Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
88. Teman atau ...?


__ADS_3

Percayalah akan langkahmu, dan bertindaklah!" Kamu akan berhasil.


*****


Pagi hari itu Viana sudah tiba di kediaman Handoyo. Ia membawa 6 stel jas berwarna gelap yang digunakan oleh pria itu selama bekerja di kantor. Pesan Ibu Aleesha pada Viana adalah ia harus mendampingi Adiguna dan menjadikan Adiguna menjadi lebih sadar akan posisi barunya.


Wanita itu sudah menunggu Adiguna selama 10 menit. Menurut assisten rumah tangga ia, pria itu baru bangun dari tidurnya dan sedang mandi.


Setelah beberapa saat, Adiguna keluar dari kamarnya dan sudah rapih menggunakan kemeja hijau tangan panjang.


"Selamat pagi Pak Adiguna !" Sapa Vania ketika Adiguna keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Pria itu otomatis terkejut dan langsung menyapa hangat padanya.


"Eh.. Selamat pagi Viana, kamu ko pagi-pagi sudah tiba di rumah ini... ada apa ?" Handoyo berbalik arah menuju ruang tamu dimana Viana sudah menunggunya.


"Kemarin sore, Ibu Aleesha meminta saya membeli beberapa jas untuk bapak gunakan selama bekerja di kantor ... ini saya sudah ambil semua yang berwarna gelap dan saya mengambil warna netral  karena bapak sudah menggunakan kemeja hijau,  berarti akan cocok jika menggunakan jas yang hijau ini, pak!" Bagaimana jika bapak mencobanya dahulu... semoga pas ukurannya, tadi saya hanya memperkirakannya saja dan saya sudah berpesan pada tokonya jika tidak pas ukuran,akan menukarnya," Viana berkata sambil mengeluarkan jas hijau dari kantong baju yang membungkus tiap jas.


"Baiklah..!" Handoyo mengambil jas yang diberikan oleh Viana dan mencobanya ditubuhnya.


Viana menatap jas yang sudah dipakai oleh Adiguna. Dia tersenyum puas. "Sepertinya pas ukurannya, Pak ... emh apakah bapak merasa nyaman dengan jas itu?" Saya bisa menukarnya jika bapak tidak puas berkaitan pakaian bapak... tapi ini dari toko boutique langganan Ibu Aleesha,"


"Vi... ini sudah oke, maaf merepotkan kamu...!" Apakah setiap hari  jika kerja di kantor aku, harus menggunakan jas? " Apakah tidak boleh menggunakan hanya kemeja saja?"


"Benar pak, terlebih jika bapak ada beberapa rapat yang harus bapak pimpin. Saya sudah menyiapkan materi rapat, nanti jam 13.00 bapak akan memimpin rapat hari ini bersama para  manajer Diamond, emh... pesan ibu, Aleesha  adalah agar  bapak mempelajarinya terlebih dahulu, sebelum memimpin rapat !"


"Baiklah ," Sahut Handoyo pelan. "kamu sudah sarapan, Vi?"


"Sudah pak... setiap pagi saya akan kemari untuk menjelaskan tugas-tugas bapak dahulu sebelum kita ke kantor," Viana menjelaskan. "Oh iya pak... pesan ibu Aleesha lagi, saya diminta membuat jadwal temu untuk bapak, dimana 3 hari lagi bapak diminta untuk menemui Jendral Gaffar di markasnya? " bagaimana pak, apakah bisa saya atur pertemuan itu?"


Handoyo tersenyum mendengar ucapan Viana. Ini selangkah lebih cepat dari perkiraannya. Ternyata enak juga dari pimpinan, tidak perlu pusing mengatur jadwal dan memikirkan bagaimana menemui Jendral Gaffar. Tapi syukurlah Ibu Aleesha sudah memikirkan semuanya untuk memudahkan langkahnya. Semoga ini akan berhasil baik.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya, Vi. Kabari aku jika semua sudah siap!" Handoyo berkata pelan dan mampu didengar oleh Viana.


*****


Rapat awal yang dipimpin Adiguna hari itu benar-benar sukses. Para Manajer tidak ada yang menyangka bahwa pria yang memimpin rapat hari itu adalah orang baru dan tidak pernah memimpin suatu perusahaan. Ia adalah orang yang terbiasa bekerja di lapangan.


Semua begitu kagum pada pemikiran Adiguna dan disampaikan dengan baik ke para manajer, dan membuat mereka semua terkesima. padahal semua materi rapat itu disiapkan oleh Vania yang memang merupakan tangan kanan dari Ibu Aleesha.


" Pak Adiguna, masih ada jadwal  bapak di hari ini, sesungguhnya ini permintaan khusus dari  pengacara ibu Aleesha berkaitan dengan  pengalihan aset,  ..  jadi masih ada satu pertemuan lagi dengan salah satu pengacara ibu Aleesha sekitar pukul 17.00 , bapak akan menemui pengacara itu  dan membahas masalah perjanjian kerja dan pengalihan beberapa aset kepemilikan dari Ibu Aleesha ke bapak... mungkin Pak Dede akan menjelaskan1'


"Pak Dede?"    Adiguna terkejut mendengar nama yang dikenalnya . " Dede Muhandar maksudmu?" Adiguna terkejut ketika mendengar nama Dede Muhandar yang akan menemuinya. Dede Muhandar adalah pengacara yang membantu dan mendampingi  proses hukum sebelum Handoyo  divonis.


