
Tidak masalah aku dianggap bukan siapa-siapa. Jika kehadiranku memang tidak penting bagi kalian, aku akan membuat kalian semua menoleh padaku dan menyesal pernah mengabaikanku.
Cinta, Kasih, persahabatan dan rasa peduli itu tidak bisa dipaksakan, biarkan saja mereka tumbuh alami.
*****
Nadia sedang makan bakso yang dibeli di depan pintu gerbang pesantren. Dia menikmati bakso itu bersama para siswa pesantren.
Para penikmat makanan bakso itu begitu nyaman berada dibawah pohon beringin di pinggir lapangan dekat pendopo tempat semalam Nadia menginap. Hingga Nadia menyadari bahwa Handoyo sedang melangkah keluar dari ruangan adminstrasi tempat awal mereka mencari kiyai Umar.
Nadia meletakkan mangkok bakso yang hampir habis dan membawa kantong plastik berisi bakso untuk makan siang Handoyo. Dihampirinya kembali lelaki itu. Nadia tersenyum pada Handoyo tetapi pria itu seakan memiliki pandangan kosong, lesu dan tidak membalas senyumannya.
"Mas Han... " Nadia setengah berlari menghampiri pria itu, tapi Nadia akhirnya makin menyadari pria ini sepertinya benar-benar sedih dan lesu.
"Mas Han.... apakah sudah selesai pertemuannya dengan Kiyai Umar?" Nadia akhirnya berada disamping pria yang masih terkesan tidak menyadari kehadirannya " Apakah ada masalah dari cerita itu, mas han?" Ataukah cerita pak kiyai tidak tentang keluargamu?"
"Ohh... Nadia... maaf aku tadi tidak mendengar pertanyaanmu?" Yuk kita lanjutkan perjalanan kita... aku sudah mengunjungi makam ibuku... maaf tidak mengajakmu tadi, karena kiyai Umar langsung mengajakku nyekar ke sana dan memang ada beberapa hal yang dibahas dalam perjalanan kesana!" Letaknya di kompleks sini juga dan memang tertutup untuk umum. "
"Gak papa, mas Handoyo... apakah kamu baik-baik saja?"
"Ya... aku baik-baik saja... kenapa memangnya?" Handoyo bertanya sambil menatap Nadia yang terlihat khawatir.
"Aku khawatir saja... kelihatannya kamu agak sedih," Nadia berusaha berkata jujur tentang pandangannya pada Handoyo. "JIka memang rahasia sekali, tak masalah kamu gak bercerita padaku, tapi jika kamu sudah melihatku bisa dipercaya, kamu boleh bercerita dan berbagi bebanmu denganku," Nadia berjalan mengikuti Handoyo ke tempat parkiran mobil yang di dekat pos sekuriti komplek itu.
Handoyo menoleh mendengar Nadia yang berucap seakan tulus seperti seorang sahabat. Apa yang dikatakan Nadia memang benar, di dalam memulai suatu hubungan pertemanan ataupun hubungan yang lebih dari teman, diperlukan adalah sebuah kepercayaan. Cinta, Kasih, persahabatan dan rasa peduli itu tidak bisa dipaksakan, biarkan saja mereka tumbuh alami.
Di depan mobil mereka, Nadia meminta kunci mobil dari Handoyo agar dia kali ini yang menyetir mobil dan meminta pria itu beristirahat di perjalanan menuju Kota Pekanbaru. Akhirnya Handoyo membiarkan wanita itu menyetir, karena selain lelah fisik, hatinya juga lelah dan sedikit lapar juga menghampiri Handoyo.
"Mas Han... tadi aku belikan bakso, kamu makan bakso kuah yang dikemas pake plastik bisa kan? " Nadia berkata santai sambil melajukan kendaraan itu meninggalkan pondok pesantren.
Handoyo tidak menjawab ucapan Nadia, tapi dia sekarang sedang membuka bungkusan plastik yang dibawa Nadia dan berisi bakso kuah. Ia sedikit bingung bagaimana makan bakso kuah tapi tidak ada mangkok ataupun tempat menuangkan makanan itu. Tapi Handoyo berusaha menikmati bakso kuah yang masih hangat itu dari plastik dengan mendorong bakso ke ujung plastik dan memasukkannya langsung ke mulutnya.
__ADS_1
"Ini pengalamanku pertama makan bakso gak pake mangkok... ada-ada saja sih nad, cara makan bakso ini... tapi lumayan juga buat ganjel perut, Nad!" Handoyo berkata sambil mengunyah bakso itu . "apakah kita tidak berhenti di salah satu restoran di jalan?"
"Aku sudah sering makan bakso dengan cara gitu, kalo memang kita dikejar waktu dan memang tidak bisa pake mangkok dan itu cara yang praktis... aku membeli beberapa bungkus...biar kita tinggal makan malam di Pekanbaru!"
"Nad.... sudah berapa lama kamu ada di organisasi ini?" Handoyo bertanya sambil menghabiskan sebungkus bakso kuah dan membiarkan Nadia terus menyetir.
