Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
122. Let you go


__ADS_3

Ketika kehilanganmu, aku hanya berpikir untuk belajar merelakan. Sampai akhirnya aku sadari  bahwa ucapan tak semudah kenyataan.


*****


Di dalam mobil milik Pramoedya dan Nadia saling memandang dan tersenyum penuh bahagia. Pernikahan mereka akan berjalan beberapa hari lagi di kediaman Nadia yang merupakan rumah  dinas dari kantornya. Persiapan pernikahan sudah disiapkan oleh Aleesha sebagai perwakilan keluarga . Karena Nadia sudah tidak memiliki orang tua lagi selain adiknya.


"Na... terimakasih telah mau menerimaku dan bersedia menjadi istriku." Maaf atas kesalahanku pada waktu itu... ijinkan aku menebusnya!"


"Aku sudah memaafkanmu mas Pram... dan aku memang ingin kita bisa hidup bersama dan memulai dengan awal yang baru."


"Baguslah... kita harus merencanakan beberapa hal ke depan dan aku tak akan membawa para pengawalku... kurasa aku bisa melindungi keluargaku, meski kutahu kau lebih hebat dalam bertarung."


Pramoedya tersenyum sinis. "Tapi aku adalah kepala keluarganya, jadi kuharap kau mengetahui posisi wanita sebagai istri dan ibu."


"Ya mas Pram, Apakah setelah menikah kita akan tinggal di rumah pemberian Om dan Tante yang di Jakarta ? Atau kita akan tinggal di tempatku, mas Pram? Atau dimanakah kita akan sering tinggal?"


Rumah Dinas Nadia  telah diberikan oleh Aleesha sebagai pemilik perusahaan sebagai hadiah perpisahan karena Nadia sudah bekerja keras untuknya. Rumah itu letaknya di Huk dan tepat dibelakang rumah Nadia adalah rumah dinas milik Handoyo. Hal itu tidak diketahui oleh Pramoedya.


"Na... meski kamu sudah memiliki rumah , tapi kita akan tinggal di rumahku ya... rumah yang kita beli dan untuk membesarkan anak-anak kita nanti, aku sudah merencanakan beberapa usaha dan kamu bisa membantuku merintis usaha bersama ... dan kita akan selalu bersama selalu!"


"Baik mas Pram... di Palembang kan?" Nadia tersenyum hangat pada calon suaminya itu.


"hemm.... aku ingin jauh dari keluarga itu Nad... kau keberatan jika kita jarang bersama mereka?" Kau sendiri tahu keadaannya seperti apa..!"


"Tidak.... itu tidak masalah, mas Pram... tapi bolehkan aku berharap, jika anak pertama kita lahir nanti, aku ingin papamu yang memberi nama cucunya... bolehkah aku berharap seperti itu?" Boleh ya  mas Pram?"  Nadia bertanya dan terus memperhatikan pria yang focus mengemudi dan menatap ke jalan raya yang memang sudah tidak terlalu ramai.


Nadia melanjutkan ucapannya  dengan pelan "Aku ingin memiliki kenangan yang tak terlupakan dari papamu itu  salahkah aku mengaguminya... dia pria yang hebat... satu negara ini menghormatinya, ... maaf kamu juga hebat... aku mengagumi ayahmu semenjak aku masih sekolah,mas Pram.." Nadia seolah tersadar bahwa ekspresi Pramoedya tidak menunjukkan raut wajah bahagia.


"Maaf mas Pram..." Nadia seolah tersadar bahwa ia telah salah bicara.


Pramoedya masih fokus menyetir dan tetap  memperhatikan jalan  di depannya. Ia mendengar pertanyaan dari Nadia. Sesungguhnya iapun ingin papanya yang memberi nama keturunannya, tapi bisakah ia berharap seperti itu. Bagaimana pandangan mama Tiara padanya dan Nadia. Pramoedya masih bingung dan terdiam sambil memikirkan jawaban yang tepat pada Nadia.


