Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
94. Be My Lawyer


__ADS_3

Tidak usah takut gagal, selagi kau berada dijalan yang benar , maka Tuhan akan bantu kita untuk melewatinya dan menjadikan keberhasilan di tiap langkah kita!"


 


 


*****


 


Di dalam ruangan praktik dokter Ervan, Warmen sedang duduk berhadapan dengan dokter tentara yang memang menghubunginya kemarin. Namun raut muka sang dokter menunjukkan kegelisahan dan itu sangat terlihat jelas bagi Warmen. Apakah pria ini ketakutan menjadi saksi dan meminta dia menjemputnya?"


Warmen menghela nafas dan akan menenangkannya, namun pria itu lebih dahulu bicara sehingga dia berusaha mendengarkan.


"Maaf, saya membuat Pak Warmen  menunggu... saya harus memastikan sesuatu hal penting  dahulu,"Dokter Ervan berkata dan tatapan matanya menunduk sambil membuka beberapa berkas yang berisi hasil pemeriksaan kesehatan seseorang.


"itu tidak masalah selagi kau bersedia menjadi saksi persidangan, di jam 2 nanti."  Warmen memperhatikan tangan sang dokter yang sedikit bergetar memegang berkas itu. "Katakan ada apa, dok.... apakah kau takut menjadi saksi nanti?" Aku bisa menghubungi kepolisian untuk menjagamu,... emh apakah ada seseorang yang mengancammu?"


"Bukan masalah berkaitan dengan persidangan itu... saya  mau menjadi saksimu , asalkan kau bersedia membantuku dan  mendampingiku menjadi pengacara kasusku ini... Saya  rasa  ini saatnya saya  harus didampingi pengacara yang berani sepertimu!" Bagaimana? Maukah kau menjadi pengacaraku?" Jika kau tidak bersedia, maka saya tidak akan menghadiri persidangan nanti?"


"Baiklah dokter Ervan ... asalkan aku bukan mendampingi  di perkara kasus perceraian, karena pantang bagiku untuk memisahkan pasangan yang sudah menikah?"  Apakah kau berkaitan dengan kasus itu ?"


"Tidak... tapi apakah kau berani menjadi pengacaraku, jika aku menyinggung penguasa negara ini?"


Deg...  Warmen terkejut mendengar ucapan sang dokter.  Apa ini maksudnya? Apakah ini berkaitan dengan Handoyo ?' Ia menatap wajah sang dokter yang memang terlihat gelisah.


"Maksud dokter ?"


"Be my Lawyer, Warmen!"   Saya ingin kau mendampingiku karena hasil pemeriksaan saya ini akan mengusik orang penting di negara ini dan kurasa kau adalah orang yang tepat dan berprinsip.... saya mengikuti hasil persidanganmu terutama yang berkaitan dengan cepot berrdarah... sesungguhnya aku awalnya kecewa kau berhenti menjadi pengacara di kasus itu... aku suka gayamu itu!"


"Saya akan mendampingi dokter selagi apa yang dilakukan dokter itu benar... sekarang ceritakan gambaran besarnya dahulu, agar saya tidak ragu dalam melangkah," Warmen berusaha mendapatkan informasi dari dokter sekaligus menuntaskan rasa ingin tahunya.


"No... kau harus berjanji dulu, aku ada di pihak yang benar bisa kujamin itu, tapi ini kasus akan besar, dan pasti akan makin membesarkan namamu... tapi gak usah kuatir , aku akan membayar jasamu itu!"


"Baiklah.... aku akan menjadi pengacaramu , dok... surat perjanjian mengenai jasa penggunaan jasa pengacara akan dikirimkan oleh sekretarisku, besok siang kesini, bagaimana?"


"Tapi saya ingin Pak Warmen  mulai bekerja menjadi pengacaraku, sekarang juga !.... saya  tidak bisa lagi menunggu besok?" Ini menyangkut keamananku !" tolonglah saya Pak Warmen !"


"Tak masalah... ceritakan semuanya padaku!"


"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi karena saya harus menemui orang kepercayaan dari orang penting itu!"


"Maksud dokter ervan?"


"Aku harus menjelaskan sebuah hasil pemeriksaan kesehatan, dan bisa jadi orang kepercayaan dari orang penting itu akan langsung membunuhku!" Jadi aku akan bilang saat ini aku didampingi pengacara, bagaimana?"


