
Sebuah resiko untuk mencapai kesuksesan yang besar adalah wajar.
Sadari kekuatan yang kita miliki dan jangan tergoda untuk mengurusi kelebihan dan kekuatan orang lain, Ingatlah kita akan lakukan semua pekerjaan kita dengan penuh keyakinan.
*****
Palembang, Desember 1992.
"Kau yakin Han... Perangkat kita sudah siap semua ?" Udin bertanya meminta ketegasan Handoyo yang masih merokok di balkon rumah yang baru mereka kontrak tiga minggu yang lalu.
"Hemm.... kenapa kau takut?" Handoyo menghisap rokoknya kembali dengan santai.
"Tidak.... aku percaya padamu, tapi apakah informasi yang kau peroleh pasti benar, bahwa lusa Gubernur akan ada rapat di Jakarta, jadi semua tugas akan di handel oleh sekretarisnya? Bukan oleh Wagub?'
"Ya... aku sudah lihat agenda kerja itu.... tadi sore sebelum mereka pulang, Sekgub membacakan jadwal untuk gubernur dan sudah memesankan tiket pesawat ke Jakarta... dan aku mendengarnya sendiri bahwa yang akan hadir di peresmian "Pusat pertokoan Palembang" yang pertama di Kota Palembang adalah sang sekretaris.... itu adalah moment yang tepat untuk si "Cepot " menunjukkan diri..... Cepot akan terkenal dan tidak terlupakan.... ingat tugasmu saja dan lakukan dengan tepat.
"aku mengkhawatirkanmu, Han... kau akan berperang di dalam sendirian dan pasti ada banyak penjagaan yang ketat disana!" Udin berkata lirih dan memilih duduk di depan Handoyo. " Aku tahu.... kau ini berani dan penuh perhitungan, tapi sadari kekuatanmu, kita cuma dan mereka banyak, Han...ku rasa bang Alex bersedia mengirimkan beberapa orang untuk membantumu!"
"Aku tidak suka bekerja dalam tim besar... din,..... Sebuah resiko untuk mencapai kesuksesan yang besar adalah wajar.... aku yakin dengan perhitunganku!" Jangan takut!"
"Baiklah... aku menunggumu di luar gerbang pertokoan dan bersiap.... kau tahu resikonya jika tertangkap, Han...
"Tahu dan aku akan menanggungnya sendirian... kau jangan takut!" Aku sudah tahu 16 titik yang akan menjadi tempat meletakan senjata otomatis.. kau hanya perlu memastikan tali pengikat kencang dan tidak mungkin terpotong oleh burung ataupun binatang yang hinggap di atas pohon.
"ya.... aku sendiri yang memasang semua senjata di 16 titiik itu tepat pukul 4 pagi dan akan menariknya begitu dia berdiri di podium pukul 07.15 , dan menembak ke beberapa titik sehingga massa bubar dan kau bisa melakukan tugasmu.
"Berarti kita akan sukses, Din!"
"Semoga, Han...
*****
Pusat pertokoan Kota Palembang merupakan kumpulan ruko-ruko pertama di tengah kota Palembang. Aneka Pakaian, Perabot, perhiasan, elektronik dan makanan khas Palembang dijual disini. Seluruh Pedagang akan membuka usahanya tepat ketika Gubernur akan meresmikan di pukul 07.15 pagi ini.
Informasi terbaru yang diterima para pedagang di pusat pertokoan itu adalah Gubernur harus datang ke Jakarta sehubungan ada rapat kordinasi dengan Presiden. Sedikit rasa kecewa hadir di hati para pedagang, namun peresmian akan tetap dilakukan dan dipimpin oleh sekretaris gubernur.
Menurut rencana, semua yang hadir akan dibagikan sarapan pagi dan ada banyak pembagian hadiah untuk para warga masyarakat yang hadir di kegiatan peresmian itu. Bener-benar acara kebersamaan untuk masyarakat kota Palembang.
__ADS_1
Bagi para pedagang, semakin banyak masyarakat yang datang berarti ada kesempatan besar untuk menarik para pembeli mampir ke toko mereka. Semua pedagang sedang mempersiapkan barang dagangannya dan menatanya dengan menarik dan ,para pedagang itu tidak memperhatikan para petugas yang sedang sibuk menangani kesiapan panggung, podium dan tata suara.
Panggung itu memiliki ketinggian sekitar 1, 5 meter. Siapapun yang tampil di panggung harus menggunakan anak tangga yang membantu orang naik ke panggung agar siapapun yang tampil dapat dilihat dari segala penjuru. Anak tangga di letakan di bagian samping kiri dan kanan,serta bagian depan panggung untuk tamu kehormatan.
Krew yang terlibat cukup banyak dan semua orang sedang sibuk. Ada yang sibuk menangani kabel sound system dan mencoba test suara beberapa kali, menata panggung, dekorasi panggung, kursi penonton dan meja penukaran hadiah. Semua orang sedang mempersiapkan pekerjaannya masing-masing tanpa terkecuali. Gembira makin terasa ketika musik dibunyikan sebagai pengantar untuk menunjukkan akan ada keramaian disitu.
