Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
115. I am back !"


__ADS_3

Jika seseorang tidak peduli bahwa ia akan kehilanganmu, maka lupakanlah dia. Cari yang benar-benar peduli padamu !"


*****


"Jessy..." Alex terkejut melihat Jessy ada di pintu depan ruang tamunya.


Keterkejutan Alex bukan tanpa alasan mengingat tadi dia memberikan obat tidur pada  minuman  teh  yang diminum istrinya tadi sore.  Kenapa dia harus terbangun ketika ada serangan. Alex masih melihat orang di balik mobil yang terparkir diujung rumahnya dan ia masih sempat menembak sambil berlari ke arah Jessy.


Ups aku ternyata masih bisa. Meskipun usiaku tidak semuda Ujang ataupun Handoyo. Bisik Alex dalam hatinya.


Refleks Alex yang  berlari melihat Jessy sambil dia menembak ke berbagai arah untuk membuat perlindungan bagi dirinya dan teman-temannya terjatuh lebih dulu. Dia tidak boleh tertembak dan harus dapat menyelamatkan istrinya yang sedang mengandung.


Sedikit mengeluh karena Handoyo belum kembali ke posisinya setelah menyembunyikan Warmen, Anneke dan Nicky. Kemana dia? Harusnya rumah aman berikutnya tidak jauh. Rumah aman berikutnya adalah tempat tinggal Jenny.


Rumah Jenny itu  hanya ditempuh sekitar 15 menit jika harus  jalan  kaki. tapi mereka kan naik mobil yang baru mereka sewa kemarin. Rumah  Jenny yang tidak di jalan utama, tapi memungkinkan kendaraan masuk, karena gang menuju rumah Jenny itu cukup jika dilalui mobil. Apakah Jenny tidak mau dimintai pertolongan sehingga Handoyo berganti rencana. Berbagai pikiran berkecamuk di hati Alex.


Dia berlari dan pandangannya yang tidak fokus antara melihat musuh dan Jessy yang ada di dekat pintu, dan hatinya yang semrawut memikirkan Handoyo dan teman-temannya yang terjatuh. Membuat Alex terjatuh karena kerikil di depannya.


Brug...


Alex terjatuh dan tatapan matanya  tertuju pada Jessy. Wanita itu berteriak seolah dia yang terluka dan terlihat akan berlari menolongnya.


Alex mengangkat tangan kanannya dan menyuruh Jessy tetap disitu.  Namun suara tembakan kembali terdengar sehingga menghalangi suaranya. Alex harus bangun dan menyelamatkan istrinya. Kalo bukan dia siapa lagi. Dia tidak boleh terlihat para tentara itu.


Jatuhnya Alex bersamaan dengan tembakan dari arah belakang. Para pria yang berbaju hitam itu jatuh satu persatu tanpa diduga Seolah serangan balik dari belakang musuh.. Tembakan itu berlangsung sangat cepat dan tidak terduga bagi para tentara bayaran.


Delapan orang sudah dijatuhkan oleh Alex, Nadia dan Ujang dengan serangan mereka. Terlebih posisi para tentara itu sudah strategis sehingga agak sulit ditembak dari dalam rumah.  Dan sisanya masih ada empat belas orang yang bersiap menyerang mereka.


Empat belas orang yang awalnya masih berdiri mengelilingi rumah Alex  dan menyerang Alex, dan kawan.kawan, akhirnya berhasil ditembak dan terjatuh semuanya.. Ketika para ptia itu berusaha bangkit dan melarikan diri ke dalam mobil. semuanya mendapat peluru panas di kepala bagian belakang.


Dor...  Dor..... Dor....


Dor... dor ...dor.....


Burgh....


Akh... ****....  in your back, !" Teriak salah satu pria berpakaian hitam sebelum ia terjatuh.


Burgh ....

__ADS_1


Dor  ... Dor ... Dor...


Dor  .... Dor... Dor


Jatuhnya Alex tadi  membuat Ujang dan Nadia berusaha bangkit dan akan bersiap menembak dan menentukan arah target. Tapi semua penyerang sudah terjatuh.  Hanya satu orang yang berdiri di belakang sana. Dan itu adalah teman mereka. Adiguna alias Handoyo


Ujang dan Nadia tersenyum melihat kedatangan Handoyo.  Mereka sudah selamat . Adiguna sudah datang. Mereka menghampiri Handoyo yang terlihat  sedang memastikan  bahwa orang-orang yang  ditembaknya sudah tidak bernyawa lagi.


