
Kamu mungkin melupakan dan menggantikanku dengan teman-temanmu yang baru, tetapi aku akan selalu menjadi teman lamamu yang sama.
*****
Jessy terbangun karena kehausan. Ia membuka matanya, dan melihat suaminya masih tertidur nyenyak. Alex tengah memeluk pinggang Jessy di dalam selimut yang menutup tubuh mereka.
Mereka masih tidak berpakaian setelah sebelumnya mereka keleahan setelah menuju puncak asmara. Jessy melepaskan pelukan Alex dan segera bangkit dari tempat tidurnya untuk berpakaian. Ia ingin membersihkan diri dan minum segelas air dingin untuk membasahi kerongkongannya.
Jessy melihat jam di kamarnya masih menunjukkan pukul 03.15 menit. Masih dini hari. Pasti teman-teman suaminya yang menginap di rumah mereka dan menjadi tamunya masih terlelap, Jessy sengaja membuka pintu kamarnya perlahan dan tidak ingin membangunkan para penghuni rumah.
Ketika berhasil keluar kamar, Jessy segera melangkah menuju dapur, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia refleks menoleh karena mendengar ada seseorang yang membuka pintu teralis depan rumahnya. Jessy terdiam di antara dapur dengan ruangan tengah. Ia berusaha memastikan pendengarannya. Benar itu suara pintu teralis yang dibuka dari luar namun tampaknya dilakukan secara perlahan.
Apakah ada pencuri yang akan memasuki rumahnya? Apakah Jenny yang akan memasuki rumahnya? Tapi rasanya tak mungkin sahabat karibnya di salon itu datang ke rumah dia pagi-pagi buta, apalagi Jessy pasti mengetahui ketika ia pulang kemarin, Jenny pasti melihat suaminya pulang dan membawa beberapa orang tamu ke rumah mereka.
Klek...
Pintu bagian dalam dibuka perlahan. Jessy refleks melangkah ke arah ruang tamu dan tangannya bersiap mengambil sapu di dekat kulkas. Ia akan berteriak membangunkan penghuni rumah. Termasuk tamu pria rekan suaminya yang tertidur di ruang tamu. Minimal jika ia memukuli pencuri itu,dan para penghuni rumah pasti akan terbangun mendengar teriakannya.
Begitu pintu terbuka setengah , Jessy terkejut. Ternyata pria yang mirip dengan Handoyo itu yang akan memasuki rumahnya. Pria itu juga sama sepertinya terkejut melihat Jessy. Pria itu masih menggunakan topi hitam dan jaket hitam. Mereka saling bersitatap dalam diam sebentar, karena pria itu segera mengalihkan tatapannya pada rekannya yang tertidur di sofa.
Pria itu kembali melihat Jessy dengan tatapan dinginnya.
"Kenapa kau belum tidur? Apakah Kau mau memukulku dengan sapu?" Ujar pria yang baru memasuki rumah itu dan menutup pintunya secara perlahan.
Jessy terdiam dan seolah tidak mampu bergerak. Dia seolah terhipnotis oleh pria yang menggunakan topi hitam itu. Kemana suara cemprengnya? Kenapa kakinya tidak bisa bergerak?'
"Jess.." Panggil pria itu kembali dan menghampiri Jessy yang terus menatapnya tidak bergeming.
Handoyo segera mendekati Jessy dan melambaikan tangannya di depan muka Jessy, seolah menghentikan lamunan wanita itu. Ia menyadari bahwa Jessy shock melihatnya, namun ia tidak bisa langsung membuka siapa dirinya, karena ada Anneke di rumah itu dan itu bisa membuat hubungan Warmen dan Anneke renggang kembali.
Bener saja wanita itu tersentak dan kaget ketika menyadari dia sudah berhadapan sangat dekat dengan Handoyo dari jarak dekat.
'Oh maaf... kupikir tadi yang datang pencuri... maaf... dari mana tadi pak ?"
