
"Untuk mencintai, kamu harus memiliki kekuatan. Kekuatan melawan amarah dengan kesabaran dan kekuatan memaafkan dengan ketulusan."
*****
Pintu kamar kost Anneke terus di ketuk dari luar. Terdengar sayup-sayup suara ibu kost yang memanggil namanya tanpa henti dan tindakan sang pemilik kost itu membuat penghuni kamarnya akhirnya ikut keluar kamar mereka masing-masing.
Para tetangga kamar Anneke itu akhirnya keluar dari kamar mereka masing-masing, mereka ingin melihat pria yang disebut suami Anneke. Warmen yang menggunakan topi hanya menatap mereka sekilas dengan tidak peduli. Baginya yang penting Anneke membukakan pintu kamarnya. Terserah atas anggapan para wanita ini.
"Anne... Anne... buka pintu kamarnya, nak !"Panggil Ibu Marta dari luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamarnya.
"Ayo Anneke... Ibu Tahu kamu belum tidur, nak ... tidak baik marah pada suami berkepanjangan.... ayo kita bicara di ruang tengah ya," Bujuk Ibu Marta kembali.
"Anne.... Anne... kenalin donk suamimu sama kita... "Teriak Madeline yang tinggal di sebelah kamar Anneke ikut memanggilnya.
"Anne.... suamimu itu seperti orang yang sering muncul di TV kemarinan deh...." Sahut chika dari belakang ibu kost.
Awalnya Anneke bermaksud membiarkan semua ketukan itu, karena ia mengetahui bahwa suaminya berhasil meyakinkan ibu kost untuk tidur di kamarnya. Namun ketika terdengar beberapa teman-temannya ikut memanggilnya dan semakin berisik di depan kamarnya , membuat Anneke akhirnya melangkahkan kaki untuk membuka pintu kamarnya.
"Anne... Anne... buka pintu kamarnya, nak !"Panggil Ibu Marta dari luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamarnya masih dengan penuh kesabaran.
Ketika pintu kamar itu dibuka oleh Anneke, Warmen tersenyum penuh kemenangan. Ia mengetahui dengan pasti, bahwa istrinya itu lebih memikirkan perasaan para teman kostnya dan akhirnya akan membiarkannya tidur di kamar Anneke.
"Anne... kamu baik-baik saja?" Tanya Ibu Marta .
"Ya bu... maaf aku ketiduran... maaf kami merepotkan... suami saya suruh pulang saja bu!"
"Hei.... ini sudah malam sayang, , dia tadi juga sudah berjanji, hanya malam ini menginap di sini saja dan ibu mohon kalian ngobrollah dengan baik-baik... kamu mau ibu dampingi Anne?" Tanya Ibu Marta kembali.
"Baiklah bu... kami akan bicara baik-baik. Terimakasih bu, maafkan kami yang membuat keributan di malam ini," Anneke tertunduk .
"Ne.... besok kenalin ya ke kita suamimu itu," Teriak Chika masih dengan menggodanya.
Sesungguhnya Anneke malu atas tindakan Warmen yang memaksa menginap di kamar kost putri miliknya. Beberapa temannya sudah keluar kamar dan berdiri tidak jauh dari kamarnya. Mereka saling berbisik dan terlihat tersenyum padanya.
__ADS_1
"Dengarkan ibu , Anneke dan Warmen .... memang ibu orang luar bagi kalian, tapi ibu menyayangi anak-anak yang kost di sini... Kalian jika masih saling mencintai dan berani bertanggungjawab atas tindakan kalian terutama kamu, Warmen... Kamu seorang calon ayah, kamu harus lebih sabar dan bijaksana.... kalian berdua harus memiliki kekuatan. Kekuatan melawan amarah dengan kesabaran dan kekuatan memaafkan dengan ketulusan.... IngatlahTuhan membenci perceraian... terlebih jika kalian berpisah ketika istrimu sedang hamil." Ibu Marta berkata dengan penuh penekanan dan menatap tajam pada keduanya.
Sementara Warmen menatap Anneke lekat dan ia mengetahui bahwa Anneke tidak suka dengan tindakannya yang membuat keributan di kost-nya. Tapi mau bagaimana lagi jika tidak dilakukan seperti ini, wanita itu akan semakin pintar menghindari dan menghilang lagi.
Ibu Marta meninggalkan mereka berdua yang masih saling menatap di depan pintu dan meminta anak kost putri lainnya untuk masuk ke kamar mereka masing-masing. Anneke mendengus kesal sambil memasuki kamarnya dan tidak berkata apapun pada suaminya. Ia sengaja membiarkan pintu itu terbuka agar suaminya bisa masuk ke kamarnya.
Warmen memasuki kamar Anneke dengan tersenyum penuh kemenangan. Diperhatikan kamar itu terdapat tempat tidur yang memang cukup untuk 2 orang, meja tulis dan kursinya, Lemari pakaian dan rak sepatu serta diujung kamar terdapat kamar mandi. Kamar itu memang lebih kecil bila dibandingkan dengan kamar mereka di rumah Warmen tetapi ini adalah kamar kost putri yang cukup nyaman.
"Ne... kamu masih marah?" Atau makin marah karena tindakanku ?" Warmen bertanya pada Anneke yang terlihat membuka lemari pakaian, mengeluarkan sebuah handuk mandi dan menyerahkannya pada Warmen.
