
Merelakan bukan berarti kita telah menyerah, tapi kita telah menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan.
Lebih mudah mencintai pria yang tulus mencintai kita apa adanya daripada mencintai pria yang tidak pernah mencintai kita sama sekali.
*****
Handoyo menatap Nadia yang berjalan meninggalkan rumah tempat persembunyian mereka. Wanita itu bersikeras untuk meninggalkan Handoyo dengan membawa buah cinta mereka. Segala cara telah dilakukan Handoyo untuk menahan Nadia, namun tidak berhasil.
Seribu maaf yang dikatakan oleh Handoyo tapi tak mampu membuat Nadia bertahan dan memilih pergi meninggalkannya. Wanita itu terlanjur sakit hati dan merasa Handoyo tidak pernah mencintainya dan memanfaatkan kebodohannya.
Satu hal yang tidak pernah dipikirikan Nadia, bahwa Handoyo adalah anak kandung dari Suhartono, pria yang dimusuhinya dan Handoyo itu juga yang memporak-porandakan hatinya.
Nadia merasa menyesal telah menyakiti Pramoedya yang setulus hati mencintainya. Ia harus kembali pada pria itu. Bukan karena ia mencintainya, tapi pria itu terlalu mencintainya dan rasanya lebih mudah dicintai daripada mencintai pria yang egois.
"Jika mas Han bisa melepaskanku... maka aku akan membawa anak ini menemuimu suatu hari nanti... tapi jika kau tidak melepaskanku, maka jika kau lengah, maka aku akan pastikan aku dan anak ini akan mati di depanmu tidak lama lagi ... jadi mas Han, mau yang mana?"
Handoyo terdiam sesaat dan ditatapnya Nadia yang sedang marah dan serius menantangnya. Tidak ada pilihan lain, ia harus melepasnya.
"Pergilah Nad.... lakukan apa yang kau mau... tapi jika kau sudah reda amarahmu... ijinkan kita bertemu kembali... ijinkan aku melihatmu dan anak kita?" Aku akan selalu mencintaimu, Nad...
Nadia mengangguk dan menatap sebentar wajah Handoyo sebelum ia berbalik untuk mengangkat tas kopernya dan pergi tanpa menoleh lagi pada Handoyo.
Wanita itu membuat kaki Handoyo lemas dan pria itu terjatuh di lantai. Hatinya perih dan terluka. Pria ini menyesali kebodohannya dan menyesali bahwa ia melepaskan wanita yang dicintainya.
Cintanya pada Nadia, benar-benar tulus. Handoyo benar-benar mencintai wanita itu dan harus merelakan wanita itu pergi dari sisinya. Mengapa ia selalu bilang cintanya cuma satu pada Lidya? Cintanya juga banyak pada Nadia, cintanya pada Lidya telah beralih pada wanita yang telah menemani hari-harinya selama ini. Nadia , aku mencintaimu, tapi mengapa kau tak percaya padaku?"
Penyesalan selalu datang terlambat. Tapi Handoyo harus melepaskan wanita itu demi kebaikan mereka .Merelakan bukan berarti kita telah menyerah, tapi kita telah menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan.
Ini ternyata ebih menyakitkan dari cara Lidya meninggalkannya dulu. Lidya pergi dari dunia ini dengan mencintainya, sedangkan wanita ini masih ada di dunia ini dan membuang cintanya dan tidak percaya pada dirinya. Sangat menyakitkan jika tidak dipercaya oleh orang yang dicintai.
*****
Pagi hari di rumah Alisha, ia sedang menonton televisi Siaran Berita Nasional, di TVN sambil mengupas buah mangga. Acara televisi yang biasanya menayangkan acara memasak pagi bersama "Rudi" sang Koki hotel berbintang , mendadak dipotong tiba-tiba dengan siaran khusus dari TVN.
Aleesha mengkeryit dan menghentikan kegiatan mengupas buah mangga dan konsen pada acara televisi itu.
" Selamat Pagi pemirsa TVN, saya Inke Marisa dan rekan saya ...
"Yansir Den Ahmad, akan menyampaikan berita duka yang terjadi di istana negara hari ini. ...
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Pagi ini pada pukul 03.15 Ibu Negara kita "Tiara Suhartono, Meninggal dunia di Rumah Sakit Kami sekeluarga TVN merasakan dukacita yang mendalam dan
"Seluruh masyarakat sekarang sedang turut merasakan kehilangan yang mendalam atas berpulangnya Ibu negara kita. . Berikut adalah profil almarhumah yang selama ini setia mendampingi Presiden. Mari kita saksikan betapa banyak aktifitas beliau untuk negara ini....
---
__ADS_1
Aleesha tersenyum puas mendengar berita itu. sesuai prediksinya, tinggal satu orang lagi yang harus dibereskannya. Tidak sia-sia ia kehilangan Gaffar yang dicintainya, minimal satu orang yang melukai dirinya di masa lalu telah diselesaikan.