"Berkeliling depan rumah... aku takut mobil kami hilang dan ternyata disini amang." Sahut Handoyo santai dan berjalan menuju ke dapur. "Kau punya kopi?" Boleh minta tolong buatin kopi, Jess?"
Jessy tersentak mendengarnya.Kenapa pria ini serasa akrab sekali dengannya. Panggilannya juga sama. Kalimat itu seperti kalimat yang sering diucapkan Handoyo dulu.
__ADS_1
Jessy kembali memandang Handoyo. Ia tercekat melihat pria itu tampak membuka lemari dapurnya. Pria itu terlihat biasa saja dan tidak peduli akan kehadirannya. Tidak mungkin, jika Handoyo, ia pasti mendengarnya. Tidak ada yang bisa disembunyikan Handoyo dariku, batin jessy terus berkata di dalam hatinya. Akhirnya Jessy berusaha mengambil alih dengan melakukan aktifitas lainnya untuk melupakan kegugupannya.
"Ya... duduklah dulu, sebentar aku akan buatkan kopi untukmu!" Jessy berkata dan berusaha menenangkan hatinya.
Handoyo hanya diam dan melangkah menuju meja makan. Ia duduk di situ dan menunggu Jessy membuatkan kopi.
Jessy ingin bertanya, tapi ia takut salah orang. Jessy melintas dan melewati Handoyo, Ia berusaha mendengar suara hati pria yang dilewatinya. Tidak ada apa-apa. Kenapa dia tak mampu mendengar suara hati pria ini , apakah pria ini tidak menyembunyikan apapun.
Dulu ia bisa mendengar suara hati orang yang ingin didengarnya. Pria ini tampaknya santai dan hanya terdengar bahwa ia mengantuk dan ingin kopi. Akh... kemana kemampuannya yang dulu. Apakah hidupnya terlalu tenang dengan Alex dan hampir jarang menggunakan kemampuannya itu.
Jessy meracik kopi dalam diam dan segera memberikan pada pria yang duduk di meja makan. Jessy berusaha menenangkah hatinya, bahwa pria itu adalah Adiguna. Dia bukan Handoyo. Pria itu terdengar seperti mengunyah kacang atom yang memang masih ada di toples kecil di atas meja.
Ketika Jessy meletakkan secangkir kopi di atas meja, Pria itu tersenyum pada Jessy dan mengucapkan terimakasih. Jessy hanya mengangguk dan akan melangkah meninggalkan dapur dengan cepat. Pria itu menarik tangannya dan memandangnya lekat.
"Apakah kau sudah mengantuk Jess?" Katanya pelan.
Jessy berusaha bersikap biasa saja tapi hatinya merasa sangat mengenal pria ini. Hati kecil Jessy terus berkata Dia pasti Handoyo, bukan yang lain. Apakah Alex tidak mengenalinya? Atau apakah dia kerabat Handoyo sehingga begitu terlihat akrab di matanya.
"eh... sedikit sih... apakah ada lagi yang mau kubuatkan? Apakah kau mau makan?" Jessy kembali menatap mata pria yang didepannya.
Hati Jessy semakin yakin. Pria ini adalah Handoyo tapi mengapa pria itu sedikit berbeda terhadapnya. Apakah dia yang salah mengenali orang.
Jessy terkejut mendengarnya. Rasa kopi yang sama dengan yang seperti biasa dibuatnya. Pria ini benaran Handoyo. Jessy langsung duduk di kursi samping pria yang diduganya adalah Handoyo,
Dipandangnya pria itu lagi yang benar-benar terkesan tidak mempedulikannya. Pria itu benar-benar mirip, tapi kenapa dia bisa berkeliaran di rumahnya saat ini. Kenapa dia tidak ada di penjara.
"Jess... jangan berteriak!" Biasa saja... ini aku, kau benar!" Handoyo akhirnya tersenyum memandang wanita yang terus menatap penuh arti padanya. "kau benar... tapi kumohon rahasiakan identitasku!"
