Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
35. Al dalam Investigasi


__ADS_3

Aku  melindungimu dengan cara yang   berbeda meski aku tak bisa selalu ada untukmu!"


 


 


 


*****


 


Connan Room, Lantai 10, Markas Besar Kepolisian RI


Pagi ini Tim 5 berkumpul di meja tengah. Arief masih fokus membaca berkas tulisan yang dibuat oleh tim-nya. Suasana terasa tenang karena mereka begitu serius mengerjakan tugas dengan jatuh tempo waktu yang semakin mendekat/


Target mereka sebelum 6 bulan, "Cepot Berdarah " harus ditangkap.  Mereka harus bertindak cepat karena "Cepot Berdarah" bisa bertindak kapanpun. John dan Zaenal  sedang menganalisis foto-foto penumpang di Bandara. Pramono sedang menulis hasil wawancara final dengan Akhsan yang masih membantu kepolisian mencari bukti-bukti keterlibatan Handoyo di Lampung.


Ballawa memperhatikan teman-temanya yang masih sibuk bekerja. Ia harus jujur pada tim-nya dengan resiko di keluarkan dari tim penyelidikan elit ini. Tapi sanggupkan  ia  jika kelompok elitnya dilepaskan, bagaimana jika ayah ibunya di kalimantan sana kecewa pada keputusannya.  Ia menempuh pendidikan kepolisian dan bersedia menerima bantuan dari kepala suku dayak.


Apakah tim-nya akan menyalahkannya karena sudah sejauh ini mereka menyelidiki "Kasus Pembunuhan Cepot Berdarah". Apakah tim-nya akan mencela dan memandang remeh dan mungkinkah ia dikeluarkan dari kepolisian karena kebodohan dan tidak netralnya dirinya dalam profesionalisme kerja.


Terdengar teriakan John yang bersukacita dan memberikan bukti bahwa di Makasar ada foto Handoyo yang berada di Bandara dan hanya kontrak pekerjaan pendek yang tidak mengharuskan bahwa pria itu harus ada di Makasar selama jangka  waktu 1 bulan. Kontrak itu hanya bernilai 10 hari tetapi berbeda dengan jumlah hari kedatangan dan kepulangan Handoyo dari Makasar.


" Akhirnya  Kita bisa sergap si Handoyo ini, Rief.... ini fix... "Teriak John dengan ekspresi gembira.


"Benarkah?"  Tanya Arief.


"Kau Baca file ini... memang kita tidak punya saksi mata yang melihatnya dan kita tidak punya senjata Handoyo, tapi minimal kita bisa memanggilnya dengan meminta penjelasan mendetail mengenai kunjungan dia di Makassar, habis... dia... tapi yang aku heran, apakah benar dia  selalu bekerja sendiri?" Aku gak yakin semua bisa dilakukan sendiri...


"Pram... gimana data keuangan dia?"  Bank sudah kirim salinan rekening dia?" Kayaknya aku sudah buat surat permohonan di tiga bank pemerintah atas nama Handoyo...


"Sudah... tapi yang atas nama dia... kenapa rekening di Bank ABC ini ko tidak spektakuler... hanya rekening gaji dari perusahaan sebagai teknisi alat berat.... rasanya bukan uang... atau dia memiliki nama lain dengan bank yang lain?"  Sahut Pramono heran.


"Ball... kamu kenapa? "ko diam saja.... biasanya ide-ide kreatifmu suka muncul...ada apa denganmu belakangan ini?" kamu sakit?" Tanya Aried pada Ballawa yang terus diam mendengarkan pemaparan anggota tim-nya dan hanya duduk diam memandang anggota tim 5.


"Teman-teman... kayaknya aku harus mundur dari tim ini... "Ballawa  berkata pelan dan membuat teman-temannya yang semula sibuk pada pekerjaannya menjadi perhatian pada Ballawa.


"Kenapa Bal?" Katakan siapa yang mengintimidasimu?" John bertanya dengan nada tidak suka.


"Aku harus menceritakan pada kalian....  maaf bukan bermaksud merahasiakan tapi akupun baru mengetahuinya, kemarin... aku tidak tahu bagaimana harus mulai bercerita... maaf..


"Hei...katakan yang benar, Bal... Jangan buat aku emosi,"  John yang tidak sabaran sudah mulai melempar kertasnya di atas meja.

__ADS_1


"Sabar John... kamu duduk dulu... kita dengarkan apa yang membuat Ballawa sampe berkata seperti itu," Sahut Zaenal sambil menepuk pundak John.


" Sewaktu aku ada tugas di Cilegon dua tahun yang lalu , aku ada melakukan pernikahan dengan warga sana...


"Hah... bukannya istrimu itu orang dayak?" Jadi kau punya dua istri?" John berkata sambil menggelengkan kepalanya dan membuat anggota tim-nya terkejut atas penuturan pria yang pendiam dan terkesan arogan.


