Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
128.Fake Smile


__ADS_3

Semuanya kelihatan tidak mungkin sampai segala sesuatunya selesai.


Lebih baik melakukan sesuatu dan gagal daripada aku tidak berbuat apapun namun berhasil"


*****


- Sebulan kemudian -.


Jendral Suhartono bersama dengan beberapa menteri dan tentu saja Jendral Gaffar menjalani tugas kenegaraan di daerah Dili, Provinsi ke 28 negara ini saat itu.  Ada gerakan separatis yang sudah ditangani oleh tim-Jendral Gaffar beberapa waktu yang lalu.


Dalam tugas itu Jendral Suhartono membawa paspanpres dan ditambah Ballawa  dan Andree sebagai pengawal pribadi yang khusus melindungi dirinya dan istrinya di Dili Kunjungan mereka itu, harus dilakukan karena memang ada beberapa gerakan separatis itu harus ditumpas hingga ke akarnya.


Ironisnya Jendral Gaffar juga membawa anak angkatnya yaitu Adiguna dan tentu saja istrinya yang ingin ikut pergi ke Dili, karena dia belum pernah pergi ke negara bekas jajahan Portugis itu.


Alhasil ini adalah pertemuan antara Tiara dan Aleesha setelah resepsi pernikahan Pramoedya dan Nadia sebulan yang lalu.


Dalam acara pesta dimana mereka berdua terlibat sebagai perwakilan orang tua dari dua mempelai,  keduanya tidak banyak bercakap-cakap hanya seperlunya saja.  Bukannya para suami mereka tidak mengetahui, tetapi mereka memaklumi diantara keduanya sudah tidak akrab semenjak  Aleesha membuat perusahaan sendiri dan menganggap pekerjaan sebagai pengusaha lebih penting.


Namun momen perjalanan ini membuat keduanya akan bertemu kembali dalam waktu yang cukup lama dan memungkinkan saling berbicara, karena tidak semua pejabat negara membawa istrinya.


Jendral Gaffar sempat merasa aneh atas keikutsertaan Aleesha ke kegiatan dinas ini, setelah bertahun-tahun dia tidak pernah didampingi istrinya. Benar-benar Aleesha sudah berubah semenjak adanya Adiguna bersama mereka, ia menjadi lebih keibuan dan lebih sering berada di rumah serta mendampinginya di beberapa kegiatan dinas.


"Tumben kamu mau ikut aku ke daerah... biasanya selalu sibuk dengan perusahaan," Gaffar bertanya di mobil ketika melihat Adiguna memasukkan kopernya ke dalam mobil sebelum ke Bandara halim perdana kusuma.


"Iya... aku belum pernah ke Dili... katanya sih cukup banyak orang kaya di sana dan memungkinkan kita bisa buka cabang disana... apakah abang keberatan, jika aku ikut?


"Tidak.. aku malah senang... tapi aku ingin jika kau mau lihat kondisi, harus ajak abang..karena disana belum diketahui apakah orang-orang itu sudah tertangkap semua yang mau memberontak pada negara ini!"


"Siap bang!" Aleesha berkata sambil memberi hormat dan memeluk suaminya dengan hangat.

__ADS_1


Ketika Jendral Suhartono datang bersama istri dan pasukan keamanannya, Tiara sempat terkejut melihat adanya Aleesha di samping suaminya. Tatapan terkejutnya memang tidak dapat disembunyikan ketika melihat adanya Aleesha dan ia melihat, hanya ada dua wanita yang ada di rombongan mereka selain pengawal wanita milik paspanpres yang menjaganya.


Aleesha yang sadar posisi bahwa ia harus menghormati kedudukan Tiara sebagai wanita yang memiliki suami seorang pria yang menguasai negara ini segera mengangguk dan tersenyum manis pada Tiara.


"Selamat pagi Ibu Tiara,... Selamat datang dan maaf saya nanti bertugas mendampingi anda di beberapa kegiatan dinas," Aleesha membuka percakapan dengan senyum semanis mungkin meskipun hatinya bergemuruh tidak suka.


Tiara menyambut senyuman Aleesha dengan senyum singkat dan mengangguk pelan. Dilangkahkan kakinya lebih cepat untuk mengikuti langkah suaminya yang mulai memasuki pesawat. Dengan setengah berlari, Tiara berhasil  menarik jemari suaminya yang terkadang melangkah terlalu cepat, dan melupakan istrinya yang menggunakan kain kebaya.


Jendral Suhartono menyadari bahwa ia harus memperlambat langkahnya dan menyamakan langkahnya dengan istrinya itu.


"Jangan cari ribut dengan Aleesha... biar bagaimanapun dia besan kita," Bisik Suhartono pada istrinya pelan dan masih dapat terdengar oleh Ballawa dan Andre yang ada di belakang keduanya.