Jessy kemudian memukul lengannya."Kau brengsek mas Han... kau membuatku shock seharian ini dan Al tidak mengatakan apa-apa tentangmu... dan mereka bilang kau adalah Adiguna , yang anak jendral!" jessy berkata dengan pelan, dan dengan gemas Jessy memukuli lengan laki laki itu .
Handoyo tersenyum dan membiarkan wanita itu memukuli berkali-kali. Tidak sakit cuma agak pedas di lengannya cukup berasa karena pukulan kasih sayang dari sahabatny.
"Jangan terlalu kelihatan di depan orang... aku hanya ingin menengokmu sebentar, lusa aku pergi. Bagaimana kabarmu dan Jenny?"
"Baik-baik saja... Jenny sekarang sudah mahir di salon, jadi aku bisa lebih santai sekarang!" Salon kami makin ramai dan sekarang ada dua kapster yang membantu kami setiap hari jumat, sabtu dan minggu."
"Baguslah... apakah kau sedang hamil sekarang?"
__ADS_1
"Darimana mas han tahu?" Alex sendiri belum keberi tahu!"
"Jaga baik-baik kandunganmu.... nanti jika aku kemari lagi , aku akan menemui keponakanku!" Sekarang tidurlah, dan besok jika bertemuku usahakan kita terlalu banyak bicara... ini demi kebaikanmu!"
"Mas Han... kau tak ingin bertemu Jenny?
"Nanti saja jika keadaan memungkinkan dan aman...oh iya, aku titip Nadia, Anneke Warmen dan Nicky untuk menginap beberapa hari disini, kami harus pergi menyelesaikan beberapa urusan... kau tidak usah khawatir terlalu berat, mereka akan bersidang di pengadilan sehingga membutuhkan rumah aman saja... jadi jika ada tetangga bertanya katakan saja keluarga Alex dari Jakarta."
"Baiklah... sekarang katakan dengan jujur padaku... bagaimana kau bisa keluar dari nusa kambangan?"
"Nadia yang mengeluarkanku... dia bilang kami ada tugas dari negara untuk menyelamatkan orang.."
"Apakah Nadia itu seorang polisi?"
"Bukan... dia cuma petugas khusus... aku tidak bisa berbicara banyak... ini menyangkut keamanan negara !"
" Oh... rahasia negara. oh iya Mas Han... aku tahu dimana kau menyimpan senjata milik Cepot berdarah itu" Aku berusaha melupakannya tapi aku tak bisa, "
"Hemm... apakah kau mau menyerahkan pada negara ?'
"tidak... tapi aku punya satu permintaan padamu ... jangan lakukan tindakan jahat seperti itu lagi!" Bertobatlah mas han? Bisakah kau berjanji padaku ?"
"Baiklah... aku sekarang tidak akan pernah menggunakan senjata itu, Itu janjiku padamu!" Sahut Handoyo pelan dan ia mengangkat tangannya seolah berjanji pada Jessy. " Sekarang aku hanya berkelahi dengan tangan kosong jika diperlukan... mungkin Alex sudah menceritakan padamu?"
"TIdak , dia merahasiakannya...
'Baiklah... makin sedikit yang kau tahu, itu lebih baik Jess... tidurlah Jess , sebentar lagi hari akan pagi dan semua orang akan bangun dan memulai hari dengan segala aktifitasnya ... aku lagi bertugas menjaga rumah ini!"
"Mas Han... aku..
"BIasakah panggil aku Adiguna, Jess... kumohon"
"Baiklah Adi, aku tidur dulu... terimakasih telah berkata sejujurnya padaku, kamu masih teman lamaku yang terbaik!" Jessy bangkit dan meninggalkannya dengan lega.
Handoyo tersenyum dan melihat Jessy meninggalkannya dan memasuki kamarnya kembali. Ia kembali meneguk kopinya. Pagi sebentar lagi datang.
*****
__ADS_1
Happy Reading Guys.
Terimakasih telah membacanya. Bolehkah kalian berbaik hati dan meninggalkan jejak manis di sini?' Thanks ya