
Seorang sahabat tidak akan pernah menaruh batu kerikil yang akan menjatuhkan sahabatnya .
Cinta yang benar dapat mempererat persahabatan tapi cinta yang salah dapat menghancurkan persahabatan.
*****
Floating Cottage/ Penginapan mengapung yang dipilih oleh Nadia menempati barisan terujung dari pantai. Suasana sepi dan hanya deburan ombak yang terdengar dari dalam cottage itu.
Nadia sedang mandi ketika makanan yang dikirim oleh room service datang. Handoyo menunggu Nadia selesai mandi untuk makan malam bersama. Sesungguhnya ia sudah lapar dan hanya menikmati segelas teh manis yang dikirimkan petugas tadi.
Handoyo sedang menonton televisi di kamar itu sambil mengingat momen kebersamaan mereka beberapa kali dalam menjalankan tugas menyelesaikan kasus di beberapa kota dari organisasi. Sudah beberapa kali mereka bersama di dalam kamar yang sama dan terkadang tidur di tempat yang sama. Dan tidak terjadi apapun diantara mereka. Mereka bersahabat dan merasa saling mendukung dalam mencapai keberhasilan tugas dari Big Mama.
Tapi Handoyo merasa berbeda malam ini. ia ingin mengetahui kebenaran cerita hubungan kasih antara Nadia dan PRamoedya, namun tampaknya Nadia enggan berbagi ceritabagaimana jika benar, apakah ia sanggup mendengarnya bahwa Nadia benar-benar berhubungan
Harusnya tidak masalah bagi keduanya. Namun setelah mendengarkan cerita dari Ujang mengenai cerita masa lalu keduanya, membuat sebagian hati kecil Handoyo tidak rela, Tapi ia juga merasa tidak enak dengan Pramoedya yang menurutnya sudah berkorban untuk dirinya menggantikan dirinya menjadi bagian yang tidak dianggap oleh keluarga orang nomor satu di negara ini. Dia berhutang pada pria yang belum pernah ditemuinya itu.
Handoyo menarik nafas dalam -dalam sambil menatap layar televisi yang entahlah menayangkan apa. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya menoleh. Nadia keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk mandi yang menutup sebagian area tubuhnya yang biasanya tertutup oleh kemeja panjangnya.
Rambutnya yang cepak masih basah dan masih ada bulir-bulir air mandi yang menetes jatuh ke tubuhnya. Cantik dan sexy menurut pandangan Handoyo. Dan Nadia melihatnya. Wanita itu tersenyum manis sekali.
Entah kenapa jantung Handoyo ;langsung berdebar dan rasanya seperti ingin meledak. Ia harus keluar kamar dulu selagi Nadia belum berpakaian. Handoyo bangkit dari kursinya dan tidak ingin melihat wanita yang masih mengenakan handuk.
"Nad... aku keluar dulu! "
"Mau kemana mas Han? Aku ikut dong kalo mau jalan-jalan!" Nadia ;langsung setengah berlari menghampiri Handoyo yang akan membuka pintu kamar cottage dan akan meninggalkan cottage.
Handoyo tidak ingin menoleh. Ia tidak boleh tergoda. Hal itu bisa menghancurkan hubungan dia dan Nadia di masa mendatang, jika ia salah bertindak. Wanita itu sangat mempercayainya Hati kecil Handoyo berontak, mengapakah aku seperti ini. Bukankah aku biasa melihatnya dan pernah melihatnya telanjang ketika menjalankan misi dahulu tapi tidak terjadi apapun.
'Kamu kenapa mas Han?" Nadia heran melihat Handoyo yang berdiri di dekat pintu keluar dan tidak mau memandangnya.
"Kamu berpakaian dulu, setelah makan kita akan jalan ke luar!'
"Kamu marah ya, aku tidak menjawab pertanyaanmu tadi?" Nadia berusaha mengingat apa yang mereka katakan di mobil.
"Tidak... itu tidak masalah Nad, lupakan pertanyaanku tadi, emh ,,, bisa kamu pakai pakaianmu dulu, Nad!"
Nadia diam . Namun ia akhirnya memeluk pria itu dari belakang. " Bolehkah aku memelukmu sebentar saja, Mas Han?' jangan marah.... sebentar saja!"
