Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
70. Menyempurnakan pernikahan


__ADS_3

Adakalanya sesuatu ataupun seseorang atau apapun  itu tidak bisa tinggal  di dalam hidup kita, sekuat apapun kita berusaha.  Mungkin ini adalah saat yang tepat melepaskannya.


Jika kamu masih merasakan sakit di hati, belajarlah untuk tetap rela dan tersenyumlah . Dia tetap di hatimu walaupun dia tidak di sampingmu!"


 


*****


 


 


Ballawa dan Brianna baru tiba di rumah mereka di kawasan Permata Hijau. Sopir dari keluarga Briana yang mengantarkan mereka tiba di rumah dengan selamat.


Ballawa tidak ingin menggunakan kursi rodanya dan memilih menggunakan kruknya berjalan memasuki rumah. Briana mengucapkan terimakasih dan melepas kepergian sopir keluarganya.


"Kak Al... tunggu !"   Briana setengah berlari menyusul langkah suaminya yang agak terpincang itu menuju kamarnya.


Pria itu membuka pintu kamarnya dan agak sedikit terkejut ketika melihat ruangan kamarnya sudah lebih rapih daripada sebelum ia berangkat ke Cilacap sebulan yang lalu. Dia hanya menarik nafasnya dan berusaha menata kata.


"Kamu merapihkannya lagi, Bri?"  Biarkan saja apa adanya... tak masalah kamarku itu berantakan ... kau bukan pembantuku, Bri!" Aku merasa tak enak jika kau selalu direpotkan  untuk merapihkan semuanya .."


"Kak... bukan aku yang merapihkannya!"   Aku sendiri terkejut ketika Umai sudah ada di kamarku dan ... Umai  yang merapihkan dan menata semuanya, bahkan Umai juga  yang memindahkan barang-barangku semua ke sini... aku tak berani menolaknya, Kak Al... maaf !"  Briana berkata pelan dan menunduk.


Ballawa terkejut dan hanya bisa menarik nafas untuk menahan emosinya.


"Sudahlah... biarkan saja. Sekarang kita istirahat... kurasa kaupun lelah karena perjalanan kita dari Cilacap!" Besok aku ada tugas baru !"  Aku mandi duluan..." Ballawa berkata tanpa memandang istrinya, Briana.


Ballawa segera memasuki kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air dingin. Sesungguhnya ia kesal dengan ulah ibu kandungnya yang selalu ikut campur pada kehidupan rumah tangganya.


Hutang budi pada keluarga Brianna dan janji pada Sang kepala suku membuatnya kehilangan wanita yang dicintai tapi apa daya, wanita yang dinikahi  itu sejak dulu begitu mencintainya dan rela hati melakukan apapun untuknya. Dia tidak bisa terus menyakiti Briana, sudah banyak hal yang melukai hati Briana dilakukannya.


Ballawa baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dari pusar hingga lututnya. Matanya mencari Briana yang semula ada di kamar ini sedang mencari baju di lemari pakaiannya. Dibukanya lemari pakaiannya sudah tertata rapih ala umai.


Benar-benar ibunya yang mengatur kehidupannya dan tidak suka jika ia terpisah kamar dengan Briana, istri yang dinikahinya 3 tahun yang lalu. Segera ia berpakaian dan mencari dimana Briana.


Begitu keluar kamar, dilihatnya Briana telah  berbaring di sofa ruang tamu sambil menonton televisi. Wanita itu tertidur. Ballawa menarik nafas, Masakah ia harus menggendongnya ke kamar, kakinya tak mungkin mampu menopang dirinya jika harus menggendong Briana ke kamar. Ia masih dalam proses penyembuhan.


Ditepuknya lengan Briana. wanita itu masih terus terlelap. Dimatikan televisi yang menyala itu.


"Bri... pindah ke kamar," Ballawa memanggil istrinya yang masih terus terlelap. "Bri... Briannaa...


Tidak ada sahutan apapun dari Briana.


Ballawa akhirnya mengangkat tubuh Briana ke kamarnya. Awalnya ia ragu membawa Briana ke kamarnya dan bukan ke kamar istrinya itu. Namun Umai yang merapihkan kamarnya seolah merupakan ancaman baginya untuk memperbaiki hubungan dengan Briana.


