Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
103. Salahkah aku ingin dicintai?"


__ADS_3

Bagiku tak masalah, aku dipisahkan dari saudaraku yang lain ataukah diperlakukan dengan cara yang berbeda. Aku memang bukan anak yang baik,  Ada kalanya aku merasa membenci kalian tapi sayangnya dari hatiku yang terdalam aku teramat mencintai kalian!"


*****


 


 


Pramoedya memejamkan matanya di kursi tengah selagi mobil yang dikemudikan oleh Leroy melaju dari Semarang ke Jakarta. Sementara Ballawa hanya duduk di samping Leroy yang masih fokus mengemudi. Sementara Andre dan Dody yang duduk di kursi belakang sudah terpejam.


Cukup lelah, namun perjalanan ini harus dilakukan dan mereka telah ditargetkan oleh Ballawa bahwa  sore ini sudah masuk ke rumah pribadi Presiden.  Dan mereka sudah melaporkan juga ke Jendral Gaffar untuk mendukung rencana Pramoedya untuk  bertemu dengan  orang tuanya.


Andre sudah melaporkan kedatangan mereka ke satuan yang bertugas di rumah utama itu yang memang berada di kawasan elit di Menteng. Tidak sembarang orang bisa memasuki wilayah itu dan saat ini mereka sudah menunggu ijin dari kepala rumah tangga kediaman pribadi presiden. Meski mereka masih dalam perjalanan, hati mereka masih cemas karena mobil sudah memasuki perbatasan Jawa barat dan Jawa Tengah, tetapi keputusan dari kepala satuan tugas belum didapat.


Hampir setiap jam Pramoedya bertanya pada Andre, dan selalu mendapat jawaban yang sama.


" Apakah sudah dijawab oleh mereka, Dre ?' Pramoedya bertanya dengan mata terpejam.


Ada nada kuatir di suara Pramoedya.


"Belum mas... mungkin menunggu keputusan Ibu, katanya Ibu Tiara sedang ada rapat dengan kelompok Pengusaha Wanita di Hotel Indonesia, mungkin dua jam lagi akan selesai." Andre menjawab dengan sedikit frustasi, karena ia merasa tidak enak ditanya terus menerus oleh atasannya.


"Rapat mulu.... ingatkan mereka dua jam lagi!"


"Baik mas."


Pramoedya kembali terpejam dan saat ini ia menata hatinya. Ada rasa nyeri jika ia mengingat hubungan yang tidak baik dengan kedua orang tuanya. Dia menarik nafas dengan kasar. Ingatnya melayang pada peristiwa awal memburuknya hubungan mereka.


Dahulu dia tidak pernah menolak apapun yang dikatakan oleh kedua orang tuanya, Hingga ia kemudian menyadari dan merasa dipisahkan.


Pramoedya akhirnya mengetahui alasan dirinya dibedakan dengan saudaranya yang lain di rumah besar itu. Bayangan mata wanita ramah itu terasa berbeda dengan biasanya. Ibunya yang selama ini bersama dengannya menjelma jadi wanita yang berbeda di hari itu. Tiara  yang  biasanya berkata dengan penuh kelembutan menjadi wanita yang tegas dan tidak lagi tersenyum hangat padanya.


Saat itu ia diminta pindah tempat tinggal  ke rumah yang letaknya berselang 5 rumah dengan rumah utama Presiden. Ia akan tinggal terpisah dengan kepala rumah tangga yang baru , kamar yang baru dan lingkungan sekolah yang baru dan tidak boleh berbicara tentang keluarganya lagi.


 


"Ma, kenapa aku tidak boleh tinggal bersama mama dan papa lagi? Mengapa aku tidak diijinkan bermain dengan kak icha lagi, ma?"


"Kamu memang berbeda dengan Marissa!" Sahut Tiara dengan ketus dan setengah melirik anak lelaki di depannya yang berumur sepuluh tahun itu.


"Dengarkan aku, Pram... sudah cukup lama aku menahannya,  setiap melihatmu, aku merasa sakit di hatiku, aku sangat menderita dan marah... hal itu membuat penyakit hipertensiku tidak bisa sembuh, dan dokter bilang aku harus menyingkirkan sumber masalahnya... tahukah kau, apa sumber masalah penyakitku itu?'


