
Seorang teman yang mengerti air matamu jauh lebih berharga daripada banyak teman yang hanya tahu senyummu."
*****
"Aku sebenarnya punya satu tawaran pekerjaan besar untuk membereskan orang penting itu... ada yang bersedia membayar 500 juta rupiah untuk setiap kepala yang bisa kau tebas... tapi aku tidak punya kebranian untuk melakukan pembunuhan.
"kau yakin ada yang berani membayar itu? " Handoyo mulai tertarik.
"aku bisa mengenalkannya padamu... tapi bisakah kita berteman?" Udin menatap Handoyo tulus dan mengulurkan tangannya seperti tanda awal perkenalan.
"Ya udin, kau bisa panggil aku Handoyo!"
Mereka bersalaman dan Udin mengajak Udin memasuki satu ruang di ujung bagian dalam dari gudang. Ruangan itu terklamufase dengan tumpukan ban-ban bekas, dan perabot lainnya. Tidak terlihat sebuah ruangan. Handoyo menatap sekitar. Sungguh penyamaran yang bagus untuk sebuah gudang dengan berbagai perbekalan yang tidak pernah diduga orang.
"Gudang ini awalnya milik tetanggaku.. aku membelinya ketika mendapat proyek dari " Bang Alex" ... dia juga yang mendesain gudang ini dan memodali aku menjadi agen dari sembako dan menyetok beberapa perbekalan, terkadang Bang Alex mampir kemari untuk mengecek apakah aku menjalankan tugasku dengan benar. Dia punya beberapa "teman " di kota Lampung ini dengan beberapa keahlian.
"Apakah dia yang membayar 500juta per kepala itu?" Tanya Handoyo.
"Ya... dia sedang melatih beberapa orang untuk menjadi cekatan seperti dirinya... kurasa dia akan senang jika kau mau menjadi temannya.... tapi kurasa kau mengerti arti pertemanan dengan orang seperti "Bang Alex"
"Aku tidak mengerti pertemanan yang kau maksud, din.... bagiku berteman ya seperti pada umumnya, saling ngobrol, terkadang makan bareng, melakukan aktifitas bersamaan untuk satu kegiatan... aku memang memiliki beberapa teman di beberapa kegiatan berbeda.
"Yang ini berbeda, Han.... Berteman dengannya berarti... masuk kelompoknya, mendapatkan gaji bulanan dan latihan bersama untuk mengerjakan satu kegiatan besar... dan yang terpenting saling menjaga dan hindari pihak kepolisian, " Udin berbicara dengan nada tegas.
Pandangan mereka beradu. Handoyo tersenyum. Ia merasakan adrenalinnya meningkat dengan pertemanan yang model baru ini.
"Kenalkan aku padanya... aku bisa menembak apapun dengan jarak terbaik pada 100 meter.... dia bisa mengujiku... dan jika dia bersedia.... aku minta pertemanan khusus, agar aku tidak perlu menjadi teman tetap tapi teman paruh waktu... alias, jika ada proyek saja...karena aku ada kegiatan di Jakarta.... dan bulan depan ada turnamen menembak, aku kandidat juara disana!" Handoyo berkata sambil berkeliling memandang interior kantor itu dengan takjub.
Ada beberapa penghargaan yang diterima oleh udin. Beberapa Sertifikat ada di dinding ruangan itu. Pria yang dianggapnya sederhana itu ternyata pernah menjadi perancang kostum terbaik di kota Medan , make up wajah terbaik , juara 2 lomba otomotif se Sumatra selatan dan penghargaan lainnya di bidang rekayasa mesin.
"Din... pertemanan apa yang kau inginkan dariku?" Handoyo mulai bertanya lebih jauh pada pria yang duduk di belakang meja dan sedang membuat kopi.
"Aku cuma ingin kita berteman seperti orang biasa yang tidak peduli soal apa yang jadi terbaik... jangan terlalu percaya pada sertifikat itu... Bang Alex yang menyuruhku memasangnya untuk menunjukkan jika ada pemeriksaan sewaktu-waktu...aku bukan pria biasa, " Udin menjelaskan dengan lirih. "Han.... aku mengagumimu ketika kau berhasil membereskan si Andi dan ayahnya... itu membuatku yakin padamu... aku tidak tahu apa masalahmu dengannya... tapi kutahu Si Andi itu bukan orang baik... bisakah kita menjadi teman dalam arti sesungguhnya.
__ADS_1
"Baik..kita coba... "Handoyo menghampir Udin yang sudah selesai membuatkan kopi untuknya. Handoyo meneguk kopi buatan Udin. Sementara Udin mulai menghisap rokoknya dan mendorong kotak rokok miliknya pada Handoyo.
"Dulu Bang Alex itu yang mengajariku mereparasi kendaraan.... aku hutang budi padanya...aku membawa mobil yang kau pakai itu dengan beberapa dus morfin bubuk... aku memasukkan mobil itu ke dalam jurang , mobil itu karena morfin yang kucuri dari rumah orang penting itu.. tapi aku bilang karena anak si orang penting di Sumatera Selatan yang jadi gundik... itu untuk menyelamatkan "Bang Alex"... Orang penting itu yang membuat adik Bang Alex jadi ketergantungan dan akhirnya over dosis dan mati... Bang Alex sangat marah padanya...