Bagaimana jika sesungguhnya papanya juga merasa malu seperti apa yang dirasakan oleh mama Tiara. Dia adalah anak haram. Anak yang tidak ingin dilahirkan oleh mama Tiara. Dia adalah anak dari kesalahan papanya. Tapi salahkan dirinya ada di dunia? Salahkah aku ingin diakui?"


Nadia terdiam memperhatikan Pramoedya yang terdiam terus seolah tidak mendengarkan ucapannya . Sedikit kecewa tapi segera ditepisnya. Ia harus tersenyum bahagia


"Maaf... tapi jika mas Pram keberatan, aku gak tak masalah ko.... kita bisa mencari nama yang cukup baik ...!" sudah jangan dipikirkan lagi ya... !" Nadia kembali berkata dengan nada riang.


"Kita akan ke Jakarta dan temui mereka Na... aku akan meminta pada papa untuk mendoakannya dan memberikan nama seperti pada cucunya yang lain... percayalah padaku !'


Pramoedya menengok sesekali pada Nadia ketika mengemudi, Ia cukup mengenal wanita ini yang pandai menyembunyikan isi hatinya.

__ADS_1


"Na... kau boleh mengungkapkan isi hatimu padaku seluruhnya, jangan kau terus mengalah pada kemauan semua orang... aku yang akan melindungimu mulai sekarang, kumohon percayalah ... bisakah kita saling terbuka dan selalu saling percaya..!"


Nadia tertegun menatap Pramoedya. Pria ini sudah jauh berbeda dengan yang terakhir kali ditemuinya. Apakah ini Pramoedya yang dia kenal? Mengapa sekarang dia lebih dewasa dan mau mengalah? Benarkah ini pria yang akan dinikahinya? Benarkah ini adalah pria yang pernah dicintainya dulu sekali sebelum kejadian yang memalukan itu.


Pramoedya serasa sudah menjadi pria dewasakah? Apakah dia mendadak jatuh cinta dengan pria ini? Pria yang akan dinikahinya dengan alasan tertentu.


Seolah pria itu menyadari bahwa Nadia memperhatikannya. Ia menengok dan tatapannya kembali ke tatapan yang sering dilihat oleh Nadia. Tatapan sinisnya kembali.


"Kenapa?"


"Tidak... emh apakah mas Pram, tahu rumahku yang sekarang?"


"Tahu... di ujung jalan ini!" Rumahmu nomor 20 kan?"


Pramoedya menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Nadia. Pria itu menghentikan mobilnya perlahan dan ia menatap Nadia sekilas.


"Na.... malam ini adalah malam terakhir kita bertemu sebelum hari minggu kita menikah...Jaga dirimu baik-baik dan jangan sampai sakit!'


"Baik Mas Pram... kamu juga ya!" Aku turun dulu ya, sampai ketemu hari minggu.


Nadia membuka pintu samping temapt duduknya dan akan melangkah keluar, namun sebuah tangan dan gerakan cepat menariknya kembali ke dalam mobil. Gerakan itu cukup cepat dan hampir saja Nadia memukul pria yang akan menikahinya. Pria itu menatapnya sambil tersenyum.


"Hah...


"Bolehkah... aku tak akan mencuri ciuman ataupun perbuatan lainnya yang mungkin dianggap olehmu keterlaluan, aku akan menjadi priamu yang sopan dan tidak akan melakukan  jika kau tidak mengijinkannya, Na... Bolehkah ?"


Nadia terdiam sesaat , meski keheranan dan merasa aneh, Nadia  kemudian mengangguk.


Pramoedya tersenyum sebelum Nadia menyadarinya bahwa pria itu sudah menarik tengkuk Nadia dan mencium bibirnya. Hanya sesaat, tidak ada yang terasa di hati Nadia saat itu. hanya kaget karena pria ini menjadi pria yang berbeda. Apakah aku mulai mencintainya kembali?"


"Mas Pram..." Nadia akhirnya bisa bersuara ketika ia melihat dari sudut kaca spion ada lampu mobil yang menyala dari jauh.


"Kenapa? Kamu marah?"


"Gak... ini sudah malam... mas Pram pulang hati-hati ya?"


"Jangan kuatir aku sekarang bisa melindungi diriku...!"


