Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
15. Hutang budi Handoyo


__ADS_3

Bukannya aku tidak mencoba untuk melupakanmu, tapi semakin aku mencoba maka  semakin kuat  aku berpura-pura melupakanmu, makin kehadiran dirimu dalam  setiap ingatanku semakin mendalam.


******


Rasa sedih, marah dan kehilangan bercampur di hati Handoyo. Dia terdiam memandang isi kamarnya yang polos. Dulu di kamar mereka di Lampung, Lidya selalu membersihkan kamarnya dan  ada foto-foto dirinya dan Lidya yang menghiasi kamarnya.


Setiap sudut kamar di rumah ada bunga segar yang dipetik Lidya dan  ditaruh di kamar. Harum aroma bunga selalu ada. Sekarang, Tidak ada apapun di sini. Untuk apa aku hidup. Aku sendirian, Lidya. Untuk apa aku bekerja keras kayak orang gila, tapi tak ada kebahagiaan di hidupku.


"Lidya..... bagaimana aku bisa hidup jika kamu terus membayangi hatiku..... aku belum siap mati...dosaku masih banyak, LIdya....aku harus apa?"


Hening.


... denting jam mulai terdengar.


Akh....


Handoyo berteriak sendirian dalam kamarnya. Handoyo merasa dirinya benar-benar menyedihkan. target hidupnya untuk membunuh Andi Setiono sudah tercapai. Apa lagi? Dia mati sekarang? Perlukan melakukan penebusan dosa? Menepi diri di biara seperti di film-film kungfu idolanya. Ah... Bullshit semua.


Kenapa harus takut mati?


Bukannya jika aku mati, Lidya pasti aku dapat menemui Lidya?


Mati.....hal yang mudah, Bro ..... tapi bertahan hidup dan sukses itu adalah hal yang keren. Ucapan Warmen Amsterdam Sitompul , tiba-tiba terlintas di kepalanya. Kau harus buat keluargamu di surga bangga melihatmu!"  Tembak mati di kepala memang selesai. Tapi bagaimana jika kau temui mereka dan mereka sedih atas tindakanmu yang tidak membanggakan. Handoyo , Kau harus bangkit dari keterpurukanmu !"


Apakah aku lebih baik mati dengan cara yang keren? Cara mati apa yang membuatku terkenal se -Indonesia? Biarkan semua orang mengenalku dengan keahlianku. Apa itu? Penembak ulung? Penembak misterius? Penembak bayaran? atau pekerja jujur yang ramah.


Hening.


Handoyo masih berfikir ketika telephone rumahnya tiba-tiba membangunkan lamunannya di dini hari.


Kring.... Kring....

__ADS_1


Suara telephone rumah berbunyi. Waktu masih menunjukkan pukul 1.15 dini hari. Ini pasti telephon penting. Tapi siapa? Handoyo membiarkannya. Dirinya tidak mempunyai keluarga ataupun satu orangpun yang akan kehilangan dirinya jika musibah menimpanya. Warmen kah? Dia tidak mengetahui nomor telephone rumah ini.


Handoyo bangkit menuju ruang tengah rumahnya dan mengangkat telephone rumah itu.


"Hallo...


"Mas handoyo, Aku Deasy... aku anak pak prawiro...." Suara perempuan itu setengah terisak dan Handoyo berkerenyit mengingat nama Deasy.


Deasy... Deasy ... Deasy  anak Prawiro .   Aku tak mengenal Deasy, Aku hanya mengenal suami istri Prawiro.  Tentara yang menjadi sahabatku di Lampung.  Anak prawiro dulu masih kecil, mungkin SD. aku tak pernah mengenal Deasy.  Prawiro adalah salah satu orang baik yang membantunya selama masih sekolah di Lampung. Tentara ramah yang tegas dan sering menolongnya semasa  dia masih tinggal di Panti  Asuhan dengan memberi pekerjaan paruh waktu.


"ya Deasy... aku tahu. ... Ada apa kamu menelponku malam-malam?" Handoyo mulai memperhatikan ucapan penelpon dengan serius.


"Ayah memintaku untuk menghubungi mas handoyo.... ayah bilang, bisakah mas handoyo, ke Lampung segera... Ayah ingin ketemu.... ayah bilang takkan lama lagi bisa bertahan menunggu mas Handoyo.... kemarin ayah kena serangan jantung yang kedua , mas!'


"Aku berangkat sekarang.... ntar siang, aku sudah di rumah sakit. Kamu sampaikan pada Pak Prawiro ya!"


"baik mas... emh.....terimakasih atas niatannya.


"ya.


Telephone ditutup dan Handoyo segera membereskan perlengkapannya. Ia akan tinggal di Lampung beberapa hari dan ia ebrfikir sekalian nyekar makam istri dan mertuanya.


*****


Rumah Sakit Umum Daerah di  Lampung.