"Benar pak?" Apakah bapak mengenalnya ?" Vania jmenjawab pertanyaan Adiguna dengan sambil merapihkan berkas berikutnya yang harus dipelajari pimpinan barunya.


"Tidak , aku hanya pernah menontonnya di televisi!"


"Iya pak... beliau semakin terkenal setelah kasus Cepot berdarah disidang... mungkin satu jam lagi beliau datang, saya akan menyampaikan pada bapak jika beliau sudah datang,"


Viana mengangguk dan pamit meninggalkan ruangan Adiguna. Setelah Viana pergi , Handoyo duduk di kursinya. Ia menghela nafasnya perlahan dan matanya menatap layar komputer dan terdapat beberapa folder disana. Meskipun ia tidak ahli dalam penggunaan komputer, tapi ia pernah mempelajarinya sekilas.


Semua yang dilakukan Adiguna di kantor ini  adalah berkaitan dengan pekerjaan administrasi dan menggunakan kemampuan otaknya.  Pekerjaan ini cenderung membosankan, padahal baru hari pertama Handoyo bekerja dan menyamar sebagai Adiguna di kantor ini.


Duduk di kursi ini, membaca, presentasi adalah  bagian dari pekerjaan halus, hal yang berbeda dengan apa yang dijalaninya selama ini. Sesungguhnya ia tidak suka di ruangan ini, tapi bayangan untuk mengetahui asal usulnya membuatnya mau melakukan semua perkataan Ibu Aleesha. Benar-benar dunia yang berbeda.


Ketukan di pintu mengalihkan lamunan Handoyo. Viana muncul dan memberitahukan bahwa Dede Muhandar sudah datang. Dia mengabarkan bahwa Dede datang bersama rekan kerjanya yang bernama Alex, makin membuat Handoyo lebih bersemangat.


Kedua tamunya dipersilahkan Vania duduk di sofa dalam ruangan kerja itu. Setelah Vania keluar, Handoyo tersenyum dan menyapa hangat.


'Selamat sore, maaf kami mendadak datang di sore ini, pak Adiguna!"  Ujar Pak Dede membuka percakapan awalnya ketika mereka bertemu.

__ADS_1


"Oh tidak apa-apa pak Dede, saya senang sekali kalian bisa datang kemari, emh... apakah kalian berdua diminta Ibu Aleesha untuk menjelaskan semuanya padaku?"


"Tentu saja Pak Adiguna, ini ada beberapa hal yang harus dibahas, tapi mungkin sebelumnya bapak pelajari dahulu dan jika setuju, kita akan bahas dipertemuan selanjutnya,"


Handoyo melihat pintu ruang kerjanya yang telah ditutup oleh Vania ketika wanita itu keluar dan ia menarik nafas lega.


'Akhirnya ada juga orang yang kukenali di pekerjaan ini!" Handoyo tersenyum menatap kedua tamunya.


"Wah pak Adiguna... sangat berbeda dan santun... jauh dari gambaran Handoyo yang selama ini kukenal," Sapa Alex santai."Gimana kabarmu?" Apakah nyaman duduk di kursi itu?"


"Bang Alex, jika bukan karena Ibu Aleesha yang memintanya, aku tidak mau disini, ini kulakukan untuk membalas budinya.."  Aku benar-benar bahagia kalian bisa datang dan menjumpaiku, aku merasa lelah bersandiwarra... apakah kalian juga bekerja di gedung  ini?"


"Sabarlah... untuk melangkah ke depan dibutuhkan proses... kau harus mampu duduk di kursi itu, " Alex berkata dengan bijak.


"ya... gimana kabar Jessy, Bang Alex ?"  Maaf aku tak bisa hadir ke pernikahan kalian...!" Mungkin aku masih di Nusakambangan ketika kalian menikah... Aku turut berbahagia atas pernikahan kalian "


"Tenanglah Han , dia istri yang baik dan setia, dan ia tidak mengetahui kamu sudah keluar, jika ia mengetahui dan aku tidak mengabarinya dia bisa marah besar ," Alex berkata sambil tersenyum. " eh, sudahlah jangan dibahas, ntar dia tahu dan membaca mata hatiku,  aku harus membiasakan memanggilmu Adiguna.. biar tidak terlepas di depan umum."


"Ya, mari kita bahas dulu masalah kedatangan kita berkaitan dengan permintaan Ibu Aleesha untukmu Adiguna...kau sunggguh beruntung!" Kau cuma perlu duduk di kursi itu dua tahun dan kau boleh bebas melakukan aktifitasmu yang kau mau!"


"Benarkah ?"   Jelaskan yang kau maksud beruntung itu."    Adiguna mulai berkonsentrasi pada penjelasan Dede Muhandar dan manggut-manggut mengenai apa yang akan didapat jikadia tetap duduk di kursi itu.


Rasanya memang akan sebanding dengan apa yang didapatnya,tapi apakah aku mampu duduk dan bertahan di kursi itu selama dua tahun ?" Apakah mimpinya  yang buruk itu satu pertanda gagal?" Semoga tidak .Aku adalah seorang pekerja lapangan tapi apakah aku akan bertahan duduk disitu ?"


*****


Happy Reading Guys!"


Bolehkah tinggalkan jejakmu disini ?" Thanks a lot ya!"

__ADS_1


"


"


__ADS_2