Handoyo terdiam. Ia tidak bergerak ataupun merespon pelukan itu. Pelukan Nadia dari belakang itu tidak hanya menyentuh tubuh bagian belakangnya, tapi menyentuh lubuk hatinya yang terdalam. Nadia kemudian berbicara pelan . Suara itu nyaris tidak terdengar karena di luar kamar cottage, suara debur ombak begitu kencang.
__ADS_1
"Mas Han... apakah kamu masih mengingat istrimu? Apakah mas Han Masih mencintai mbak Lidya? "
Handoyo terdiam.
Handoyo sungguh tak menyangka akan pertanyaan Nadia. Oh dia menyebut nama Lidya ..... Nadia... Apakah ia masih mencintai istrinya?
Tadi siang ia bisa menjawab pertanyaan Ujang dengan penuh semangat, bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan Lidya. Tapi kenapa Lidahnya kelu. tentu saja ia mencintai Lidya, tapi kenapa hatinya sekarang bergetar dan menikmati pelukan wanita lain. Apakah ia mulai tidak mencintai istrinya?" Kenapa dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nadia dengan lantang. Aku masih mencintai Nadia. Kenapa dia tidak mampu mengatakan apapun pada wanita itu.
Handoyo merasakan pelukan Nadia terasa hangat sampai ke hatinya.. Jemarinya yang masih setengah kering dan dingin mengelus kaosnya yang bagian depan. Jemarinya seolah menggodanya untuk membalik tubuhnya dan berbalik memeluk Nadia.
"Mas Han... aku tahu kamu masih mencintainya..masih merindukan istrimu.... sesungguhnya mbak Lidya beruntung mendapatkan hatimu selamanya.... aku tahu itu... aku iri pada mbak Lidya yang meski dia tidak ada di dunia ini, tetapi kau masih menjaga hatimu untuknya.... kamu luar biasa mencintainya... aku ingin dicintai seperti itu... dan bagiku aku lebih baik dicintai daripada mencintai pria lain..... kurasa mas Pram juga mencintaiku seperti kamu mencintai Lidya."
Handoyo terdiam mendengarnya. Ia masih tidak bergerak dari posisinya.
"Mas Han.... jika Handoyo mencintai Lidya, aku boleh bertanya tentang dirimu yang lain... Apakah Adiguna mencintai lidya ?"
Handoyo tertegun mendengar pertanyaan Nadia. Bukankah Handoyo dan Adiguna itu satu orang. Dia adalah Adiguna dan dia pula adalah Handoyo.
"Maksudmu?" Akhirnya Handoyo menjawab pertanyaan Nadia dan menoleh pada wanita yang masih menggunakan handuk mandi itu.
"Apakah Adiguna juga mencintai Lidya? Apakah Adiguna mencintai sekretarisnya yang di kantor? Maksudku Viana/"
"Mas Handoyo tidak mau menjawab pertanyaanku sama sekali?" Suara Nadia terdengar sedikit putus asa dan itu dapat ditangkap oleh Handoyo.
Handoyo menatap wajah cantik Nadia. Sungguh ia ingin menikmati bibir merah Nadia. Tapi ia sadar mereka bersahabat. Tidak ada yang boleh terjadi di antara mereka. Tatapan Nadia seolah memaksanya menjawab pertanyaan yang diberikan. Wanita itu terus menatapnya.
"Katakan padaku mas ... apakah Adiguna mencintai wanita selain Lidya?"
"Tidak ada yang kucintai di dunia ini Nad.... sekarang berpakaianlah... aku menunggumu di luar kamar, setelah itu kita makan ya!" Handoyo akhirnya mengalah dan melihat Nadia tersenyum .
Kejujuran Handoyo membuat Nadia tersenyum bahagia. Senyum itu membuat Handoyo makin terpana dan tidak bergerak meninggalkan Nadia. Sedetik kemudian jemari Handoyo sudah berada di bibir Nadia, Ia mengelusnya sebentar dan menurunkan kembali seolah tindakannya menghancurkan hubungan persahabatan keduanya.
"Mas han... " Nadia berkata pelan.
