
Hidup memang tidak selalu seperti yang kita harapkan. Terkadang ada kekalahan dalam menjalaninya, terkadang ada kemenangan dan begitu terbuai akan pujian. Kadang waktu berjalan begitu terlalu cepat, kadang waktu berjalan terasa sangat lama. Semua itu ada dalam hidup kita, dan kita tidak akan bisa menghindarinya. Yang harus kita lakukan adalah selalu mencoba melakukan yang terbaik. Apa pun hasilnya, asalkan kita menikmatinya, kita akan merasa bahagia."
Kamu mengingatkanku akan seseorang tapi ...
*****
Rombongan Presiden akhirnya berhasil menyelesaikan urusan kenegaraan dan membereskan beberapa kepala anggota separatis yang berada di Dili, mereka mendapat jamuan undangan untuk memancing di Pulau Petra, ujung Selatan pulau Timor yang memang memiliki pantai yang indah dan dapat melihat lumba-lumba ketika sedang memancing disana.
Pulau Petra adalah salah salah satu pulau yang menjadi bahan pembicaraan Indonesia dan Australia, sehingga dipandang kurang aman jika membawa keluarga dan terlihat media jika rombongan terlalu banyak orang.
Presiden tidak membawa istrinya, melainkan hanya membawa dua orang anggota pasukan khusus,dan didampingi oleh Jendral Gaffar dan Adiguna. Sementara Tiara, istri Presiden, bersama Tim Ballawa tetap di Dili, dengan ditemani oleh Aleesha. Pilihan yang cukup baik dan aman yang dipikirkan oleh Jendral Gaffar langsung disetujui oleh Presiden yang memang ahli strategi.
Presiden menyukai memancing sehingga ia sedikit mengabaikan protokol keamanan dan mengganggap undangan di Pulau Petra adalah salah satu lokasi yang netral dan tidak memungkinkan serangan dari pasukan Timor yang berafiliasi dengan Australia.
Dalam perjalanan menuju Pulau Petra, Presiden duduk bersama Jendral Gaffar dan sementara anggota pengawal hanya terdiri lima orang termasuk Adiguna yang terus memantau sekeliling kapal yang terdapat hamparan biru laut dalam.
Saat itu Adiguna menggunakan topi dan kacamata hitam, sementara anggota tim pengawal yang lain juga berpenampilan yang sama. Sedangkan Presiden dan Jendral Gaffar menggunakan T Shirt putih dan celana pendek selutut. Benar-benar sangat berbeda sekali dari penampilan seharian mereka. Benar-benar menyamar dalam perjalanan ini.
Kapal dikemudikan oleh Andre yang terus fokus sambil membaca petunjuk arah menuju Pulau Petra. Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu hampir dua jam. Adiguna menatap Andre yang seakan cemberut karena dipisahkan dari Ballawa, rekan setim-nya.
"Apakah kita di arah yang benar, Dre ?" Adiguna memulai percakapan dengan rekan barunya.
"Seharusnya sih... kenapa?"
"Kudengar dari Jendral Gaffar, kita akan sering bertemu dengan lumba-lumba... tapi sudah hampir empat puluh menit kita belum menjumpainya..."
"Mungkin kita tidak beruntung... tapi apakah Presiden marah jika kita tidak bertemu dengan lumba-lumba itu ?"
"Entahlah... cuma dia berpesan jika ada , kau hentikan kapal dan kemudian kita ikuti kemana arah lumba-lumba itu selama beberapa menit...itu pesan Jendral Gaffar tadi."
"seharusnya lumba-lumba itu sering melintas di jam sekarang.... tapi...... eh itu dia...Di!" Lumba-lumbanya ada !" Teriakan dari Andre dengan sangat riang.
__ADS_1
Teriakan Andre memecah keheningan sepanjang perjalanan itu dan membuat Presiden dan Jendral Gaffar bangkit dari posisinya. Keduanya tersenyum ketika melihat segerombolan lumba-lumba melewati kapal mereka dan seolah melombat membuat gerakan menari di atas laut. Sungguh pemandangan yang menarik dan menyenangkan dalam perjalanan ini.
Presiden melangkah dan tanpa di sadari Adiguna, Pria itu berdiri di dekat Adiguna yang sedang mengamati banyak lumba-lumba yang melewatinya. Pria itu seolah berbisik padanya dan itu juga di dengar olrh Andre.
"Kudengar kau ahli menembak?' Bisa Kau tembakan untukku satu lumba-lumba yang berada di posisi terdepan?'
"Siap Presiden!"
"Tapi dengan tembakan bius ini, kuingin kau melakukannya dalam waktu 10 menit ke depan!" Presiden menepuk pundak Adiguna dan meninggalkannya sambil tersenyum .