"hai... kalian baik-baik saja?" Sapa Adiguna sambil memperhatikan pria yang terbaring di tanah dekat tempatnya berdiri. Sudah tidak bergerak lagi pria ini. Adiguna tersenyum.


" Untung kau datang tepat waktu, tapi Kenapa lama sekali mas datangnya," Ujar Nadia begitu sudah berada di dekat Adiguna.


"Aku pasti datang, Kau belum mengetahui temanku yang satunya, itu... dia agak sulit jika menitipkan tanpa banyak kata... ya jadi maaf  aku agak terlambat.... dia marah dulu karena aku tidak menemuinya selama ini!" Adiguna berusaha menjelaskan pada Nadia dan Ujang. "Kalian terluka  parah ?" Gimana Alex dan Jessy?"


'Sedikit ... nanti kau cabut peluru di pahaku ya," Nadia berkata pelan. 'Ujang juga kena di bahu  !" kondisi Alex entahlah... tapi dia sudah bersama Jessy di dalam rumah."


"Ujang  bisa mengobatimu, Nad.. aku harus cari orang untuk membereskan kekacauan ini sebelum pagi " Adiguna terlihat mencari cari seseorang yang telah dimintanya untuk menemuinya di rumah Alex.


"Kau cari siapa?" Sahut Ujang sambil mengikuti arah pandangan Adiguna.


"Ada teman Alex yang bisa membereskan dengan cepat !" Kalian masuklah dan lihat juga Jessy...bantu Alex disana... kita harus bergerak, sebelum pagi. "


Adiguna memang  memanggil beberapa orang yang memang merupakan anak buah Alex dan telah menjadi kepercayaan dari Alex.   Para pria itu telah beberapa kali membantu proyek yang dikerjakan oleh Alex. Mereka  mengangkat beberapa orang yang terbaring di lantai dan sudah meninggal ke dalam mobil-mobil itu.  Mereka bekerja dengan sangat cepat dalam  membereskan masalah itu  Demikian juga mereka menyemprotkan cairan kimia sehingga jalan raya kembali bersih tidak ada noda darah.


Ujang yang masuk setelah membersihkan luka dan mengobati luka dirinya dan Nadia , memilih melepaskan beberapa alumunium di sekililing rumah Alex dan memasukan sampah-sampah itu ke dalam mobil. Tindakannya lebih baik dibandingkan harus melihat Alex dan Jessy .Dia tidak tahan melihat keromantisan mereka.


Sementara Alex sibuk menenangkan Jessy yang sedang marah akibat dia tidak menceritakan semuanya dengan detail. Jessy berfikir mereka berhenti saling menembak karena sama-sama terluka tanpa mengetahui bahwa seluruh penyerang telah tewas di depan rumahnya.


'Al... kamu kan yang bilang, bahwa kita akan selalu jujur satu sama lain... kamu bilang kalo terbiasa berbohong maka akan terus berbohong... jadi apa penjelasanmu!" Jessy marah sambil mengobati suaminya yang terluka di lengan dan kaki karena terjatuh tadi.


'Maafkan aku sayang... sudahlah... aku baik-baik saja... jangan marah lagi... nanti anak aku ikutan marah sama bapaknya!" Kita sudah selamat...!"


"Tapi kamu berbohong... kamu bilang pekerjaanmu halal dan tidak akan melukai orang!"


"Benar Jessy... aku tidak bekerja lagi seperti dulu, ini hanya membantu teman,  Kau juga mengenalnya kan, dia juga temanmu.... awalnya aku sudah menolak tapi Adiguna dan Warmen meminta tolong... kamu tega melihat temanmu terluka...  kamu tahu kan.. aku sangat loyal pada mereka." Alex berusaha membujuk istrinya itu dengan menciuminya." Aku janji ini pekerjaan terakhir dan habis ini aku benar-benar pensiun... aku jadi pedagang di pasar deh seperti mau kamu!"


'Aku tahu mereka itu temanmu, tapi aku sedang mengandung anakmu... aku tidak ingin dia tidak punya ayah dan apakah kamu membunuh orang tadi?" Jessy memperhatikan suaminya.


"Aku memang menembak ke banyak arah... entahlah... tapi kurasa mereka terluka saja tidak ada yang meninggal.. kau tahu itu hanya peluru yang membius mereka... biar saja, polisi yang menangani mereka besok!"

