
Jangan memohon pada Tuhan untuk meringankan segala masalah yang ada, tapi berdoalah pada Tuhan untuk memberikanmu kekuatan untuk dapat melaluinya. karena Tuhan akan memberikan kepadamu jalan keluar.
*****
Hari ini adalah hari dimana Alex mendapat panggilan pertama dan wajib hadir ke kantor markas Polisi Daerah Cilacap untuk di BAP ( Berita Acara Pemeriksaan). Pemeriksaan itu akan didampingi oleh pengacaranya yakni Dede Muhandar.
Sementara persiapan untuk meninggalkan rumah sakit sedang di urus oleh Dede Muhandar, Sementara Jessy dan Jeany masih sibuk menata barang-barang yang akan dibawa dari rumah sakit. Surat ijin dokter untuk keluar rumah sakit akhirnya sudah dipegang oleh sang pengacara yang kemudian datang ke ruangan kamar rawat inap dengan Udin , sahabat Alex.( -Udin adalah rekan kerja Handoyo di beberapa peristiwa kriminal yang dilakukannya-)
Kedatangan Udin di ruangan itu yang mendorong kursi roda membuat Jessy segera menarik kursi roda itu dari tangan Udin. Jessy tidak rela dan tidak ingin tugasnya diambil alih oleh Udin. Ada rasa tidak suka di hati Jessy melihat ada orang lain yang begitu baik pada calon suaminya.
Namun Al tetap menolak kursi roda itu , ia memilih menggunakan kruk yang dibawa oleh Dede, sesuai pesanannya kemarin pada sang pengacara. Kedua pria itu sempat berdebat di depan kasir sehingga akhirnya Udin memutuskan untuk membeli kedua alat bantu itu untuk Alex. Kruk di tangan Alex telah dicoba olehnya dengan langkah pelan berjalan di dalam ruangan kamar.
"Al... kamu yakin tidak mau menggunakan kursi roda?" Aku bersedia ko mendorong kamu kemana-mana nanti termasuk ke kantor polisi ya !" Bujuk Jessy pada Alex yang tetap bersikukuh hanya mau menggunakan kruk di tangan kanan untuk membantunya berjalan.
Dia selama dua hari ini baru melakukan latihan terapi jalan dan menurut dokter tulang, kakinya akan mudah lelah. Penjelasan dokter itu ikut melukai harga diri Alex, terlebih beberapa bulan lagi ia akan menikahi Jessy. Bagaimana nanti pandangan keluarga Jessy terhadapnya. Apakah nanti kakak dari Jessy berubah pikiran untuk merestui pernikahan mereka? Targetnya harus segera sembuh dan berjalan normal kembali ikut membuatnya berfikir keras.
"Ah... terimakasih sayangku... aku tidak mau dibilang pria cacat... aku harus bisa segera berjalan... jika aku cacat, bagaimana nanti aku bisa melindungi istriku" Alex berkata dengan penuh ketegasan .
Jessy terkejut mendengar jawaban Alex, ia akan menyanggahnya. namun ucapan Udin membuatnya makin kecewa.
__ADS_1
"Bang Alex... jika kau segan pada Jessy, aku bisa ko mendorong atau menggendongmu... itu akan lebih nyaman? Gimana?' Biar kecil gini, aku itu kuat ko... biar cepat sehat , Bang !" Udin berkata dengan santai dan itupun tetap ditolak Alex.
"Terimakasih udin... aku ingin menguatkan kembali kakiku... setelah hampir seminggu aku tidak pernah menginjak lantai..." Alex tetap menolak bantuan keduanya.
Alex adalah pria macho yang mandiri, meski berusia hampir 45 tahun , ia merasa dirinya kuat, muda dan mapan . Harga dirinya sangat tercoreng jika ia berjalan kemana-mana dengan menggunakan kursi roda.
Jika bukan karena kasus penembakan yang dilakukan oleh polisi yang merupakan mantan dari kekasihnya , Ia akan marah besar dan menuntut balik pelakunya dan melakukan perhitungan yang luar biasa. Tapi ia harus bertindak sabar dan memikirkan dampaknya.