Handoyo melangkah menuju kamar perawatan di ruang melati 2B. Pak Prawiro adalah seorang sahabat  yang pertama kali mengajarinya menembak.  Sahabat yang mengajari keberanian dan mengenalkan pada gurunya sehingga ia menjadi ahli menembak. Handoyo merasa berhutang budi pada pria itu. Mungkin ia akan diminta membantu biaya pengobatan pak Prawiro. Akh tak masalah ,sekarang uang mudah didapatnya.


Tiba di ruang yang melati 2B. Handoyo terdiam di depan pintu.  Dilihatnya Ibu handoyo dan perempuan yang berumur sekitar 15 tahun berdiri di samping ranjang rumah sakit. Akh pak Prawiro yang biasa kuat sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Bantuan selang oksigen melilit di tubuhnya. Belum lagi ada mesin pacu jantung di sekitar ranjang psien.


"Nak handoyo ... oh akhirnya kau bisa datang  ... sini masuk," Suara bu Prawiro menyapanya hangat.

__ADS_1


Handoyo tersenyum dan melangkah masuk. Dilihatnya pria yang dulu pernah gagah dan membantunya semasa masih berdinas itu terbaring lemah. dan hanya mampu menggerakkan matanya.


"Hormat pak!" Handoyo memberikan penghormatan dengan meletakkan tangan kanannya di samping kepala.


Pria itu hanya bisa tersenyum dan berusaha mengangkat tangannya. Tapi tubuh tua yang sakit itu tidak bertenaga dan terkulai lemas.


"Han....  "Bisiknya lemah.


"Ya Pak.."Handoyo berkata pelan dan menghampiri ranjang itu.


Handoyo berdiri di samping ranjang Prawiro terbaring.Cukup sedih melihat pria yang dianggapnya kuat dan sering menolongnya menjadi pria yang tidak berdaya. Handoyo menggenggam jari pria tua yang dulu begitu kuat dan kekar. Pria yang menjadi panutan di hidupnya.


"Tolong aku.... bolehkan aku meminta tolong padamu ?"


"Apa yang bisa kulakukan untuk bapak?" Handoyo berkata lirih.


"Kami tidak punya tempat tinggal... rumah dinas harus ... harus dikembalikan  ke negara.... anakku yang pertama, Si Alfian menghilang di Jakarta  .... dan anakku yang kedua, Deasy  masih sekolah... kami tidak punya biaya....bisakah kau bantu kami?" aku sakit dan aku mengabaikan keluargaku... "Ujar Prawiro sambil menangis menyesali kesalahannya.


"Saya bisa membantu .... tenanglah pak... saya ada rumah yang tidak ditempati di Lampung.... dan biaya hidup... saya bisa membantu untuk biaya hidup atau berobat.... saya bisa bantu cari Alfian untuk Bapak.... Sekarang Bapak cukup konsentrasi pada kesehatan...agar Bapak cepat pulih...


"Terimakasih..... maaf aku merepotkanmu... maaf ...aku....aku berusaha mencari anakku.... hingga aku menggadaikan uang pensiunku untuk mencari Alfian... aku yang salah pada istri dan deasy...." Prawiro berkata sambil melirik anak dan istrinya yang sedang menangis haru.


"Pak Prawiro... saya yang akan bantu Bapak... dari dulu Bapak banyak membantu saya... sekarang ijinkan saya membalas kebaikan bapak.... anggaplah saya anak bapak juga... jadi jangan sungkan pada saya," Ujar Handoyo menenangkan hati keluarga Prawiro.


"Bagiku... bantu cari tempat tinggal untuk Ibu dan Deasy....biarkan Alfian dengan dunianya.... tolong biayai Deasy sekolah hingga ia bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup kami... jika kau tidak keberatan.... kau boleh jadi wali nikahnya.... aku tidak mau Alfian yang menjadi walinya.... " Prawiro berkata dengan penuh penekanan di sisa-sisa kekuatannya.


"Jangan kuatir pak Prawiro... Anda yang akan jadi wali nikah Deasy... anda harus semangat... hidup itu penuh perjuangan... jangan menyerah," Ucap Handoyo tulus.


Pria yang terbaring di ranjang itu tersenyum memandang Handoyo,berganti memandang istri dan anaknya seolah mengucapkan selamat tinggal. Lalu ia memejamkan mata. Dan terlelap menuju keabadian.


Dua wanita di samping ranjang itu berteriak histeris, dan Handoyo dengan tenang mengucapkan doa untuk pria baik di hidupnya. Ia harus menjaga kedua wanita ini sesuai permohonan terakhir dari pria yang dulu juga pernah menolongnya di masa sulit. Hutang budi harus dibayarkan.

__ADS_1


*****


Happy Reading Guys.... Bolehkah tinggalkan jejak kalian di sini. Thanks ya semuanya.


__ADS_2