
"Hal terindah dari sebuah persahabatan adalah memahami dan dipahami, tanpa pernah memaksa dan ingin menang sendiri.”
*****
Medan, di tahun 1995.
Tugas pertama Nadya dan Handoyo dalam tim, dapat dikatakan berakhir dengan sukses. Kelompok Sasongko berhasil dibereskan dan tanpa jejak. Mereka akan menunggu berita yang dimuat di surat kabar hari ini.
Handoyo masih di dalam mobil. Ia menunggu Nadya yang sedang membeli koran dan sarapan pagi mereka di pinggiran jalan TB Simatupang. Setelah membereskan kelompok Sasongko dengan rapih, mereka harus segera meninggalkan kota medan dan telah berganti kendaraan di tempat yang diminta oleh Steven.
Mereka menghindari bandar udara yang memang pengawasan lebih ketat. Akibatnya mereka memilih jalur darat yang memang lebih lama dan harus berganti mobil sewaan selama 3 kali untuk menghindari pemantauan polisi. Semua sudah dipikirkan Steven sesuai perintah yang tertulis dalam amplop coklat yang diberikan pada Handoyo sewaktu mereka masih di Semarang.
Pintu mobil dibuka dari luar dan Nadya memasuki mobil sambil membawa beberapa tengtengan. Handoyo hanya melirik koran yang dipegang oleh Nadya. Saat ini ia belum terlalu lapar, tetapi rasa ingin tahunya terhadap tugas yang kemarin sore dilakukan mereka dan dilaporkan kepada Wartawan
"Sabar ya mas Han... aku tahu kau menanti ini, Ayo sambil jalan... aku akan membacakannya untukmu!" Nadya tersenyum sambil mengangkat dua koran dan menggoyang-goyangkan koran itu sambil melihat Handoyo yang terus melirik koran yang dipegangnya.
Pria itu tidak menjawab dan langsung menjalankan kendaraannya. Ia sesungguhnya sudah mendengar berita dari radio tapi tidak memuaskan jika belum membaca koran.
"Berita utama hari ini, Harian Medan Post" 18 orang tewas dengan sangat mengenaskan!" Nadia memulai membaca berita utama dari salah satu koran yang dibelinya. " Sasongko dan keluarga besarnya selagi berpesta merayakan suksesnya panen sawit dan mendapatkan investor dari Singapura, Siapa sangka, mereka semua akan tewas mengenaskan dalam peristiwa tembak menembak di malam itu. Selepas makan malam pukul 20.00, seseorang masuk mengendap ke rumah keluarga Sasongko dan menembak tanpa ampun, dan anehnya yang kena tembakan hanya 18 orang yang merupakan bagian inti dari keluarga besar Sasongko.,Saat itu para tamu undangan sedang menikmati hidangan di ruang tengah dan semua langsung telungkup di lantai, hanya keluarga dan pengawal utama keluarga itu yang dinyatakan tewas ditempat. Belum diketahui siapa pelaku kejahatan itu, Polisi sedang menyelidiki peristiwa ini dan nanti malam di Medan berlaku jam malam dimulai pukul 19.00. Warga kota Medan diminta tetap di rumah masing-masing dan tidak melakukan aktifitas lainnya kecuali mendesak dan membawa surat-surat yang berkaitan dengan keperluan tiap orang."
"Mas Han...ini koran kedua juga gak jauh beda ko isinya ," Judulnya Pembunuhan Sadis di kediaman Pengusaha Sawit Sasongko " ... mas Handoyo yang baca sendiri aja nanti setelah sarapan..." sekarang aku mau makan dulu, lapar !"
"ya.... ntar setelah makan, kamu yang nyetir ya !" Sahut Handoyo pelan.
"Oke, aku nyetir mungkin sampe Padang Sidempuan, kalo kuat ya Mas Han... ntar kita nginap di daerah situ saja !" Nadya berkata sambil mengunyah menu sarapan pagi mereka. Nasi Soup Medan dan ayam goreng. Nadya begitu kelaparan dan langsung makan dengan tanpa ragu.
Handoyo hanya fokus menyetir dan ia berusaha membantu Nadya agar tiba di Padang Sidempuan malam ini, Tugas mereka akan berakhir tiga hari lagi bersamaan dengan acara yang akan dimulai oleh organisasi Elang hitam.
Mereka harus tiba di Jakarta tepat waktu sesuai dengan perkataan Steven dan dia akan diperkenalkan sebagai anggota baru organisasi. Keberhasilan misi ini tak lepas dari bantuan Nadya yang selalu mengingatkannya agar "on time ' dan mengatur langkah mereka sehingga semua target operasi tercapai. Satu hal yang paling membahagiakan Handoyo, dia sekarang sudah mulai mengetahui asal-usulnya yang sangat mencengangkan.
