Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
36. Biarlah berlalu!"


__ADS_3

Mungkin aku bukan siapa-siapamu, tapi kumohon percayalah.... aku ingin kamu berubah menjadi orang yang  lebih baik, karena kamu adalah sahabatku!"


 


*****


 


Handoyo  berada di luar kamar perawatan Jessy, Ia mendengar Jessy dan Jenny sedang bersendagurau membahas hal-hal yang tak penting menurutnya. Handoyo menggelengkan kepala mendengar tertawaan keduanya dari luar ruangan.


Di tatanya hati dan pikirannya agar tidak memikirkan pekerjaan dari Alex  yang akan dilakukan besok agar Jessy tidak mendengar suara hatinya. Wanita itu bisa mendengar apapun yang dibicarakan dalam hati. Aku harus mengalihkan pikiran, bisik Handoyo dalam hati.


Setelah lebih tenang, Handoyo melangkah memasuki ruangan kamar perawatan Jessy itu, untuk berpamitan dengan kedua temannya. Di tangannya ada sebuah keranjang buah untuk dinikmati mereka.


Sekalipun terkesan akrab pada Jessy dan Jenny, Handoyo tidak pernah menceritakan siapa dirinya dan bagaimana kehidupannya yang sesungguhnya. Ia menciptakan pribadi yang berbeda agar tidak diketahui kedua teman baiknya. Rasanya tidak perlu ada yang mengetahui siapa dirinya.


Jenny yang melihatnya memasuki ruangan , reflek langsung menyapanya dengan hangat. Membuat Jessy tersenyum melihat kedatangan  Handoyo.


"Akhirnya datang juga nih.... kupikir mas Han,  sudah berangkat kerja .... eh sudah makan belum... ini tadi aku beli di warteg depan.... makanlah!" Seru Jessy sambil menyodorkan piring berisi nasi bungkus.


"Aku tadi sudah makan, jen....  oh iya , ini untuk kalian... aku ada kerjaan yang mendesak .. jadi gak bisa lama melihat kamu, Jess...."Sahut Handoyo sambil meletakkan keranjang buah itu.


Jessy dan Jenny memperhatikan Handoyo yang bersikap tidak biasa terhadap mereka. Jessy menatap tajam pada pria yang terkesan tidak mau menatapnya. Pria itu sedang menutupi sesuatu darinya. Teringat pesan Al kemarin agar menjauhi pria ini. Akh, dia bukan orang jahat.... tapi kenapa hatiku tidak tenang melepasnya. Kenapa aku ini? " Benarkah yang di katakan Al kemarin?"


"Mas Han... "Bisik Jessy pelan.


Handoyo melengos dari tatapan Jessy dan berusaha mengalihkan pada buah yang dibawanya.


"kata penjualnya, anggurnya manis lho Jess... dan Apelnya juga renyah, Jenn... emh , apakah  Jenny bisakah bantu kupas apel?" Tanya Handoyo sambil melirik di atas meja nakas ada sebuah pisau dan alat makan lainnya.


"Bisa sih... Jess, kamu mau buah apakah?" tanya Jenny sambil menatap Jessy yang terus memperhatikan pria itu.


Jenny akhirnya memperhatikan apa yang dilihat Jessy pada Handoyo. Ada sedikit beda di wajah Handoyo. Apakah dia kelelahan? Atau seperti ada hal yang dipikirkannya?"


"Mas Han.... apakah kamu sakit?'" Jenny mendekatkan tangannya ke arah kepala Handoyo. "Gak ko ... gak panas.. tapi  kenapa kurasa dia agak berbeda ya Jess?" Bener gak, Jess?"


"Iyaa.... kamu sedang sedih ya?" Tanya Jessy pelan dan terus menatap Handoyo.


"Aku gak kenapa-kenapa, Jenny dan Jessy  .. tapi karena ada pekerjaan ke luar kota, aku harus agak buru-buru, tidak bisa menemani kalian mengobrol disini.... Jessy dan Jenny,.... mungkin tugasku yang ini bisa mencapai sekitar sebulan.... aku merasa tidak enak pada kalian, di saat kalian ada di rumah sakit, tapi aku ada kerjaan...., kalian ku tinggal dan adakah yang bisa kulakukan untuk kalian, sebelum aku berangkat?" ' Sahut Handoyo sambil menatap kedua temannya itu bergantian.


