
Lakukan hal yang kamu percaya dengan sungguh-sungguh, maka kamu akan berhasil di langkahmu!"
*****
Kobaran api makin membumbung tinggi membakar tiang bendera dan kursi panjang yang sudah tidak berbentuk dan ikut membakar ke dua manusia itu. Masih dini hari dan Handoyo masih memandang dua tubuh itu dengan seulas senyum penuh kebanggaan. Impiannya membuat kedua musuhnya tidak mudah dikenali adalah suatu kesuksesan atas apa yang dialami keluarganya.
"Aku berhasil Lidya.... Aku sudah berhasil Lid.... hutangku pada kalian semua sudah lunas.... Sekarang sudah boleh kamu menjemputku!" Aku akan melakukan berbagai pekerjaan yang berbeda sehingga aku akan dikenal sebagai orang yang berbeda dan brutal agar sang kematian segera menjemputku, " Handoyo berkata sambil menengadah ke atas langit seolah memang Lidya memang melihat perbuatannya dan menatap Handoyo yang terus berbicara sendirian.
Api masih menyala ketika Handoyo melangkahkan kakinya meninggalkan alun-alum ke arah pintu gerbang yang berbeda dengan berjalan kaki sejauh 2 km. Tidak ada satu orangpun yang sudah terjaga di pagi buta yang penuh keheningan. Mobil Andi masih tergeletak di pinggir Alun-alun. Handoyo memilih meninggalkan mobil itu disana untuk jejak kepolisian. Ia tidak meninggalkan jejak apapun di mobil itu, pikir Handoyo mantap.
Handoyo berjalan kaki dengan langkah percaya diri meninggalkan alun-alun dari pintu gerbang yang berbeda. Tidak ada satu orang pun yang melihat peristiwa kebakaran itu. Aktifitas pagi hari di kota Lampung ,baru berjalan setelah azan subuh berkumandang.
Handoyo terus melangkah berlawanan dengan arah kedatangannya. Hampir dua kilometer dia berjalan dan mendapati mobil kijang tuanya masih terparkir sempurna sama seperti ia meninggalkannya empat jam yang lalu.
Begitu masuk mobil Handoyo segera melepaskan pakaian, masker, topi dan perangkat lainnya dan memasukkannya dalam kantong plastik. Ia sudah menyiapkan pakaian gantinya. Handoyo mengarahkan mobilnya ke arah pantai "Sari Ringgung" yang letaknya hanya sekitar 10 km dari tempatnya.
Begitu tiba di tepi pantai, Handoyo membakar plastik berisi perbekalan itu dan membuang abu sisa pembakaran ke tengah laut. Handoyo tersenyum memandang abu itu yang dibawanya dengan membawanya ke tengah laut dan melemparkannya semua abu yang dapat dijadikan bukti jika polisi mengetahui tindakannya. Habis semua bukti keterkaitannya dengan keluarga Setiono.
Handoyo tersenyum sambil memandang matahari terbit dari tepi pantai itu. Tubuhnya masih basah akibat dia menyeburkan dirinya dan berenang ke tengah laut sambil membawa plastik abu dan sisa senjatanya. Handoyo melangkahkan kaki menuju mobil dan menjalankan kendaraannya menuju tempat lain yang sudah disiapkan dirinya dari tahun lalu. Hatinya sudah plong karena terbebas dari dendamnya selama ini.
Waktu menunjukkkan pukul 06. 25 pagi ketika Handoyo tiba di Rumah yang di belinya setahun yang lalu. Rumah itu tidak besar dan t berpagar kayu bambu. Rumah itu memiliki halaman yang tidak luas dan mobil terparkir di pinggir jalan, sedang di bagian dalam rumah hanya memiliki satu kamar tidur satu ruang tamu, satu kamar mandi dan dapur kecil..
Lampu di kamar itu masih menyala dan Handoyo yakin wanita itu masih tertidur seperti saat meninggalkannya semalam. Handoyo melepaskan pakaiannya dan melemparkan ke sembarang tempat. . Ia menatap wanita yang masih terbaring pingsan di ranjang miliknya.
