
Bagiku tak masalah, aku dipisahkan dari saudaraku yang lain ataukah diperlakukan dengan cara yang berbeda. Aku memang bukan anak yang baik. Ada kalanya aku amat membenci kalian tapi sayangnya dari hatiku terdalam aku teramat mencintai kalian.
*****
Pramoedya memasuki rumah besar itu dengan hati berdebar. Rumah dengan pengawasan ekstra ketat bagi sebagian besar penduduk negeri ini, tapi seakan ia diijinkan masuk tanpa penghalang ke dalam rumah itu.
Tidak banyak perubahan yang berarti di ruangan itu. Setelah melewati ruangan yang terdapat gading gajah Sumatra, ia menuju ruangan tengah tempat dimana keluarga itu berkumpul.
Sepi.
Pramoedya melangkah lagi. Ia harus menuju ruang tengah dimana ayahnya biasa duduk menunggunya dulu. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang. Suara wanita yang teramat dirindukannya tapi juga dibencinya.
"Hei ... berani juga kamu datang kemari ?" Sahut Tiara yang tiba-tiba muncul di belakangnya dan refleks membuat Pramoedya menoleh pada sumber suara.
"Mama .... " Pramoedya berkata lirih dan menatap penuh rindu pada wanita yang berjalan dan seakan tidak peduli pada kehadirannya.
Wanita itu masih secantik dahulu, meski usia telah bertambah. Kemana perasaan marahku padanya? Aku ingin memeluknya tapi tak mungkin. Ia tidak menyukaiku.
"Hemm ... ayahmu sudah menunggu tuh,,,! Perlukah aku disana, Pram?'
"Perlu ma... apa kabar mama ?" Apakah sakit kepala mama sudah sembuh?" Pramoedya berkata pelan dan menatap tiara yang telah melewatinya.
"Sudah tapi kayaknya hari ini akan muncul kembali."
"Maaf mama... aku membuatnya kumat kembali... kumohon mama bisa membantuku kali ini...
Tidak ada jawaban dari Tiara. Wanita itu terus melangkah menuju ruangan tengah dan diikuti oleh Pramoedya. Tiara langsung duduk di samping suaminya yang sedang membaca beberapa berkas. Pramoedya masih berdiri tidak jauh dari mereka duduk.
Sesungguhnya ia bingung, apakah ia diijinkan duduk. Pramoedya menunggu ijin dari pasangan suami istri itu yang seolah kemudian baru menyadari keberadaannya di rumah itu.
"duduklah Pram... " Sahut Jendral Suhartono sambil menunjuk salah satu kursi sofa yang letaknya di sampingnya.
Pramoedya memilih duduk di tempat yang ditunjuk oleh ayahnya itu. Ia melihat Tiara seolah tidak suka mendengar ucapan suaminya itu. Tiara meminta ajudan yang ada tidak jauh dari dirinya menyediakan makanan karena mereka akan makan malam bersama.
"Siapkan makan malam... 30 menit lagi kita akan makan malam bersama, jangan lupa bangunkan icha!" tiara memberi perintah pada sang Ajudan sehingga ajudan itu pergi meninggalkan mereka di ruangan tengah.
__ADS_1
Deg.
Pramoedya takut mendengarnya. Tak mungkin mama Tiara akan mengajaknya makan malam bersama. Ia harus segera menyampaikan tujuannya kemari dan segera pulang ke kediamannya dan makan malam sendiri disana.
"Pram... gimana perjalananmu bersama Ballawa ? Apakah dia bisa diandalkan?" Suhartono memulai ucapannya dan ia mengambil secangkir teh yang ada di depannya.
"Dia pengawal yang baik dan tegas... serta berani pa!'
"Baguslah kau puas dengan kinerjanya.... Tadi Jendral Gaffar kemari, jadi kurasa aku sudah tahu gambaran besarnya.... kau serius dengan wanita itu?' Suhartono menatap Pramoedya dengan seksama.
Pria kecil yang dulu dijaganya tapi terpaksa harus dijauhkannya karena sesuai dengan perjanjian dengan Tiara demi membesarkan anak yang tak memiliki ibu ini. Ada rasa sesal dihatinya tapi terlihat Pramoedya mampu beradaptasi dengan kebijakan yang diambilnya.
"Iya pa... bisakah aku meminta papa dan mama untuk melamarnya ?'
"Sudah berani kau melamar anak gadis orang? Usahamu sudah berjalankah ?" Tiara berkata pelan tapi langsung menghujam ke jantungnya.
"Saya sedang merintis usaha di Palembang, Ma...nanti jika aku menikah aku akan mengajaknya tinggal disana saja, jadi mama tidak akan sakit kepala lagi... jadi bisakah mama dan papa membantuku untuk ...
"Kalau begitu nanti saja kau melamarnya, jika usahamu sudah berjalan. Sekarang rintis usaha yang benar....Kau mau meminta pada ayahmu untuk biaya hidupmu sampai ayahmu mati!" Ayahmu sudah tua jadi kau harus bisa mandiri!"
"Maafkan saya mama.... maafkan saya papa... tadinya jika bukan Nana menolakku, mungkin aku tak akan meminta bantuan kalian."
