
Semuanya memang terlihat tidak mungkin, tapi kalo kita percaya kita mampu melakukannya maka kita akan berhasil.
*****
Ruang rapat Organisasi "Elang Hitam" Jl Prapanca lantai 3, Jakarta.
Ruangan itu cukup besar bisa menampung sekitar 200 orang, Namun hanya terdiri dari dari 10 orang yang berada di dalam ruangan itu. Mereka adalah orang orang yang dipilih Big mama untuk operasi "Ambush The Lion" yang akan dilakukan segera.
Erick prasetyo sedang mengetik di mesin ketik dengan lincahnya, karena ia mendata yang hadir saat itu :
1. Ketua : Aleesha (Big Mama / istri dari Jendral Gaffar ).
2. Kepala Unit Strategi : Jendral Wimar ( bertugas sebagai Menteri Keamanan dan Pertahanan Negara)
3. Bendahara organisasi : Levia, Agustina ( bertugas Kabag keuangan provinsi yang ditempatkan di Bandung)
4. Sekretaris : Erick Prasetyo ( dosen hukum Universitas Indonesia)
5. Robby Sugari ( Artis top ibukota)
6. Ray Jackson (Pengusaha batubara)
7. Steven (Pengusaha merangkap pengawal Aleesha)
8. Puteri Aniessa Sabwedan (Pengusaha merangkap pegawai di Istana Negara)
9. Michael Chang (Pengusaha )
10 Adiguna ( Pengusaha / anak angkat Aleesha)
Acara rapat hari ini memang hanya membahas akan dijalankannya operasi "Ambush The Lion" yang telah dirancang sejak setahun yang lalu oleh Jendral Wimar dan tim 10. Tim 10 yang dimaksud adalah 9 orang tersebut bersama Nadia yang keluar organisasi karena menikah.
"Big Mama... kau yakin, Nadia tidak akan membocorkan rahasia kita ini? " Jendral Wimar memulai percakapan ketika semua ruang sudah benar-benar aman dalam posisi terkunci.
"Tentu saja, Nyawaku adalah jaminannya... dia seperti anakku juga sama seperti Adiguna, jadi kurasa memang nantinya tugas Nadia akan dilakukan oleh Adiguna, hanya ada pergeseran sedikit di langkah menuju Lion." Aleesha berkata dengan tenang dan ia bangkit dari kursinya lalu mengambil apel merah yang ada di samping meja telephone.
"Adiguna... ambil pistolmu dan tembak apel ini tepat di tengahnya !" Aleesha berkata sambil meletakkan apel itu di atas kepalanya.
__ADS_1
Para peserta rapat terkejut melihatnya dan tidak menyangka akan ada atraksi hari ini. Mereka semuanya melihat Adiguna yang mengambil pistol dari balik saku jasnya. Ia mengarahkannya ke atas kepala Aleesha. pria itu tenang sekali dan tatapannya itu kenapa sedikit menyeramkan ketika memegang senjata.
Ada sedikit rasa kuatir di mata Jendral Wimar, bagaimana jika pemuda ini meleset. Habislah kepala Aleesha. Habislah wanita cerdas dan berani yang memang menginspirasinya untuk melakukan serangan pada pemimpin negara ini dengan langkah yang terencana. Apakah dia sudah memikirkan matang-matang atraksi gila ini?"
"Tenanglah Wimar... aku mengenal anakku ini, dia memang ahli menembak dan kau tidak perlu kuatir sedikitpun padanya!" Aleesha berkata seolah menenangkan Wimar dan meminta pria itu fokus saja pada atraksi yang akan disajikan.
Wanita itu tersenyum pada Adiguna dan kemudian Adiguna mengangguk. Diluruskannya posisinya dan lengannya ditekuk hingga senjata tepat untuk menembak. Adiguna membidik buah apel itu dengan posisi yang tepat. Dan
Dor...
selesat peluru itu bergerak cepat. Apel itu terjatuh dan terbelah di atas kepala Aleesha.
Wimar bangkit dari kursinya dan mengambil apel yang baru di tembak oleh Adiguna. Dilihatnya peluru itu. Asli. Benar-benar bidikan yang tepat. Dimana dia ditemukan oleh Aleesha?" Apakah dia pernah belajar di militer ataukah dia anggota dari pasukan Inggris yang kemarin sempat ribut dengan Elang Hitam. Pria ini seperti tentara bayaran atau pembunuh terlatih .
"Adiguna...aku akan lempar buah leci ini, dan kau tembak dengan tepat!" Wimar berkata dengan cepat dan langsung melempar buah berkulit coklat itu ke atas kepalanya.
Dor....
Leci itu pun jatuh kembali ke tanah. Jendral Wimar tersenyum pada Adiguna. Namun tatapannya berkerenyit seolah mengingat sesuatu. Namun ia tidak yakin .Apakah dia pembunuh bayaran? Apakah dia anggota pasukan khusus dibawah binaan Gaffar.
"Saya tidak pernah masuk angkatan manapun... saya besar di pesantren... saya hanya belajar sesekali dengan Big Mama ketika mengunjungi kami semua dan latihan menembak di hutan." Adiguna menjawab dengan tenang.
"Hemm... dari pesantren... bagus juga kau... tapi kurasa aku pernah melihatmu... tapi dimana ya?" Jendral Wimar berusaha mengingatnya.
"Kau pernah melihatnya ketika kau datang mengunjungiku beberapa tahun yang lalu, tapi kau terburu-buru karena Gaffar sedang marah dan akan menembakmu, sehingga kau tidak terlalu memperhatikan Adiguna. Ingatkah kau akan peristiwa itu, saat itu Adiguna baru datang dari pesantren " sahut Aleesha berusaha membantu Adiguna.