Adiguna tertegun ketika mendapatkan tepukan di pundaknya. Tepukan pertama kali dari pria itu dan entah mengapa dia merasa bangga bahwa pria itu yang mulai menyapa dirinya dan mengetahui keahliannya. Adiguna merasa agak aneh dengan dirinya . Entahlah ini perasaan apa, tapi ia harus fokus pada tujuannya. Pria itu yang telah menghancurkan hidup ibunya dan dirinya.
Sejujurnya Adiguna ingin mengetahui lebih dalam dari pria penguasa negara ini dan bertanya padanya kenapa membiarkan ibunya mati mengenaskan di tangan istrinya. Apakah tidak ada satupun yang bisa dilakukannya selama ini? Apakah tidak merasa aneh dengan Pramoedya atau tidak tahukah kebohongan yang diterimanya?'
Adiguna bukanlah pria yang mudah akrab dengan siapapun terlebih dalam menjalankan misi, tapi demi mencapai tujuannya, ia berusaha mendekatkan diri dengan Andre yang merupakan sahabat Ballawa.
"Dre.... kejar lumba-lumba terdepan dengan cepat, aku harus menembaknya.... kau dengar perintah Presiden kan?'
"Siap dan laksanakan!" Andre berkata dengan tegas.
tar..... peluru bius ditembakkan dan tepat mengenai lumba-lumba terdepan.
Adiguna menoleh dan menunggu aba-aba selanjutnya, sementara Andre menghentikan kapal agar Adiguna bisa mengambil lumba-lumba itu, dan menyerahkan pada Presiden, namun tampaknya Presiden hanya menjadikan itu sebagai pengisi waktu dan menyuruh mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah Adiguna merapihkan perkakas menembak tadi, Presiden memanggil Adiguna untuk duduk di dekat Presiden.
"Dimana kamu belajar menembak?" Katakan dengan jujur... itu bukan gaya dari kyai Umar?" Tidak mungkin di pesantren , kamu bisa seperti itu.." Presiden membuka percakapan pada Adiguna begitu pria itu duduk.
Adiguna memandang Gaffar yang sedang merokok dan menghisap cerutunya dengan santai.
"Mama Aleesha pernah mengajariku... dan saya pernah mencoba latihan menembak dengan pensiunan tentara yang tinggal dekat pesantren."
__ADS_1
"Jika melihat gayamu menembak.... kau mengingatkanku akan gaya seseorang.... tanganmu yang sebelum menentukan sasaran selalu merapihkan rambutmu... dan itu seperti... entahlah... aku tak yakin... tapi aku merasa..." Presiden memandang Gaffar yang terus mengisap cerutunya. "Gaffar kenapa kau memintaku memperhatikan gayanya... katakan padaku.. apa maksudmu?'
Deru ombak yang kencang, membuat percakapan ketiganya tidak didengar oleh anggota pasukan yang berada di kapal yang sama. Adiguna mulai memahami rbahwa yang meminta menembak itu sebenarnya adalah rencana Gaffar
"Dia mengikuti gaya menembak Anda, Presiden.." Gaffar menjawab dengan tenang. "Anda seharusnya mengerti maksud saya."
Gaffar bangkit berdiri dari kursinya dan ia berkata."Saya bikin kopi dulu... apakah anda mau Jendral Suhartono dan Adiguna?"
'Buatkan untuk kami, gaffar... dan kau Adiguna...duduklah!" Presiden tersenyum dan menepuk kursi disebelahnya seolah meminta Adiguna duduk disampingnya.
Adiguna menarik nafas pendek dan berusaha menenangkan debar jantungya yang mendadak bertingkah. Sungguh ia harus bagaimana, apakah rencana Gaffar sesungguhnya? Apakah perlu ia berkata sejujurnya pada pria ini ? Ataukah ia harus meneruskan diri sebagai Adiguna? Seandainya Aleesha berpesan dengan jelas, tentu lebih baik.
Pria ini pertama kali meminta duduk bersamanya. Apakah yang akan ditanyakan pria itu padanya. Adiguna berusaha duduk tenang disamping pria nomor satu di negara ini.
" Kamu suka memancing?"
"Tidak Presiden."
"Apa yang kau sukai?'
"menembak dan makan enak... " Adiguna berusaha menjawab pertanyaan sambil setengah bercanda.
"Aku suka melihat gayamu menembak, Di... katakan sejujurnya darimana kau belajar menembak."
"Saya banyak belajar otodidak... dan saya tidak pernah melihat anda menembak Presiden... jika anda tersinggung melihat cara saya menembak... saya minta maaf... itu hanya gaya refleks saya>"
"tak masalah....hanya saja aku merasa heran... kamu mengingatkanku akan diriku ketika aku masih muda dulu... dan benar juga apa yang dikatakan Gaffar tadi... kamu benar-benar memiliki sebagian gayaku..."
Deg.
Apakah Presiden mengetahui dirinya? Apakah rencana Aleesha diketahui Presiden?' Tidak... apakah misiku gagal?"
__ADS_1
*****
Happy reading Guys. Terimakasih telah membacanya dan bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot, and keep healthy !"