"Abang mandi dulu...nanti kita bicara !" Ujar Anneke sambil melangkah meninggalkan suaminya yang terus menatapnya.
Warmen menarik Anneke ke dalam pelukannya dan berbisik di telinganya," Maafkan aku, sayang!"... Maafkan kelakuanku yang membuat ribut di kost ini... maafkan aku yang sering tidak peduli padamu... tapi itu tidak sengaja... aku akan melakukan berbagai cara agar kamu kembali padaku, Ne.... aku selalu sayang kamu, Ne!"
Anneke terdiam dan berusaha menahan air matanya. Sesungguhnya ia merindukan pria ini. Pria yang sering bertindak seenaknya namun merupakan cinta pertamanya. Pria yang memilih menjadi pengacara dari seorang pembunuh keluarganya.
Warmen mengecup kepala Anneke dengan lembut, dia lalu memegang kedua pipi Anneke dan menghapus air mata yang mulai membasahi pipi wanita itu dengan jarinya.
"Aku yang salah,,,, maafkan aku, Ne.... malam itu , aku terburu-buru... aku bukannya tidak menghargaimu apalagi bermaksud mengkhianati kepercayaanmu .. bukan itu..... aku hanya kaget saja dan itu diluar kendaliku..... dan yang terpenting untuk kamu ketahui, aku tidak terlibat di pembunuhan itu... memang aku dan Handoyo berteman, tapi aku tidak terlibat di pembunuhan itu... aku memang membenci keluargamu... kamu tahu itu semua dari awal... tapi aku teramat mencintaimu, Ne.... Jadi kumohon, jangan pernah meninggalkanku, Ne...
"Mandilah dulu Bang... nanti kita bicara hal-hal yang penting untuk ke depannya Bang!"
"Mandilah bang, Anne tunggu disini dan kita bicara setelah abang mandi!'
"Aku tidak mau bicara jika itu tentang perceraian.... karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu, Ne!"
"Abang jahat.... Anne benci sama Abang... Anne gak mau lihat abang lagi.. "Sahut Anneke sambil meneteskan air mata yang sejak tadi ditahannya.
"Iya.... abang memang jahat, tapi abang sayang sama Anne... Abang cinta mati sama Anne... Abang sudah hampir gila ditinggal Anne... Abang gak bisa kehilangan Anne,....... oh iya, abang sudah berhenti jadi pengacara untuk kasus Cepot berdarah.... sudah ya jangan marah lagi ya sayang!" Bujuk Warmen kembali sambil memegang tangan Anneke yang seolah ingin melepaskannya.
"Anne tahu itu dari berita di TV ... tapi Anne masih sebel sama Abang.... Abang adalah orang terjahat yang Anne kenal....sebel banget!"
"Gak papa, Anne Sebel sama Abang, asalkan Anne gak ninggalin Abang lagi... Asalkan Anne gak minta cerai... itu pantang bagi Abang.... apapun yang terjadi, Anne tetap istri Abang... dan sampai kapanpun tidak ada perceraian diantara kita.
"Baik Anne gak akan minta cerai... tapi Anne gak mau lihat Abang ada di sekitar Anne lagi sampai kapanpun, Anne mau menata hidup Anne ,"Ujar Anne sambil mengelus perutnya.
"Hah.... mana bisa begitu dong Ne!" Sekarang saja kamu sedang bawa anak abang di perut kamu , Ne... dan abang pastikan anak itu akan mirip dengan abang , jadi pasti kamu akan selalu melihat Abang di dalam dirinya , Ne!" Sudah ya, jangan marah lagi... Abang yang salah... abang minta maaf," Bujuk Warmen kembali sambil memeluk istrinya kembali.
__ADS_1
Anneke terdiam dalam pelukan Warmen. Tidak adanya penolakan dari Anneke membuat Warmen semakin berani bertindak. Dikecupnya kembali kening istrinya itu dan kemudian turun ke mata sebelah kanan dan mata sebelah kirnya. Ditatapnya kembali wanita yang sangat dirindukannya.
"Maafkan abang, Ya Ne ... dan jangan pernah tinggalkan abang lagi, Ne," Pinta Warmen sambil terus menciumi seluruh wajah Anneke sampai akhirnya bibir mereka kembali bertemu. Mereka berdua pun terhanyut dalam kerinduan yang membuncah dan melupakan emosi yang semula hadir diantara mereka.
Kemarahan Anneke seolah hilang ketika Warmen menciumnya, Anneke tahu, dari awal bahwa Warmen memang tidak menyukai keluarganya yang memang dibenci masyarakat sekitar kota Lampung. Dari awal dia mengetahui hingga memutuskan berpisah dengan kedua saudaranya.
'Aku merindukan kamu, Ne," Warmen akhirnya mengakhri ciuman panjangnya. "JIka kamu masih belum mau pulang, besok aku akan cari kontrakan di dekat sini.... aku tidak bisa jauh darimu ,Ne!
"Mandilah bang!" Kita bicara setelah ini ...
"Baiklah Sayangku," Sahut Warmen sambil mencuri sebuah kecupan ringan di bibir istrinya.
*****
Happy Reading temans. Terimakasih telah membacanya dan bolehkah tinggalkan jejak juga disini? Thx a lot
__ADS_1