
Makin kamu mencoba melupakannya, maka makin kuat ia hadir di ingatanmu!"
*****
"Lid... berjanjilah padaku, untuk tidak pernah meninggalkan aku.... biarpun aku lagi sakit ataupun miskin," Handoyo berkata lembut sambil memegang jemari Lidya.
Lidya tersenyum dan mencium kening suaminya lama sekali. Mereka baru saja selesai menyalurkan hasratnya dan masih berpelukan di ranjang mereka. Sisa peluh masih ada di tubuh mereka dan mereka berdua masih mengatur nafas akibat kegiatan panas mereka yang baru selesai beberapa saat yang lalu.
"kamu ada-ada aja deh Han.. ada juga kamu, ntar setelah anak ini lahir dan aku makin jelek,,gendut, dan makin tidak pandai mengurus diri, terus kamu di Cilegon sana tahunya punya istri lagi.... jadi sebaiknya kamu yang janji dong, Han..
"Aku serius Lid.... ngak tahu kenapa, aku ngerasa besok kok aku gak mau pergi ke Cilegon.... rasanya berat banget nih... aku takut kamu meninggalkanku , Lid... " Handoyo berkata pelan dan saat itu Lidya hanya mencebikkan bibirnya dan tidak berbicara apapun. pada suaminya.
"Lidya.... kamu beneran sayang aku kan?" Handoyo bertanya lagi dan kali ini ia mengangkat wajah istrinya agar memandangnya . Ini hanya perasaan saja ataukah itu pertanda dari-Nya.
"Sayangku Handoyo.... aku gak akan kemana-mana selain tetap disisimu dan membesarkan anak -anak kita, sekarang tugas kamu sebagai kepala keluarga adalah kamu harus cari uang yang banyak untuk biaya aku melahirkan nanti dan syukur-syukur bisa kita tabung untuk biaya sekolah ya!"
"baiklah.... aku akan bekerja keras dan jika memungkinkan kamu bisa ikut tinggal denganku di Cilegon ya, Lid.... kayaknya di sana akan lebih berkembang untuk keluarga kita dan pekerjaan disana lebih baik, sayang!"
"Tentu.... aku pasti akan ikut kemanapun kamu pergi, Han... tapi jangan pernah membagi cintamu pada wanita lain..
"Tidak ada wanita yang mampu menggesermu, Lidya!"
---
Handoyo tersenyum dalam tidurnya. Hatinya merasa bahagia sekali dan semakin terus memejamkan matanya, Ternyata itu adalah percakapan mereka terakhir seminggu sebelum peristiwa nahas dialami Lidya dan orang tuanya di Lampung.
Peristiwa yang selalu hadir di setiap Handoyo sedang resah dan akan menjalankan tugasnya. Handoyo tidak pernah menceritakan apapun kepada siapapun. Dunianya adalah miliknya. Orang lain tidak boleh mengetahui rahasia terkelamnya.
Pagi harinya Handoyo bangun dengan lebih segar. Ia sudah tiba di kediaman Alex untuk menjalankan misinya. Aroma kopi pagi dan pisang goreng sudah mulai tercium dari dalam kamar dan suara orang ngobrol di luar kamar, membuatnya terduduk di dalam kamar dan mulai mendengarkan.
Handoyo kembali mengingat perkataan Lidya sering berkata padanya sambil membawakan kopi pagi, Pagi itu yang terindah adalah ketika kita mampu melewati berbagai masalah dan menghadapi setiap guncangannya. Tapi Bagi Handoyo , setiap pagi adalah masalah dan tidak ada yang membuatnya harus berjuang ekstra keras dan ia hanya menjalani hidup mengikuti arus membawanya. Semua terasa hampa semenjak Lidya menghilang dari kehidupannya.
__ADS_1
Akhirnya Handoyo keluar dari kamar dan menghampiri udin dan Alex yang sedang menikmati kopi dan pisang goreng di meja makan yang dijadikan base camp mereka sebelum menjalankan misi apapun.
"Wah akhirnya bangun juga....Han, ini kopimu!" Sapa Alex sambil memperhatikan Handoyo yang masih tampil acak-acakan dan melihat pria itu menarik kursi sembarangan di depannya.
"bang... kayaknya proyek yang ini gak bisa jalan deh.... aku dapat info bahwa si "Cepot "sedang diincar polisi dan kita harus menenangkan keadaan dahulu.... "Handoyo berkata pelan dan langsung menenggak kopi pahit itu dengan santai.
Alex dan Udin terkejut mendengar informasi dari Handoyo.
"Kamu dapat dari mana, Han... katakan padaku? apakah ada mata-mata di grup kita?" Alex mengkrenyitkan wajahnya tidak suka.
"Bukan mata-mata dan sudah kupastikan, Ada seorang wanita yang kukenal dan dia bisa mendengar suara hati.... dia bahkan bisa tahu ketika aku mencuci si " cepot" di sungai ogan.... dia pesan bahwa sebaiknya hati-hati untuk proyek ini... "Ucapan Handoyo langsung terpotong udin
"Ahh gara-gara wanita... jadi kau sudah punya pengganti Lidya itu?" Udin berkata sambil meledeknya. " Kau jatuh cinta pada wanita itu Han...
"Bukan itu masalahnya din.... wanita yang kukenal ini berbeda... jika kita berbicara tentang sesuatu hal di dalam hati, dia bisa mendengarnya...
"Berarti kau waktu tidur dengannya, hatimu yang menyampaikan proyek ini, Han... "Sahut Udin santai dan sambil terus mengunyah pisang goreng.