"Hemm... menarik....berarti bang Alex bisa mengeluarkanmu dari penjara...karena kau dihukum sangat singkat.
"Ya... dia punya pengacara hebat... aku cuma tau dibebaskan saja dan diminta jaga disini sambil nunggu proyek berikutnya.
"Kurasa dia benar-benar menjagamu juga...kenalkan aku padanya, din!"
"besok kita ke Bandung, temui dia.... kurasa dia juga kangen lihat mobilmu itu!'
"ha... ha....ha.... bisa saja kau bicara.... malam ini kita menginap disini atau kita langsung jalan ke Bandung?' Handoyo bahagia dengan pertemanan barunya.
"Kita jalan ke Bandung malam ini.... boleh aku yang nyetir?" Sudah lama aku tidak mengendarai mobil itu..
"lakukanlah!"
*****
Sebuah rumah besar di tengah sawah berpagar tinggi. Handoyo dan Udin mengklakson dua kali sebagai tanda minta dibukakan pintu gerbang itu. Satpam yang menjaga rumah itu langsung menghampiri namun karena melihat Udin yang duduk di balik kemudi, ia langsung membukakan pintu.
'" Ih si Udin, ceunah yang datang..... bang Alex masih di Braga.... bentar lagi pulang.... hayo atuh duduk duduk di teras samping, ntar ceu tika pasti buatin minum. " Sapa dadang ramah pada Udin.
"Iya kang Dadang... makasih aku parkir dan tunggu di teras aja deh..
'Sok... mangga atuh!"
Udin dan Handoyo duduk sambil menyelonjorkan kakinya setelah sepanjang malam mengendarai kendaraan dari Lampung. Mereka disambut sarapan pagi, nasi tutug oncom dengan ayam goreng dan air teh manis. menggugah selera ketika kelelahan.
Rasa Kantuk setelah makan menghampiri mereka yang telah kekenyangan dan angin semilir di teras itu membuat mereka tidak berapa lama tertidur di kursi mereka masing-masing. Tidak berapa lama orang yang dinantipun hadir dan membuat Handoyo terjaga.
Tatapannya langsung pada pria yang berumur sekitar 40 tahunan. Pria itu berjalan tegap menuju teras tempat mereka berbaring. Handoyo mencolek udin yang masih terlelap. Pria itu juga langsung terjaga.
__ADS_1
'Akh... bang Alex sudah datang....syukurlah, " Ujar Udin sambil berdiri menyambut Alex yang mulai memasuki teras.
"Sudah lama din?" Sapaan Alex pada udin dan melirik pria yang juga berdiri di samping Handoyo."Duduklah... kalian pasti lelah.... ini siapa din?"
"Akh bang.... ini pemilik mobil itu bang....ingatkah mobil fenomenal kita?' Udin menunjuk mobil Handoyo yang tadi dia kendarai dari Lampung. Demikian juga Alex tersenyum memandang mobil itu.
"kau sudah mengeceknya din? benar-benar mobil yang sama, " Ujar Alex dengan tegas.
"ya bang... ini mobil yang sama... tapi dia tidak menjualnya.... dia mau jadi teman abang!" Udin langsung menarik Handoyo berdiri di samping Alex.
Alex dan Handoyo saling menatap tajam. Kemudian Alex mengulurkan tangannya. "Hemm... kau ingin jadi temanku? Boleh aku tahu keahlianmu?"
"kau ada senjata?" Aku bisa ,menembak benda bergerak dalam jarak 100 meter tanpa meleset... bagaimana? bisakah aku ditest?"
"Benarkah? tawaran yang menarik.... baiklah, aku akan melihatnya!" Dang... dang... ambilkan senapanku di ruang tengah!" Teriak Alex pada Dadang yang berdiri di dekat pintu gerbang.
Dadang berlari ke dalam untuk mengambil senjata yang dimaksud oleh Alex.
'Setiap pagi , di wilayah ini banyak burung yang suka terbang...bisakah kau tembakan satu untukku, " Ujar Alex sambil menunjuk sekelompok burung yang sedang berlari melintasi kepala mereka .
"Aku coba... dan perhatikanlah !" handoyo tersenyum. Ia melihat Dadang yang berlari menuju arah mereka, Dan Handoyo langsung menghampiri dadang dan menarik senjata dari tangan Dadang dalam gerakan cepat sehingga membuat dadang terkejut. Senjata itu lepas dari tangannya. Tanpa sempat berkata apapun, Handoyo langsung mengecek senjata itu dan mengokangnya.
Dor... Dor.. Dor... Dor...
Empat burung itu jatuh tergeletak tidak jauh dari pintu gerbang. Alex, udin dan Dadang terkesima memandang jatuhnya burung dan kemudian beralih memandang pria di samping mereka dengan penuh takjub.
"bagaimana..jika siang ini, kita makan burung goreng?" Handoyo tersenyum pada mereka semua.
:"kamu hebat sekali, teman... kau bisa menjadi temanku... "Alex langsung memeluk Handoyo erat dan ekspresi bahagia ada di wajahnya.
*****
Happy Reading temans.... bolehkan tinggalkan jejak kalian disini? Thanks ya!
__ADS_1