Alex tidak suka menjadi pria yang tidak dapat diandalkan oleh orang-orang yang disayanginya. Terlebih dia memiliki usaha yang cukup besar di Bandung sana dan semuanya menunggu keputusannya. Udin yang baru hadir ke Cilacap, ikut membuatnya makin terluka. Ia tidak suka pandangan semua orang terhadapnya dan menganggapnya lemah.
"Al... ko ngomong gitu sih ke kita," Rajuk Jessy. ""Aku kan calon istrimu, jadi tak masalah kalau aku direpotkan sama kamu... tapi kalau memang kamu gak suka aku ada disini dan menemani kamu lagi dan memilih ditemani oleh Aa Udin dan Aa Dede, biarlah aku dan Jeany akan pulang ke Cilegon."
Jessy yang sedikit terluka segera memandang Jeany," Jean.... kita pulang aja yuk... kita naik bis aja ke Jakarta, baru nyambung ke Cilegon..!"
"emh... maksudku gak begitu Jessy... aku hanya tak suka jika aku menjadi beban bagi banyak orang.... seperti yang kalian ketahui , dari dahulu aku adalah pria yang kuat dan semua orang tergantung padaku dan membutuhkan aku dan aku tidak pernah merepotkan orang dan tergantung sama orang lain ... sekarang lihatlah aku .... untuk berjalan saja, kau dan udin harus mendukungku dan berfikir agar aku nyaman dan bisa melakukan aktifitas dengan baik..."
Ucapan Jessy itu membuat Jenny, Udin dan Dede terkejut. Ia tidak menyangka di tengah Alex sakit, Jessy malah mengancamnya dan bila Alex salah menjawab, maka hubungan mereka akan berakhir. Alex terdiam mendengar ucapan Jessy yang cukup keras itu.
"Aku mau kamu yang mendorongku di rumah sakit ini dan di kantor polisi, sementara Udin yang membantuku memapah jika aku harus berpindah dari kursi roda ke mobil ataupun sebaliknya ... bisakah kalian berdua membantuku?" Alex menyerah mendengar ancaman kekasihnya dan membuat jawaban yang berbeda atas pertanyaan sebelumnya.
"Nah gitu dong Al," Sahut Jessy manja.
Udin langsung tersenyum dan segera membuka lipatan kursi roda itu dan menyorongkan ke tempat Alex berdiri. Jenny dan Dede hanya terdiam mengamati keduanya yang begitu sibuk berebut untuk mendorong Alex menggunakan kursi roda.
Alex tersenyum puas memandang para sahabat dan Jessy sang kekasih yang tetap setia mendampinginya selama masa pemulihan dari kasus penembakan ini. Kalian memang keluargaku, hanya kalian yang peduli padaku. Meski tidak ada hubungan darah di antara kita.
__ADS_1
"Kalian benar,.... hidupku jauh lebih mudah jika ada kalian yang membantuku... maafkan ucapanku tadi!" Dan Jeanny terimakasih juga telah mendampingiku setiap malam disini, memanggilkanku suster jaga.... kalian adalah teman-teman yang baik!" Aku beruntung Tuhan mengirimkan kalian untuk menjadi temanku dan menjagaku!"
"Aku kok jadi mau nangis ya bang!" Udin berkata sambil tersenyum mengejek ke arah Alex. "Semenjak ada jessy, abang jadi lebih gimana gitu....!"
Alex cuma berdecak pelan dan disambut dengan tertawaan semua orang di ruangan itu. Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi. Alex yang di dorong oleh Jessy dan sambil ngobrol dengan para sahabatnya membuat suasana menjadi hangat.
Sekitar 50 meter di depannya. terlihat ada beberapa polisi mengawal pasien lainnya yang juga berada di kursi roda , Pasien itu juga di dorong oleh sang istri, Namun suasana itu terasa menegangkan karena pria yang di kursi roda adalah seorang calon tahanan polisi yang melakukan penembakan.
Ballawa menatap ke depan dengan tenang. Tidak ada satupun yang ditakutinya. Baginya tidak masalah dipecat ataupun dipenjara . Hanya Jessy yang dipikirannya. Mengapa wanita itu tidak menemuinya? Hanya itu yang menjadi beban di hatinya.
Semoga kamu baik-baik saja Jessy!'
*****
Happy reading Guys!" Bolehkan berbaik hati untuk meninggalkan jejak kalian disini?" Thanks a lot ya!"
__ADS_1