicaraan oleh beberapa kelompok masyarakat. Beberapa anggota masyarakat yang perempuan merasa “Handoyo “ adalah pria yang keren dan layak dipuja. Ia bagaikan Superman di dunia nyata. Apalagi ia tidak memiliki istri sehingga menjadikan Handoyo sebagai "Duda Keren Idaman"
Sebagian lagi ada anggota masyarakat ikut merasa bersedih, bahwa tokoh yang dipuja dari dunia gelap ditangkap. Mereka ingin mengenal tokoh itu. Sepanjang pagi ini kilas kehidupan Handoyo yang kehilangan anggota keluarganya di Lampung, mulai diungkap sehingga masyarakat semakin empati dan menuntut polisi untuk membebaskan idola masyarakat yang dianggap sebagai penjuang keadilan bagi masyarakat.
“Jenn… kurasa kita menemui Al saja, kita minta bantuan agar diijinkan melihat mas Han… yuk kita menemui bagian pelayanan masyarakat saja, kalo berdiri bersama mereka kita tidak bisa menemui mas Han!” Ajak Jessy pada Jenny yang tampak menikmati suasana demonstrasi yang baru ada di masa itu.
“Aku disini aja bersama mereka, ya Jess… ntar kalo jam makan siang kamu gak keluar aku cari kamu di dalam deh… aku gak pernah ikut berdiri dan berteriak-teriak seperti mereka, ini rasanya menyenangkan..” Sahut Jenny dengan sukacita dan mengelap wajahnya.
“Kamu gak mau ketemu mas Han?” Tanya Jessy sekali lagi.
“Mau… tapi aku malas melihat Al, dia kan gitu kalo lihat aku datang, pasti gak suka dan belum tentu juga kamu berhasil, kamu seharusnya paham Al tidak akan membantumu, dia itu sangat mencintai pekerjaan dan kamu bukan siapapun baginya, tapi silahkan jika kamu mau mencoba..… anggaplah kamu akan berhasil, ntar kamu ngobrol dulu dengan Al, kalo memang akan berhasil temuin mas Handoyo, kamu panggil aku ya!’
“ya… aku ke dalam dulu," Jessy melangkahkan kaki meninggalkan Jenny bersama para demonstran yang masih tidak lelah berteriak-teriak di depan markas.
Jessy akhirnya memasuki bagian Gedung Bercat coklat itu dan menuju bagian pelayanan public. Setelah melaporkan keperluannya untuk menemui Ballawa, Jessy diminta menunggu beberapa saat di loby, Ada beberapa kursi panjang dan sofa di lobby itu.
Al akhirnya keluar dan menemui Jessy yang sedang duduk di kursi pangang di bagian Lobby. Tiidak jauh dari tempat Jessy ada dua pria yang juga sedang duduk berbincang seperti menunggu seseorang di Lobby. Setiap tamu tidak bisa langsung masuk tetapi harus menunggu di beberapa kursi yang memang disediakan untuk menunggu.
Al tersenyum memandang Jessy yang datang dengan sukarela menemuinya dan diperhatikan wajah kekasihnya
itu yang semakin cantik setelah lebih sehat akibat dioperasi beberapa waktu yang lalu. Hal yang tidak pernah dilakukan Jessy semenjak pesta pernikahan mereka dibatalakan.
__ADS_1
“Al… apa kabarmu?” Apakah luka-luka akibat pukulan kakakku sudah sembuh?” sapa Jessy sambil memperhatikan pria yang berpakaian coklat itu berjalan menghampirinya. Pria itu terlihat baik-baik saja.
“Itu gak masalah Jess, …. Emh kamu sudah lebih sehat, sudah makan belum?" Makan yuk di kantin samping itu, biar ngobrol kita makin enak… "Ajak Al ketika sudah duduk di samping Jessy.
“Al… aku bukan mau ngobrol dengan kamu…. Tapi aku mau minta tolong padamu…aku...
“Kalau untuk menemui Handoyo, maka jawabannya adalah tidak,Jessy!” Sudah kubilang jauhi dia, Jess!" Bukankah aku sudah pernah memperingatimu.... ini demi kebaikanmu!"
"Al... dia temanku, aku berhutang budi padanya.... bantu aku temui dia dan temani ya, sebentar saja, tolonglah aku, Al !" Aku kan tidak pernah meminta apapun padamu, Al !"
"Jess, Sudahlah, jangan buat aku marah dan cemburu padanya, kita makan dan ngobrol di kantin samping,” Ajak Al sambil menarik tangan Jessy untuk bangkit dan berjalan mengikutinya.
“Tapi Al… aku jauh-jauh kesini untuk lihat dia ,Al… tolongin aku sebentar saja… aku cuma mau lihat dia baik-baik saja..