"Baik, mulai jam ini... saya adalah pengacara anda, kau bisa percayakan aku!" Sebaiknya kita tidak mengulur waktu lagi, karena aku harus bersidang di jam 2!"

__ADS_1


"Bagus !" saya suka bekerjasama dengan anda!" Dokter Ervan tersenyum puas dan meletakkan berkas itu di meja kerjanya.


 


 


*****


 


Handoyo masih menikmati kopinya ketika Jendral Gaffar datang. Untungnya warmen sudah memasuki ruangan dokter Ervan, sehingga membuat Handoyo dapat bernafas lega.


Ketika pria berseragam itu melihat meja ada 2 gelas kopi, membuat kening sang jendral berkerut. Handoyo melihatnya dan berusaha menetralkannya dengan menceritakan pertemuannya dengan pasien doker Ervan.


"Tadi saya ngobrol dengan pasien yang memang bertemu dengan dokter Ervan untuk mengisi waktuku, papa ," Handoyo berkata setengah jujur dan tidak menceritakan pertemuannya dengan Warmen.


Jendral Gaffar hanya mengangguk dan ia meminta ajudannya untuk mengetuk ruang kerja dokter Ervan dan memberitahukan kedatangannya. Tidak sampai 10 menit, suster memanggil Adiguna untuk memasuki ruangan dokter Ervan karena hasil pemeriksaan sudah siap .


Handoyo melangkah memasuki ruang kerjanya dokter Ervan bersama Jendral Gaffar. Saat memasuki ruang kerja itu, Handoyo melihat Warmen sedang duduk di kursi disamping kursi dokter.  Kedua pria di dalam ruangan itu langsung berdiri ketika melihat Jendral Gaffar memasuki ruangan bersama Adiguna.


Sapaan salam selamat siang diabaikan oleh sang Jendral karena sang jendral memandang tidak suka pada Warmen, yang seharusnya tidak ada di ruangan itu. Ia ingin semua serba rahasia.


"Ervan... siapa dia ?" Kenapa dia disitu?" Kau tidak ingat pesanku?' Jendral Gaffar berkata dengan sedikit marah pada dokter Ervan.


"Maaf jendral... dia adalah Warmen , dia pengacaraku, aku memang memintanya hadir disini untuk mendampingiku, Jendral !" Dokter Ervan berkata dengan sedikit keras untuk menenangkan hatinya.


"Ada apa ini, sehingga kau perlu pengacara untuk menemuiku?'  Apakah kau takut aku membunuhku jika itu benar-benar anak Aleesha?"  Aku akan bahagia, jika Adiguna adalah anak Aleesha.... berarti perkiraanku selama ini benar bahwa istriku berselingkuh.... aku bahagia Ervan.....   Ha,,,,, ha.... ha.... kau lucu sekali  Ervan" Gaffar tertawa keras dan sedikit mengejek pada dokter Ervan.


Dokter Ervan, Warmen dan Handoyo menatap jendral yang sedang tertawa terbahak -bahak . Namun tidak ada raut kebahagiaan di wajah sang jendral, meskipun ia sedang tertawa.


"Ervan... kau benar-benar mengenalku.... tapi aku sangat  menyukaimu... seharusnya jika anakku waktu itu tidak meninggal, mungkin dia juga  akan seganteng Adiguna ini...!" Akh sudahlah... segera katakan bagaimana hasil pemeriksaanmu itu Ervan tentang Adiguna!"  dan kau Adiguna, sini duduk di sebelah papamu ini!"


Warmen dan Dokter Ervan terkejut mendengar perkataan Jendral Gaffar itu yang memanggil Adiguna itu dengan sebutan bahwa ia adalah papanya. Adiguna atau Handoyo itu segera duduk di kursi di samping jendral. Ia berusaha menenangkan hatinya. Matanya melirik pada Warmen yang seolah juga sedang memperhatikannya.


'Cepatlah Ervan, jangan mengulur waktuku yang sangat berharga ini!" Gaffar mulai mengganti nadanya dengan perintah seperti biasanya.


"Baik jendral. Hasil pemeriksaan baik uji darah, rambut, urine dan seluruh fisik Bapak Adiguna ini sehat semua dan mungkin anda seharusnya benar-benar bahagia...   karena ia ternyata dia bukan anak dari Ibu Aleesha... jadi sebaiknya anda meralat ucapan anda pada Ibu Aleesha, dia perempuan yang baik dan sangat mencintai anda!"


"Maksudmu?'  Dia bukan anak dari Aleesha ?"


