Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
105. Tiding


__ADS_3

Seberat apapun hidupmu, jangan pernah berfikir untuk berbuat jahat pada orang lain. Tuhan mengetahui rencana apapun yang kau perbuat.


*****


Anneke sedang menonton TV bersama Nicky ketika Warmen datang karena ia baru pulang bekerja malam hari itu. Seraut wajah lelah hadir di wajah suaminya itu. Tetapi suaminya masih tersenyum hangat pada mereka, terlebih kedatanganya disambut Nicky yang langsung segera berlari memeluknya. Pria kecilnya benar-benar merindukan papanya.


Mereka masih tinggal di kawasan Depok. Cukup jauh dari kantor Warmen, namun hari ini Warmen lelah  bukan lelah fisik karena jauhnya kantor dari rumah. Telepon dari sang sahabat membuatnya harus melakukan tindakan ekstra untuk mengamankan keluarganya.


Sore tadi sebelum Warmen pulang dari kantor, Ana, sekretarisnya menyampaikan pesan bahwa ada kolega dari Semarang yang menghubungi dan meminta berbicara di telpon. Koleganya itu bernama Adiguna. Waktu kerjanya sebenarnya telah selesai, namun Nama Adiguna yang meminta bicara secara pribadi dan katanya ini mendesak.


Warmen  awalnya gembira ketika mendengar nama Adiguna alias Handoyo sang sahabat yang menghubunginya. Ini pasti ada hal penting yang berkaitan dengan pertemuan terakhir mereka di Rumah Sakit beberapa waktu yang lalu. Mungkinkah sudah ada titik terang berkaitan dengan keluarga Handoyo. Suara istrinya memecahkan lamunan pendeknya, dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan Anneke sebelum menuju ke kamar mandi.


"Abang... mau mandi dulu atau makan dulu, kami sedang menunggu abang untuk makan bersama!'


"Baiklah abang mandi dulu... Nicky, kamu bantu mama menyiapkan makan malam kita ya, Amang mau mandi dulu!"


"Siap Amang..."


Nicky mengikuti mama Anne yang menuju ke dapur menata meja. Sementara Warmen memasuki kamar mandi untuk mandi. Ketika air dingin mengguyur tubuhnya. Ingatannya kembali melayang pada pembicaraan mereka di  telephone  dengan sang sahabat.


" Selamat malam Pak Adiguna," Sahut Warmen dengan riang.


"Malam Pak Warmen... maaf aku mendadak menghubungimu... tapi ini harus kulakukan karena ini demi keselamatan keluargamu...!"  Adiguna berusaha berkata tenang, karena ia mengetahui tabiat Warmen yang memang gampang meledak.


Teman baik Handoyo  ini tipikal yang kerja cepat dan terkadang emosional. Adiguna harus menyampaikan informasi ini dengan baik.


"war... aku baru dapat info bahwa dari organisasiku, ada keluarga Nicky dari Inggris  yang akan datang ke Jakarta untuk membereskan Nicky.... apakah kau membutuhkan bantuanku untuk menjaganya?"


"Maksudmu? Nicky anakku Han?'


"Hemm...


"Kau tidak bermain-main kan dengan kata-katamu?'

__ADS_1


" Tidak, bahkan aku memiliki  beberapa foto, ada foto Nicky dengan Melinda dan keluarganya di Inggris dan juga ada foto Nicky dan istrimu yang tengah mengandung di sebuah toko alat tulis.... aku sangat terkejut melihatnya... Tapi harga untuk Nicky itu gila-gilaan, kau tidak boleh sembarangan menjaganya, kurasa aset Nicky di Inggris sana sangat banyak hingga ada tawaran besar untuknya.  Kau tahu.... Jika ada yang berhasil membawa Nicky hidup-hidup, orang yang membawanya akan mendapatkan 500.000 Pounsterling, tapi Jika membawa Nicky dalam keadaan tidak bernyawa, maka harganya diturunkan di 100.000 Poundsterling. Dan kau tahu War....aku baru saja menolak tawaran itu karena begitu mengetahui bahwa yang ditawarkan itu adalah anakmu, langsung kuminta pada ketuaku, bahwa anak itu dibawah pengawasanku... cuma aku tidak begitu tahu, takutnya, keluarga Nicky mengalihkan penawaran ini dan dilimpahkan pada kelompok lain.... aku ingin kau menjaganya baik-baik... baru 2 hari lagi aku ke Jakarta untuk membantumu... gimana ?"