__ADS_1


"Kamu tidak bohong lagi, kan Al?" Jessy bertanya kembali.  "bagaimana besok jika para tetangga bertanya? Apa yang harus kita katakan pada mereka?"


'Tidak sayang... Besok aku akan mengatakan pada polisi yang sesungguhnya bahwa kita diserang  kelompok yang tidak dikenal dan  aku harus  tidak akan melibatkan  Adiguna, Warmen ataupun Ujang....  Aku yang akan menemui polisi, aku harus berkata bahwa aku memang melawan dan menunjukan surat kepemilikan senjata... jadi tenanglah. saat ini kami berusaha menghindarkan bukti -bukti bahwa  saat ini kami memasang banyak pengaman dan memindahkan Warmen dan keluarganya ke tempat aman demi keselamatan mereka sebelum persidangan.


"Astaga... kalian merencanakan banyak hal yang aku tidak ketahui... kapan kau buat rencana itu?" Apakah polisi tidak akan mencurigaimu? Bagaimana jika para tentara itu melaporkanmu ?"


"Mereka tidak akan melaporkanku, karena mereka tentara bayaran, pasti mereka juga menyelamatkan diri...masyarakat sekitar mungkin ditanya hanya mendengar peristiwa tembak menembak tapi memang tidak ada yang berani keluar rumah."


"Terus kapan kalian membuat rencana ini?"


"Tadi sore sayang kita memang membahasnya ... aku melihat ada beberapa orang gak dikenal memfoto-foto rumah kita... dan aku yakin rumah kita diserang malam ini... jadi salahkah aku membela diri... aku harus jaga keluarga dan teman-temanku!"


" Berhentilah kalian jadi sok pahlawan... sekarang mana Handoyo?" Apakah dia menjaga Warmen disana dan keluarganya disana?" Apakah Jenny tidak marah padanya?" Aku mau marah padanya juga!"


"Entahlah, mungkin Jenny masih marah karena kami meminta tolong mendadak dan malam-malam!" Kau tahu sendiri bagaimana Jenny!" Tadi Adiguna tidak ada di luar ketika di serang, mungkin masih disana!"


"Sekarang kita ke rumah Jenny, Al !' Aku harus marahin Handoyo juga!"


"Tidak... kita tidak boleh membuka tempat persembunyian mereka , sayang!" Dan jangan panggil nama itu!'


"Bagaimana aku memastikan Han... maksudku Adiguna  tidak  akan menembak orang lagi, Al?"


"Dia akan kemari sebentar lagi?" Sabarlah sayang... bagaimana jika kau bantu Nadia, dia sepertinya sedang kerepotan di dapur... emh aku agak lapar sayang...!" Alex berusaha mengalihkan perhatian Jessy dan meminta istrinya memasak. " Lapar sekali nih !"


"Baiklah aku akan masak bersama Nadia ... kau panggil Ujang dan Adiguna... suruh mereka makan bersama kita sambil ngobrol-ngobrol. "


"Oke sayang !"


"Al berjanjilah pada anak ini... kau tidak akan membunuh orang lagi... kalau tidak kau akan kehilanganku dan anak ini... serahkan masalah ini pada polisi... aku tidak mau kau terlibat lagi... ini yang terakhir!" Jessy mengultimatum Alex dengan sangat serius.


"Baik... baik aku janji.... asalkan Warmen bersama keluarganya berhasil bersaksi di persidangan dan mereka tidak menyerang di rumah ini ataupun rumah Jenny, maka aku tidak akan mengangkat senjataku, boleh seperti itu janjiku? Aku tidak sedang berbohong... itu janjiku padamu dan anakku!"


"Baik... kupegang ucapanmu... jika kau berbohong maka aku dan anakmu akan menghilang... jaga tindakanmu.... kau hanya boleh melakukan pembelaan jika kami dalam bahaya." Jessy memperhatikan mata hati Alex dan memastikan suaminya tidak sedang berbohong.


'Aku berjanji sayang!" Alex memeluk istrinya dan mengelus perutnya. 'Aku akan menjaga kalian dengan nyawaku dan aku tidak akan bergerak di kelompok itu kembali!"


*****


Happy Reading Guys! Terimakasih telah membacanya dan memberikan komentar/ hadiah /like padaku. Thanks a lot ya. Love you

__ADS_1


__ADS_2