
Terkadang kita harus berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
Pengorbananku ini harus mencapai hasil akhir yang terbaik karena aku harus tinggal di kegelapan, mempertaruhkan seluruh hidupku dan kehormatanku!"
*****
Handoyo memasuki mobil hitam itu dengan segera dan langkahnya langsung diikuti oleh Nadia. Mereka berdua bergegas meninggalkan kediaman Sasongko sebelum para polisi dan pihak tuan rumah berubah fikiran.
Wanita yang duduk di samping Handoyo itu langsung melepas wig rambutnya begitu tiba di dalam mobil dan langsung mencopot "High Heel" yang digunakannya dan ia melempar sembarangan di dalam mobil.
"Akh.... leganya,setelah melepas benda -benda ini!" Nadia berkata sambil mengambil tisu basah dan membersihkan make up-nya.
Handoyo hanya meliriknya dalam diam. Ingin bertanya tentang yang dialami wanita itu selama berada di ruang kerja bersama Sasongko tadi tapi ditahannya perkataan itu dibibirnya. Ia merasa wanita ini penuh misteri. Hubungan mereka baru sebatas partner kerja yang baru kenal, pikirnya.
"Ternyata kamu hebat ya, mas Han!' Kamu bisa memperkirakan semua tugasmu dan memasuki kamar kerja Sasongko dengan waktu 10 menit. Semua benar-benar tepat!" Bagaimana bisa seperti itu? Bisakah kau ajari aku?" Nadia masih sibuk dengan membersihkan wajahnya dan bertanya dengan santai pada Handoyo.
"Semua ada prosesnya,Nad... hingga aku seperti ini... cukup lama dan memang diperlukan latihan!" Kurasa kau bisa menjalaninya jika kau pernah di titik terendah di hidupmu!"
"Ya , setiap orang memang ada pernah mengalami masa di mana kamu melewati titik terendah di hidupmu .... tapi kamu itu hebat sekali lho, kamu bisa masuk ke dalam ruangan itu tanpa diketahui oleh anak buah Sasongko dan membuat pria itu terkejut setengah mati ....ngomong-ngomong besok kasus ini akan masuk berita di TNRI, dan Big Mama pasti akan langsung menghubungi kita besok pagi .... malam ini kita bisa tidur dengan tenang.... tapi bisakah kita tidak di tidur Semarang?" Bosan aku tinggal di sini selama masa menyelidiki Sasangko dari beberapa waktu yang lalu!"
"Bisa sih ... kita mau ke mana malam ini?" Tapi apakah tidak dicurigai? jika kita menghilang malam ini Nad?"
"Jadi kau mau kita bermain peran dahulu selama beberapa hari di Semarang ? Sebagai suami istri dan melakukan berbagai aktifitas yang memang terlihat di depan masyarakat elit kota ini?"
"Jika itu diperlukan sih... kau keberatan ?" Handoyo berkata dengan penuh ketegasan sambil terus mengemudi dan fokus pada jalan raya.
"Mas Han.... apakah kamu menyukai pekerjaan kita seperti ini?" Atau karena kau terdesak tidak mau dipenjara sehingga kau memilih bergabung dengan "Elang hitam"?
__ADS_1
"Aku suka mencoba sesuatu yang baru, Nad .... aku ingin melihat berbagai macam manusia di dunia ini sebelum aku mati....jika aku harus di penjara itu tak masalah, tak ada yang aku takuti di dunia ini... aku ingin melihat berbagai aktifitas manusia di belahan dunia ini!"
" Apakah Kau tak menyesalinya memasuki organisasi ini hingga harus berpisah dengan sahabatmu yang pengacara itu?' Kelihatannya temanmu itu sedikit kecewa padamu lho... bagaimana jika akhirnya kalian tidak bisa bersahabat kembali?"
"Kami tetap berteman... tapi dengan cara berbeda... Dia sangat mengenal aku dan percaya padaku, ....kenapa kau ingin tahu tentangku?"
"Aku merasa kau agak sedikit berbeda dengan orang-orang di organisasi "Elang Hitam " itu.. Kau terlalu naif sebagai anggota dan terlalu bersemangat untuk bergabung... tapi Big Mama menyukaimu, Mas Han... dan bilang kau adalah potensi sebagai pimpinan organisasi jika dia meninggal...
"Maksudmu...
"Sudahlah mas Han... lama-lama kau akan makin mengerti tentang organisasi ini!"
"Nad... bisa kau ceritakan tentang organisasi Elang hitam ? Bagaimana pola kerjanya? Apakah "Big Mama yang memimpinnya secara langsung dan apakah seperti perusahaan ataukah seperti apa yang akan kita lewati?" Kenapa Big mama langsung memilihku, Nad?" sesungguhnya masih banyak pertanyaan tapi itu dulu saja lah .... Kau kan mentorku, seharusnya kau menjelaskannya dengan detail... agar aku tidak salah melangkah!"