Handoyo sengaja berbaring di samping wanita yang semalam diberinya obat tidur dalam minuman juice sehingga tidak menyadari kepergian Handoyo di malam hari Setelah makan malam, Handoyo memang meminta wanita itu melepaskan pakaian yang dikenakan dan berbaring di ranjang dengan telentang. tidak berapa lama wanita itu tertidur lelap tanpa menyadari bahwa pria yang menyewanya belum menyentuhnya.
Dipandangnya wanita yang terbaring di sebelahnya dan terdengar dengkuran halus. Wanita itu baru disewa Handoyo dari lokasi prostitusi kemarin sore. Wanita itu adalah wanita yang bertugas menyajikan minuman dan bernyanyi di lokalisasi. . Namanya Yani" , umur 21 tahun dan bekerja untuk membiayai ibu dan adiknya yang masih sekolah.
Wajah Yani biasa saja tapi tubuh wanita itu polos tanpa tato dan begitu bersih dan memiliki perawakan yang sintal sehingga menurut Handoyo akan mampu memuaskannya\, karena memiliki ukuran pay***r* dan pan*** yang cukup berisi\, Handoyo menyentuh salah satu tubuh wanita itu dengan keras dan mencubit area terlarang itu. Wanita itu tidak memberikan respon.
Handoyo memang meminta wanita yang masih baru dan masih belum tersentuh pria lainnya. Baginya tidak masalah tidak cantik asalkan wanita yang akan ditidurinya masih perawan. Sudah dua tahun ini dia tidak menjamah wanita.
Handoyo berfikir bahwa Ini adalah hadiah atas keberhasilannya. Maafkan aku Lidya. Kumohon kamu tidak akan marah atas penghianatan yang akan kulakukan.
Pikiran Handoyo hanya konsentrasi untuk membalaskan dendam dengan berlatih menembak, dan meninggkatkan kekuatan fisiknya. Pekerjaan tetap dan sampingan juga di lakoninya dengan serius sehingga menaikkan pundi-pundi dompetnya. Handoyo memasuki klub sepeda motor dan klub menembak untuk pergaulannya dan mengenal berbagai kalangan pengusaha ataupun bandar narkotika sehingga ia memperoleh beberapa pekerjaan yang memberinya keuangan yang memadai.
Handoyo pikir wajar jika dia menikmati keberhasilannya malam ini dengan sedikit menyalurkan hasrat biologisnya yang dikekang selama masa pencapaian misi. Dipandangnya wanita itu. Handoyo menarik nafas dan ia harus berhasil memasuki wanita itu sebelum wanita itu terbangun. Wanita yang dipilihnya masih terpejam. Semalam ia memberikan segelas juice jeruk yang dcampur obat tidur yang akan bertahan selama 8 jam.
Handoyo menyentuh tubuh bagian atas itu. Tubuh itu kenyal dan ia mulai meremasnya. Handoyo tidak ingin mengecup bibir wanita yang baru dikenalnya. ia hanya membutuhkan penyaluran, tidak ada penetrasi ataupun membuat wanita itu puas. Ia hanya ingin memasuki wanita itu dengan segera. Wanita itu adalah sang Alibi yang akan digunakannya nanti.
Direntangkannya kaki wanita itu. Handoyo adalah pria normal yang sengaja mengendalikan dirinya sebelum misinya berhasil tidak akan menyentuh wanita. Malam itu pengekangan dirinya akhirnya runtuh ketika meilihat tubuh polos yang sintal dan ia segera memasukinya tanpa pemanasan yang lama sebelum wanita itu sadar.
Akh... wanita ini benar-benar sulit dimasuki dan rasanya ia mencengkram miliknya erat. Hufff.! Handoyo mulain menikmati apa yang dilakukannya itu.
