
Hidup adalah tentang bertahan dan belajar menerima, atau pergi dan belajar melupakan."
*****
Salon Jessy sudah tutup ketika Handoyo memarkirkan kendaraannya di depan gerbang pintu masuk salon. Hanya pintu kecil itu masih terbuka. Waktu masih menunjukkan pukul 19.25, kota Cilegon masih cukup ramai kendaraan lalu lalang di depan jalan tempat salon itu berdiri.
Handoyo melangkahkan kaki menuju Salon itu. Ia cukup lelah hari ini namun ucapan pemilik salon itu yang membuatnya harus menepati janjinya. Sebelumnya ia mengantar mang Juned ke pangkalan becak untuk memperbaiki becak dan membelikan becak baru untuk mang Juned. Wanita pemilik salon ini sempat berkata, bahwa ia pemilik indra ke enam, dan berkata jika ia tidak datang kembali menemuinya, maka polisi akan menangkapnya atas kesalahan di masa lalu.
Takut?" Jelas tidak menurut Handoyo. Cuma ia hanya agak merasa aneh pada wanita ini. Apakah wanita ini benar-benar memiliki indra ke enam? Apakah ia sejenis paranormal? Ataukah cuma asal bicara mengingat tampilannya mirip wanita pada umumnya. Rambut hitamnya tergerai, tubuhnya proporsional dan kulitnya sawo matang. Manis jika masyarakat umum memandangnya. Tapi Handoyo tidak menyukai wanita dengan model seperti itu. Terlebih gaya bicaranya yang suka mengatur dan sering berteriak. Ia hanya penasaran dengan ucapannya yang seakan bisa membaca dirinya.
Lampu masih menyala dan diketuknya pintu salon itu. Pada ketukan ke tiga, pintu itu dibuka seseorang yang entah Handoyo bingung memanggilnya apa. Rambut orang itu cepak, kulit wajahnya putih oleh bedak dan bibirnya menggunakan lipstik pucat dan ada raut kalaki-lakian di wajahnya. Orang itu menyapanya lembut.
"Maaf massku..... salon sudah tutup, besok lagi ya?" Orang yang mirip pria kemayu itu berkata sambil tersenyum.
"Emh... mbak Jessy ada? " Dia meminta saya untuk datang setelah membereskan urusan dengan mang Juned...
"Ohhh.... jadi mas ini , yang nabrak mbak Jessy.... aduh gantengnya..... tapi sayang rambut mas jelek sekali !" Bener kata mbak Jessy... berantakan dan tidak terawat!"
Handoyo bingung menjawab apa pada makhluk di depannya, ia mau memanggil apapun bingung. Orang itu memiliki jakun di lehernya, badannya kurus tapi berpenampilan seperti perempuan. Sesungguhnya Handoyo tidak mau berurusan dengan makhluk seperti ini yang berada di kelompok abu-abu. Hingga sebuah suara perempuan menyuruhnya masuk.
"Jenny..... suruh orang itu masuk... dia mau gunting rambut!" Seru Jessy dari balik pintu.
Orang yang dipanggil Jenny itu membuka pintu salon lebar-lebar dan mwnyuruh Handoyo masuk ke ruangan salon. Ditunjuknya depan salah satu meja pelayanan pelanggan.
"Duduk di situ ya mas? Mau minum apa? Sirup Lemon atau teh manis hangat atau ... akh kalo lihat tampilannya pasti kopi pait deh , habis mas ini macho, "Ujar Jessy sambil mengelus lengan Handoyo dan langsung disentak oleh Handoyo yang merasa tidak nyaman.
"Ih... galak bener!" Sahut Jenny santai sambil mengerling jenaka pada Handoyo.
Handoyo memandang orang yang dipanggil Jenny itu dengan sedikit raut tidak suka. Ia merasa geli pada orang yang tidak jelas dipanggilnya apa. Entah pria atau wanita makhluk ini. Pandangannya menoleh mencari Jessy yang berjalan sambil menyeret kakinya.
Handoyo masih berdiri tidak jauh dari meja rias yang ditunjuk oleh Jenny. Ia tidak ingin gunting rambut, ia hanya ingin menyelesaikan masalah ganti rugi pada wanita itu.
"Mbak Jessy.... saya sudah menyelesaikan urusan dengan mang Juned, ... emh bagaimana jika aku membayar ganti rugi sekarang saja.... emh... apakah kakinya belum diurut?"
__ADS_1
"Sudah tuh... sama si Jenny!" Aku menyuruhmu datang bukan karena soal tabrakan itu... aku ingin merapihkan rambutmu, jelek banget sih potongannya!" Sahut Jessy santai.
"Hah.... gak usah mbak... saya bisa pergi ke tukang cukur yang langganan saya di bawah pohon yang di dekat alun-alun ... saya biasa cukur disitu..."Handoyo menolak tawaran Jessy sambil mengangkat tangannya seakan menyuruh stop.
"Eit.... itu adalah permintaan dari orang yang kamu tabrak... sekarang kamu berbaring di kursi keramas itu, ntar Jenny akan bantu kamu keramas... dan setelah itu akan merapihkan rambutmu, baru urusan kita selesai!"
"Baik... aku mau digunting rambutku olehmu atau dikeramas olehmu, tapi tidak oleh dia!" Ujar Handoyo sambil menatap tidak suka pada Jenny.
"Ihh mas nya jahat bener !" Dia belum tahu pijitanku lebih enak... cobain dulu ya mas!" Ujar Jenny sambil berusaha menghampiri Handoyo.