"Busyet..... berarti yang dikatakan Melinda itu benar, Han... kali ini kau yang benar-benar harus membantuku... aku tidak ingin ada apa-apa dengan mereka. Besok Nicky dan Anne akan kupindahkan... aku minta perlindungan polisi malam ini sampai kau datang!'


"Jangan bawa polisi dulu... nanti aku gak bisa bantuin kamu., War"


"Oh iya... aku minta bantuan Thomas dan tim-nya, dia itu juga pernah membantuku menemukan Anneke, ketika menghilang dulu."


"Kau yakin ia bisa dipercaya?"


"Ya... sudah beberapa kesempatan dalam menangani kasus ia yang membantuku."


"Baiklah..... satu lagi, ada info lainnya tentang istrimu.... ini tentang Akhsan, kakak istrimu sedang mencarimu di rumahmu yang lama... cuma mungkin dia menunggu waktu menemuimu di kantor... tapi aku belum mengetahui tujuan dia mencarimu."


"Apakah dia juga menawarkan uang lagi. di organisasimu?'


"Tidak... dia cuma menemui Jendral Gaffar dan meminta bantuan untuk menemani dalam menemuimu... karena ia tahu ayahnya dekat dengan Jendral Gaffar dan kudengar ia membicarakanmu."


"Dia akan membantu Akhsan menemukan kamu, tapi harus dengan perdamaian dan meminta kalian bersaudara untuk saling menjaga dan tidak saling bermusuhan."


"Ohh.... berarti Gaffar itu orang baik."


"kurasa juga begitu sih.... Sebaiknya kau sambil mengurus istrimu, kau bisa mencari kesempatan menemui Akhsan... saat ini dia menginap di Hotel Asri di kawasan Jatinegara.... kau tahu itu?"


"Ya... aku tahu... thank bro!"


"Oke... tunggu aku 2 hari lagi menemui... mungkin kau harus bicara pada istrimu... agar ia tidak marah lagi padaku."


"Ya aku akan mengaturnya."


Gedoran dan panggilan dari luar pintu kamar mandi oleh Nicky, membuat Warmen mempercepat mandinya. Segera ia berpakaian dan menghampiri pria kecil yang sudah tidak sabar untuk segera makan bersama.


Begitu pintu kamar mandi dibuka, Warmen langsung menggendong Nicky dan membawanya ke meja makan. Disana, Anne telah menunggunya dengan makanan yang sudah tertata di meja.

__ADS_1


"Ne... besok kamu dan Nicky ikut aku ya ke kantor." Warmen berusaha menyampaikan dengan tenang pada istrinya.


"Besok... ada apa bang? Tumben ajak kita ke kantor.. tapi besok aku rencananya akan mengajak Nicky melihat sekolah baru... gak jauh sih dari sini.!"


"Nanti saja... kita akan menemui saudara kita... maukah Ne?"


"Saudara... keluarga dari abang? Siapa bang...?"


"Besok kau juga akan mengetahuinya, Ne.... oh iya, nanti kita akan jalannya agak ramai, karena aku meminta pengawalan dari Thomas dan tim-nya , abang mendapat ancaman dari kasusku yang akan sidang , jadi agak ramai dan sedikit tidak nyaman untuk kalian berdua .. jadi kumohon kau tidak keberatan ya, jika ada beberapa orang yang mengawal kita."


"Apakah itu ancaman termasuk untuk aku dan Nicky, bang?'


"Ya... begitulah...  sudah ya, mari kita makan yuk!"


Warmen berusaha menetralkan ketegangan yang sudah hadir di raut wajah Anneke.


"Bang... apakah tidak bahaya, jika kita keluar nanti...apa tidak sebaiknya kita di rumah saja?" Anne agak takut, mana sekarang Anne sedang hamil besar... semoga tidak ada apa-apa dengan kehamilan ini."


"kita akan baik-baik saja dan kita akan pergi ke rumah aman...mungkin jam 3 pagi ini, Thomas dan timnya akan menjemput kita, habis ini kita membereskan pakaian ya Ne, dan beberapa barang penting yang harus kau bawa!"


"Bang...kenapa ini terasa agak menakutkan ya?"


"jangan takut... aku pasti menjaga kalian ... aku pastikan kamu dan Nicky aman, dan kita akan kembali ke kehidupan normal setelah kasus ini beres... kumohon percayalah padaku!"


"Aku percaya sama abang... aku dan Nicky percaya sama Amang...!"


"Terimakasih, Ne..!"


*****


Happy Reading Guys, Terimakasih telah berbaik hati membacanya.


Bolehkah kalian tinggalkan jejak disini? Thanks a lot ya.

__ADS_1


__ADS_2