Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
142. Empati kah?


__ADS_3

Aku tak bisa berjanji bisa mengatasi semua masalahmu namun akan kujanjikan kita akan selalu menghadapi masalah itu bersama


*****


Pagi hari, Warmen sedang meneliti berkas di kantornya ketika ada yang mengetuk tanpa rafu dan langsung memasuki ruangannya.Seoalh sudah familiar hadir ke ruangan milik Warmen, pria itu masih belum mengatur nafasnya.


Ektan terburu-buru memasuki ruangan kerja Warmen dengan setengah berlari dan terkesan mengetuk pintu sembarang. Pria itu masih menetralkan nafasnya dan Warmen cukup terkejut melihat kehadirannya di ruangan kerjanya tanpa pemberitahuan.


Ektan adalah salah satu orang kepercayaan Warmen yang  saat ini memang bekerja di dinas militer sebagai staf  luar biasa kepolisian dan diperbantukan menjadi salah satu asisten Kapolri yang berhubungan dengan Istana Negara.


Saat masih sekolah, Ektan yang pintar tapi berasal dari keluarga kurang mampu, merasa berhutang budi pada Warmen yang selalu membantu keluarganya bahkan Warmen sering mengirimkan biaya untuk kuliah  sehingga ia bisa kuliah administrasi negara di  sebuah Universtas  Indonesia.


"Tumben... kamu kemari, Tan ?" Ada apa? Kenapa kau harus berlari-lari kemari?" Ujar Warmen yang belum hilang rasa terkejutnya melihat kehadiran Eksan ke kantornya tiba-tiba.


"Bang.... gawat... ini gawat!' Ektan masih terdengar belum dapat mengatur nafasnya.


"Duduklah dulu, Tan...  setelah tenang , kau ceritakan pada abangmu ini  !" Warmen bangkit dari kursi kerjanya dan menarik Ektan untuk duduk di sofa.


Ektan kemudian mengambil air mineral yang ada di meja dan menenggaknya sekaligus.  Ia memilih duduk di samping Warmen dan mereka saling bertatapan . Ia masih menata  hatinya dan Warmen hanya memperhatikan dalam diam. Ditatapnya pria yang berumur tujuh tahun lebih muda dari padanya.


"Sudah tenang kau?'


"Ya Bang... Maaf... aku membuatmu terkejut.... aku cukup shock mengetahui apa yang terjadi di istana."


"katakan yang jelas, Tan!" Jangan buat abangmu ini bingung!"


"Hari ini  ada rapat mendadak, Presiden mengundang beberapa menteri yang penting.... istana diserang semalam dan Jendral Gaffar meninggal dalam rangka melindungi Presiden dan keluarga.....  bahkan ibu negara sedang keadaan tidak sadarkan diri ... diduga pelaku adalah anak-anak Presiden yang berkelahi dan membuat keluarga istana terluka.... aku diminta Bapak Kapolri untuk mencari orang -orang yang akan memback-up berita agar masyarakat tidak mengetahui berita sesungguhnya... dan aku tak tahu harus mencari siapa bang  jika tidak menghubungi abang... bantu aku bang!" Aku bingung harus cari siapa? Apakah yang dimaksud dengan orang ayng bisa membantu meredam berita itu...


Warmen terdiam dan dia benar-benar terkejut mendengar berita itu. Keluarga istana diserang. Apakah pelakunya Handoyo? Apakah ini saatnya bertindak? Apakah ini saat untuk membuka penyamaran ini? Apa yang harus dilakukannya?


'Bang... Bang Warmen," Ektan heran melihat sikap Warmen yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


'Ya... sebentar biarkan abangmu ini berfikir...  Orang yang untuk memback up itu apa maksudnya... Ini masalah krusial... jika salah berkata dan bertindak, kita sebagai orang kecil... habislah.. tapi kalo memback up kau harus undang orang televisi yang memang pandai membuat berita dan menghibur masyarakat... kalo memang masalah hukum ...memang bidangku... apakah tim lawyer Presiden sudah menyerah?"


"Tidak sih bang... mungkin itu maksud dari pimpinanku.... baik bang... terimakasih, saya akan menemui kepala televisi nasional... tapi saya tidak bercerita langsung... saya akan menariknya ke kantor agar tidak salah bciara."


"Nah gitu dong.... cepatlah bertindak, biasanya berita akan bergerak cepat!' Lakukan tugasmu dengan baik."


"terimakasih bang... saya pergi dulu menceri direktur televisi dan berbicara dari hati ke hati demi keamanan nasional ," Ektan berpamitan dengan penuh semangat dan hatinya mendadak tenang setelah bertemu dengan Warmen.


Hal yang berbeda terjadi pada Warmen. Pikirannya kalut. Bagaimana keadaan Handoyo? Apakah dia terluka ? bagaimana ia menolongnya? Kapankah ia harus mengeluarkan kartu trufnya dan memposisikan sebagai penasihat hukum sahabatnya itu.


'Handoyo... semoga kamu baik-baik saja!" Bisiknya pelan.


*****


Suhartono melihat keadaan Tiara yang masih belum sadarkan diri di ruangan perawatan. Kehadirannya untuk melihat keadaan istrinya yang terluka parah  akibat serangan dari kelompok "Elang Hitam".


Satu hal yang membuat dia sulit bergerak adalah itu melibatkan keluarganya. Ia harus menyelamatkan semuanya. Biar bagaimanapun Adiguna adalah anak lelakinya dan Nadia adalah menantunya. Apa yang harus dilakukannya mengingat Pramoedya adalah anak yang memang pernah berada digendongan Yona untuk menyelamatkan Adiguna.


