Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
47. Before the Final Decision


__ADS_3

Kebenaran adalah sesuatu yang unik, tidak berawal dan berakhir serta tidak memiliki ruang dan waktu."


 


*****


 


 


Sudah hampir 10 hari Warmen tidak mengikuti  kegiatan prapersidangan Handoyo dan hari ini adalah persidangan yang digelar tertutup keduakalinya. Hal itu dikarenakan Warmen  harus mendampingi orang tua Melinda dan menjemput Nicky di London.


Kegiatan yang diperkirakan Warmen mengambil waktu satu minggu bergeser dan ini sudah hari ke sepuluh. Sehingga membuat Dede berjuang sendirian di ruang sidang. Alex, Jessy dan Jenny selalu hadir menunggu di depan ruang sidang, karena persidangan itu tertutup bagi khalayak umum. Masyarakat yang ingin mengetahui hasil sidang diminta menungggu  informasi yang disampaikan oleh TNRI. Pada masa itu memang informasi begitu sulit dan searah.


Handoyo sudah mengetahui alasan ketidakhadiran Warmen karena pesan yang dikirimkan untuk  Handoyo melalui Dita. Pria itu berjanji segera mendampingi setelah berhasil membawa pulang anak lelakinya yang di Inggris.


Palu telah diketuk hakim sebagai tanda waktu bersidang dihentikan sementara, dan diberikan tenggang waktu menyiapkan antara jaksa penuntut dan pembela persidangan menampilkan setiap argumen yang memberatkan ataupun meringankan Handoyo.


Meskipun tanpa Warmen di samping Dede Muhandar, sang pengacara, asal bandung  itu tetap bekerja sepenuh hati dan luar biasa karena mereka telah menyiapkan berkas jauh-jauh hari. Perdebatan demi perdebatan dilalui pengacara itu dengan gagah berani berjuang membela klien penting titipan dari Alex.


Tim Jaksa penuntut memang belum dapat membuktikan bahwa Handoyo terlibat di beberapa kasus yang dituduhkan dan lemahnya alat bukti membuat Dede yakin bahwa Handoyo tidak akan dihukum mati. Kasus di Lampung adalah kasus terberat yang akan menjerat Handoyo karena banyaknya korban jiwa di Lampung.


Alibi yang dimiliki Handoyo pun tidak bisa dipatahkan oleh para penuntut itu karena ada wanita yang bernama Yani yang memang menemani Handoyo sepanjang malam dan kesaksian itu tidak berubah. Polisi hanya mempunyai bukti keringat Handoyo yang ada di kursi tempat sang Jendral terbakar.


Handoyo memasuki mobil tahanan dan memperhatikan banyak wartawan yang memfotonya dan ia membiarkannya semua orang mengambil gambarnya. Tak masalah baginya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak ada Lidya ataupun keluarganya yang bersedih atas kasusnya.


Mobil itu terus berjalan, namun Handoyo merasa aneh. Mobil ini tidak menuju ke tempat dia ditahan tapi mobil ini mengarah ke pinggiran kota Jakarta. Hingga di sebuah tempat yang sunyi, mobil itu berhenti. Mobil itu dikemudikan oleh seorang sopir yang berpakaian seragam dan ada 3 polisi yang menjaganya. Handoyo melupakan apakah itu polisi yang sama ataukah berbeda dengan yang tadi pagi menjemputnya.


Handoyo semakin waspada dan diperhatikan wajah para polisi itu yang berhenti di pinggiran jalan yang sepi di arah menuju kota Bekasi. Ingin bertanya tapi pikirannya menyuruh tetap diam dan menunggu. Mereka hanya menunggu beberapa saat hingga sebuah mobil sedan berhenti di belakang mobil tahanan.


Mobil itu dikendarai oleh seorang wanita cantik yang berpakaian serba hitam dan rambut pendek. Wanita itu hanya mengetuk pintu sopir dan para polisi yang bertugas langsung turun dan membuka pintu bagian belakang mobil.


Ketika pintu mobil tahanan dibuka oleh petugas, Handoyo dapat melihat wanita itu dengan jelas. Wanita yang cekatan dan kelihatan seperti polisi atau mungkin lebih tepatnya pengawal pribadi orang penting. Handoyo masih memperhatikan dengan seksama apa yang kemungkinan terjadi dengan sikap waspada.


"Selamat sore Pak Handoyo, boleh saya bicara sebentar," Sapa wanita itu dengan sopan dan ada ketegasan di nada suaranya.

__ADS_1


"Ya... silahkan saja , saya tidak punya hak apapun untuk menolak, karena ketiga polisi itu saja bisa membiarkan kamu masuk dan  menunggu kamu di sini , pasti ada orang penting di belakang kamu yang meminta kamu ke sini!" Katakan apa yang mau dikatakan, toh tanganku terantai dengan jelas, jadi aku tak mungkin menyerangmu.... lagipula aku pantang menyerang wanita!' Handoyo berkata dengan santai.


Wanita itu memasuki mobil tahanan dengan penuh percaya diri dan para polisi yang bertugas mengantar Handoyo ke penjara semuanya berjaga di luar mobil sambil memperhatikan situasi sekitar dan memperhatikan keadaan. Handoyo memperhatikan bahwa pasti ada orang penting yang berada di dalam mobil sedan hitam itu.


"Baik.... Sebelumnya perkenalkan dahulu nama saya adalah Nadia, saya diminta menemui anda karena pimpinan saya tertarik pada keahlian anda dan meminta anda melakukan satu hal penting , apakah anda bersedia?" Tanya wanita itu dengan tatapan tajamnya.