"Nana.. Nana itu kan Nadia pengawalnya Alisha?" tanya Tiara ketus menatap Pramoedya dengan tidak sukanya.
"Ya mama..." Pramoedya menjawab sambil menunduk.
"Aku tak suka berurusan kembali dengan Alisha, Mas ... bisakah aku tak perlu mendampinginya!" Kau saja yang menemui mereka mas !'
"Kita itu bukan melamar wanita itu pada Alisha tapi pada orang tua dari wanita itu... siapa tadi namanya wanita yang akan kau nikahi, Pram?' Ajaklah dia kemari dulu... katakan orangtuamu mengundang makan malam dan mengajaknya berkenalan."
Marissa yang baru bangun dari tidurnya, langsung menyahut. "Nana tidak mungkin mau papa... Pram sudah melakukan tindakan yang memalukan... pasti dia tidak mau jadi istrimu Pram !'
" Icha...!' Apa maksudmu icha ?' Suhartono terkejut mendengar perkataan icha yang terkesan mengetahui rahasia kelam adik bungsunya. Selama ini memang hanya icha yang sering menemui Pramoedya dan mengetahui banyak hal yang terjadi pada Pramoedya.
"Pram... kau ingin aku yang bercerita pada papa atau kamu cerita sendiri deh !' Icha berkata sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
Pramoedya menatap kakak perempuan itu dengan sedikit geram. Hal memalukan itu bisa terjadi karena ulah icha yang memberikan obat perangsang ke minumannya. Tapi ia harus menyusun kata yang tepat sehingga kedua orang tuanya tidak membencinya.
"Aku yang salah papa... aku melakukan perbuatan tidak senonoh padanya !' Karena itu dia menolakku kemarin.
"Maksudmu ?' Suhartono bertanya dengan kebingungan.
Tatapannya penuh arti pada Pramoedya dan Icha bergantian.
"Payah Pram...bercerita saja tak bisa, biar aku saja ayng membereskannya untukmu ... waktu itu Pramoedya merasa dia tidak mirip siapapun di rumah ini, dan dia menangis di rumahnya sepanjang hari jadi aku memang membantunya agar mirip dengan papanya dengan memberinya obat untuk menyamakan tindakan papa dengan Pramoedya... ya setelah obat kuberikan, Pram langsung minum tanpa banyak tanya kenapa minuman itu berbeda,... entah bodoh entah pura-pura tidak tahu... setelah minum dia kan agak aneh dan kusuruh Nana menjaganya hingga dia memperkosa si Nana .... Jadi sama kan yang dilakukan Pramoedya dengan papa... aku hanya membantunya menjadi seperti papa!" Keren kan yang kulakukan ?"
"Icha... kamu keterlaluan pada adikmu!" Suhartono berteriak marah pada icha dan itu cukup mengejutkan Tiara dan Pramoedya.
Jendral Suhartono tidak menyangka bahwa anak perempuannya yang menjebak Pramoedya melakukan tindakan kejam itu. Dan yang membuatnya marah adalah tindakan Icha itu dilakukan seolah memberikan bantuan. Apakah anak perempuannya jadi gila karena kesalahan masa lalunya. Ataukah dia yang salah mendidiknya.
"Tindakan papa yang keterlaluan pada wanita yang menjadi ibu Pram... papa juga jahat pada mamaku memaksa mamaku untuk membesarkan anak selingkuhan papa... apa itu bukan keterlaluan? aku hanya ingin membuka mata kalian... bahwa siapapun bisa jadi berubah dengan didukung obat."
"icha... kamu tidak boleh membuat Pram menjadi semakin bersalah.... seharusnya kau membantunya mendapatkan Nana dengan cara yang bijak... dengar, lusa kau tidak ada di Indonesia, kau harus tinggal dengan Tantemu yang berada di Swedia... renungkan kesalahamu... dan kau tinggallah disana selama 2 tahun."
"ko aku yang dihukum sih Pa ?" Aku hanya mencelikkan matamu agar kau melihat bahwa kau juga salah mempunyai anak dari wanita lain.."
"Papa memang salah... tapi tidak pantas yang kau lakukan pada Pramoedya... bagaimana jika kau yang di posisi Nana itu!'
Icha terdiam dan dia seolah meminta perlindungan pada ibunya yang terdiam dan menahan tangis setelah mendengar penjelasannya. Keegoisan Tiara menceritakan detail pada Icha mengakibatkan putrinya begitu kejam pada adik tirinya dan ayah kandungnya.
"Bener-bener kau icha..." Suhartono berkata penuh geram pada icha dan bangkit berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Pramoedya berkata kembali.
" Pa... Ma... icha... bisakah kalian membantuku melamar icha... dia sudah yatim piatu... aku hanya ingin memiliki seseorang yang mencintaiku... Salahkah aku ingin dicintai oleh orang lain?" Kumohon...!
"Aku akan membantumu melamar Nana... aku akan temui Alisha, " Sahut Tiara pelan dan itu cukup mengejutkan bagi semuanya.
*
*****
Happy reading Guys. Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks for your support !
__ADS_1