Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
123. Kamu bukan untukku


__ADS_3

Ada kalanya kita harus melepaskan dengan rela, karena dia bukan untukmu!"


Jika melepaskan adalah pilihan yang terbaik , maka cinta mengajarkan  pada kita  tentang arti bertahan dan merelakan.


*****


Handoyo membanting pintu belakang rumahnya dengan sangat kencang.   Kecewa, sakit hati, marah pada Nadia, tadi itu hanya luapan kekesalan karena kebodohannya. Ia mengatur nafasnya setelah melompati pagar pembatas belakang rumah mereka.


Rumah Handoyo dan Nadia saling berpunggungan. Karena kemampuan bela diri Handoyo dia mampu melompati tembok setinggi itu . Tidak dipikirnya lagi cengkaraman dan  hajaran tangannya pada dinding belakang rumah Nadia. Ia marah sekali. Marah hingga tak mampu berkata-kata. Ia pergi dan tak ingin melihat wanita itu kembali.


Seandainya ia bisa berkata tidak jujur bahwa ia sudah melupakan almarhuman istrinya, dan bersedia memberikan cintanya sepenuh hati pada wanita itu, tentu Nadia memilih untuk membatalkan pernikahan dengan Pramoedya. Tapi benarkah bahwa ia sudah mencintai Nadia dan melupakan Lidya,


Memang Lidya adalah istrinya yang telah meninggal, Semenjak beberapa bulan perkenalan dengan Nadia, Handoyo tidak pernah lagi memimpikan Lidya, semua bayangan Lidya di tidur malamnya seolah menghilang. Benarkah aku sudah beralih dari Lidya. Benarkah aku sudah tidak setia pada Lidya dan melupakan janjiku padanya?


Tidak. Cintaku cuma satu. Cintaku hanya pada Lidya. Nadia hanyalah pemuas hasratku seperti pada wanita lainnya. Aku tidak pernah mencintai dia. Aku hanya tidak ingin melihat dia bersama Pramoedya.


Bug...


Dihantamnya kembali dinding kamar rumahnya itu. Kesal sekali akan kebodohannya yang membuat Nadia pergi meninggalkannya.


Handoyo melempar kaos hitamnya itu ke sembarang arah dan dia berbaring di ranjangnya sambil berusaha menutup matanya.  Rasa kesal makin menghampiri kala menutup matanya.


Apalagi pria yang akan dinikahi Nadia itu adalah pria yang merupakan anak bungsu dari Jendral Suhartono. Pria itu bukan pria sesungguhnya bagian dari keluarga itu. Apakah nasibnya dipermainkan sehingga harus berurusan dengan Pramoedya? Apakah Nadia merupakan perempuan yang haus materi? Bukankah sekarang dia memiliki harta juga, dia bisa menghidupi keluarga  mereka nanti.


Wanita matre dan bodoh. Aku merindukanmu. Aku merindukan ketika aku berada di dalammu. ****.! Aku benci pada wanita itu.

__ADS_1


Mengapa nasibnya harus berurusan dengan Pramoedya. Salahkah dia marah pada keadaan? Pramoedya yang menggantikannya di keluarga itu, sekarang pria itu akan mengambil wanita yang dikasihinya. Sungguh beruntung sekali dia. Benarkah aku iri pada Pramoedya? Ataukah aku marah karena Nadia lebih memilih pria itu


Handoyo masih terus kesal dan perasaan marah terus berkecamuk di hatinya itu. Dia mengangkat tangannya dan menaruh ke atas kepalanya. Sedikit perih pada jemari tangannya mulai dirasa. Itu akibat dia menghantam beberapa kali tembok dengan tinjunya.


Pukulan itu terpaksa dikeluarkannya daripada dia memukul wanita yang dikasihinya. Terlebih pantang baginya untuk menghajar wanita. Apalagi wanita itu Nadia? Kurasa aku benar-benar jatuh cinta pada Nadia. Aku mencintai Nadia dan Lidya.


