
Tindakan menyalahkan orang lain dan menciptakan suatu kebohongan yang tidak dapat dibongkar orang lain, tidak akan membuatmu tenang, kamu akan selalu mengetahui yang sebenarnya karena kamu masih memiliki hati.
Sebesar apapun kesalahan yang Anda timpakan ke orang lain, dan sebesar apapun Anda menyalahkannya, hal tersebut tidak akan mengubah siapa Anda”
*****
Yani masih tertelengkup di sofa ruang tamu, Kedua kakinya ditarik pria itu dan ia tidak mampu menghentikannya. Pria dibelakangnya terus menghentak bagian intinya tanpa perasaan. Yani membiarkan pria itu terus memasuki sesukanya. Baginya yang penting, keluarganya terselamatkan. Dia merelakan dirinya demi mendapatkan uang bagi keluarganya.
Pria itu seperti tidak ada lelahnya memasukinya dari kemarin tanpa henti. Yani terus membiarkannya meskipun ia mengetahui pria itu tidak ada perasaan terhadapnya. Sama seperti dirinya yang hanya menjalankan tugasnya. Yani menyadari bahwa ia hanya sebagai penyaluran kebutuhan biologis pria itu. HIngga pria itu menarik senjatanya dan menumpahkan cairannya di luar.
Akhirnya selesai juga tugas dia. Pria itu merapihkan pakaiannya dan berkata pelan namun mampu didengarnya.
"Yan.... Kau ingat tanggal berapa kamu memberikan dirimu pertama kali padaku ?' Handoyo bertanya pada wanita yang masih kelelahan akibat ulahnya dan berusaha bangkit dari duduk tertelungkup tadi. Wanita itu menahan lelah dan sakit sambil berusaha memakai kembali pakaiannya.
"Kemarin malam mungkin sekitar jam 7 malam atau jam 8 malam.... maaf mas aku lupa tepatnya ... tapi yang pasti kemarin tanggal 15 September...kenapa mas?' Yani bertanya sambil mengenakan pakaiannya tertunduk malu.
Yani yakin bahwa pria di depannya sedang menatap tubuh bagian depannya sehingga ia cepat-cepat menggunakan pakaiannya kembali. Handoyo kembali merokok setelah merapihkan celana panjangnya yang sebelumnya ia lepas.
"berapa kali kamu menjalankan tugasmu itu ?"
Yani terdiam. Sesungguhnya ia malu mengatakannya tapi ia takut pria di depannya marah. Pria tampan yang jika dalam keadaan sadar mungkin tak akan memilihnya untuk ditiduri. Pasti pria itu kemarin mabuk atau entahlah, pikir yani pendek. Bagi Yani tugasnya hampir selesai.
" Mungkin sepanjang malam hingga pagi.... mungkin ada enam atau tujuh kali ...berhenti sebentar dan main lagi...benarkan mas?"
"Hemm.... itu hanya menjadi rahasia kita...kuharap kau mengerti!"
__ADS_1
"Baik mas....
"Satu tahun lagi...jika kau merawat rumah ini dengan baik...aku akan memberikan kepadamu surat kepemilikan rumah ini dan kau tidak usah menceritakan apapun itu kepada siapapun tentang apa yang kau bayarkan padaku.... bilang saja.... kau mengontrak dulu jika ada yang bertanya padamu.
"Baik mas... terimakasih banyak mas..... terimakasih atas kebaikan hati mas.... maaf aku tidak bisa melayanimu dengan baik..... tapi semoga tahun depan saya benar-benar mendapatkan rumah ini, mas !" Yani berkata dengan hati yang gembira dan tak terasa air matanya menetes tanpa bisa dicegah.
"Hemm.... baiklah ...ingat pesanku... kau boleh mencari pria lain untuk menjadi suamimu ataupun apapun tapi jangan kembali bekerja lagi disana !" Jika kau kembali bekerja di lokalisasi itu, maka aku tidak jadi memberikan rumah ini untukmu !"
"Saya janji mas... saya hanya akan ke sana hari ini untuk menyerahkan uang pada mami dan saya akan buka warung kelontong di depan rumah bersama adik saya... " Ucapan Yani yang tanpa ragu terpotong oleh Handoyo.
"Biar aku yang membayar pada mamimu !" nanti mami akan menahanmu tinggal... kau tenang saja aku yang akan membereskannya.....Kau gunakan saja uang itu untuk keluargamu !" Dan ingat semua pesanku... tidak ada yang terlupa!"
"Baik mas.... saya pasti akan ingat semuanya termasuk tugas saya untuk menemui mas jika mas memanggilku dan melayani apapun permintaan mas tanpa banyak tanya.
"Baguslah ...kau ingat semuanya!" Ini kunci rumah ini ... anggaplah semua ini untukmu dan pakailah semua barang di rumah ini...aku akan mengontrolnya tahun depan di tanggal 15 September.... jika semua dalam keadaan baik, maka aku memberikan rumah ini padamu dengan surat-surat akta rumah atas namamu !" Dan jika warungmu berhasil aku akan tambahkan modal usaha untukmu !"
"Terimakasih mas...boleh aku tahu siapa nama mas ?" Mas terlalu baik untuk saya dan keluarga.