"Apa ma?  Apakah itu disebabkan oleh aku, ma?" Ujar Pramoedya kecil dengan menatap wajah Tiara yang sedang menyisir rambut indahnya karena baru selesai perawatan.


"Ya... Wajahmu itu...  seandainya wajahmu tidak seperti itu, wajahmu mengingatkanku atas pengkhianatan yang dilakukan ayahmu dan wanita itu!"

__ADS_1


"Maksud mama?" Pramoedya terkejut mendengar penjelasan dari wanita yang selama ini dianggap sangat baik dan berhati malaikat, dia tidak menyangka bahwa wanita itu adalah bukan ibunya.


Wanita yang sering tersenyum dan menata rambutnya dulu, sekarang menatapnya dengan matanya yang besar dan penuh amarah.


Minggu lalu ketika ulang tahun ke 10 wanita ini menciumnya di kening lama sekali dan menghadiahkan sebuah jam tangan mahal untuk anak seumurnya. Jam itu bisa bersuara dan membantunya belajar bahasa Inggris. Sangat mewah untuk ukuran saat itu. Kebahagiaan langsung dirasakan olehnya dan jam itu juga tidak dimiliki oleh saudaranya yang lain sehingga membuat kak icha marah.


Tiara langsung menarik tangan Pramoedya dan mereka melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Tarikan tangan itu tidak seperti biasanya. Sedikit kasar dan menyakitkan. Ataukah dia yang memang lemah karena baru berusia 10 tahun. Tidak, itu tarikan kasar dari orang yang sedang marah.


Ketika memasuki ruang kerja itu, dia melihat ayahnya sedang menelpon seseorang dan berbicara sangat serius. Ayahnya seorang pemimpin negara dan begitu banyak urusan yang harus ditangani. Terkadang tidak banyak kesempatan untuk berbicara langsung padanya.


Tiara langsung meminta ajudan ayahnya untuk keluar, sehingga di ruangan itu hanya dirinya, ayah dan ibunya saja. Sang Ayah melihat ekspresi dirinya dan istrinya yang terlihat tidak sabar menunggunya dan bergantian sehingga ia segera mengakhiri percakapannya di telepon.


"Ada apa ?" Jendral Suhartono langsung berkata pada istrinya yang telah duduk didepannya dan kemudian baru beralih pada pria kecil yang juga duduk di samping istrinya. Pramoedya menatap penuh tanya pada ayahnya seolah meminta perlindungan dari pria yang berkuasa di negara in


"ini sudah sepuluh tahun berlalu, dan aku sudah menepati janjiku.... sekarang tinggal kau yang menepatinya....kau yang janji akan menjelaskan padanya!" Tiara berkata dengan tatapann mengintimidasi seolah meminta suaminya segera melakukan tugasnya.


Jendral Suhartono menarik nafasnya.  Sesungguhnya ia tak rela namun tatapan tajam istrinya membuatnya tak bisa mengelak atau memundurkan kembali. Sesungguhnya ia tak sampai hati mengusir anak yang berusia baru 10 tahun untuk tinggal terpisah meskipun ia masih bisa mengunjunginya.


"Baiklah.... "Suhartono berusaha menekan sedikit amarah dan kesedihannya. Ditatapnya pria kecil yang seolah menatapnya meminta perlindungan dari ayahnya. Dia yang salah tapi kenapa harus anak lelaki ini yang menanggungnya.


Suhartono berusaha menyusun kalimat untuk disampaikan kepada pria kecil yang masih kebingungan dengan kedua orang tuanya.


"Pram... kamu akan diminta belajar mandiri... jadi kamu akan tinggal di rumah khusus dan papa akan mengunjungimu setiap malam sebelum kamu tidur selagi papa ada di Jakarta, kamu tidak bisa tinggal di rumah ini lagi ya, Maafkan papa dan mamamu !"


"Iya pa...  tapi kenapa harus dimulai dari aku,?   Mas Bambang yang paling besar saja ada di rumah ini, tapi aku ini kan anak kecil kenapa tidak boleh tinggal bersama mama dan papa?"


"Tiara !" Suhartono terkejut dan agak marah mendengar perkataan Tiara.


"Kenapa? Aku yang berkata yang sebenarnya.... anak ini harus tahu diri, dimana letak anak dari keluarga baik-baik dan anak yang berasal dari hubungan terlarang.... kau sudah janji sepuluh tahun yang lalu dan kau janji juga akan membawanya pergi dari keluarga ini!"