"Mungkin sekitar tiga atau empat tahun yang lalu ... aku ada di awal organisasi ini dibentuk .. aku melihat bagaimana Big Mama jatuh bangun melindungi organisasi ini hingga organisasi ini menjadi kuat dan mulai diperhitungkan .. dan perlu kau ketahui, kita berada di pihak yang bersebrangan dengan Panglima dan sampai saat ini Panglima tidak mengetahui bahwa pimpinan tertinggi organisasi kita adalah istrinya. .... Entahlah nanti bagaimana kau dikenalkan oleh Stevan di organisasi ataupun perusahaan, tebakanku kau akan menggunakan identitas baru... karena wajahmu sudah familiar jika beredar dan terbuka."
"Mengapa hubungan Panglima dan istrinya bisa sampai seperti itu? " Apakah kau mengetahuinya, Nad?' Handoyo berusaha mencari info mengenai pertikaian Panglima dengan Alessha yang merupakan karib ibunya.
"Berdasarkan dari cerita yang kudengar dari beberapa sumber termasuk dari staf panglima juga sih ... mereka bertengkar hebat dan nyaris saja Panglima membunuh Aleesha beberapa puluh tahun yang lalu... Panglima mencurigai istrinya berselingkuh dan mempunyai anak dari pria lain, katanya anak itu berada di kota Lampung atau kota Pekanbaru gitu... dan ironisnya panglima pernah menyuruh orang untuk menghabisi anak itu, dan atas dasar itulah yang membuat Big mama membuat organisasi ini!" Cemburu bisa membuat gelap mata, padahal menurut dokter, setelah melahirkan anak pertama mereka, Big mama tidak bisa melahirkan lagi, jadi tidak ada itu anak yang dilahirkan oleh Big mama ataupun perselingkuhan itu!"
Deg....
Handoyo terdiam mendengar cerita dari Nadia. Apakah Panglima terlibat di pembunuhan Lidya dan keluarganya di Lampung ? Apakah Panglima pernah menyuruh Jendral Setiono dan anaknya untuk menghabisi keluarganya? Apakah Panglima mengetahui rahasianya?" Kenapa waktu dibentuknya organisasi ini bersamaan dengan kematian keluarganya? Apakah masih ada yang disembunyikan Big Mama padanya?"
Begitu banyak pertanyaan bermunculan di kepala Handoyo dan membuatnya kepalanya terus berfikir keras hingga Nadia berucap kembali.
"Sebenarnya Panglima itu baik sekali pada istrinya, tapi Big Mama jika sudah marah agak sulit untuk diajak bicara. Oh iya Nama perusahaan Big Mama adalah "Aleesha Company"... kita hanya panggil Nyonya Aleesha ketika dia meminta kita menemui dia di perusahaan, selain itu panggil dia "Mama", ya Mas Han... jangan sampai salah!"
"Pernah... beberapa kali di tahun ini, ketika ada acara di kantor dan di istana negara... kamu tahu terkadang kita diminta membantu Panglima bertugas menjaga keamanan Presiden, mengingat Presiden kita sering mendapat ancaman," Nadia kembali menjelaskan kegiatannya dan itu membuat Handoyo menoleh padanya.
"Istana Negara?"
"Ya.. tempat kerja Presiden... bahkan aku bisa bertemu juga dengan keluarga Presiden," Nadia menambahkan dengan pelan.
Handoyo memperhatikan Nadia yang terus menyetir mobil. Pikir Handoyo , Aku akan memiliki kesempatan untuk melihatnya langsung. Orang yang dibilang ayah kandungku. Selama ini aku hanya melihatnya di televisi ketika acara-acara kenegaraan dan diliput oleh stasiun televisi nasional dan swasta.
Orang yang tidak pernah terpikirkan olehku. Orang yang penting di negara ini. Aku tidak masalah dia tidak mengenaliku bahkan hanya menganggapku orang lain. Aku hanya ingin membuatnya menyesal telah menyakiti ibuku!" Aku harus membalaskan kematian ibu kandungku dan mengapa dia mengabaikan ibuku dan membiarkan wanita kejam itu menembak mati ibuku!"
Bagiku tidak masalah aku dianggap bukan siapa-siapa. Jika kehadiranku memang tidak penting bagi pria yang seharusnya menjadi pelindungku karena ia yang membuat ibuku hamil dan meninggal tanpa bisa merawatlku , aku akan membuat kalian semua menoleh padaku dan menyesal pernah mengabaikanku. Bisik hati Handoyo dan ia menutup matanya untuk tertidur di perjalanan.
"Mas Han... jika di depan umum, Big Mama selalu berlaku hormat dan menuruti semua perkataan panglima, tetapi ia tidak pernah pulang ke rumah dinas Panglima... kecuali jika ada acara dinas dan itupun selalu pulang ke rumah yang awal di beli Panglima ketika menikah....jadi kumohon, jangan bertanya apapun pada Big mama soal hubungannya dengan Panglima."
__ADS_1
"Baik terima kasih infonya,Nad" Handoyo berkata sambil terus memejamkan matanya.
Sesungguhnya Handoyo tidak mengantuk tapi ia lelah setelah mendengar cerita yang membuatnya terkejut tentang masa lalunya. ia pernah berfikir dahulu, bahwa ia pasti dibuang oleh keluarganya dan tidak berfikir masalah keluarganya begitu rumit.
*****
Happy Reading Guys !"
Terimakasih telah membacanya dan bolehkan kalian tinggalkan jejak kalian disini?" Thanks a lot ya!"
__ADS_1