Masyarakat sudah mulai banyak berkumpul, di sekitaran panggung bahkan beberapa orang sudah menikmati aneka jajanan / makanan khas Palembang di lokasi dekat panggung acara. Suara semakin riuh ketika salah satu penyanyi daerah memulai lagu pembuka acara dan warga semakin banyak yang datang.
Tepat pukul 07.00, Acara dibuka oleh pembawa acara yang meminta warga untuk berkumpul di sekitar panggung. Musik pembuka sudah berbunyi dan penyanyi kebanggaan kota Palembang sedang mendendang lagu kedua ketika iring-iringan mobil dinas sudah datang dan berhenti di belakang panggung.
Lagu "Dek Sangke" selesai dikumandangkan, dan muncullah sang pembawa acara dari balik Panggung. Wajah Pria sang pembawa acara pagi itu sangat tampan dan Suaranya merdu membuat para warga antusias menyaksikannya.
"Wahai warga Palembang.... Apakah mau dapat hadiah dari pemda ?" Teriak sang MC dari atas panggung.
"mauuuu.... " Teriak bersamaan para penonton itu dari bawah panggung.
"Yuk kita dengarkan pidato yang disampaikan oleh Bapak Sekda yang mewakili Gubernur kita karena Gubernur ada tugas negara ke Jakarta.... nah di ujung dari pidato hari ini, ada banyak hadiahnya...... untuk itu tanpa berlama-lama, kita tunggu kata sambutan dari Bapak Sekda Gubernur Sumatra Selatan yang tercinta...Waktu dan tempat, saya berikan kepada Bapak...
Chaerul adalah Sekretaris Gubernur yang bertugas menggantikan Gubernur untuk membuka pusat pertokoan terbesar se Palembang pada hari Sabtu pagi itu. Tepuk tangan dan teriakan sukacita ikut menyambut pria berumur kurang lebih 40 tahun itu. Warga menunggu pertanyaan berhadiah diujung pidato yang akan dibagikan kepada warga yang hadir pada hari itu.
Langkah tegap sang sekda itu dikawal oleh dua orang ajudan yang berpakaian seragam. Chaerul tersenyum memandang para warga yang menunggu tidak sabar pertanyaan yang diberikan kepada warga di ujung kata sambutannnya.
Para wartawan daerah yang meliput segera mengambil foto-foto terbaik dari sang Sekda. Belum ada satu kata yang keluar dari mulut sekda , tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari berbagai arah yang membuat masyarakat membubarkan diri.
Dor.... Dor... Dor.... Dor.... Dor.... Dor ... Dor.... Dor... Dor.... Dor.... Dor.... Dor ...
Dor.... Dor... Dor.... Dor.... Dor.... Dor ... Dor.... Dor... Dor.... Dor.... Dor.... Dor ...
Dua orang yang ada di sekitar sang sekda langsung berdiri sebagai tameng melindungi pimpinannya turun dari panggung. Ketika langkah sang sekda yang sedang menuruni tangga panggung dan hampir menginjak tangga terakhir dari panggung Seorang pria berpakaian hitam dan menggunakan topeng merah dan seperti berlumuran darah berdiri di depannya.
Dor .... Dor....
Dua Ajudan itu ditembak di kening tanpa sempat menduga bahwa ada serangan hari itu yang ditujukan kepada mereka dan pimpinannya. Chaerul terkejut ketika dua pria yang didepannya langsung jatuh terkapar.
"Hai Chaerul.... ada yang mau kau katakan tentang Lana dan Luna?" Sapa pria bertopeng merah dan banyak jejak darah di wajahnya.
"Si..siapa kau?" Chaerul panik dan mulai berkeringat memandang pria berkostum hitam dan menggunakan topeng merah, topeng tentang wayang khas jawa barat. Ia mengingat nama topeng wajah merah itu. Cepot. " Kau ......cepot.... aku tidak urusan denganmu!"
"Jawaban yang salah... apakah kau mau minta maaf pada mereka?" aku berikan kesempatan sekali lagi....Apakah ada pesan untuk Alex?"
"aku minta maaf... bilang Alex ..aku menyesal.... aku akan minta maaf langsung padanya... tolong lepaskan aku,... ampuni aku .... siapapun tolong aku.... "Ujar Chaerul sambil berteriak sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Tolong lepaskan aku.... aku akan datang temui bang Alex...
"Terlambat.... penyesalan selalu datang terlambat!"
Semua orang berlarian dan masyarakat yang dari jauh memandang tapi tak berani bergerak membantunya. Pria di depannya mengangkat pisau panjang dan...
__ADS_1
.....
kepala Chaerul terlepas dari badannya.
Pria bertopeng merah itu melangkah meninggalkan podium dan suara tembakan di sekitar itu masih beberapa kali berbunyi ke beberapa arah dan membuat masyarakat tidak ada yang berani mendekat. Pria itu memasuki sebuah mobil jeep berwarna coklat tua dan menghilang dalam kepadatan lalu lintas kota Palembang.
*****
Happy Reading Guys....
Terimakasih telah membacanya, bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini, Thanks ya!"
__ADS_1