"Mas Han.... boleh aku minta peluk ?" Jessy bertanya pelan dan mulai mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Jess..?"  Jenny langsung menoleh pada sahabatnya  yang menurutnya sama anehnya dengan Handoyo. Ia terdiam. "Kalian kenapa sih? Apakah ada yang tidak kuketahui tentang kalian?' Jenny bertanya penuh curiga dan menatap keduanya.


Handoyo menghampiri Jessy yang bersandar di ranjang rumah sakit cuma diganjal bantal untuk memperkuat duduknya. Wanita itu tetap mengulurkan tangannya pada Handoyo dan membuat pria itu akhirnya memeluk Jessy.


" Mas Han.... Berhati-hatilah, .... aku merasa  kamu dalam bahaya di pekerjaanmu mendatang..... sebaiknya jika bisa  diundur.... maka diundur ya, mas Han  dan menghilanglah beberapa waktu, .....Mungkin aku bukan siapa-siapamu, tapi kumohon percayalah.... aku ingin kamu berubah menjadi orang yang  lebih baik, karena kamu adalah sahabatku!" Bisik Jessy di dalam pelukan Handoyo.


Handoyo terdiam mendengarkan ucapan Jessy. Wanita itu memeluknya erat. Handoyo mengulang kembali kata-kata Jessy di dalam hatinya. Dia bilang aku sahabatnya.... aku harus menghilang untuk sementara... apa maksudnya?" Handoyo melepaskan pelukan itu dan menatap dalam diam pada Jessy.


"Kumohon mas han.... lakukanlah pesanku...!" Jessy menatap  pria itu dengan sorot mata tajam dan sedikit menekankan.


"Baiklah dan terimakasih atas kebaikan kalian semua.... baik-baik lah selama aku gak ada... jika Al datang, bilang sepulang dari kerjaanku, aku akan meneruskan permainan kita.... Jenn... kau bantu Jessy ya!"


"Mas Han... ingatalah kata-kataku yang tadi dan tolong hindari Al... dia seorang polisi yang cerdas... kumohon, ingatlah pesanku!"  Jessy menatap dalam mata pria itu dan akhirnya Handoyo menganggukkan kepala.


"Aku berangkat ya Jess dan Jenn.... kuharap kita masih bisa bertemu kembali," Sahut Handoyo pelan sambil menatap keduanya yang seakan tidak akan berjumpa kembali.


"Aku antar keluar ya, Mas Han.... rasanya aku mau beli siomay  di depan deh...bentar ya Jess, kamu mau Jess? .." Sahut Jenny sambil  melangkah mengikuti Handoyo keluar kamar.


Jessy hanya menggeleng.  Handoyo melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Jenny yang mengantarnya ke arah pintu ruang perawatan. Jessy memperhatikan kedua sahabatnya yang berjalan meninggalkannya di dalam ruang perawatan .


"terimakasih mas Handoyo, dan berhati-hatilah... kami menunggumu kembali dengan selamat," Sahut Jessy sambil sedikit berteriak dan matanya mulai berkaca-kaca.


Ada rasa kuatir atas kepergian Handoyo kali ini. Handoyopun  menoleh pada Jessy, Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada  yang tulus berteman dengannya. Terimakasih dan semoga kita masih dapat bertemu kembali.


 


*****


 


Jessy terus menatap arah pintu masuk sambil menunggu kembalinya Jenny yang sedang keluar membeli siomay dan mengantar kepergian Handoyo. Sudah hampir 15 menit keduanya pergi dan belum kembali. Ada semakin rasa tidak tentram di hatinya


Betapa terkejutnya Jessy ketika ia melihat wanita paruh baya yang memasuki kamar ruang perawatannya. Ada rasa takut melihat kedatangan wanita itu. Wanita yang pernah memaksanya untuk bersembunyi  bersama ibunya di pesta pernikahannya dengan Al dua tahun lalu.