“Jessy… kau pikir kami itu polisi jahat?” Dia baik-baik saja… jangan buat aku marah , Jess.. sudah jangan ikuti sekelompok massa ataupun berita di televisi itu... ayo kita makan dan aku antar kamu pulang ya!" Al sudah berdiri dan terlihat menahan amarah pada wanitanya itu.
“Ya sudah, jika kamu gak mau bantu aku ketemu mas Handoyo, maka aku akan ikut bersama dengan orang-orang
yang berteriak di depan kantor kamu ini!” Ujar Jessy sambil menghempaskan tangan Al dengan kasar.
“Jess…. "Bujuk Al pelan dan dia sudah melihat mata wanita itu berkaca-kaca.
“Aku benci kamu Al… kamu memang tidak pernah sayang aku sekalipun, ....aku kan gak minta kamu untuk
menemaniku selamanya…aku gak minta waktumu banyak, aku relakan kamu dengan wanita itu... aku gak papa, aku hanya mau menemui temanku itu, Al!" Tolonglah aku!"
“Jess, minta yang lain saja, ... aku akan usahakan, aku akan berusaha untuk kamu, tapi tidak bertemu dengan orang seperti itu,”Bujuk Al pelan dan mulai sadar bahwa tingkah mereka di lobby menjadi perhatian beberapa orang di Lobby.
“ya sudah kalo gak mau bantu , aku cari cara lain…. Aku pikir aku bisa minta tolong padamu, tapi aku yang memintapun gak ada artinya bagimu, AL…
“Jess… bukan gitu, aku.."Al bingung menghadapi Jessy yang terus mendesaknya.
Seorang pria yang semula sedang duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari posisi Jessy dan Al akhirnya ikut bersuara, dan menawarkan bantuan pada Jessy.
“Mbak, maaf… jika mau ketemu mas Handoyo, bareng kami aja, aku sudah dapat janji temu 1 jam lagi, jika kamu mau gabung dengan kami, aku bisa membiarkanmu melihatnya? “ Sahut pria itu sambil tersenyum pada Jessy.
Jessy menoleh pada pria yang berusia hampir dua kali lipatnya. Pria itu memang kelihatan dewasa dan senyumnya hangat. Pria itu menyuruh gabung dengannya di sofa tempatnya. Hanya ada dua pria di sofa itu. Jessy melangkahkan kakinya tanpa ragu.
“benarkah saya boleh ikut bergabung dengan bapak-bapak ini untuk menemui mas Handoyo?” Jessy berkata
sambil memandang kedua pria itu.
“Ya, jika hanya untuk melihatnya, bisa bareng kami…. Perkenalkan ini adalah calon pengacara untuk Handoyo, yaitu Dede Muhandar, dia pengacara hebat dari kota Bandung yang akan membebaskan Handoyo, emh kamu siapa? Apakah dia tidak keberatan jika kamu bergabung dengan kami?" Ujar pria itu sambil menunjuk Al yang memandang pria itu dengan tatapan permusuhan.
“Tidak, saya tidak punya siapapun disini…. Bolehkah saya ikut gabung dengan bapak-bapak ini, Saya hanya pernah di tolong oleh mas handoyo dan hutang budi padanya… emh boleh saya tahu siapa bapak?"Sapa Jessy ramah pada kedua pria itu.
“Saya Alex, saya juga pernah ditolong oleh Handoyo beberapa tahun yang lalu, jadi kami kesini untuk membantunya, dan kami dijanjikan bertemu dengan Handoyo itu satu jam lagi… jadi Yakin ya mau gabung dengannnkami?”
“tentu… jika bapak-bapak berdua tidak keberatan,” Ujar Jessy tersenyum manis pada kedua pria yang baru
dikenalnya dan itu membuat Al cemberut akibat ulah Jessy yang melupakannya.
“Jess…. Yuk sama aku dulu… nanti aku antar deh!”
“Telat… kamu itu selalu telat untuk aku,.... kesempatan untukmu selalu pertama kuberikan padamu, tapi kamu membuangnya, Al.... dunia gak akan berakhir meski kamu gak ada lagi untukku…. Sudah sana kamu kerja lagi!” Urus pekerjaaan dan keluargamu yang sesungguhnya!” Seperti yang pernah kamu dan umai bilang, diantara kita sudah selesai dan harus saling melupakan.
“Jess… “Al masih berharap Jessy berubah pikiran tapi tampaknya wanita itu masih mengabaikannya.
Al paham tindakan dan ucapan Jessy padanya yang ketus akibat ulahnya yang membohongi wanita yang seharusnya masih menjadi istrinya. Dia masih menunggu di sofa di samping Jessy dan kedua pria itu terus ngobrol dan memperhatikan dengan seksama Jessy yang mulai akrab dengan dua pria yang duduk di sebrang sofanya.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama-sama akibat celetukan salah satu pria yang membuat Jessy tertawa bahagia dan merasa
nyaman. Ada rasa tidak suka di hati Al melihat tindakan Jessy. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Ia yang terus melukai wanita itu.