Huff...


Maafkan aku Nadia. Maaf... Batin Handoyo berkata dan saat ini Handoyo berusaha mengurangi amarahnya dan memejamkan matanya sesaat dan membiarkan rasa nyeri di tangannya terus bekerja. Tangan  itu meneteskan darah karena ia menghantam beberapa kali dinding di rumah Nadia dan rumah dia dengan sekuat tenaga. Luka luar yang diabaikannya karena tidak sesakit hatinya.


Hening sesaat dan hanya terdengar suara dentang jam di ruang tamunya.


hingga...matanya terpejam dan otaknya nyaris menyuruhnya terlelap, Sebuah sentuhan hadir menyapanya.


Nadia hadir di kamarnya. Apakah dia bermimpi?"


Kesadaran seolah datang ketika sebuah jemari mengambil tangannya yang terluka dan berada di atas kepala Handoyo. Ia  makin terjaga dan melihat Nadia sudah  benar-benar ada di kamarnya.


Wanita itu tidak menyapanya seperti biasa dan hanya membersihkan lukanya dalam diam. Dia membawa kotak obat dan membersihkan beberapa lukanya dan memberinya betadine serta pembalut luka. Nadia mengerjakan dengan sangat cekatan.


Ia terlihat sexy dan manis sekali. Belum lagi aroma sabun mandi aroma mawar memenuhi indera penciuman Handoyo.  Rasanya ia ingin membuat kehangatan kembali seperti di Pulau Bidadari.


"Besok pasti sembuh... " Nadia berkata pada tangan Handoyo.


Handoyo diam saja. Dia ingin sekali  memeluk wanita itu tapi rasanya tidak enak, bagaimana jika wanita itu menolaknya. Tatapan mereka bertemu dan Nadia tersenyum. Benarkah wanita ini tulus padanya? "

__ADS_1


"Jangan marah lagi mas Han...  jangan marah... aku ingin bisa melihatmu selamanya dan kita masih bisa bersua apapun keadaannya... jangan marah lagi... cuma kamu cintaku.... dia hanya untuk menyelamatkan anakmu... Jessy sudah meramalkan bahwa di rahimku ini akan ada anakmu dan itu bukan anak dari pria lain... tapi jika kita memaksakan  bersama... maka hancurlah kehidupan kita... kumohon lepaskan aku dengan rela... aku selalu mencintaimu,mas Han..!


Handoyo masih terdiam dan memperhatikan Nadia.


Bujukan Nadia seolah mempengaruhinya. Amarahnya reda ketika Nadia mencium keningnya lama dan wanita itu segera bangkit dari posisinya.


Refleks mata Handoyo mengikuti gerakan Nadia yang tidak diduganya . wanita itu melepaskan pakaiannya dan naik ke atas tubuhnya. Malam itu Nadia benar-benar liar dan cairan milik Handoyo tumpah kembali di dalam Nadia. Dan Handoyo memberikan dengan sukarela.


"Biarkan aku yang menghampirimu selama kau belum bersamanya... jika dia menyulitkanmu karena anakku, maka aku yang akan menebasnya...Ingat itu!"


'Baik cintaku!"  Bisik Nadia yang terus menikmati hentakan Handoyo.


"Aku tidak seutuhnya melepasmu Nadia... aku mencintaimu juga seperti aku mencintai Lidya... bisakah seperti itu Nad...


"Jangan sebut wanita lain ketika kau bersamaku, mas Han...


"Baiklah...!


Nadia, aku tidak melepaskanmu seutuhnya. Aku mengawasimu.  aku belum rela melepasmu, tapi  jika kamu bahagia bersamanya , maka aku akan melepaskanmu..(Batin Handoyo dan raganya memeluk Nadia yang kelelahan)


Mas Han.... Ada kalanya kita harus melepaskan dengan rela, karena dia bukan untukmu!" Bisik Nadia dalam hati.


*****


Happy Reading Guys, Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot ya. Love you all

__ADS_1


__ADS_2