"Aku tidak pernah menidurinya.... dia wanita baik-baik.... wanita itu memiliki kekasih polisi... dan kekasihnya itu pasti berbicara tentang rencana penangkapanku.... kurasa kita perlu menghilang beberapa waktu.... proyek yang di Surabaya ini perlu kita batalkan... karena dia pesan, bahwa kali ini gagal... "Sahut Handoyo tenang.
"Oke, Kita batalkan saja dan sebaiknya kita lakukan aktifitas yang seperti biasa dan tidak mencolok... dan kau Handoyo sebaiknya, kau mencari tempat yang berbeda dan hindari wanita itu jika bisa....karena pasti target utamanya adalah kamu...
"Aku akan ke Lampung ... nyekar makam Lidya dulu, .. bang... dan jika aku tertangkap, tenanglah aku tak akan menyebut nama kalian..." Handoyo menghirup kopinya kembali.
"Aku percaya pada kalian berdua..."Sahut Alex yang sambil terus menghisap rokoknya.
"Bukan itu masalahnya Han... Bagaimana jika kita berjudi sedikit... maksudku adalah jika wanita itu kita bawa dalam proyek kita .. itu akan membuat misi kita selalu sukses, " Sahut Udin dengan senyum liciknya.
"tidak ... jangan libatkan dia... hidupnya sudah menderita,din!" Sudahlah kita lepaskan proyek setahun ini Bang!' Handoyo menunggu keputusan Alex yang sedang berfikir keras dan terus menatapnya.
"Sebenarnya aku tidak masalah, jika proyek di lepas tapi begini, aku hanya kasihan pada masyarakat di kota Surabaya yang menjadi korban Juragan Kusnandar, tapi ya sudahlah.... kita lepas saja.... udin konsentrasi di tokomu dan kau Han, sebaiknya buka bengkel saja di Jakarta dan hindari wanita itu!'
"baik bang....terimakasih, "Sahut Handoyo pelan.
"Terus kita ketemu lagi kapan bang?" Udin bertanya menunggu kepastian proyek berikutnya.
"Mungkin akhir tahun ini kita bicarakan di sini... nanti aku suruh orang mencari kalian... dan memang yang soal polisi itu, beberapa waktu yang lalu ada orang bernama " Arief " dari tim 5 Polri, menanyaiku setelah kau bereskan masalah di Palembang.... tapi karena Alibiku yang kuat dan aku ada kegiatan yang disaksikan banyak orang, sehingga membuat dia dan tim-nya menghentikan penyelidikan atasku... kalian sudah ada alibi untuk waktu itu...karena kurasa ini berkaitan dengan Kasus Lampung, Palembang dan Makassar.
__ADS_1
"Sudah ... tenang saja bang!" Sahut Udin.
"Aku jika ditanya... silahkan buktikan saja.... " Sahut Handoyo dengan santai.
"kau harus punya pengacara hebat, Han... tapi tenang saja...aku akan siapkan pengacara untukmu!" Alex berkata dan sambil terus berfikir," Kurasa "kang Dede Muhandar" juga bagus untuk jadi pengacaramu.. dia berhasil melepaskan udin setelah setahun ditahan.
"Terimakasih Bang.... aku tidak masalah jika dipenjara ataupun ditembak.... bagiku aku sudah berbuat banyak untuk orang lain.... dan orang yang kubereskan itu adalah penjahat yang memang masyarakat memang menganggapnya sampah... cuma polisi saja yang membiarkan orang dengan kejahatan seperti itu tetap hidup. dan terus menyengsarakan orang lain.
Mereka terus duduk di situ dan membicarakan beberapa hal penting hingga pukul 10.00 pagi dan kemudian mereka berpencar meninggalkan kota Bandung dan menuju ke tempat tujuan masing-masing yang berbeda. bagi Handoyo , Alibi bukanlah hal yang penting, ia hanya ingin membantu orang teraniaya dengan caranya. Dan menurutnya , apapun yang dilakukannya selama ini tidaklah salah.
*****
Handoyo kembali memasuki rumahnya di Cilegon. Ia segera mandi dan membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Lelahnya perjalanan membuat Handoyo langsung terlelap. Langit Kota Cilegon semakin gelap dan Handoyo masih terlelap di alam mimpinya. Rumah itu dari luar seolah tidak ada penghuni akibat tidak adanya aktifitas apapun di dalam rumah.
Handoyo merasakan ada sebuah genggaman lembut di jemarinya yang seolah membangunkan tidur sorenya. Namun suara dan genggaman itu terasa hangat . Ia membuka matanya dan Wajah Lidya yang khawatir padanya tampak langsung menyapa.Handoyo tercekat memandang wanita yang bergaun putih itu. Rasa rindu yang membuncah tapi wanita itu malah bangkit meninggalkan ranjangnya.
"Lidya.... kenapa?" Handoyo memanggil Lidya yang akan keluar dari kamar.
"Bangun yuk... kamu harus makan sebelum mereka tiba untuk menjemputmu.... aku sudah siapkan makan malam... ayo bangun.... " Bujuk Lidya sambil meninggalkan kamar.
Handoyo bangkit dan bersiap menyusul Lidya. Namun di luar rumahnya ia merasa mendengar sesuatu. Ada yang berbisik-bisik dan melakukan pergerakan di luar rumah.
****
Happy Reading Guys!! Bolehkah tinggalkan jejak di sini?"
Thanks a lot ya!"
__ADS_1