__ADS_1
Handoyo menggigit tubuh bagian atas milik wanita itu dan meremasnya tanpa henti dan ia memasukkannya segera dan membayangkan Lidya yang dimasukinya. Ia sentak beberapa kali dengan kekuatan full Hingga wanita itu mulai terjaga dan bergerak.
"oh.... sakit... sakit mas..." rintih Yani. "tolong hentikan!"
"lakukan tugasmu.... puaskan aku malam ini!" Handoyo sengaja berkata bahwa saat ini masih malam agar wanita yang disewanya berfikir ini masih malam.
"Akh.... sakit sekali...bisakah berhenti?" Wanita itu berkata pelan dan memohon. Matanya masih terpejam karena obat tidur masih mempengaruhinya.
"Diamlah..nanti kau akan menikmatinya !" Bujuk Handoyo sambil mengurangi kekuatannya dan ia membalik tubuh Yani dengan kekuatannya hingga wanita itu tengkurap dan Handoyo memasukinya kembali dengan segera dari belakang dengan penuh gairah yang tidak dapat dihentikannya.
Yani secara naluriah berusaha mendorong menjauh dan mendorong tubuh yang sedang memompa dirinya dari belakang.. Namun kekuatannya tidak mampu melawan pria yang di belakangnya dan terus yang bergerak dengan penuh energi. Mata Yani masih mengantuk tapi bagian belakang tubuhnya sakit tak tertahankan. Nafas pria di belakangnya makin berat dan menderu. Tapi Yani tidak memiliki tenaga untuk menolaknya.
Selama beberapa saat pria itu terus melakukannya tanpa henti Sakit itu masih terasa di tubuh Yani , hingga akhirnya Yani mampu beradaptasi dengan benda asing yang memasuki bagian tubuhnya dua kali dan makin menikmati benda itu di dalamnya.
Handoyo akhirnya mengakhiri ritualnya dan mengeluarkan cairannya di luar tubuh Yani. Handoyo berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya di samping wanita itu dan mereka tertidur hingga pukul 12 siang. Perut lapar yang membangunkan mereka di siang hari yang terik.
Yani terbangun lebih dahulu dan terkejut bahwa ia tertidur di atas tubuh pria yang semalaman memasuki dirinya tanpa henti. Ia melihat bekas bekas merah di seprai biru muda itu masih terlihat jelas. Yani memandang pria itu sekali lagi, pria yang telah membayarnya sepuluh juta untuk keperawanannya dan itu dipotong 30 % untuk sang mami di lokalisasi.
Uang itu bisa digunakan untuk biaya berobat, uang sekolah adikknya dan membayar kontrakannya. Yani berfikir bahwa ia tidak rugi jika memberikan dirinya pada pria tampan. Pria tampan itu apakah tidak salah ketika memilihnya? Hal itu yang dipikirkan Yani ketika pria itu membawanya. Pria itu tidak banyak menjelaskan siapa dirinya dan hanya meminta dipanggil mas.
Ketika Yani akan bangkit dari tempat tidur , ia merasa sakit di bagian inti tubuhnya. Tapi ia merasa lengket keringatnya dan dipahanya masih ter sisa cairan ayng diduga milik pria itu. Yani menatap pria yang masih terlelap itu dengan diam.
"Ahh....kenapa sakit sekali ?" Yani berkata lirih sambil memegang tubuhnya yang sakit itu dan masih berusaha bangkit. "
Akh.... "Yani bangkit dan memunguti pakaiannya yang di lantai. Yani memilih membersihkan dirinya di kamar mandi.
Yani keluar kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap dan lebih segar. Yani terkejut ketika melihat Handoyo sudah duduk di ruang tamu dan memperhatikannya yang keluar dari kamar mandi.
"Kemarilah Yani !" Panggil Handoyo. "Makanlah dulu dan kita harus bicara !"
"Baik mas... " Yani menjawab sambil menunduk.