"Tunggu disana Tiara setelah suamimu, kubereskan, aku juga akan menemani Gaffar disana, bersabarlah... kita selesaikan tugas kita di alam sana!"
Aleesha masih fokus menatap layar televisi dan ia terkejut ketika Nadia dan Steven sudah memasuki ruangan tengah rumahnya.
"Mama... " Panggil Nadia pelan dan itu cukup mengejutkan Aleesha
"Masih berani kau kemari , Nad? "
"Maaf mama.. saya kemari akan menyelesaikan tugas saya.... Steven yang akan membantu saya lagi... kumohon mama!" Ijinkan aku melakukannya..!
"Tidak... Handoyo yang akan melakukannya... sekarang tugasmu adalah menarik Pramoedya dari pusaran istana dan pergi menghilang selama 5 tahun, baru kamu kembali menemuiku... bisa kau lakukan itu, Nad?"
"Tapi mama... saya ingin saya yang melakukannya... saya yang membenci pria itu, saya yang dirugikan oleh pria itu ... kumohon mama " Nadia langsung berlutut di depan mama.
Aleesha terdiam dan berfikir sejenak.
"Kemarin kau gagal Nad... jika saja Handoyo tidak menyerahkan padamu tugas yang kemarin seharusnya yang ada di berita TVN kemarin itu mereka yang meninggal dan bukan Gaffar.. itu semua karena kebodohan Handoyo yang berani-beraninya melakukan hubungan terlarang dengan kamu... sekarang kau masih mau mendengarkanku atau tinggalkan organisasi ini?"
"Baiklah mama... tapi apakah lima tahun itu terlalu lama mama?' bolehkan dua tahun saja dan aku kembali ke organisasi ?"
"Tidak itu sebagai hukuman juga kau mengkhianati Pramoedya... jadi kau jaga dia .. tidak boleh kau khianati dia... aku akan tahau jika kau mengkhianatinya dan aku sendiri yang akan membunuhmu langsung jika kau berani berkhianat Nad.... biarkan orang itu yang akan menjadi tugasku dan Handoyo... sekarang Steven akan mengantarmu menemui Pramoedya
"Kau akan menunggu di tempat yang sudah kusiapkan... biar Pramoedya yang menemuimu... katakan padanya kau diculik dan Steven yang menemukanmu... Pramoedya tidak tahu yang sesungguhnya!"
"Baik mama..." Nadia bangkit dari jongkoknya dan melangkah meninggalkan ruangan itu bersama Steven.
*****
Rumah bercat putih dan berpagar kayu coklat di pinggir kota Pemalang itu tidak besar. Hanya ada halaman kecil yang ditanami bunga. Tidak mewah dan tidak terlalu sederhana. Sudah tiga minggu Nadia merapihkan rumah itu sendirian dan mulai mengenal tetangga sekitar rumah.
Yang tinggal di sebelah rumahnya adalah suami istri pensiunan guru yang baik hati dan memilki kebun sayur, sehingga ia sering mendapat kiriman sayur dari mereka. Hal itu cukup membuatnya tenang karena ia selama hamil ini malas sekali makan sayur. Entah mengapa ia merindukan Pramoedya yang selalu merawatnya dan menyiapkan susu untuknya.
Steven cuma berpesan pada Nadia ketika ia mengantarnya ke rumah ini agar , menunggu disini dan jangan lakukan aktivitas yang mencolok, biarkan Pramoedya yang menyusul kemari. Sepi dan terkadang merindukan Handoyo tapi benci pada asal usul pria itu. Nadia berusaha sekuat tenaga melupakan Handoyo dan mengalihkan pikiran dengan melakukan tugas-tugas rumah tangga.
Seperti umumnya masyarakat yang tinggal di daerah, Nadia melaporkan kepada ketua RT bahwa ia sudah menikah dan suaminya bekerja di Jakarta, dan akan pulang sebentar lagi. memang ada bisik-bisik tetangga bahwa ia adalah simpanan pejabat kaya di Jakarta, tetapi Nadia berusaha mengabaikannya.
Ini resikonya, tapi ia tidak menyesali. Nadia hanya perlu fokus membesarkan anak ini sendirian. Uang tabungannya cukup banyak jika ia tinggal di Pemalang dan membesarkan anak ini sendirian sampai sepuluh tahun ke depan. Tak masalah Pramoedya tak menyusulnya kesini, ia bisa membesarkan anak ini sendirian dan mungkin setelah lima tahun nanti, ia akan ke Jakarta dan mungkin saja menemui Handoyo.