"Mas Han.... Organisasi ini memang dipimpin oleh Big Mama, tapi dia cuma berperan di belakang layar, JIka di dalam pertemuan besar di mana semua anggota berkumpul, maka yang akan muncul adalah Stevan. .... Pria itu sesungguhnya ajudan Big Mama , kemanapun.... jadi dia yang akan memantau dan mengujimu ketika di Jakarta... tapi Big Mama baru akan mempertemukan kalian jika misi kita sukses... kurasa sebentar lagi dia akan datang menemui kita."
"Stevan itu adalah orang kepercayaan Big Mama, tapi aku bilang Big mama mengganggapku berpotensi menjadi pemimpin kenapa dia bisa berfikir seperti itu, Nad ... terus kenapa organisasi ini dibilang sayap kiri, Nad?" Aku tidak mendengarnya di media-media, hingga kalian muncul dan Warmen memintaku berfikir ulang untuk bergabung dengan organisasi ini."
Suara Nadia yang agak bergetar menunjukkan wanita itu menahan tangisnya dan menyembunyikannya di hadapan Handoyo. Pria itu hanya melirik sebentar dan tetap melajukan kendaraannya menuju hotel "Candi Baru" tempat menginap mereka.
"Nad.... "panggil Handoyo pelan.
"Kau akan makin mengerti setelah berada di dalamnya ... ingat pesanku... cuma Big Mama yang kau dengar!" Hanya dia yang tulus membantumu.... JIka Steven mempersulitmu, lakukan tugas kita saja dengan baik!" Anggap semua sebagai tugas dari Big mama saja!"
Mereka terdiam sepanjang sisa perjalanan itu, hingga mobil memasuki area hotel.
Nadia langsung keluar dari mobil dan Handoyo terpaksa mengikuti langkah Nadia menuju kamar mereka. Wanita ini lebih banyak diam setelah pembicaraan mereka tadi. Ingin bertanya lebih jauh namun Handoyo memilih menahan rasa ingin tahunya demi hubungan kerja sama mereka yang belum begitu akrab.
"Aku mandi duluan... badanku rasanya lengket dan kotor " Ujar Nadia yang begitu masuk kamar , langsung memasuki kamar mandi tanpa mempedulikan Handoyo yang belum menjawab apapun.
"Nadia... apakah kau mau aku pesankan makan malam?"
__ADS_1
"Tidak.... kamu makanlah sendiri," Nadia berkata tanpa menengok pada Handoyo dan terkesan mengabaikan pria itu.
Wajah Handoyo sedikit berkerut memperhatikan perubahan sikap Nadia kepadanya. Apakah dia melakukan kesalahan? rasanya tidak. Apakah wanita itu menyesal berada di organisasi ini? Kenapa? Rasa ingin tahu dan mengenal organisasi ini makin membuat Handoyo bersemangat.
Nadia langsung merebahkan diri di ranjang hotel begitu selesai membersihkan diri. Ia masih menggunakan jubah hotel dan tidak menegur Handoyo. Sesungguhnya ia lelah dan merasa terluka setiap habis melakukan tugas dari organisasi ini. terlenbih tugasnya yang harus mengorbankan harga dirinya.
Pengorbananku ini harus mencapai hasil akhir yang terbaik karena aku harus tinggal di kegelapan, mempertaruhkan seluruh hidupku dan kehormatanku!" Aku harus berhasil dan bisa membunuh si keparat itu!" Bisik Nadia dalam hatinya. Aku harus berhasil. Nadia memejamkan matanya dan tak berapa lama iapun terlelap tanpa mempedulikan ada seorang pria di ruangan yang sama dengannya.
Handoyo hanya menatap wanita yang berbaring dengan jubah handuk mandi itu dengan sedikit bingung. Apakah pekerjaan ini begitu berat baginya. Kenapa tidak mundur saja jika tidak sanggup? JIka pekerjaan ini menyakiti hati dan fikirannya, mengapa tetap memaksa melakukan. Apa yang membuatnya harus melakukan pekerjaan ini?
Handoyo menghela nafas sebelum memasuki kamar mandi. Diliriknya kembali wanita yang berbaring membelakanginya. Akh... biarkan saja. Mungkin ia kelelahan dan malam ini aku yang tidur di sofa. Besok akan kutanya kembali semuanya.
*****
Happy Reading Guys! Terimakasih telah membacanya/
Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini ? Thanks a lot. Love you!
__ADS_1