Handoyo masih menatap bibir Nadia yang seolah menggodanya untuk melakukan sesuatu pada bibir itu. Jantung Nadia pun berdetak kencang , dan ia merasakan bahwa ia sudah tidak mampu membohonginya lagi.
"Boleh aku meminta sebuah ciuman dari Adiguna? Bukankah Adiguna tidak memiliki kekasih?? Apakah boleh?'
Handoyo tertegun. Mengapa Nadia membedakan dirinya dengan Adiguna. Bukankah ia adalah Adiguna yang merupakan samaran Handoyo? Mengapa?
__ADS_1
Nadia menatap pandangan pria itu yang tampaknya memikirkan ucapannya. Nadia kecewa ternyata Handoyo ataupun Adiguna tidak menaruh hati padanya sedikit saja. Ini sungguh memalukan.
Nadia berbalik badan dan meninggalkan Handoyo yang masih terbengong di dekat pintu. Handoyo hanya bingung kenapa wanita ini membedakan dirinya dengan Adiguna. Pikirannya baru kembali ketika menyadari sudah tiga langkah di depannya.
Ditariknya tubuh wanita yang masih berbalik handuk dengan cepat. Dipeluknya Nadia dan seolah baru menyadari arti pertanyaan Nadia. JIka Handoyo mencintai Lidya, bagaimana Adiguna? bisakah Adiguna mencintai wanita lain. Tentu bisa... aku bisa mencintaimu , Nad... bisik hati Handoyo.
Handoyo terkejut melihat ada tetesan air mata di pipi Nadia. Wanita ini selama ini belum pernah menangis. Wanita tegar yang terkesan mandiri ini bisa menangis, Apakah dia menangis untuknya. Refleks Handoyo menghapus air mata Nadia. Wanita itu diam aja dan tak mau menatapnya lagi.
"maafkan aku, Nad... aku tak mengerti tadi... maaf...maafkan aku !"
"Gak papa... aku mau ganti baju... pergilah!"
Entah mengapa Handoyo malah memeluk Nadia erat dan ia mengecup pucuk kepala Nadia. "Maafkan aku...!"
Air mata Nadia masih mengalir dan Handoyo masih mencium air mata yang jatuh itu di pipi Nadia, Kemudian Ia memagut bibir Nadia yang bagi Handoyo terasa manis sekali. Itulah ciuman pertama kali mereka sebagai sehabat.
dan ciuman itu lama dan mereka saling membalas hangatnya.
Setelah hampir kehabisan oksigen, mereka melepaskan pagutannya dan saling memandang. Nadia tersenyum dan
Nadia masih memeluk leher Handoyo dan berbisik lembut sekali di pendengaran Handoyo. "terimakasih Adiguna... bisakah malam ini kau memelukku sebagai Adiguna? Bolehkah aku malam ini menjadi wanitamu Adiguna?"
"Kau adalah wanitaku , Nad..."
Mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak larut dalam ciuman panjang berikutnya dan tubuh mereka semakin rapat dengan pelukan Handoyo pada pinggang Nadia. Kewarasan Handoyo makin hilang yang semula bertekad menjaga persahabatan mereka .
Dan malam itu Handoyo menepati kata-katanya. Ciuman itu terasa seperti ciuman pertama mereka barusan dan disertai tambahan keliaran yang dilakukan Nadia yang membangkitkan hasrat pria yang Handoyo tahan.
Lidah mereka bermain dan saling membelit , semakin malam dan semakin panas. Kain yang menutupi keduanya sudah terlepas dan menjadi semakin liar Leguhan pelan dan bergantian menghilangkan kesadaran mereka akan arti sebuah persahabatan yang telah hialng di malam itu. Keringat mengalir dari keduanya dan saling bertukar saliva.
Desakan dari tubuh inti Handoyo memasuki tubuh Nadia. Semua berlangsung malam itu dengan melepaskan persahabatan dan tanpa ada kata cinta diantara keduanya. Mereka saling membutuhkan malam itu.
akh....
Cinta yang benar dapat mempererat persahabatan tapi cinta yang salah dapat menghancurkan persahabatan.
*****
Happy Reading Guys. Terimakasih telah membacanya dan bolehkah tinggalkan jejak kalian disini?" Love you all
__ADS_1