Nadia menarik nafas pelan dan membaca majalah "Kartini" edisi lama yang ada di rumah itu. Entah siapa pemilik rumah ini sebelumnya. Sungguh hebat Steven memilih rumah ini dan membuatnya nyaman tinggal disini. Semua perabot sudah ada dan hanya ada motor untuk membantunya aktifitas, tak masalahjuga baginya, ia juga tidak suka pergi jauh.
Pagi hari Nadia sudah memasak dan itu bisa habis hingga sore nanti, Nadia merasa mengantuk setelah makan dan ia memilih berbaring di sofa ruang televisi rumahny sambil menonton TV.
Ketukan pintu rumahnya berulang kali seolah diabaikannya karena rasa kantuknya yang besar, hingga ketukan pintu depan itu makin kencang , dan itu membuatnya bangkit dan menuju pintu ruang tamu.
__ADS_1
"Ya sebentar ," suara Nadia bangun tidur sambil berjalan menuju pintu dan ketika pintu dibuka sedikit, wanita itu terperangah dan masih terkejut melihat tamu yang datang.
"Nadia... akhirnya aku menemukanmu. sayang !" Pramoedya menarik Nadia ke pelukannya dan memeluknya lama sekali.
"Mas Pram... kamu datang?" Akhirnya kamu datang..." Nadia berkata pelan dan seolah nyaris menangis.
"Ya aku datang... aku mau menjemputmu pulang .."
"Mas... kita bicara di dalam." Nadia menarik Pramoedya masuk ke ruang tengah rumahnya. "Mas mau minum apa? Oh iya aku disini cuma ada air panas dan tidak ada kulkas... karena aku belum pernah keluar rumah dan pergi jauh-jauh.."
"Nad, kamu baik-baik saja? Kenapa tidak menghubungi aku dan biarkan aku menjemputmu... aku mencarimu kemana-mana sayang?"
"Aku tak tahu... waktu malam itu , diistana aku diculik,, dibekap dan entahlah... kurasa aku dilempar ke jurang... aku diselamatkan penduduk di dekat cadas pangeran, Bandung.... untung aku gk kenapa-kenapa... jadi aku memilih sembunyi disini saja dan tidak melakukan aktifitas apapun... tapi darimana mas Pram tahu, aku disini?"
"Mama Aleesha menyuruhku menemanimu disini.... dia yang memberitahuku."
"Maukah mas Pram tinggal disini menemaniku?"
Pramoedya mengeryit gemas dan menatap istrinya yang semakin cantik. Dicubitnya pipi Nadia pelan
"Menurutmu untuk apa aku kesini?" Aku suamimu yang akan menemanimu sampai kapanpun."
"Tapi aku gak mau balik ke Jakarta sekarang... aku masih takut, mas Pram.."
"Aku akan menemani kamu disini, sayang... jangan kuatir lagi.. ada aku yang akan menjagamu dan anakku." Pramoedya memeluk Nadia kembali. "Apa kabar anakku? Apakah dia rewel? pasti kamu selama gak ada aku gak pernah minum susu lagi kan?
Nadia mengangguk di pelukan Pramodya. "Iya mas... aku tak membeli susu juga selama ini aku hanya berbelanja di tukang sayur yang lewat setiap pagi."
Pramoedya tersentak." Besok kita belanja ya... kita beli ke kota berbagai perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan anak kita ... emh, Nad ... sekarang aku boleh mencium istri aku?" Aku sangat merindukanmu..."
Nadia terkejut. Selama ini Pramoedya tak pernah bisa menyentuhnya bahkan ia tak pernah mengijinkan pria ini menidurinya selama mereka menikah dan sekarang pria ini pasti memintanya.
Nadia masih belum menjawab, namun pria itu sudah ********** dengan penuh hasrat, Awalnya ia begitu terkejut dan hampir mendorongnya, tapi pesan Big mama untuk menahan Pramoedya disampingnya, membuat Nadia mengalah dan membiarkan pria itu menyalurkan hasratnya.
Perlakuan pria itu yang sedikit buas dalam menerjangnya dan terkadang melakukan sentuhan yang lembut hingga Nadia terbuai pertama kalinya oleh Pramodya. Dirinya menikmati perlakuan suaminya pertamakali dan tanpa disadarinya, ia mengelinjang dan terus menikmatinya dan mengijinkan pria itu menumpahkan cairannya dan bersama menikmati siang itu dengan penuh keringat.
"Aku merindukanmu, Nad...
"Aku juga mas... "Bisik Nadia pelan dan sedikit sedih , ia masih membayangkan Handoyo , tapi ia menikmati perlakukan Pramoedya yang bersamanya kini, Entah apa yang terjadi di hatinya kini.
*****
"Happy Reading Guys,
Maaf telat banget, beberapa hari ini jaringan di sini jelek banget dan kalo kirim, suka susah, semoga masih sabar ya, Thanks for everything. Boleh tinggalkan jejak kalian disini? Thanks ya,dan tetap semangat menjalankan hari.
__ADS_1