Deg..


Ucapan itu cukup mengejutkan Pramoedya. Dia bukan anak dari Mama Tiara. Dia anak dari hubungan terlarang. Jadi ini sebabnya dia dipisahkan dengan kak icha.


Jendral Suhartono sedikit sakit hati atas ucapan istrinya,namun ia masih memendamnya. Tak mungkin ia menampar wanita ini. Sudah cukup banyak wanita ini membantunya hingga di posisi tertinggi di negara ini dan menahan perasaan untuknya. Ia harus bertindak tepat demi menyelamatkan darah dagingnya juga yang harus keluar dari rumah utama.


"Pram... maafkan papa, bukan salahmu... tapi papa mencintaimu juga seperti papa mencintai anak papa yang dilahirkan oleh mama Tiara... Gini Nak, meski kamu tidak tinggal di rumah ini, kamu tetap mendapatkan fasilitas pendidikan, kesehatan dan apapun yang sama dengan anakku yang lain, Om Gaffar akan selalu menjagamu dan merawatmu. Dia akan selalu melindungimu....


Hari itu Pramoedya keluar dari rumah besar itu dan tak pernah memasuki kembali. Dia seolah terhilang dari silsilah keluarga itu. Hanya Kak icha yang masih terkadang menghampirinya sepulang sekolah jika mama Tiara tidak di rumah dan menemaninya bermain. Terluka tapi apa bisa dikata, ini bagian nasibnya.


Ayahnya memang sering mengunjunginya di rumah barunya. Tetapi sesungguhnya ia merindukan Mama Tiara, tapi wanita itu tak pernah melihatnya sekalipun, Hari itu adalah pertemuan terakhir mereka. Ia hanya melihat Mama Tiara di televisi jika sedang mendampingi ayahnya tugas negara. Terkadang ia merindukan Mama Tiara tapi apa yang bisa dilakukannya jika sang ibu sudah tidak menginginkannya lagi. Semoga Mama Tiara sudah tidak sakit kepala lagi, karena terakhir dialah yang menyebabkan wanita itu sering sakit kepala.


Pernah bertanya tentang ibu kandungnya pada sang ayah, namun tidak ada jawaban yang berarti sehingga ia lelah menanyakan itu pada pria yang berkharisma itu. Hanya Kiyai Umar yang menjelaskan sedikit masa lalunya bahwa ibunya dimakamkan di taman belakang pesantren itu. Yona adalah ibu yang melahirkan dan tidak pernah dilihatnya.


 

__ADS_1


Deru mobil yang dikemudikan Leroy telah  berhenti. Pramoedya membuka matanya dan  ia melihat Ballawa telah turun dan  memasuki rumah utama itu. Mereka telah tiba di depan rumah kediaman Presiden dan hari telah gelap. Aturan protokoler harus dilakukan bahwa ia harus rapih memasuki rumah itu.Tidak berselang lama Ballawa kembali dan wajahnya terlihat gembira.


"Ayo Mas Pram... kita sudah ditunggu oleh Presiden!"  Ballawa langsung sumringah menyampaikan kabar itu padanya yang baru keluar dari mobil.


"Baiklah... kalian tunggu aku di rumah saja. Nanti aku akan hubungi kalian!"


"Baik mas," Sahut keempat anggota tim-nya dengan kompak.


Pramoedya memasuki rumah besar itu dengan hati berdebar. Ia mendapati rumah itu tidak jauh berbeda. Ia harus menuju ruang tengah dimana Ayahnya menunggunya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara wanita yang dirindukannya tapi juga dibencinya.


"Hei.... berani juga kamu datang kemari!" Sahut Tiara yang tiba-tiba muncul di belakangnya dan refleks membuatnya menoleh.


"Mama....


"hemm...  ayahmu sudah menunggu tuh....!" Perlukah aku disana, Pram?'


"Perlu ma.... apa kabar mama? Apakah sakit kepala mama sudah sembuh?" Pramoedya berkata pelan dan menatap Tiara yang berjalan melewatinya.


"Sudah tapi kayaknya hari ini akan muncul kembali!"


"Maaf mama.... aku membuatnya kumat kembali... kumohon, mama bisa membantuku...


 


 


 


 


*****


 


Happy Reading Guys.


Terimakasih telah membacanya. Bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini?" Love you guys!"


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2