"Handoyo..... kau hanya perlu panggil aku, mas saja tanpa namaku ... aku tidak ingin ada yang tahu apapun tentang ku !" Dan kau tidak mungkin mengandung karena aku tidak mengeluarkan di dalammu!"
Handoyo tersenyum dan bangkit dari kursi dan pergi dengan tenang. Alibi yang sempurna jika polisi mencarinya atas tindakannya yang kemarin. Yani hanya memandangnya dari kejauhan ketika Handoyo menjalankan kendaraan dan meninggalkannya di rumah itu.
Handoyo menjalankan kendaraannya menuju tempat tinggal masa lalunya. Ia akan mengunjungi rumah milik keluarga istrinya yang dirawat oleh 3 anak kecil tetangganya. Ia harus memastikan seluruh keadaanya. Handoyo harus memastikan rumah itu dalam keadaan baik dan terawat.
*****
Handoyo keluar dari mobilnya ketika tiba di depan rumah berpagar bambu itu. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Diperhatikan tanaman di luar rumah semua terawat dengan baik .Dibukanya pintu depan untuk memasuki bagian dalam rumah itu.
__ADS_1
Semua keadaan masih sama seperti almarhum Lidya masih hidup. Rumah itu masih tertata dengan rapi dan terawat dengan baik. Ketika Handoyo akan memasuki ke bagian dalam area didalam rumahnya, tetangga sebelah rumahnya menghampirinya dan memanggilnya dari pintu depan.
"Pak Handoyo ....baru datang dari Cilegon?" Pak handoyo.... saya wanto!"
"Iya pak Wanto.... gimana keadaan bapak? Sudah lama sekali ya, Maaf saya tidak bisa menjenguk waktu bapak dirawat dan masa pemulihan.... gimana keadaan anak-anak ?'
"Oh tak apa ....pak Handoyo.... saya justru mau berterimakasih atas bantuan bapak pada kami selama saya sakit dan saya dalam masa pemulihan hingga sekarang.. emh... sekarang Shinta sedang kelas 2 SMA dan adiknya Sholeh kelas 1 SMP dan Salehudiin kelas 5 SD.... kami bersyukur setiap bulan Bapak mengirimkan wesel pada kami.... itu sangat membantu kami....terimakasih sekali pak!"
"Syukurlah jika memang bisa membuat anak-anak dapat bersekolah dengan baik.... itu sebagai upah karena anak-anak bertugas menjaga dan merawat rumah ini.... semua dalam keadaan bersih dan terjaga dengan baik." Ujar Handoyo sambil memeriksa keadaan rumahnya .
Handoyo menyalakan lampu tengah dan meletakan tasnya disitu. Pak wanto mengikuti masuk ke dalam rumah itu dan mulai menutup jendela karena hari sudah petang.
"Pak Handoyo maaf.... apakah sudah mendengar kejadian hari ini?" Tanya Pak Wanto pada Handoy ketika sudah menutup semua jendela rumah itu.
"Kejadian apa pak?" Dimana ?" Ada apa sebenarnya ? " Handoyo bertanya sambil menyelidiki apakah kejadian di alun-alun sudah menjadi buah bibir di masyarakat Lampung.
"itu .... tadi banyak warga di Pasar Jatimulya rame banget .... banyak yang bercerita tentang ada orang yang dibakar hidup-hidup dan ditembak ... katanya ada 2 orang yang terbakar di alun-alun kota.... tapi semua pintu masuk alun alun di jaga polisi dan katanya 2 orang itu selain ditusuk perutnya ada luka tembak di dahi.... sekarang makin sadis ya pak!" Ujar Pak Warno sambil mengikuti langkah Handoyo ke teras rumah.
"Oh saya baru mendengar.... terus apakah polisi sudah mengetahui siapa yang dibakar? "
"Entahlah tapi menurut masyarakat sih belum pak.... tapi semua orang pada rame karena ada kejadian lain juga.... itu ada pembantaian di rumah Andi Setiono...katanya istrinya dan seluruh anak buah Andi juga habis dibunuh oleh orang tidak dikenal .... dan katanya rumah Sang Jendral juga sama! Katanya hanya pembantu yang tua saja yang hidup.
Handoyo terdiam mendengar cerita dari Pak Warno. Pria itu terus bercerita dangan penuh semangat dan Handoyo memperhatikan dalam diamnya.
"Tapi Pak Handoyo.... saya ko senang ya mendengar berita musibah yang menimpa keluarga Andi itu... jahat ya saya ?" Saya masih marah kemarin kalo ingat sama keluarga itu...mereka itu orang berkuasa yang jahat.... saya gak bisa melupakan kejahatan yang mereka lakukan pada keluarga mbak lIdya!"
"Saya juga ko pak, saya mendadak senang mendengarnya.... mungkin ini keadilan untuk kita, Pak Warno!"
"Iya pak... tapi kita harus hati-hati bicara sama orang...takut kita dibilang tidak punya perasaan...
"Hemm.... "Ujar Handoyo dengan tenang dan menghisap rokoknya. Handoyo memberikan sebatang rokok juga pada Pak Warno. Pria itu terduduk di teras rumah itu dan menghabiskan sebatang rokok sambil meneruskan perbincangan kejadian hari ini yang bagi mereka adalah kabar menyenangkan.
__ADS_1
*****
Happy Reading Guys !" Terimakasih masih mau membacanya! Tetap semangat ya !"