Setelah Nadya selesai sarapan paginya, ia meminta Handoyo meminggirkan kendaraannya. Wanita itu turun dari mobil dan berpindah ke posisi pengemudi, ia akan bergantian menyetir sampai kota berikutnya yang diperkirakan bisa mencapai 9 jam lagi.
__ADS_1
Hal pertama yang dilakukan Handoyo ketika Nadya mengemudi, ia membaca semua bagian koran itu sampai habis untuk menuntaskan rasa penasarannya. Hampir empatpuluh menit, Handoyo masih membaca koran itu tanpa henti dan terus fokus membaca hingga Nadya mengingatkan Handoyo untuk segera makan pagi.
"Mas Handoyo... ntar kita akan langsung ke pertemuan saja ya, jadi kita gak usah ke rumah big mama lagi?" Atau bagaimana menurut Mas Handoyo?"
"Apakah tidak apa-apa kita langsung ke pertemuan itu? " Apakah tidak ada waktu kita menemui Beliau dulu, Nad?"
"Ada sih... cuma mepet banget sih. Semoga perjalanan kita tidak macet, kita usahakan besok pagi sudah jalan tinggalkan padang Sidempuan ya mas!"
"Ya... " Handoyo menjawab pelan dan tak lama kemudian dia memejamkan mata karena mengantuk dan kekenyangan.
*****
Lelah menghampiri mereka Handoyo dan Nadya ketika pagi-pagi buta sudah tiba di Jakarta. Mereka memang semakin kompak setelah perjalanan mereka melakukan tugas pertama dengan keberhasilan dan saling memahami satu sama lain.
"Mas Han... mau gak sarapan pagi kita makan bubur ayam di dekat Blok M?" Enak banget dan pagi-pagi juga sudah antri saking banyaknya yang berminat ..., aku ingin sekali makan bubur disitu secara langsung dan menikmati sate ayam dan ampelanya itu lho," Ajak Nadya yang sambil membayangkan menu makan paginya.
"Baiklah ... tunjukkan jalannya,"
"Sudah nasibku atau mungkin saja itu diberikan secara otomatis karena ayahku yang tentara dan ahli senjata !" Handoyo berkata pelan dan mengingat sebagian cerita mengenai keluarganya.
"Apakah mas Handoyo sudah mengetahui dengan pasti keluarga mas Han? Apakah ayah mas Han adalah seorang tentara?"
"Itu hanya candaan saja Nad, aku menebak saja... lagipula tidak mungkin keahlian menembak atau sensitifitas itu diturunkan dari keluarga, menurutku itu hanya dengan berlatih juga bisa...!"
"Oh... kirain mas Handoyo mengetahui keluarga mas menurunkan keahlian itu!"
Handoyo terus mengemudi dan mengikuti arahan Nadya ke tempat bubur yang dimaksud. Hingga ia memarkirkan kendaraan itu di pinggir warung tenda tempat bubur ayam yang dimaksud. Nadya langsung turun dari mobil dan memesan bubur yang dimaksud.
"Nad, sebenarnya kesukaanmu itu makan pagi harus dengan bubur ayam ya?" Ujar Handoyo sambil duduk di sebelah Nadya yang sedang menanti bubur ayamnya di antar oleh pedagang buburnya.
"Sebenarnya aku suka semua makanan, tapi jika sarapan pagi, aku lebih suka makan bubur ayam, itu hangat di perut mas Han... untungnya kamu gak cerewet dan mau makan apapun, jadi kamu itu teman yang menyenangkan!"
Handoyo tertawa mendengar ucapan Nadya.
__ADS_1
"Aku suka lihat kamu makan, Nad. "
"kenapa ? tanya Nadya sambil menerima dua mangkok bubur dan sepiring sate ayam, ampela, ati dan usus.
:"Seneng aja... kamu makan gak pakai jaga image apapun dan apa adanya, serta kamu itu selalu melihat segala sesuatunya dengan positif." Handoyo berkata sambil mengambil sate ampela dan menggigitnya sebelum makan bubur ayam itu.
" Aku bisa seperti ini karena Big Mama... dia yang mengajariku semua, Mas han!" Kurasa kau akan mengerti setelah sering bertemu dengannya!" Dia seperti ibuku rasanya tapi... maaf," Nadya menghentikan ucapannya ketika melihat Handoyo terdiam.
"gak apa-apa... cerita saja, aku memang tidak pernah mengenal ibuku tapi dari ibu panti dan ibu mertuaku, aku merasakan rasanya diperhatikan seorang ibu," Handoyo berusaha tenang menjelaskan pada Nadya.
"Inilah satu kelemahanku mas Han... terkadang aku bicara suka kelepasan!" Nadya berusaha menjelaskan pada Handoyo untuk menetralisir suasana.
"Santailah Nad, aku sekarang makin mengenal dan memahamimu," Sahut Handoyo kembali.
*****
Happy Reading Guys!" Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini?" Thanks a lot ya!"
__ADS_1