Handoyo menggeser tubuhnya di balik badan Jessy. Seakan meminta perlindungan dari wanita yang lebih kecil. Ia merasa tidak nyaman dengan sentuhan yang diberikan dari pria kemayu yang dipanggil Jenny. Dia lebih suka berkelahi dengan pria beneran daripada dielus-elus oleh pria setengah wanita ini.
"Sudahlah Jenny, kamu bereskan yang lain.... biar aku yang keramaskan kepala mas-nya ini dan merapihkan guntingannya. Kamu tolong buatkan minuman untuknya saja !" Jessy berusaha menengahi dan menarik Handoyo untuk berbaring di kursi keramas yang berbentuk memanjang dan nyaman untuk ditiduri.
Handoyo meletakkan kepalanya di atas kursi keramas itu. Ketika air hangat membasahi kepalanya, rasa nyaman dan santai mulai hadir di kepala Handoyo. Pijatan itu terasa sangat lembut. Tangan Jessy ketika mencuci rambutnya semakin membuat dirinya nyaman dan hingga ia jatuh terlelap di kursi itu.
Handoyo tidak merasakan apapun hingga Jenny membangunkannya dan memintanya pindah ke kursi lain untuk menggunting rambutnya. Ia hanya tersentak dan baru sadar ketika Jessy yang memegang kepalanya itu sedikit mendorong kepalanya agak ke depan .
"Ayuk mas.... pindah situ ya.... saatnya gunting rambut kamu, biar rapih " Ujar Jessy dengan nada agak memerintah namun mulai terdengar biasa di telinga handoyo.
Handoyo masih tidak menyadari ketika rambutnya yang basah sudah ditutup oleh handuk kecil berwarna putih itu. Ia melangkahkan kaki menuju kursi yang ditunjuk. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan gunting rambut di salon dan hanya di tukang cukur /tukang pangkas rambut pria. Di depan kaca itu ia memperhatikan bagaimana Jessy bekerja, dimulai mengeringkan rambutnya dengan handuk, memberikan krem di lehen dan pundaknya serta memijitnya sebentar, agar nyaman.
Kres.... Kres.... kres......guntingan rambut itu begitu tenang dan Jessy menjadi terlihat berbeda dengan wanita yang ia temui tadi pagi. Sedikit sexy ketika Jessy memandang kepalanya dengan fokus. Benar kata Jessy, rambutnya lebih rapih setelah digunting oleh Jessy.
"Sudah... bentar ya aku keringkan ya dengan hair dryer!" Kamu bisa minum kopi buatan Jenny, cobain deh... dia beneran kalo buat kopi itu enak sih, " Jessy berkata santai sambil menyalakan hair dryer yang lumayan brisik.
Handoyo mematuhi perkataan Jenny. Diteguknya kopi itu. Rasnya pas dan nikmat. Akh... mungkin karena aku haus dan belum makan malam.
"Mas... sudah bilang belum sama istrinya, pulang agak malam?" Tapi dia ntar pasti senang deh, jika mas pulang ke rumah, tampilan mas sudah rapih gini< " Jessy berbicara sambil menarik rambut Handoyo dan mengeringkannya dengan hair dryer.
"istriku di lampung.... kami jarang bertemu!" Handoyo berkata pelan dan masih terus memperhatikan apa yang dilakukan Jenny.
"Oh.... berarti sebelum ke Lampung, mampirlah ke sini, ntar aku rapihkan lagi ya, mas !" Jessy menyahut santai
"Kalo dirapihkan itu harus di keramas di kursi itu lagi gak?" Tanya Handoyo polos sambil menunjuk kursi keramas yang berwarna merah.
"Iya dong... kan itu bagian dari perawatan... jadi semua yang datang ke salon ini pasti dikeramas... tapi ya mas, rata-rata yang ke salon ini, pasti mau dikeramas oleh Jessy, katanya pijitan dia itu enak dan menyegarkan!"
"Kalo gitu tiap dua hari aku kesini untuk dikeramas saja deh... tapi tidak oleh dia ya!" kamu saja yang keramas!" Aku akan bayar dua kali lipat deh...
__ADS_1
"Terserah... tapi kalo pelanggan penuh untuk gunting atau keriting rambut, maka aku gak bisa ya mas!"
"Jam berapa salon ini buka?"
"Jam 9 pagi sih...
"Berarti aku datang jam 9, belum penuh kan?" Tanya Handoyo sambil menatap tajam Jessy.
"Biasanya kalo pagi sih belum .. bahkan masih sepi...emang gak bisa keramas di rumah ya?"
"Kursi itu enak untuk tidur... jadi sekalian saja aku keramas sebelum kerja di sini!"
" Baik kalo gitu.... aku kan gak mungkin menolak pelanggan. Sekarang mas-nya lihat kaca dan perhatikan rambutnya sudah rapihkan?"
"Hemm... aku bayar berapa?" Handoyo sambil menarik dompetnya dan bersiap membayarnya.
"Dua puluh ribu saja sudah termasuk kopinya ..." Sahut Jessy pendek.
Handoyo membayarnya dan langsung diterima oleh Jessy dengan senyum. Ia segera meninggalkan salon tanpa berkata apapun. Ia hanya terkesan dengan pijitan Jessy yang mengingatkannya pada pijitan Lidya ketika ia sedang sakit. Mengapa rasanya sama? Akh... mungkin aku hanya lelah saja.... akan kucoba dua hari lagi kemari.
*****
Happy Reading Guys!" Semoga masih berbaik hati membacanya. Thanks a lot ya
__ADS_1