"Umai.... "Bisiknya pelan.


Jessy heran darimana wanita ini bisa mengetahui ruang perawatan ini. Apakah kali ini dia harus menghilang kembali dan tidak boleh menemui Al? Bukankah dia tidak pernah mengganggu Al? Al yang datang menemuinya bukan dia yang mengundangnya? Tapi bagaimana cara menjelaskan pada Umai?" Jessy bergetar menatap wanita itu saking gugupnya.


Namun ketakutan itu perlahan memudar ketika melihat wanita berjalan semakin dekat dengan tersenyum dan membuka tangannya untuk memeluknya.


"Apa kabar sayangku?" Al melukaimu lagi ya? Maafkan anak umai ya!" Bisik Umai ketika memeluk Jessy erat.

__ADS_1


Jessy bingung harus memanggil wanita ini apa. Dulu ketika hubungan dia dan Al sangat baik, wanita ini memintanya memanggil Umai atau ibu karena ia memang dianggap calon menantunya dan sekarang bukankah dia bukan siapa-siapa. Jessy terdiam dalam pelukan wanita itu.


Pelukan itu hangat dan tulus. Tapi kenapa Umai bisa ada disini? Apakah Al juga ada disini?" Atau apakah istri Al yang ada di sini dan akan mengusirnya kembali dan menyakitanya.


 


Tiba-tiba kening Jessy disentil oleh Umai.


Peltak.


"Awww.... 'Teriak Jessy sambil memegang keningnya.


" Pikiran kamu itu salah,Jessy.... aku jauh-jauh dari Samarinda untuk melihatmu.... aku tahu apa yang di hatimu... karena aku itu sama sepertimu," Umai berkata sambil tersenyum dan mengelus kening Jessy setelah tadi menyentilnya.


"Maaf Umai... " Sahut Jessy pelan.


"Umai tahu... kamu melukaimu  dirimu sendiri  karena Al... tapi jangan melakukan perbuatan  bodoh ini lagi,  Jessy,...   lepaskan Al... dia bukan jodoh kamu.... aku juga sudah mengatakan pada Al... jika kalian bersama akan banyak hati yang terluka ... biarlah semua berlalu.... dan jodohmu akan datang, tapi bukan Al dan bukan pria yang sedang dekat padamu.... kamu wanita baik... dan wanita baik tidak akan merusak rumah tangga orang lain!"


"Umaai....  'Jessy mulai menangis dengan sedih mendengar kata-kata umai .


"Jess, aku sangat mengetahui kenapa Al bisa begitu mencintaimu dan tidak bisa melepaskanmu  dibandingkan istrinya itu yang tidak boleh dilepaskannya....  Memang benar kesuksesan Al bila bersama istrinya, tapi kebahagiaannya memang bersamamu... tapi bila kalian bersama...kalian tidak akan langgeng,Jessy!"  Bolehkah Umai memohon yang terakhir kalinya... lepaskan Al!"


"Iya umai....  aku sudah berjanji tidak akan mengganggu Al....  kuharap Al bahagia dengan istrinya.... aku tetap sayang Al walaupun kita gak bersama, umai.... Jessy janji.... benar... Jessy benar-benar janji!"


Mereka berdua  terdiam dan saling menatap. Hingga kemudian Jessy mengantuk dan terlelap tanpa sadar.


 


Hening.


Hening...


Jessy tertidur di atas  ranjangnya dan tidak mengetahui kedatangan Jessy yang membawa dua bungkus siomay. Umai yang memang tidak pernah hadir di ruangan itu. Hanya kemampuan telepati dari wanita yang khusus bisa melakukannya.


Jenny  hanya tersenyum memperhatikan Jessy yang terlelap dalam posisi duduk di ranjang. Mungkin pengaruh obat penahan sakitnya bekerja. Ia membiarkan Jessy tertidur dan akhirnya Jenny memakan siomay itu sendiirian.


 


 


*****

__ADS_1


 


Happy reading Guys..... bolehkan tinggalkan jejak disini? Thanks ya sudah berbaik hati membacanya. Love you all.


__ADS_2