"Nadia, kau tahukan  sekarang aku sedang menjadi tahanan dan bagaimana  bisa aku dapat menolong pimpinan kamu?"  Lagipula kamu tidak tahu, aku tidak bisa melakukan seperti apa yang diberitakan... aku cuma berada di waktu dan tempat yang salah, aku cuma menikmati eforia diberitakan dan aku membiarkan itu.


"Pak Handoyo, saya tahu dengan pasti, bahwa Bapak memang yang melakukan seluruh pembunuhan, karena saya sudah mengantongi beberapa bukti bahwa anda terlibat yang di Makasar dan Palembang, ada bukti yang tidak terbantahkan dan kami menunggu itikad baik anda....


"Kalau begitu sampaikan saja ke jaksa penuntut biar cepat beres kalo bukti itu memang ada... " Handoyo berkata sambil tersenyum mengejek pada wanita yang berselisih umur beberapa tahun dengannya.


"Tidak, Pimpinan saya menolak karena sebenarnya Alex dan Udin pun sudah bersedia bekerja sama dan mereka memang bersedia kooperatif ... saya pikir Bapak paham maksud saya ?'


"Maksudmu kamu mengenal mereka?" Handoyo terkejut ketika ia mendengar ucapan Nadia yang menyatakan Alex dan udin sudah kooperatif.


"Ya.... Bapak mau bertemu dengan pimpinan saya?" Tanya Nadia kembali.


"Kamu tidak takut aku akan menyerangmu ketika keluar dari mobil ini?"


"Sebenarnya aku tidak berminat dengan tawaran pekerjaan, tapi aku penasaran dengan siapa pimpinan kamu hingga membuat Alex dan Udin mau kooperatif.... baik ajak aku menemui dia? Sekarang? Apakah pimpinanmu menunggu di mobil itu? Tanya Handoyo sambil memandang mobil sedan hitam itu.


"Ya.... tapi sekali menemui dia, maka anda akan bersedia melakukan pekerjaan apapun yang diberikan...


"Baiklah... aku setuju," Handoyo berkata dengan penuh keyakinan.


Handoyo sangat penasaran siapakah pimpinan dari wanita ini. Dia berfikir orang penting macam apa yang akan ditemuinya dan bisa membuatnya tidak menuju ruang tahanan dan masih terdampar di pinggir jalan.


Nadia cuma mengetuk pintu kaca dan penjaga di luar membuka pintu mobil tahanan itu. Nadia dan Handoyo keluar dari mobil tahanan dan menuju mobil sedan mewah itu.


Handoyo mengikuti langkah Nadia dengan tangan masih terborgol.  Pintu bagian belakang mobil itu dibuka, dan Nadia mempersilahkan Handoyo duduk di kursi bagian belakang.


Betapa terkejut Handoyo melihat siapa yang sedang menunggunya di dalam mobil itu. Seorang wanita yang bertampang keibuan dan wajahnya memancarkan kebranian dan ketegasan. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Handoyo, Wanita itu sering dilihatnya di televisi. Ia adalah istri orang terpenting di negara ini. Benarkah istri orang penting ini menemui dan meminta bantuannya.


Apakah dirinya salah lihat orang tapi melihat besarnya kekuatan yang dimilikinya membuat Handoyo berusaha meyakinkan dirinya kembali. Wanita itu menyapanya ramah.

__ADS_1


"Duduklah mas Handoyo.... haus gak?"Ini  Ibu sudah buatkan minuman dingin... cobain dulu... " Sapa wanita itu ramah dan keibuan.


"Terimakasih bu..... maafkan saya, apakah benar yang saya lihat ini !" Maafkan saya!' Handoyo bertanya dan membutuhkan keyakinan atas apa yang dilihatnya.


"Ya.... Saya adalah istri panglima angkatan bersenjatayang kau ketahui.... kamu benar dan kamu bisa memanggil saya sama seperti nadia, panggil saya "Big Mama... itu panggilanku di organisasiku, Alex dan Udin adalah anak buahku juga!" Jadi kau bisa bergabung tapi tidak untuk saling berdiskusi mengenaiku!'


"Baik Big mama.... "Sahut Handoyo pelan dan pasti.


"Dengarkan aku, Handoyo, kau akan divonis lusa...  Apapun hasil vonis, kau setujui saja dan tidak mengajukan banding apapun tapi kau tak perlu menjalaninya, karena besok Nadia yang akan menjemputmu  ketika sudah ada keputusan pengadilan.... ikuti saja prosesnya dan Nadia akan menjemputmu satu bulan setelah kau ditahan, biarkan saja apa yang masyarakat katakan dan kamu cukup menjadi dirimu yang seperti ini..... dan ingat  lakukan apa yang Nadia katakan... kau mengerti?"


"Baik , Big mama..... tapi apakah Panglima?"


"Dilarang menyebut nama itu.... lakukan apa yang kukatakan tanpa banyak tanya dan kau akan memperoleh segalanya, aku yang akan menjaminmu..... paham?"


"Paham Big mama!"


"Bagus.... Habiskan minumanmu dan kembalilah ke tempatmu!"


"Baik," Ujar Handoyo pasti dan langsung menenggak gelas berisi air minuman dingin itu.


 


 


 


 


*****


 


 


 

__ADS_1


Happy Reading guys....  Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini, Thanks ya!" Love you all!"


__ADS_2