Bagi Yani, ini adalah pengalaman pertama dirinya melayani pria. Selama ini dirinya tidak pernah diminta melayani pria manapun. Dirinya hanya menyajikan minuman. Di lokalisasinya banyak wanita yang lebih cantik dan sexy yang laris manis untuk melayani pelanggan. Hingga dua hari yang lalu, Mami Jeine di lokalisasi menawarinya dengan imbalan besar. Keperluan berobat dan biaya adiknya membuatnya gelap mata dan bersedia melakukannya.
Yani menikmati makanan itu sambil menunduk. Ia bingung menyapa pria yang duduk disebelahnya. Pria itu telah selesai makan mie dan mulai menyalakan rokoknya.
"Koper ini isinya uang dan cukup untuk biaya ibu dan adikmu sekolah, yan !" Handoyo berkata sambil mendorong koper yang berada di sampingnya menjadi lebih dekat dengan Yani. "Bukalah dan silahkan hitung jika kau tidak percaya !"
"Saya percaya sama mas !' Yani menjawab pelan sambil menghabiskan mie instannya.
"Yan... maukah kamu tinggal di sini? : Kamu boleh ajak keluargamu dan tempati rumah ini dengan gratis... memang rumah ini tidak pernah kutempati hanya sesekali saja jika ada pekerjaan dari kantor !" Daripada kamu ngontrak dan harus membayar, cuma aku minta rumah ini kau bersihkan saja, Dan kamu tidak ada ikatan apapun denganku... kamu boleh berkencan dengan pria lain atau menikah dengan pria lain jika bertemu dengan pria yang cocok dan benar-benar mencintaimu !" Handoyo berkata pelan dan menghisap kembali rokoknya.
"Benarkah itu mas... aku boleh tinggal disini dengan gratis dan mengajak keluargaku?" Yani bertanya dengan ekspresi bahagia memandang Handoyo lekat. Awalnya Yani merasa malu, namun ia merasa pria ini baik terhadapnya meski perbuatannya semalam menurutnya sedikit keterlaluan.
"Hemm...aku serius... kau boleh tinggal asal bisa merawat rumah ini.
"Aku tidak perlu membayar apapun ?"
__ADS_1
'Ya....mungkin jika aku kemari dan memang membutuhkanmu, maka kamu harus datang dan menemuiku di hotel dan melayaniku seperti semalam ...bagaimana ?"
"Baik, mas... aku bersedia... tapi bagaimana jika di tengah jalan mas berubah pikiran dan mengusir kami?"
"Jika kau patuh dan menjaga rumah ini maka tidak mungkin aku mengusir kalian... dan aku akan berikan modal agar kau bisa membuka warung kecil untuk penghidupan kalian. Rumah ini berada di tepi jalan utama dan kau bisa jualan makanan atau apapun ... yang penting halal, Bagaimana? ?
'Aku mau banget mas.... ini bukan boongan kan?" Yani yang sangat bahagia sampai memeluk pria itu kembali. Handoyo memperhatikan tindakan Yani. Aroma sabun mandi ikut mempengaruhi indra penciuman Handoyo dan membuat pikirannya bergerak liar.
Handoyo menarik tubuh Yani lebih dekat dan tangannya bergerak cepat , ia melepaskan pakaian di tubuh wanita itu. Handoyo mengulum tubuh bagian atas, meremas dan senjatanya segera memasuki Yani kembali di ruang tamu hingga membuat Yani yang semula kesakitan mulai menikmati apa yang dilakukan pria yang baru dikenalnya kemarin. Pria itu tidak pernah mencium pipinya dan langsung menyentaknya dengan penuh tenaga. Sakit sedikit sudah tidak berarti bagi yani yang penting keluarganya terselamatkan.
Yani membiarkan pria itu menyalurkan hasratnya dan di dalam hatinya ia berfikir dapat menyelamatkan keluarganya dan mendapatkan tempat tinggal,
*****
Happy Reading Guys!
Bolehkan tinggalkan jejak disini. Thanks telah membacanya dan tetap semangat dalam menjalani hari.
"
__ADS_1