
Cinta itu tidak sekedar diucapkan dan mampu mendengarkan, melainkan diperlukan saling memahami satu sama lain, Cinta itu tak sekedar berjanji, melainkan juga membuktikan arti sebuah cinta.
*****
Warmen segera keluar dari mobilnya ketika Thomas sudah menyelesaikan laporan tugas penyelidikannya dan berhasil dalam menemukan Anneke. Warmen sudah membayar uang muka pekerjaan Thomas dan berjanji melunasi pembayaran hasil pekerjaan Thomas pada besok siang dan dilakukan transfer ke rekening Thomas. Keduanya berpisah tidak lama setelah laporan itu dianggap oleh Warmen selesai.
Mata Warmen langsung beralih ke arah pintu toko ketika ia melihat ketiga sahabat keluar dari toko. Ketiganya masih bercakap-cakap dengan serius hingga akhirnya Lirasati yang meninggalkan Anneke dan Devon menuju mobilnya. Saat ini pandangannya tidak beralih dari Devon dan Anneke yang sedang berbincang di depan toko selagi Devon masih mengunci pintu utama toko.
"Von.... malam ini kamu gak usah antar aku... kan dekat kost aku!" Jangan khawatir, aku gak bakalan kenapa-kenapa dan ini jalanan masih ramai ko, " Bujuk Anneke pada Devon.
"Gak papa, Ne... Aku antarin kamu pulang ya... kan besok kamu juga belanja banyak, gak baik bawa uang banyak , jalan kaki ke kost dan kamu besok masih harus belanja barang untuk...
Bagi Warmen, Mata Devon berbinar menatap Anneke. Dia tidak rela jika orang lain menatap istrinya seperti itu. Sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan dan itu sudah mulai menyulut emosi Warmen. Awalnya ia ingin menyapa Devon baik-baik tapi mendengar tawaran pria itu pada istrinya ikut melukai harga dirinya sehingga ia berkata cukup tegas dan membuat keduanya reflek menoleh dan membuat Anneke terkejut ketika melihat Warmen. Saat itu juga Anneke melihat ada sebuah tatapan marah dari pemilik suara itu.
"Devon, tidak perlu repot mengantar Anneke.... biar saya yang mengantar istri saya pulang dan kemanapun dia ingin pergi," Sahut Warmen yang sudah berdiri di belakang mereka berdua.
"Bang Warmen.... ko bisa tahu Anneke disini?' Devon terkejut melihat Warmen yang tadi siang ada di televisi sekarang ada di depannya.
"Aku pasti bisa menemukan kemanapun istriku pergi dan kuharap kamu dapat sadar posisi bahwa tidak baik terlalu dekat dengan wanita bersuami, "Sahut Warmen tegas dan masih menatap penuh permusuhan pada Devon.
"Tapi Anneke tidak menginginkan kehadiran abang lagi... dia mau menata hidupnya, Bang ! " jadi sebaiknya abang biarkan dia memulai semuanya dari awal lagi," Devon berkata dengan penuh ketegasan karena ia mengetahui betapa terlukanya Anneke ketika melihat Warmen di televisi yang menjadi pengacara si Cepot.
"Kurasa itu urusan saya dengan istri saya dan pihak luar tidak bisa ikut camput,... kamu siapa? hanya teman saja dan berupaya merintis toko bersama.... sudahlah jangan suka ikut campur urusan orang lain!" Warmen berkata sinis dan menatap sebelah mata pada Devon.
__ADS_1
Anneke yang melihat kedatangan Warmen yang memang mengejutkannya terpaksa tersenyum pada Devon. Ia tidak ingin ada keributan diantara kedua pria itu. Mereka sedang berada di tempat umum dan Anneke merasa bisa menyelesaikan masalahnya dengan Warmen.
"Von... sudahlah... aku pulang jalan kaki saja, besok pagi-pagi kita bicara sebelum kamu ke kampus,' Bujuk Anneke pada Devon yang mulai menunjukkan ekspresi khawatirnya.
"Kamu yakin,Ne... tak masalah aku mengantarmu dulu jika kau tidak merasa nyaman dengan Bang Warmen," Ujar Devon sambil menatap Warmen dengan tatapan berani dan itu dianggap sebuah tantangan oleh Warmen.
"Kamu istirahatlah, Von.... Bang Warmen tidak akan menyakitiku, von... terimakasih ya dan selamat malam," Anneke melangkah berusaha meninggalkan toko dan berjalan kaki menuju kostnya.
"Anneke yakin dan nyaman bersama saya, suaminya dan kumohon kamu tahu batasan sebagai seorang teman.... kita pulang Ne," Sahut Warmen sambil menarik Anneke menuju mobilnya.