Tidak ada Gaffar membuatnya kehilangan sosok sahabat yang selalu mendebatnya dan memberinya berbagai alternatif. Apakah ini menuju kejatuhannya? Pernah ada peramal yang mengatakan padanya, bahwa Tiara adalah kunci kesuksesannya jadi apapun yang terjadi, dia harus membuat Tiara bersamanya. Akh tidak ada ramalan yang benar, itu hanya kebetulan saja tapi memang ia tidak membiarkan Tiara meminta cerai dan mengabulkan semua permintaan wanita itu.


"Tiara... Maafkan aku... Maafkan aku yang suka melukai hatimu... dia juga anakku... aku harus melindunginya juga... kamu pasti mengerti aku!" Cepat sembuh ya sayang!" Suhartono mengecup kening Tiara lama dan kemudian ia pergi meninggalkan ruang perawatan Tiara.


*****


*


Pukul 17 05 di Stasiun Berita Televisi Nasional Indonesia (TNI) , Jakarta.


Dua Penyiar Top Nasional sedang duduk bersama  Ektan dan  Bambang Susanto, Direktur TNI untuk mengarahkan berita dari istana negara. Mereka sedang memilih kalimat yang tepat dan segara akan mengabarkan berita itu ke masyarakat Indonesia. Keduanya fokus bertanya dan meminta persetujuan Ektan berkaitan dengan berita yang akan disampaikan beberapa menit ke depan


Inke Marisa dan Yasir Den Ahmad adalah dua penyiar televisi nasional Indonesia yang bertugas menyampaikan berita Nasional ataupun dunia dalam berita. Keduanya dipanggil khusus dan akan menyampaikan Berita dari Istana yang pastinya akan menggemparkan sesaat lagi.

__ADS_1


_Satu .... Dua .... Tiga.... Siap semuanya.... Kamera Satu ...  Ya!"


"Selamat malam Pemirsa TNI, Saya  Inke Marisa ... dan


"Saya Yansir Den Ahmad akan menyampaikan berita Nasional yang terjadi hari ini di Istana Negara."


"Dini Hari tadi, tepatnya pukul 3 pagi , Istana Negara  di serang oleh kelompok "Elang Hitam" pimpinan Steven Sanders dan Adiguna . Serangan itu mengakibatkan Jendral Gaffar dan 4 orang anggotanya meninggal di tempat kerena mereka harus menyelamatkan keluarga Presiden.  Akhirnya  serangan terhadap Keluarga Presiden berhasil digagalkan oleh ke lima pahlawan kita, meski mereka harus kehilangan nyawanya.  Hal yang cukup menggembirakan adalah seluruh keluarga Istana dalam keadaan sehat terutama Presiden masih bisa memimpin negara ini. Hanya saja Ibu Tiara, masih membutuhkan perawatan dokter. Untuk itu , kami berharap , seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan kesembuhan dari Ibu Tiara yang masih terbaring sakit."


"Untuk sementara kendali keamanan negara diambil alih oleh Presiden dan menunggu pemberitahuan lebih lanjut mengenai siapa yang akan menggantikan Jendral Gaffar. Untuk pelaku penyerangan sedang dikejar oleh komando tentara Nasional yang bekerjasama dengan kepolisian. demikian info sementara hari ini, selamat malam.


*****


Suara mesin  jantung di ruangan perawatan tiara berdetak kencang saat berita tentang penyerangan keluarga istana di TNI ditayangkan.


Nit.... Nit..... Nit............Niiiiiiiittttttttt...


mesin di ruangan Tiara berbunyi nyaring dan membuat dokter jaga yang berada di ruang depan perawatan utama segera berlari dan melihat keadaan sebenarnya.  Dokter Pudji dan dua perawat yang sedang bertugas segera berlari meninggalkan ruang tengah yang memutar berita itu dan melihat keadaan Ibu Tiara.  Mereka sangat khawatir karena pesan Presiden harus bisa memulihkan Ibu Tiara.


Mesin itu menunjukkan kondisi Tiara yang tidak baik-tut....baik saja. Seperti kejang otot dan Dokter Pudji segera mengambil alatnya dan berusaha menetralkan keadaan . Satu suntikan obat penenang diberikan dan pasien mendadak tenang kembali.


'ibu kenapa? "Ayo Ibu...kita semua mendoakan ibu cepat sehat," Dokter Pudji berusaha mengajak pasiennya ngobrol. "Kami semua mendoakan ibu cepat sehat lho... tadi Bapak Presiden juga sudah kemari dan mendoakan kesembuhan ibu... ayo semangat bu!"


Dokter Pudji memeriksa nadi Tiara . meski mesin tidak berbunyi lagi dan keadaan lebih baik, tapi ia tahu ada yang tidak beres dengan kondisi pasiennya. ia bergegas menghubungi Profesor Ramses selalu kepala Rumah sakit dan meminta keluarga Tiara untuk hadir, karena menurutnya harusnya keadaan Tiara tidak lama lagi.


"Semoga nasib kita tetap baik-baik saja , jika Ibu Tiara kenapa-napa!' Ujar Dokter Pudji dan kedua perawat yang mendampinginya sama-sama cemas mendengar perkataan dokter pudji dan mereka tahu artinya.


"Ayo ibu Tiara... ibu pasti bisa sembuh... ayo bu!" Seru satu perawat yang berdoa akan kesembuhan Tiara, karena ia juga kuatir jika wanita ini kenapa-napa, bisa berdampak dengan karirnya.


'Profesor akan kemari 5 menit lagi!" Seru Dokter Pudji pelan.


****

__ADS_1


Happy Reading Guys.


Terimakasih telah berbaik hati menungguku, Selamat menjalani hari dan tetap jaga prokes, ingat lakukan yang terbaik selagi kamu mampu. Bolehkan temans tinggalkan jejak di sini, thanks ya!


__ADS_2