Awal pernikahan umai sudah berpesan untuk menjaga dan mengasihi Briana, dan itu semua dilakukan. Tapi ia mengasihi seperti seorang kakak kepada adiknya. Buktinya mereka masih berhubungan baik seperti kakak adik selama 3 tahun ini. Bisakah aku menganggapnya bukan saudaraku sehingga bisa mencintainya? Kami dari kecil dibesarkan bersama. Apakah aku bisa mencintai  Briana ?"


Ballawa membaringkan Briana di ranjangnya. Ia hanya pernah  satu kali seranjang dengan Briana ketika mereka baru menikah pertama kali di desa mereka, dan itupun ia tidak menyentuh Briana sama sekali  Keesokan harinya ia langsung membawa Briana untuk tinggal  di  rumah ini dengan berbagai perjanjian yang mereka sepakati dan diantaranya tidak tidur bersama.


Briana menyetujui  semua usulnya, dimulai dari kuliah  dan tinggal disini . Mereka hidup bersama tanpa pernah saling menyakiti seperti dua saudara  hingga sampai peristiwa penembakan kemarin yang membuat dirinya terluka dan  akhirnya Briana meminta Al untuk menikahi Jessy juga  dan menidurinya juga sebagaimana suami dan istri lainnya.  Memiliki dua istri tidak pernah ada di pikirannya. Benar-benar wanita yang berbeda. Padahal jika Jessy tentu tak mau jika dirinya memiliki dua istri.


"Maafkan aku Briana... kamu kubaringkan disini!" Kita pernah seranjang juga kan? Jadi kurasa itu bukan masalah bagi kita," Gumam Al sambil membaringkan Briana dengan pelan-pelan. "Capek juga ngangkat kamu, Bri... untung kamu kurus ... apa kakiku yang msih belum kuat?" Aku rasanya tidak punya tenaga lagi...


Briana tidak menjawab apapun dan tak butuh waktu lama hingga Ballawa berbaring dan memejamkan matanya di sebelah Briana. Mereka tertidur sampai pagi.


Pagi hari pukul 05.30.


Briana membuka matanya dan mengerjapkan mata dengan perlahan. Ini bukan kamarnya. Ini kamar Kak Al. Ia menengok ke sampingnya. Al masih terlelap dengan tenang.  Mungkinkah ia membawaku kesini?"


Semalam Briana selepas mengambil pakaian dan mandi  di kamarnya , ia lebih memilih tidur di sofa daripada di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Al, karena Umai akan mengetahui jika ia tidur di ranjang itu. Umai telah  meletakkan reramuan di ranjangnya. Umai adalah wanita yang memiliki keahlian dalam melihat sesuatu dan berpesan padanya untuk selalu sabar dalam menghadapi Al.


Ada sebuah rasa bahagia mengetahui bahwa Al memindahkannya ke kamar Al dan tidur bersama di ranjangnya. Ditatapnya pria yang terbaring pulas di sampingnya. Ada rasa rindu pada pria yang dicintainya dan selalu berharap pria itu memiliki rasa yang sama untuknya. Briana terus menatap Ballawa yang masih terlelap, hingga sebuah kesadaran akan pesan Arief bahwa Al tidak boleh terlambat untuk tugas pertamanya hari ini.


"Kak Al... Kak Al... kak Al bangun dong  " panggil Briana sambil menggoyang-goyangkan tubuh Al. "Kak Al.. mau kerja gak? Ini sudah pagi lho!"


Pria itu akhirnya bergerak dan mengulet . "Jam berapa ini?"


"Jam enam kurang seperempat... kakak mau dibuatin sarapan apa? "


"Terserah... aku mandi dulu ya!" Ballawa langsung bangkit dari ranjangnya dan ia berusaha berjalan tanpa kruknya , tapi langkahnya masih belum stabil dan nyaris terjatuh.


Dipegangnya pinggiran ranjangnya. Briana bangun dari tempat tidurnya dan membawakan kruk agar Ballawa bisa berjalan dengan lebih tenang.

__ADS_1


"Terimakasih !"


 


******


Pertemuannya dengan Panglima bisa dikatakan suatu kesuksesan dan langkah penyelamatan bagi karirnya. Sungguh tak menyangka Panglima menyukai dirinya dan menempatkannya dalam pasukan khusus dan ia berada di kelompok strategi rahasia.