"Ya begitulah... tapi di hari pernikahan keluarga istriku dari Kalimantan datang dan membatalkan pernikahan kami, aku karena demi menyelamatkan Jessy dan keluarganya, aku mematuhi permintaan keluarga besarku untuk membatalkan pernikahan itu... itu aku yang salah ...bukan kedua istriku...


"Jadi.... kau gagal malam pertama dong dengan istri barumu," Sahut Pramono dan disambut oleh tertawaan anggota tim-nya. "Siapa nama mantanmu itu ?"


"Jessy, " Balawa berkata pelan.


"gak nyangka kamu ya , Ball... ternyata kamu itu buaya juga!" bisa punya istri dua sebenarnya tapi kamu gak beruntung dan dibatalkan,"   Sahut Zaenal dan diikuti tawaan rekan se-timnya.


Ballawa hanya tersenyum singkat  dan membiarkan segala macam ocehan teman-teman se timnya.


"Terus... "Sahut Arief.


"Kemarin aku datang ke Cilegon..... karena mantan istriku yang tidak jadi kunikahi  itu melakukan bunuh diri, dan memang aku yang menyelamatkannya , dan ketika di rumah sakit, aku baru mengetahui, salah satu teman baik dari mantanku itu... adalah Handoyo, dan pria itu mungkin dalam waktu dekat akan menikahi mantanku itu...


'Jadi kau cemburu?" Sahut John pendek. "kau dikalahkan oleh seorang penjahat, Ball.... ha....ha...


"Bukan itu intinya teman... aku  sempat berkata pada Jessy, bahwa Handoyo adalah seorang pembunuh dan mungkin kita akan menangkapnya, aku akui aku tidak profesional..... aku hanya merasa bersalah jika tidak bisa meyelamatkan Jessy ... aku setiap malam memantau mereka... dan memang akan ada pergerakan Handoyo... karena kulihat dia menemui seseorang dan memberikan amplop coklat..... kemungkinan ada proyek lagi yang akan ditangani Handoyo.. tapi aku terlibat pada konflik kepentingan, kurasa aku harus mundur, rief?"


"Bener Rief,,. waktu penyidikan kita tinggal 1 bulan lagi, dan kita akan menangkapnya... Jangan biarkan Ballawa mundur... "Sahut Pramono.


"Aku juga suka bercerita pada istriku, betapa gilanya si cepot berdarah tapi bukan dengan nama tersangka sih... sudahlah bisakah itu dianggap sebagai obrolan suami istri?" Zaenal ikut bersuara dan ia tidak rela jika Ballawa muncur dari tim 5.


"Tapi Jessy bukan istriku... hanya wanita yang kubatalkan pernikahannya di hari pernikahan kami..." Sahut Ballawa pelan.


"Baiklah ketika kita ada penyergapan, maka dia ada di tim jaga saja, Rief.. dia gk bisa maju bertindak dan hanya bertindak sebagai analis masalah......    kuharap kau tidak membocorkan rahasia ini pada wanita itu , sudahlah lepaskanlah dia, Ball, jika memang dia berjodoh dengan Handoyo, kau tidak bisa melakukan apapun...   dia bukan urusanmu...."Sahut John lagi.


"ya begitu saja Ball... kita harus bereskan kasus kita ini... waktu terus berjalan dan tidak ada lagi kesempatan kita ganti tim... selain belum tentu cocok, tentu mencari analis gak semudah itu!" Sahut Arief pendek.


"Ya aku setuju juga jika Ballawa tetap bersama kita,"Sahut Pramono.


"Aku juga.... "Sahut Zaenal.


"Terimakasih teman-teman atas dukungan kalian.... Apakah pengamatanku harus dihentikan?" Ballawa bertanya dengan serius dan menatap pada keempat temannya.


"Tidak Ball ... penyelidikanmu terhadap Handoyo akan tetap jalan, Ball.... dan John yang akan mendampingimu ketika kau bertugas di Cilegon untuk pengamatanmu dan netralitas hasil penyelidikanmu...   Bagaimana John? Apakah kau siap membantu rekan kita ini?"


"Tentu saja kawan... jangan khawatir... ngomong-ngomong istriku yang ditinggal itu cantik gak?" John bertanya iseng dan disambut oleh tepukan di pundaknya oleh Zaenal dan Pramono.

__ADS_1


Ballawa  tertawa dengan hati tenang. Tugasnya akan tetap dilaksanakan dan misinya untuk melindungi Jessy tetap bisa dilakukan. Ia tak rela jika Jessy mendapatkan pria jahat dan tidak berperikemanusiaan.  Maaf Jessy, meski aku tak bisa disampingmu, aku tetap melindungimu.


 


 


*****


 


 


 


Happy Reading Temans...... Bolehkah tinggalkan jejak disini?" Thanks untuk kebaikan hatinya...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2