Rahasia kelam Adiguna tidak boleh terekspos sebelum operasi ini tercapai. Aleesha berusaha meyakinkan peserta rapat itu.
"Baiklah... saat itu aku hanya fokus pada Gaffar yang begitu gila dan cemburu ." Sahut Wimar sambil mengangguk-angguk. " Baiklah teman-teman sekalian , bagaimana setelah melihat kemampuan Adiguna, apakah rekan-rekan setuju, dia yang akan menjalankan operasi ini."
"Aku tak masalah... justru dia tak akan dicurigai oleh the lion and his wife." Sahut Erick. "Tapi apa kau tak masalah Adi, jika kau tertangkap, kau bisa mati dan kami takkan membelamu di hadapan pengadilan, kami cuma bergerak di belakang layar "
"Tak masalah bagiku... aku akan membunuh diriku jika tertangkap dan tidak akan membuka rahasia organisasi ini!"
"Baguslah.... Kau memilih orang yang tepat Big mama!" Erick tersenyum puas menatap Adiguna yang akan bertindak menjalankan operasi ini.
Big Mama tersenyum dan bangkit berdiri di posisinya. Ia menarik nafas sebelum berbicara di depan temannya.
__ADS_1
"Operasi ini akan dijalankam bulan depan... saat itu ada kegiatan memancing di kepulauan Laut Maluku... itu ada acara keluarga dari The Lion, semua berkumpul... hanya saja... Adiguna langsung akan menembak ke The Lion dan aku akan menembak istrinya... itu adalah pergeseran rencanannya.."
"Tapi.." Jendral Wimar terkejut mendengar rencana Big Mama.
"Jangan potong ucapanku Wimar... Aku eblum selesai... aku ingin tanganku sendiri yang menembak mati dia... jadi ini adalah misi bunuh diri, aku berharap jika kami berhasil ataupun gagal, maka Steven dan kau harus melanjutkan organisasi ini. Namun tujuannya akan bergeser yaitu membantu masyarakat yang mengalami kesulitan dalam menghadapi aparat hukum, agar tidak ada kasus seperti Nadia dan Adiguna terjadi di kemudian hari."
"Baiklah... ktia akan bantu dan dukung rencanamu Big Mama, tapi bagaimana jika Jendral Gaffar mengetahui bahwa kita yang merancangnya...?"
"Dia takkan pernah mengetahuinya... orang di organisasi ini berbeda dengan organisasi perusahaan. Gaffar hanya bisa menyelidiki perusahaan dan tidak kita semua yang hadir di sini...!"
"Levia, kami perlu kapal untuk akomodasi dan pengalih perhatian... bisa kau siapkan dalam minggu ini?"
"Siap Bu..!" Bagaimana Steven.. kau bisa bantu aku carikan supliyer, biar aku yang akan melakukan penawaran?"
"Tak masalah..." Sahut Steven.
"Steven.... mulai sekarang, kamu yang harus makin rajin ke perusahaan dan kau, Adiguna akan mengurangi tampil di perusahaan tapi akan mengikuti Jendral Gaffar ke kantor untuk lebih akrab, karena kau harus mendampingi Gaffar ke kepulauan Laut Maluku.... kakukan tugas kalian dengan baik!"
"Baik bu.." Steven dan Adiguna segera menjawab perkataan Aleesha . Keduanya bersiap menjalankan tugas dari ketua organisasi elang hitam.
"Satu hal lagi yang perlu untuk kita ketahui... The Lion selain membawa pasukan Paspanpres, ia akan membawa satu pasukan kecil yang dipimpin oleh mantan polisi yang sedikit bermasalah, namun karena kecerdasannya dia ditarik ke istana .. Dia pria yang cekatan, tapi lemah dalam menembak jarak jauh tapi kudengar dia ahli strategi .. tapi aku lupa namanya... siapa itu kemarin ya ? Sebentar kulihat berkas yang dikirim oleh sekretarisku... mana dia ya ?" kalo dicari-cari berkas ko gak ketemu.." Jendral Wimar sibuk mengaduk aduk isi tasnya dan mencari berkas di dalam tas hitam miliknya.
" Apakah maksud Jendral itu adalah Ballawa?" Sahut Adiguna dengan sedikit tidak yakin.
"benar... kau pernah bertemu dengannya?" Wimar bertanya kembali pada Adiguna." Kudengar dia itu sangat hebat dalam penjagaan dan strategi."
"Aku pernah bertemu dengannya sebelum Nadia Menikah... dia pangawal khusus dari mas Pram..!" Adiguna menjelaskan kepada yang hadir. "Menurutku, dia biasa saja,tapi kita tidak boleh gegabah berhadapan dengannya, dia penyelidik di kepolisian dan diperbantukan ke istana."
'jangan kuatir, Wimar... Adiguna akan menanganinya!" Aleesha tersenyum pada Adiguna penuh arti.
Pertemuan antara Adiguna dengan Ballawa bukan pertemuan pertama, bahkan dalam satu kesempatan Ballawa gagal menembak Adiguna yang berakibat karir dikepolisiannya nyaris habis. Rahasia itu belum boleh dibuka kepada tim ini hingga tugas Adiguna dalam operasi "Ambush The Lion" berhasil. Stevan akan membukanya semua kepada timnya. Rahasia besar tentang pemimpin negara ini.
Aleesha tersenyum. Tugas dan kebersamaan mereka tidak lama. Misi bunuh diri ini adalah misi yang dipilihnya demi membayar janji terhadap sahabtanya yang merupakan ibu kandung Adiguna. Ia tidak akan merasa bersalah meninggalkan Gaffar . Hubungan mereka juga sudah membaik. Hanya keberhasilan operasi ini yang dinantinya.
*****
Happy reading temans. Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot
__ADS_1