“ Pak Alex, jika bapak tidak keberatan, boleh saya panggil nama saja… karena saya suka sama nama Bapak, biar kita makin akrab? “ Jessy bertanya dengan melirik sebentar pada Al yang ada di sofa seberangnya dan ia yakin pria itu pasti mendengarkan perbincangan mereka.
“Boleh Jessy, kamu mau panggil aku apa?” Sahut Alex santai
“Alex dan kusingkat menjadai Al…. lebih bagus mulai dari sekarang aku panggil kamu AL dan pada pak dede, gimana Aa dede?” Boleh gak pak Alex? Karena aku mau membuang Al yang lama dan ganti Al yang baru dengan Alex… kayaknya keren dan Aa dede… kalian berdua itu ternyata orang lucu dan baik hati," Ujar Jessy sambil tertawa bahagia dan ujung matanya melirik Al yang masih setia menunggu Jessy.
"Boleh.... biar aku semakin muda , kamu boleh panggil aku Al" dan kau de gimana?"
"Gak masalah... bagus juga punya teman yang usianya muda, Al.... Alex... bagus juga," Sahut Dede yang mengerti bahwa ucapan mereka itu untuk memanas-manasi pria yang berseragam coklat itu.
Percakapan itu membuat Balawa yang ada di seberang semakin mengepalkan tangannya dan iapun bangkit dari
kursinya. Ditariknya tangan Jessy agar segera pergi meninggalkan kedua pria itu. Rasa amarah karena Jessy mengabaikannya dan ucapan Jessy yang akan mengganti Al dengan Al yang baru cukup melukai harga dirinya.
“Ayo sudah bercandanya, jessy .. sekarang kamu ikut aku?” Al menarik Jessy agar bangkit dari tempat duduknya.
“Ih apaan sih Al?’ aku gak mau…. Alex dan Aa Dede, bisakah tolong aku,” Jessy memohon pada kedua pria
yang baru dikenalnya itu dan membuat Alex bangkit dari kursinya.
“Hei… pak polisi, lepasin aja deh… gak baik memaksa seorang wanita dengan kekerasan!” Alex berusaha
menghentikan Langkah Al yang mulai tidak sabar dan mencengkram tangan Jessy dengan erat.
“Kamu tahu siapa dia? Dia masih istriku… tidak ada urusan denganmu, aku harus mengajarkannya sopan santun… Jadi harap tahu batasan, hal yang wajar jika suami dan istri itu berantem!" Al menjawab dengan emosional pada Alex.
Jessy tersentak kaget, Al masih mengakui dirinya sebagai istrinya dan membuat dirinya terdiam beberapa detik dan membuat Alex terkejut akan pernyataan pria di depannya bahwa dia tidak bisa ikut campur jika wanita itu istri pria berseragam polisi.
“Bohong dia Alex, dia meninggalkanku di tengah pesta dan dia bilang pernikahan kami dibatalkan… jadi menurutmu apakah dia bisa disebut suamiku,?” Apakah masih disebut suami yang tidak pernah ada untukku
dan bilang membatalkan pernikahan di depan orang tuaku, hingga membuat ibuku meninggal dan ayahku memilih bekerja menjadi TKI … Apakah disebut suami jika ia di depan keluarga besarnya tidak bisa berkata bahwa aku juga istrinya, jadi kumohon .... tolong aku , Alex…!” Ujar Jessy sedikit mulai berlinang air mata.
“Jessy… katakan padaku sekali lagi … apakah dia suamimu?” Tanya Alex.
“bukan… dia membatalkan pernikahan kami di tengah pesta dan setelah itu berkata kepada orang tuaku,bahwa pernikahan dibatalkan, terus dia menghilang…. Hua…. Huaa…. dia pria terkejam yang pernah kutemui , dia memaksaku untuk menganggap bahwa dia tidka pernah ada....”Tangis Jessy meledak dan Alex menariknya ke pelukannya.
Al terdiam melihat Jessy menangis histeris di pelukan pria yang baru ditemui Jessy. Ingin ditariknya Jessy dari pelukan pria itu. Pria yang sepertinya dikenal Al… tunggu, bukankah pria ini merupakan salah satu tersangka
kasus Palembang, apakah dia?”
AL terdiam di tempatnya dan menatap wanita itu dengan tidak rela. Maafkan aku Jessy. Al hanya melirik dalam diam pada Alex dan dede muhandar yang masih duduk di sofa,
"Jessy... sudahlah jangan menangis lagi, ntar Handoyo pikir aku berbuat jahat padamu!" Bujuk Al lembut dan ternyata bisa menghentikan tangisan Jessy.
"terimakasih Al," Sahut Jessy pelan sambil menatap Alex yang sedang memeluknya.
*****
Happy Reading Guys.... Bolehkah tinggalkan jejak kalian di sini?"
Thanks ya sudah membacanya. Love you all
__ADS_1