Nadia turun dari mobil Pramoedya dan matanya melihat masih ada mobil hitam diujung jalan sana. Mobil itu mengikuti mereka semenjak di jalan keluar rumah besar milik Jendral Suhartono. Pasti pengawal yang memastikan keamanan Pramoedya.


Nadia tersenyum miris. Pastilah Jendral Suhartono tetap menjaga anak lelakinya ini, dia tak mungkin mengabaikannya.

__ADS_1


Ada rasa sesak di hati Nadia ketika menyadari bahwa tidak ada Adiguna selama seminggu ini yang mengisi hari-harinya. Pria itu tak mencarinya atau mengunjunginya, meski mereka tinggal berdekatan. Sedih. Salahkah aku mengharapkan melihatnya sesaat saja.


Nadia membuka pintu rumahnya dan segera menguncinya kembali. Dinyalakannya lampu ruangan itu. Nadia segera meletakkan tasnya di atas meja,hingga sebuah suara mengejutkannya.


"Sudah puas main-mainnya Nad?" Nada Suara pria itu cukup menggelegar di rumah itu dan itu sangat mengejutkan Nadia. Suaranya terkesan penuh amarah.


"Mas Han.. ko kamu bisa ada disini?" Ada apa ?"


"Apakah kamu yakin akan bersamanya ?" Kamu yakin lebih bahagia hidup bersamanya dibandingkan denganku?"


"Mas Han... sudah tahu jawabannya... aku ada alasan untuk semuanya mas...bukankah kita sudah membahasnya minggu kemarin waktu di pulau Bidadari."


"Dengarkan aku ... batalkan pernikahan itu... kita cari tempat dimana tidak ada orang yang mengenal kita, Nad... kita bisa bersama dan saling menjaga Na... kamu tak kan bahagia bersamanya Nad..


"Mas han... kumohon biarkan aku menikahinya... kita masih bisa bersama dan kau bisa melihat anak kita tumbuh besar dan selamat dalam pengawasan bersama., mas han.."


'Tidak... aku tak kan menemui mu lagi Nad... jika kau memilihnya maka tidak ada aku lagi dihidupmu!" Sekarang apa maumu dan katakan dengan jelas!"


"Aku ingin menikahi Mas Pram dan tetap bersamamu... kumohon mas Han..!"


"Baiklah jika itu maumu... semoga kamu bahagia hidup bersamanya.... aku pergi.


Handoyo langsung melangkahkan kaki menuju pintu belakang rumahnya dan menuju tembok belakang rumah dia. Lompatan Kakinya yang cepat dan hanya membuat Nadia tertegun.


"Mas han.. Mas Han... tunggu... Mas. "teriak Nadia.


Handoyo kecewa dan marah pada Nadia, Tapi egonya berkata pantang baginya berbagi wanita . JIka ia ingin bersama pria lain, maka Handoyo melepasnya dengan ikhlas, JIka ingin bersamanya, maka Handoyo akan menjaganya dengan sepenuh hati.


Cintanya cuma satu, Jadi Nadia pun hanya  boleh mencintai dirinya saja dan tidak pria lain.


Deg... benarkah cintanya cuma satu. Cintanya cuma satu pada Lidya dan Nadia hanyalah pemuas nafsu dan tidak ada cinta untuk Nadia. Dia yang salah yang tidak memberikan hatinya pada Nadia. Akhirnya dia yang kehilangan Nadia. Kesalahannya yang membuat Nadia pergi dari hidupnya.


Bodohnya aku Nadia. maafkan aku !" Aku akan merelakanmu... aku akan berusaha Nadia. Tapi kau sudah tidak ingin bersamaku lagi. Bodoh.... Bodohnya diriku.' Nadia  oh  Nadia.... Lidya... maafkan aku, aku juga mencintai wanita lain.


Lidya... Nadia... Lidya.... Nadya.


Ketika kehilanganmu, aku hanya berpikir untuk belajar merelakan. Sampai akhirnya aku sadari  bahwa ucapan tak semudah kenyataan.


*****


Happy Reading Guys, Semoga kalian semua sehat dan baik-baik saja. Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thank a lot ya!"

__ADS_1


__ADS_2