Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
149. Last


__ADS_3

Sekarang bukan waktunya untuk mengeluh apalagi menyerah. Namun, setiap momen di hidupku adalah untuk bekerja


*****


Handoyo memasuki lahan pemakaman umum tempat Lidya dan orang tua Lidya dimakamkan. Makam ketiganya dalam keadaan bersih dan terawat karena memang anak-anak Pak Wanto telah diminta untuk selalu membersihkan makam dan rumah tempat tinggal Handoyo dan Lidya dahulu.


Handoyo menaburkan bunga ke makam Lidya dan mertuanya.  Tak ada kata yang bisa dia katakan di depan makam itu. Saat ini Handoyo sudah lebih tegar dan merasa dia mampu bertahan tanpa Lidya ataupun Nadya lagi. Ia hanya ingin berpamitan dengan orang yang sangat dikasihinya.


Dipandangnya sekeliling makam. Sepi karena memang masih pagi sekali ia tiba di kuburan, hampir pukul 6 pagi.


Sebelum pergi meninggalkan makam ia berkata,"


"Maafkan aku.... mungkin beberapa  tahun ke depan , aku kembali menjenguk kalian semua !"  Aku harus membereskan satu perkara lagi yang mengetahui asal- usulku. setelah itu akan menghilang..."


Handoyo melangkah tegap menuju mobilnya dan melajukan dengan kencang menuju Jakarta kembali.


*****


Hari ini  hari  pertama Ballawa kembali ke Kepolisian. Ia bergabung kembali ke tim lamanya, bersama Arief, John Pramono dan Zaenal. Mereka disatukan kembali setelah Ballawa dianggap telah menyelesaikan sanksi administrasi dan kedinasan dengan berpindah kesatuan.


Kelimanya menyambut gembira kehadiran Ballawa dan setelah penyambutan di kantor selesai, Mereka berencana akan makan siang  bersama di salah satu restoran Sunda di dekat kantor.


Ketika Jam makan siang tiba dengan menggunakan mobil Ballawa mereka beramai -ramai menuju restoran yang letaknya memang hanya 2 km dari kantor.


Obrolan senda gurau diantara mereka membuat mereka lengah bahwa salah satu dari mereka diincar oleh Handoyo.


"Aku senang kau kembali pada kelompok kita , Ball," Arief sambil menepuk pundak Ballawa yang memang berjalan disampingnya.

__ADS_1


"Aku juga.... kita bisa bekerja bersama lagi merupakan kebanggaan bagiku..!" Ballawa menjawab dengan penuh haru. "Kupikir aku tak pernah bisa kembali ke kelompok ini... terimakasih atas support kalian dan mengijinkan aku tetap disini setelah Jendral Gaffar tidak ada, maka penempatanku kosong disana"


"Kau tau Ball.... kami kekurangan tim analisis dan penembak jitunya tentu saja ketika kami mengetahui itu, kami langsung lapor minta kau kembali ," Timpal Zaenal sambil menjajari langkah Arief dan Ballawa, hanya John yang memang agak santai di belakang.


"Untunglah... kepindahanku langsung di approve!"  Oh iya ..John,... kau masih doyan jengkol kan?" Aku tahu itu... kau paling suka makan jengkol disini dan kau bisa tiga piring nambah .." Ujar Ballawa riang dan teman-teman yang lain juga ikut tertawa.


"Tentu saja... aku pasti nambah nih jika ada jengkol .. terlebih jika di traktir... makin semangat aku makan !" Timpal John sambil tertawa senang.


Baru akan memasuki restoran sunda, sebuah letusan kencang melewati telinga John dan  letusan itu langsung bergerak cepat menuju kepala Ballawa.


" Dor....


Balawa pun terjatuh.


Keempatnya kaget dan  terdiam sesaat baru kemudian John segera memapah Ballawa yang memang berada dua langkah di depannya. Posisinya memang memungkinkan memapah pria yang sudah berlumuran darah dari kepala Ballawa.


Keadaan sekitar memang jam makan siang. Hanya ada beberapa mobil yang memang terparkir disitu dan semuanya sekilas tidak ada orang. Hanya ada empat orang yang ikut bersembunyi di dekat tembok menuju pintu masuk restoran sunda. Serasa Hening dan seolah jarum jam berhenti hingga teriakan John menghentikannya.


"Ballawa... Bangun... kita ke rumah sakit sebentar lagi.... jangan mati Ball... kamu belum traktir aku karena kembali ke kepolisian...!"Teriak John histeris.


Arief langsung sigap  mengambil mobil dan meminta ketiganya masuk dan membawa Balalwa ke rumah sakit.


"Ball... kamu baru kembali pada kita... masakah kamu pergi lagi !" Zaenal berkata dengan sedih setelah melihat kondisi fisik Ballawa yang kritis dan terus mengucurkan darah.


Sementara di dalam mobil hitam yang berada di seberang jalan, Handoyo tersenyum puas melihat hasil kerjanya.


*****

__ADS_1


Handoyo memasuki rumah Aleesha dengan tenang. Wajahnya berbinar riang ketika menghampiri Aleesha yang sedang mengupas buah mangga di ruang tengah.


"Bagaimana Han?"


"Beres Mama... sekarang aku bisa pergi untuk melakukan tugas apapun , Mama !"


"Baguslah !" Pergilah ke Sulawesi Selatan... temui Daeng Arang... ada yang harus kau bereskan disana !"


'Siap Mama !"


Handoyo mengambil buah mangga yang telah dikupas Big Mama," Sore ini aku berangkat mama !"


"Stevan akan menemui kamu disana lusa !"


"Ya... aku tahu ."


TAMAT


****


Happy Reading Guys,


Edisi Handoyo muda selesai disini ya, Pertama di tempat baruku sulit sinyal dan membuat  aku jadi kehilangan mood untuk menulis,  Jika Mau tahu kapan Handoyo bertobat ,  teman-teman dapat mengetahuinya dengan jelas setelah Handoyo  ketemu Dilla di "Cinta kan Membawamu kembali"


Thanks ya teman telah berbaik hati membaca dan memberikan kritik untukku. Intinya menulis adalah hobby dan dapat mengasah kita berfikir kritis dan mengubah imajinasi.


Tetap semangat dan sehat selalu ya

__ADS_1


__ADS_2