Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
102. Diantara dua pilihan


__ADS_3

Jika aku mampu memilih, aku memilih untuk bersamamu dan melupakan semua kemarahanku.


*****


Adiguna melangkah meninggalkan Ballawa karena ia tidak merasa nyaman dengan pria itu.


Ketika langkah Adiguna makin menjauh, selintas bayangan hadir di kepala Ballawa.


Bayangan dari pria yang beberapa waktu lalu gagal di tembaknya.


Handoyo. Pria itu mengapa begitu mirip dengan Handoyo? Hanya saja model rambut yang lebih bergelombang, warna kulit pria ini lebih kuning bersih dan cara bicaranya tertata dengan baik, membuatnya tidak sama dengan Handoyo.


Akh... tidak mungkin itu Handoyo, dia adalah anak Jendral Gaffar yang dibesarkan di pesantren.


Lagipula pengawasan di LP Nusakambangan itu ketat. Rasanya mustahil pria itu adalah Handoyo.


Adiguna memasuki mobil bersama Nadia lalu mereka meninggalkan kediaman jendral Gaffar.


Tatapan tidak puas terlihat jelas di mata Pramoedya. Dia masih tidak rela memperhatikan kepergian Nadia dan Adiguna.


Bukannya Ballawa dan para anggota tim-nya tidak mengetahui hal itu, tetapi mereka memilih mendiamkannya dan memikirkan rencana lain.


"Ball... kita ke Jakarta sekarang! Aku harus bisa meyakinkan Nadia dengan mendatangkan kedua orangtuaku..!"


"baiklah mas pram... tapi perlukah kita bicara dulu dengan jendral Gaffar?"


"tidak perlu, nanti malam dia pasti menemuiku... sekarang kita jalan!"


Pramoedya memasuki mobil yang telah menunggunya dan diikuti oleh Ballawa. Ada rasa tidak rela tapi ia bisa apa jika sekarang ia tidak bisa memutuskannya.

__ADS_1


*****


Adiguna hanya mengemudi mengikuti instruksi yang diberikan oleh Nadia, rute perjalanan menuju kantor mereka


Dalam perjalanan itu tidak ada satupun dari mereka memulai percakapan.


Hanya keheningan dan suara klakson mobil yang terkadang ditekan Handoyo ketika ada beberapa krndaraan yang mengganngu perjalanan mereka.


Hingga mobil memasuki gedung kantor, Adiguna menarik lengan Nadia dan seraya mengajaknya bicara sejenak.


"Nad..." Panggil Handoyo karena ia merasa tak nyaman dengan situasi ini


"ya mas Han...


"katakan apa rencanamu? Apa a ku bisa membantumu?


Nadia terdiam dan Adiguna hanya memperhatikannya.


"kau mencintai Pramoedya, Nad?"


"tidak.


"kalo begitu katakan dengan jelas padanya.


"tidak semudah itu mas han... kau tahu siapa dia? dia dari keluarga terpandang di negara ini, kita tidak bisa sembarangan bertindak.


"Aku tahu.... kamu katakan saja padanya bahwa kau tidak ingin menjadi istrinya dan biarkan aku yang melakukan sisanya, aku yang membantumu untuk membereskannya."


Nadia terdiam, dan Adiguna masih berupaya membujuknya. "gimana Nad?

__ADS_1


"kau ada tugas yang lebih besar... jangan sampe masalah ini mengacaukannya.


"Nad... ayo kita menikah?"


"jangan main-main mas han!"


"aku serius, Nad ... aku mau menikahimu... aku bisa bertanggungjawab pada dirimu dibandingkan dengan pria itu... kurasa aku juga bisa mencintaimu, Nad."


"aku tahu mas han lebih bertanggungjawab, dan mungkin nantinya kita bisa saling mencintai tapi aku ingin dia dan keluarganya yang bertanggungjawab atas perbuatannya padaku!"


"kau suka menjadi bagian keluarga itu, Nad?


"bukan itu masalahnya mas .. tapi aku harus memberi pelajaran pada pramoedya dan keluarga besarnya.


"meski nyawamu taruhannya?


"iya, meski nyawaku taruhannya tapi aku bisa puas melihat mereka bisa menderita."


"kau juga bisa melihatnya menderita tanpa harus menikahi pramoedya, Nad...


mereka terdiam dan saling bertatapan.


"sudahlah mas han... sekarang kita kerja dulu!"


Nadia membuka pintu mobil dan menuju bangunan kantor mereka, langkahnya diikuti oleh Adiguna dengan ketidakpuasan.


*****


Happy reading and happy new year. Terimakasih telah membacanya, maaf agak telat nulisnya krn kemarin aku sakit agak parah sampe di rawat. thx for support kalian. Gbu

__ADS_1


__ADS_2