Besok siang, dia akan ditemukan dengan para anggota pasukan khusus . Meskipun ada banyak hal baik di kelompok barunya ini, ia dilarang menginformasikan apapun lagi kepada teman-temannya di tim 5 di kepolisian. Semua tugasnya adalah tugas rahasia dari negara.


"Kau akan dimasukan ke dalam tim khusus yang akan memporak-porakan organisasi rahasia yang mulai meresahkan... detailnya akan dibahas bersama tim-mu !" Ingat, karena ini tugas rahasia, maka apapun yang kau lakukan adalah rahasia, tidak ada satupun anggota keluargamu yang harus tahu. Termasuk jika kau mati dalam tugas, maka biarkan semua tugas hanya kami saja yang mengetahui kebenarannya. Bagaimana? Apakah kau masih mau bergabung dengan kami?" Panglima bertanya dengan penuh ketegasan.


"Siap... saya siap melayani untuk negara!" Sahut Al dengan tegas.


"Bagus....sekarang kamu temui bagian administrasi dan perlengkapan... besok gunakan seragam tentara khusus... dan bawalah memo ini ke sana!"


"Siap laksanakan!"


 


 


Ballawa tiba di rumah hampir pukul 7 malam. Ia tiba saat Briana sedang sibuk berkutat dalam menyelesaikan tugas kuliahnya. Wanita itu begitu sibuk mengerjakan tugasnya di meja tengah.dan dihentikan  untuk  menyambut kepulangannya seperti biasa.


Sungguh hal yang luar biasa. Makanan sudah tersaji dan semua bagian rumah dalam keadaan rapih. Ballawa hanya berkata dia mau mandi dan setelah itu mereka bisa makan bersama.


Di meja makan Briana sudah menantinya dengan senyum yang merekah. Ini adalah hal yang baru baginya. Biasanya Al hanya menyuruhnya makan dan jarang sekali mereka bisa makan bersama. jika sampai terjadi itu hanya di sarapan pagi sebelum mereka sibuk dengan aktifitas mereka.


Mereka menikmati makanan mereka masing-masing dan hal itu sangat membahagiakan Briana. Hal sederhana yang sangat berarti baginya. Apakah Al sedang bermurah hati padanya?"


"Tugas kuliahmu sudah selesai Bri?"


"Sudah kak, aku sudah membereskan semuanya tadi  ... ada hal penting yang harus kulakukan kak?"


"Tidak... nanti malam jangan tidur di sofa lagi... tidurlah bersamaku... aku tahu pasti umai sudah merapal ranjangmu , jadi tidurlah bersamaku, bagaimana?" Kau keberatan Bri?"


"Tidak kak... aku kan istri kakak.... maaf semalam aku merepotkan kakak. emh..... bagaimana kaki kakak, apakah makin sakit karena mengangkatku semalam?"


"Hemmm... begitulah." Ballawa berkata sambil menatap tajam pada istrinya.


"Bri...


"Ya kak...


"JIka aku meninggal dalam tugas...


Briana langsung menutup telinganya dan setengah berteriak," Aku gak mau dengar itu... aku mau bersama kakak... selamanya... jangan berkata yang tidak -tidak dan menakutkan padaku, Kak Al....


Al terdiam dan berusaha mengatur kembali kalimatnya agar bisa dipahami oleh istrinya. Ia harus bisa menyampaikannya pada Briana dengan tenang dan membuat istrinya mau melakukan dengan ikhlas.


"Briana... dengarkan aku... jika kau dalam keadaan hamil dan aku meninggal dalam  menjalankan tugas negara , apakah kau menyesal melahirkan,  membesarkan dan menjaga anakku?"


"Maksud kakak?"


" Aku ingin  melakukan kewajibanku malam ini  padamu , jika kau tidak keberatan dan jika sampai aku benar-benar melakukannya dan membuatmu hamil, apakah kau menyesal dan membenci anakku kelak?"


"Aku takkan menyesalinya selama itu anak kakak dan aku akan membesarkannya dan menjadi sehebat ayahnya... tapi apakah mungkin...  aku ingin bersama kakak selamanya dalam membesarkan anak-anak kita, mungkinkan kita bisa melakukannya, Kak Al ? "


"Maafkan aku yang sering menyakiti hatimu... aku ingin kamu mengetahuinya langsung dariku, aku ada missi penting dan rahasia beberapa bulan lagi, dan jika aku gagal dalam tugas, aku ingin mempunyai penerus dan bisa menjagamu dan Umai.... maukah kau melakukannya untukku, Bri?"