"Benar jendral... dia bukan anak dari Ibu Aleesha... ini hasil pemeriksaannya, tidak ada yang sesuai baik dari tes darah, rambut dan semuanya tidak sesuai... silahkan di cek dengan baik, semua tidak ada kaitan diantara keduanya... dan hasil dari pemeriksaan laboratorium semuanya menunjukkan negatif.


Jendral Gaffar terdiam dan ia membacanya dengan serius selama beberapa saat.  Tak berapa lamakemudian  ia bersandar di kursi. Ia menarik nafasnya sebelum berbicara pada semua yang ada di ruangan itu.


"Jadi Aleesha yang benar.... aku harus meminta maaf padanya,"  Gaffar berkata pelan dan kemudian menatap Handoyo kemudian beralih pada kedua pria yang di depannya. Tiba-tiba Jendral Gaffar seolah tersadar akan kehadiran pengacara di ruangan itu.


"Jika dia bukan anak Aleesha, lalu kenapa kau perlu pakai pengacara... kau ternyata tidak mengenalku dengan baik, Ervan!"

__ADS_1


"Karena saya menemukan sesuatu yang lain tentang Adiguna , Jendral !" Dan kau mungkin akan marah padaku nanti... tapi sebaiknya kau tenangkan dulu hatimu, Jendral !" data dia ternyata bisa relevan dengan data base yang ada di kita,"


"katakan yang jelas jangan berbelit-belit, Ervan !"  Jendral Gaffar mulai tidak sabar pada pria yang menggunakan jas putih itu.


Ervan menghela nafasnya. Ia kemudian membuka lacinya dan mengambil map biru itu dan memberikan pada sang jendral.


"Setelah menemukan data Bapak Adiguna ini bukan anak Ibu Aleesha, saya memang berusaha  mengecek di data base tentara nasional sesuai dengan permintaan bapak karena mencurigai Ibu Aleesha berselingkuh dengan orang kepercayaan bapak, .....dan ternyata saya mendapatkan hasil yang mengejutkan.... Bapak Adiguna ini  memiliki kesamaan geneal dan genetic marker yang mencapai 98% dengan pimpinan kita, jendral!"


"Maksudmu...!


"Dia juga adalah anak lelaki dari pimpinan kita,... dia anak dari  Jendral Suhartono!" Dokter Ervan berkata dengan pelan namun penuh keyakinan.


"Siapa? Jendral Suhartono  !"


"Ya jendral !"


"Kau gila, Ervan... siapa yang membayarmu untuk mengarangnya!" Gaffar melempar berkas yang semula diberikan padanya ke muka Ervan  dengan penuh amarah dan ia segera mengambil pistolnya dan langsung mengarahkannya ke dokter itu.


Tindakan itu membuat Handoyo dan Warmen sontak berdiri. Warmen menarik Ervan untuk mundur dan berdiri di belakangnya. Sebagian otak Warmen langsung mengkaitkan dengan pesan Handoyo tadi. Ini memang pekerjaan yang berbahaya. Ini missi bunuh diri dan ia sudah terlibat di dalamnya.


Handoyo yang semula diam saja juga terkejut melihat reaksi sang jendral. Namun pesan Ibu Aleesha menyuruhnya untuk bersandiwara seolah-olah belum mengetahui informasi itu. Ia harus menenangkan jendral Gaffar hingga Ibu Aleesha datang dan menjelaskan semuanya.


"Papa... tenanglah... kita bisa bicarakan nanti !" Kita duduk dulu dan perhatikan data-data dari dokter, dan kita bisa tanya semua kejelasannya dengan mama Aleesha dengan tenang,"


Ucapan itu seolah menyadarkan jendral Gaffar dan ia kembali duduk di kursi dengan pistol yang masih ditangannya.


Jendral Gaffar benar-benar shock akan informasi yang baru diterimanya itu. Marah, kecewa dan terkejut berkumpul dengan sedikit rasa bahagia yang membuktikan bahwa Aleesha tidak mengkhianatinya. Entah perasaan apa yang harus dimiliikinya itu. Tapi bagaimana mungkin pria yang baru diangkatnya adalah anak pimpinannya.


 


 


*****


 


 


Happy reading Guys!"


Terimakasih telah membacanya.


Boleh berikan dukungan untukku, dengan like, hadiah  atau poin atau apapun itu!" Thanks a lot ya!"


 


 

__ADS_1


 


"


__ADS_2