Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
87. Did I forget her ?"


__ADS_3

Seharusnya kita yang mengendalikan hati dan perasaan kita. Jangan pernah kau membaliknya, hati dan perasaan seseorang yang  mengendalikan hidupmu !"


 


*****


 


Handoyo mendapatkan fasilitas kantor dan dapat  tinggal di rumah barunya yang disediakan oleh perusahaan atas permintaan Ibu Aleesha untuknya. Wanita itu memberikan tempat tinggal yang letaknya tidak jauh dari Diamond Grup. Katanya semua untuk mendukung aktifitasnya.


Rumah itu cukup besar untuk dirinya seorang diri yang ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga dan seorang sopir, Tugasnya sebagai wakil direktur dari Diamond Grup membuatnya otomatis mendapat fasilitas ini. Suatu permulaan yang mencengangkan.


Rumahnya memiliki 3 kamar tidur yang besar dan satu paviliyun untuk para ART -nya itu. Dia bingung tinggal disini sendiri, tidak ada teman yang bisa diajak tinggal bersamanya. Tak mungkin juga ia mengajak Nadya ataupun Steven untuk tinggal di rumah ini, karena mereka pasti mendapatkan fasilitas yang tidak jauh berbeda.


Telephone di rumah itu berdering dan Handoyo melangkah ke meja sudut tempat telephon itu berada.


"Ya , Hallo... "Handoyo mengangkat telephone yang berbunyi ketika waktu hampir menunjukkan pukul 9 malam.


"Apakah saya bicara dengan Pak Adiguna ?"


'Ya.


Suara wanita diujung telephon itu mirip dengan suara  yang selama beberapa hari ini terdengar  dan menyapa dan menemani dirinya.  Handoyo tersenyum mendengar suara itu , kemudian wanita itu  kembali menyapa dengan nama yang  seharusnya.


"Mas Han... "Sapa Nadya dan telah merubah panggilannya kembali.


"Nadya..?"


"Iya , mas han... besok aku ada tugas ke Semarang, mungkin kau sudah tahu. Tapi aku hanya ingin tahu gimana keadaanmu dan  rumah barumu?" Apakah menyenangkan disana ?"


"Ya begitulah semua serba lengkap ... tapi disini sepi sekali, nad !" Kamu kemarilah? atau perlukah aku menjemputmu?" Rasanya aneh tidak melihatmu di sekitarku ."


Nadya terkejut dan berusaha menetralkan suasana yang menurutnya agak canggung,  handoyo tampaknya menyadari kalimatnya kurang tepat.


"maaf , maksudku... di rumah sebesar ini aku sendirian dan tidak ada teman  bicara, untungnya kau menelponku, Nad."


"Mas Han.... kau boleh mengajak temanmu yang kau percaya untuk tinggal disitu , tapi ingat biasakan gunakan nama Adiguna ya karena itu fasilitas kantor jadi kau harus membiasakan diri dengan nama itu  !"


"Ya... kamu tinggal dimana, Nad ?" Apakah tempat tinggalmu itu  jauh dari kantor ?"


"Tidak kita satu komplek ko, sebenarnya rumah kita hanya dibatasi tembok belakang saja, Rumahku dan rumahmu saling membelakangi... nanti setelah tugasku beres di Semarang, aku akan mengajakmu mampir ke rumahku ya Mas...!'


"Benarkah ?" Sekarang apa yang kau lakukan disana?" Boleh aku ke sana sekarang?" handoyo terdengar bersemangat.

__ADS_1


" Mas han, ini sudah malam dan  Aku sedang packing untuk besok ke Semarang...  lain kali aku pasti mengajakmu mampir ke rumahku,... oh ya mas Han, Kau boleh mengajak udin untuk tinggal disitu dan menjadi assisten atau sopirmu  agar kau punya teman ngobrol disitu."


"Baiklah , terimakasih atas sarannya...


"Oke, selamat menikmati rumah baru, aku tutup ya telephonenya.


"Ya.


Panggilan itu terputus.  Handoyo berusaha mengusir sepi dengan menonton televisi dan berbaring di sofa ruang tengah itu.  Malam semakin larut dan Lelah seharian bekerja membuat Handoyo akhirnya dapat  terlelap dan  tertidur dengan pulas di sofa itu.


Tanpa Handoyo duga ia memimpikan Ibu Aleesha dan suaminya yang sedang bertengkar  di suatu ruangan  kaca dan di situ terdapat satu sosok yang harus ditemuinya. Pria itu. Pria yang begitu sulit dijangkau jika dia tidak mendapat dukungan Ibu Aleesha.


Pria yang harus ditemuinya dan menuntaskan masalah mereka. Pria itu  saat ini sedang duduk bersama istrinya dan terdapat pasukan pengawalan protokoler dirinya. Tapi  mengapa pria itu yang biasanya wajahnya ramah terlihat di televisi mengancungkan sebuah pistol dan diarahkan ke dirinya.