'Aku gak suka cari keributan.. aku juga tersenyum padanya... sama seperti senyum penuh kepalsuan yang dia berikan padaku,"  Tiara menjawab ketus. "Aku heran deh sama kamu , mas.....  kenapa mas selalu  jika bertemu Aleesha selalu menyalahkan aku... !"


"Gak begitu... aku gak mau hubunganku dengan Gaffar jadi kacau karena kalian yang ribut soal urusan sepele... biar bagaimanapun, Aleesha bisa melindungimu, jika kita diserang mendadak... aku mau dia tidak terlalu jauh darimu...!"


"Sudahlah.. jangan ribut!" Buatkah aku teh hangat!" Ujar Jendral Suhartono yang duduk di ruangan khusus di dalam pesawat ,sementara Aleesha dan Gaffar baru memasuki pesawat dan mengambil posisi tidak jauh dari posisi Aleesha.


Dengan menarik nafas agak panjang Tiara membuatkan teh untuk suaminya. Matanya melirik kearah belakang , ke tempat posisi Aleesha, wanita itu baru saja menaruh tasnya dan Gaffar merangkulnya dan memberikan ciuman di rambutnya.


Sungguh hal yang romantis seperti itu  yang tak pernah dilakukan suaminya. Tapi rasanya aneh jika dilakukan pasangan yang sudah lama menikah. Dasar pasangan tua yang aneh!" gumam Aleesha dalam hatinya. Matanya masih memperhatikan pasangan itu.


"Sok romantis si Gaffar dan Aleesha!" Bisik Tiara sambil menyerahkan tehnya pada suaminya itu.


"Kenapa lagi?" jangan suka sirik sama orang!" Suhartono menoleh pada kelakuan istrinya yang masih menoleh ke belakang tempat duduk mereka.


"Gak ada apa-apa..sekarang minumlah selagi masih hangat  !"


"Ingat  pesanku tadi... selagi aku dan Gaffar rapat kordinasi untuk menangani para komplotan pemberontak itu, kau tidak boleh jauh dari Aleesha...!"

__ADS_1


"Iya... tapi bagaimana jika Aleesha yang melakukan pemberontakan dan membunuhku, mas?"


"Kau gila Tiara... tak mungkin dia melakukan itu... Gaffar sangat kupercaya dan tak mungkin ia menikahi Aleesha jika dia seperti itu!"


"terserah mas Har saja, tapi aku tak suka wanita itu... kurasa senyumnya penuh kepalsuan!"


"Jaga sikapmu  Tiara !"


"Iya.


Jendral Suhartono berpura-pura tidak mengerti bahwa istrinya memang tidak menyukai Aleesha, Ia ingin di masa tuanya, ia dapat hidup dengan tenang dengan Tiara, dan istrinya dapat menghormati Aleesha sebagai istri Gaffar dan sebagai sahabat karib Yona yang merupakan ibu Pramoedya.


Di pemikiran Jendral Suhartono, Wajarlah Aleesha tidak menyukai Tiara, karena Tiara-lah yang menembak mati Yona dan itu sangat menyakitii hatinya juga. Tapi dia tak bisa melakukan apapun, bagaimanapun dia yang salah memiliki istri lagi tanpa seijin Tiara dan itu berdampak di kehidupan Pramoedya.


"Permisi Jendral.. ini saya bawakan Cake keju... apakah Jendral dan Ibu Tiara mau mencobanya," Aleesha tiba-tiba menghampiri tempat duduk Jendral Suhartono dan Tiara, Dan  itu tentu saja mengejutkan keduanya, karena baru saja mereka membahas Aleesha.


Tiara yang melihat Cake keju itu menatap dengan sinis dan langsung berkata,"   Apakah beracun? " Tiara sontak langsung berkata seperti itu dan menatap sinis pada Aleesha yang masih memegang nampan cake penuh keju dan menggoda.


"Oh... kalau tidak mau biar Abang Gaffar dan pasukannya saja yang makan... jika tidak makan tidak apa-apa, saya hanya menghormati kalian berdua, karena itu saya memberikan potongan pertama pada Bapak dan Ibu jendral," Jawab Aleesha sambil tersenyum berusaha menahan amarahnya. 'Saya permisi dulu...!"


"Tunggu," Jendral Suhartono berkata tegas dan berdiri dari tempat duduknya,    "Aleesha.. aku mau mencobanya.. sudah jangan didengarkan ucapan istriku itu... aku percaya kau tidak akan meracun kami !" Suhartono berusaha menetralkan kedua wanita itu.


Aleesha tersenyum tulus pada Jendral Suhartono," terimakasih jendral !"


*****


Happy Reading Guys !


Terimakasih telah membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak di sini? Thanks a lot ya...

__ADS_1


__ADS_2