Briana tercekat dan menghargai kejujuran  pria yang sangat dicintainya. Benarkah dirinya sanggup kehilangan Al dalam kondisi hamil?" Bagaimana jika ia nanti tidak dapat melahirkan anaknya dan berakhir tragis? Siapa yang akan menjaga anaknya kelak?  Aku harus menjawab apa? Apakah Kak Al akan meminta dari wanita itu jika ia menolaknya.


"Hei... itu cuma bercanda... aku akan baik-baik saja," Ballawa melihat kebimbangan di mata Briana. "Aku hanya memberikan sebuah perumpamaan....


"Aku...  aku .... aku bersedia Kak Al.... aku ingin mengandung dan membesarkan anakmu... tapi apakah wanita itu juga akan melahirkan anakmu juga? " Briana teringat ucapannya di rumah sakit yang meminta Al menikahi Jessy dan menidurinya agar ia memiliki keturunan dari Al.


"Tidak ada wanita lain yang kunikahi ataupun kutiduri, Bri.....


"Benarkah ?"


"Kamu akan menjadi satu-satunya, jadi bolehkah aku meminta hak-ku?" Ballawa berkata pelan namun ada ketegasan. Ia harus melakukannya malam ini atau tidak pernah sama sekali.


Briana mengangguk.

__ADS_1


Ballawa tersenyum dan bangkit dari kursinya. Ditariknya jemari Briana yang masih berada di atas meja. Seakan kode untuk mengikuti langkah Ballawa menuju kamar. Mereka melangkah bersama dengan saling menatap.


"Bri, mungkin aku bukan lelaki baik yang bisa selalu membuatmu bahagia dan mungkin aku adalah lelaki brengsek yang mencintai wanita lain selagi aku bersamamu, tapi malam ini bolehkah kita mulai semuanya dari awal?" Aku akan belajar mencintaimu dan selalu mengasihimu di sepanjang sisa umurku!"


"Kak Al... "Briana tersenyum dan mengangguk kepalanya.


Dengan penuh kelembutan Ballawa menyeka bulir air mata yang kembali menetes di pipi Briana. "Tapi yang perlu kau tahu, aku tak pernah menyesali untuk menikahimu, maukah kau melahirkan anak untukku, Bri?"


"Apakah hanya aku yang akan melahirkan anak kakak, tidak ada wanita lain?"


"Ya tidak akan pernah ada wanita lain," Ballawa berkata penuh ketegasan dan setelahnya Ballawa mencium kedua mata Brianna,hidung dan bibir Briana yang masih bergetar karena menahan tangis bahagianya. Hingga beberapa saat Ballawa ******* bibirnya dan membuat nafas keduanya berderu keras dan jantungnya bertalu kencang.


"Kak Al... aku takut..."Bisik Briana pelan saat menyadari dia sudah tidak berpakaian.


"Percayalah padaku... aku akan melakukannya dengan perlahan..." Ballawa melanjutkan tindakan menciumi tubuh Briana hingga Briana memasrahkan semuanya pada Ballawa . Setidaknya mereka telah menyempurnakan pernikahan mereka dengan melakukan hubungan suami istri yang seharusnya telah mereka lakukan.


Ballawa menatap sosok wanita yang berada di dalam dekapannya. Wanita yang baru saja menyerahkan diri dan kehormatan untuknya. Ya wanita yang selama 3 tahun diperistrinya dan belum pernah dijamahnya.  Ballawa merasa bersyukur bahwa ia bisa memiliki Briana yang tetap mencintainya dan mau mengandumg anak untuknya.


Meski saat ini ada satu hal yang masih membebani pikiran Ballawa, Tapi Ballawa berusaha menepisnya dan menyakini bahwa ia pasti bisa membuat Briana hamil dan membuat Umai memiliki keturunan darinya.  Tangan Al terulur membelai rambut panjang Briana, sementara pikirannya masih melayang-layang pada tugas yang diberikan panglima tadi pagi. Semoga tidak akan gagal dan aku bisa melihat anakku tumbuh besar.


 


*****


 


 


 


 


 


Happy reading Guys,


Bolehkah tinggalkan jejak disini?


Thanks ya atas supportnya selama ini. Love you all, guys.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2