Dulu pernah ketika ia sekolah , ia mengagumi pria itu karena dari seorang anak petani dan menjadi tentara yang ahli strategi perang dan menjadi yang terbaik di angkatan darat, Kepiawaian dalam strategi  menjadikan pria itu seorang Jendral dan pemimpin di negeri ini.


Kaki Handoyo seolah lemas di bawah pandangan Jendal Suhartono. Tangannya pun seolah lunglai dan tidak bisa bergerak seperti menantikan hukuman.  Pria itu masih duduk dan mengarahkan pistolnya dan seolah memandangnya dengan tatapan kebencian. Wanita yang duduk di sebelahnya.


"Bunuh anak haram itu, Mas !"  Teriak wanita yang duduk di sebelah Jendral Suhartono.


Dor...   dor ...


Pria itu menembakkan peluru tepat di dahi dan di jantungnya.  Tatapan keduanya saling menghujam. Seorang ayah membunuh darah dagingnya demi menyelamatkan posisinya. Benar-benar pria yang kejam, pikir Handoyo sambil menahan sakit dan menunggu malaikat datang menghampirinya.


Mengapa ia yang  harus kalah dan ditembak oleh pria yang berkuasa itu. Apakah impiannya musnah dan misinya diketahui?" Mengapa ia tidak menyiapkan strategi dengan baik?"


Aku yang seharusnya  membunuh dirimu, Jendral  Suhartono.... terlebih wanita itu, aku yang harus membereskannya. maafkan aku Big mama... maafkan aku  yang gagal, tapi kenapa aku tidak mengetahui kenapa bisa gagal?"


Aku tidak boleh gagal... tapi...  tunggu itu seperti Nadya yang tergeletak di lantai . Oh .. tidak ... itu benar-benar Nadya... aku telah  gagal bahkan mengakibatkan Nadya juga tertembak. Bodoh...!"


Aku gagal lagi menyelamatkan temanku. Aku gagal. Handoyo menangis dalam tidurnya dan  merasakan sakit di dadanya dan tubuhnya makin kaku, dan ...


 


----


 


 


Suara lagu  yang diputar  di televisi  itu membangunkan Handoyo dari mimpi buruknya. Handoyo segera bangun dan langsung  duduk di sofa.  Ia  berusaha mengingat mimpinya. Benar-benar aneh, mengapa ia bisa memimpikan pria itu dan keluarganya. mengapa ada Nadya di mimpinya, dan mengapa Ibu Aleesha dan Jendral gaffar itu bisa bertengkar.


Handoyo meraih air mineral di atas meja. Ditenggaknya karena ia merasa sangat haus,seolah melakukan perjalanan jauh.

__ADS_1


"Mengapa aku bisa memimpikan pria itu dan keluarganya?"  Gumam Handoyo pelan. Wajah pria yang sedang memimpin negeri ini kenapa bisa sering hadir di mimpinya. Dan mengapa pula Nadya bisa hadir di mimpinya, apakah karena tadi aku berbicara dengannya di telephon.


Atau apakah aku bermimpi ini karena Ibu Aleesha mempengaruhinya? Ah tidak dia memang mendukung semua perkataan wanita itu. Ini bukan pengaruh yang buruk tapi salah satu penguat untuk menggapai mimpinya untuk mengetahui siapa keluarganya. Tapi... Handoyo kembali resah.


"Mengapa juga bukan Lidya yang hadir di mimpiku?" Sudah berapa lama Lidya tidak mengunjungiku dalam mimpi?"  Handoyo terdiam dan merenung.


Semenjak Nadya menemani ke Semarang dan kunjungan tugas ke Medan, Dia tidak pernah memimpikan Lidya sekalipun. Apakah ia sudah menggeser Lidya dari hatinya?" Ah tidak wanita itu cuma sahabat seperti Jessy dan yang lainnya.


Handoyo bingung akan mimpinya dan terlebih yang membuatnya marah, Mengapa sekarang ia tidak memimpikan Lidya lagi, apakah dia sudah melupakan Lidya? Sudah  berapa lama dia seperti ini. Dia masih merenung duduk di ruangan itu.


Bagaimana jika ia menemui Jessy dan bertanya pada wanita itu. Ia memiliki keahlian lebih? Tapi bagaimana jika masyarakat mengetahui bahwa dirinya sudah keluar penjara.  Handoyo merasa bingung dan  resah atas mimpi buruknya.


Ia harus berhasil dalam mencapai impiannya. Hingga seorang motivator di televisi tiba -tiba muncul dan seolah menguatkannya.


Ingatlah....Seharusnya kita yang mengendalikan hati dan perasaan kita. Jangan pernah kau membaliknya, hati dan perasaan seseorang  yang mengendalikan hidupmu !"


 


 


*****


 


 


 


 


Happy Reading Guys. Semoga kalian tetap sehat dan masih membacanya. Terimakaih atas kebaikan hatinya dan mohon tinggalkan jejak untukku, temans.    Thanks a lot, guys !"


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2