"Aku tidak mau pulang ke rumah abang lagi... aku mau ke kost... Teriak Anneke sambil berupaya melepaskan tangannya dari Warmen.
"Ya ...kemanapun kamu mau pergi , aku yang antar. sekarang masuk mobil dan tunjukkan jalan ke kost kamu!" Sahut Warmen santai.
Anneke dimasukkan Warmen ke dalam mobil hitam milik Warmen dan pria itu langsung mengunci otomatis sehingga membuat Anneke tidak bisa meninggalkannya. Warmen tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Devon.
Devon hanya memperhatikan keduanya dengan canggung. Sangat aneh jika dirinya terlibat dalam pertikaian suami istri itu. Biarlah mereka menyelesaikan masalahnya dahulu, pikir Devon dalam hati. Besok aku akan menanyakan pada Anneke.
Gang pertama dari toko, mobil itu berbelok. Warmen bingung, dimana letak kost itu hingga Anneke bersuara menyuruhnya berhenti. Anneke langsung keluar dari mobil Warmen tanpa kata dan memasuki sebuah rumah yang cukup besar.
Rumah kost itu memiliki halaman cukup besar sehingga Warmen memasukkan mobilnya ke halaman rumah itu dan ketika ia selesai parkir ia melihat di pintu samping rumah itu, Anneke menunggunya. Bergegas menghampiri istrinya yang terlihat tidak menyukai kedatangannya
Warmen sendiri sesungguhnya merasa agak kesal pada Anneke, seharusnya ia yang marah pada wanita yang meninggalkan dirinya tanpa pamit dan membuatnya tidak bisa tidur beberapa minggu ini dan memikirkan Anneke dan anak dalam kandungannya.
Namun perasaan marah itu berganti dengan sebuah perasaan hangat dan bahagia karena bisa melihat wajah istrinya yang menunggu dirinya didekat pintu samping rumah kost. Sesungguhnya wanita itu mudah dan selalu bisa dibujuk jika dia mengalah, pikir Wamen dibenaknya.
Anneke sedang menunggu di pintu samping menuju kostnya dan ia menatap serius pada pria yang sedang menghampirinya.Ditatapnya tajam pria yang sudah beberapa waktu tidak dilihatnya. Pria yang menyakiti hatinya begitu dalam dan memilih menjadi pengacara dari pembunuh ayah dan kakaknya.
__ADS_1
"Mari kita buat beberapa kesepakatan, Tuan Warmen Amsterdam Sitompul" yang terhormat, Yang petama, ini adalah kost perempuan, jadi kamu hanya bisa menemuiku sampai batas pintu ini! yang kedua, mohon tidak mengganggu urusanku dan teman-temanku, yang ketiga mohon segera bereskan perceraian kita dan aku hanya mau berbicara denganmu jika membahas perceraian, Selamat malam!" Anneke langsung berbalik dan berusaha meninggalkan Warmen yang terkejut dengan segala perkataannya.
"Hei, Anneke sayang... mau kemana kamu.... dengarkan dulu abang ya!" yang pertama, abang akan menemui pemilik kost ini kalo perlu abang akan bertemu dengan semua pengurus RT dan RW disini, bahwa abang mau menginap di kamar istri abang yang sedang marah, yang kedua abang tidak akan mengganggu teman-teman istri abang kecuali dia berupaya menikung dari abang.... dan abang akan berupaya menjadi teman kalian juga, dan ini yang paling penting adalah yang ketiga dan ini yang paling terpenting bagi abang, tidak ada istilah cerai diantara kita, jadi please.... udahan ya marahnya!" Bujuk Warmen sambil tersenyum jahil.
"Ih apaan sih... abang pulang sana!" jangan ganggu Anne lagi, ... Anne sebel sama abang... Anne gak mau jadi istri abang lagi... Anne lebih baik menjadi janda dan membesarkan anak ini sendirian. jadi abang sekarang pulang aja!"
"Abang akan menginap di kamar kamu atau di sofa itu tapi sekarang juga abang akan temui pemilik kost kamu, karena abang mau nginap dimana ada istri abang !'
"Abang.....lepasin gak," Teriak Anneke ketika Warmen langsung memeluknya erat.
" Gak mau....Maafin abang, dulu ya... yuk kita ke pemilik kost biar mereka tahu bahwa abang suami Anne," Warmen berkata santai."Anne.... abang kangen banget sama Anne.... bagaimana anak abang disana? dia rewel dan nyusahin kamu gak," Warmen berkata sambil memeluk istrinya erat dan tidak mau melepaskan
*****
Happy Reading Guys..... Terimakasih telah berbaik hati membacanya, Bolehkah tinggalkan jejak disini?" Thanks a lot.
__ADS_1