
Bagaimana aku bisa mengucapkan kata-kata, "Maafkan aku" ketika aku tahu bahwa kata-kata itu tidak cukup karena telah begitu dalam dan menyakitimu? "Bagaimana aku berani untuk memintamu agar memaafkanku ketika aku tahu aku tidak bisa memaafkan diri sendiri?" Maukah kamu memaafkan semua tindakan burukku, aku tahu aku tak layak mendapat maafmu... tapi ijinkan aku berubah menjadi pria yang lebih baik, dan kumohon percayalah padaku, bahwa mulai sekarang hubungan kita akan bebas dari air mata, kebohongan, dan penghinaan. Aku mencintaimu selamanya , maukah kau menikahiku !"
*****
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah asrama putri milik tentara itu. Didepannya terdapat pos penjagaan yang cukup ketat dan tidak boleh sembarangan orang untuk masuk. Ada dua tentara wanita dan satu tentara pria yang berdiri di dekat pos.
Ballawa menengok ke belakang dan melihat Pramoedya sedang memperhatikan asrama itu. Ballawa tersenyum seperti mengantar teman yang akan kalah taruhan dalam kencannya kali ini.
"Kau yakin ini tempatnya Bal?"
"Ya mas Pram... berdasarkan informasi yang diperoleh dari teman Leroy, memang disini tempat tinggal mbak Nadya atau yang mas kenal dengan nama Nana selama dia bertugas mendampingi Ibu Aleesha... beliau rupanya tangan kanan dari istri Jendral Gaffar,.. nah selama di Semarang ,beliau tharus inggal di mess tentara wanita. Tapi kalo kita berkunjung semalam sudah pasti kita akan ditolak, kecuali kita membawa surat perintah.... jadi kupikir saat ini saat yang tepat!" Bagaimana mas Pram? apakah sudah siap dengan rencana kita?
"Tunggu.... kau cek dulu saja sana, Ball !"
Pramoedya Pramono masih memperhatikan asrama itu dan melihat beberapa tentara wanita sedang bersiap-siap untuk olahraga pagi. Ia masih mengumpulkan keberaniannya . Terlihat sekali ekspresi kekhawatirannya . Bagaimana mungkin ia disuruh masuk sendirian. Ide macam apa itu. Sungutnya dalam hati.
"Mas Pram... jika aku yang ngecek, bagaimana mungkin mas Pram bisa mendapatkan maaf dari mbak Nana ... wanita itu senang dibujuk karena dia pasti keluar kalo melihat perjuangan mas Pram!" Jangan lupa bawa bunga mawarnya !"
Pramoedya akhirnya melangkah keluar. Keempat anak buahnya menunggu di mobil. Sesungguhnya mereka juga mengharapkan Nana dapat memaafkan Pramoedya dan menjalin hubungan kasih kembali.
Keempat pria dalam mobil itu sangat berharap tugas mereka mendampingi Pramoedya bisa berakhir jika mas Pram bisa menikahi Nana. Mereka telah memikirkan rencana dengan matang dan berharap pria itu bisa meyakinkan Nana. Sepanjang perjalanan dari Bengalis , mereka meyakinkan Pramoedya untuk berani mempertanggungjawabkan kesalahannya dan meminta maaf secara langsung jika ingin merajut kasih kembali dengan Nana.
Ketika memasuki gerbang asrama, Seorang petugas menghentikan langkah Pramoedya yang sedang membawa bunga mawar merah itu.
"Stop... Anda mau ketemu siapa? "Ini bukan jam kunjungan !"
"Iya bu.... maaf... saya hanya ingin melihat kekasih saya yang terakhir kali, sebelum saya mati... saya ingin meminta maaf pada Nana....bisakah ibu mengijinkan saya untuk menemuinya yang terakhir kali !" tolonglah bu!" kumohon bantu saya untuk dapat memanggil Nana kemari sebentar saja!"
"Tidak ada yang bernama Nana disini !" Silahkan pergi !" Kami harus berolahraga pagi!"
"Tolonglah saya bu!"
"Pergilah anak muda, sebelum saya mengusirmu dengan cara yang kasar!" Kau tahu kan aturan disini, hanya menerima tamu di jam berkunjung... dan itu nanti pada hari jumat sore!" Pergilah!"
"Bu... ini penting sekali bu, saya bisa mati jika tidak melihat dia!" tolonglah," Ujar Pramoedya sambil menaruh tangannya di dada sebagai lambang permohonan.
"Lemah sekali kamu... gitu saja mau mati, pantas kau ditinggal kekasihmu!" Pergilah , kau tidak layak jika memiliki istri seorang tentara!" Kau tidak memiliki jiwa pemimpin dan gampang menyerah !" Tidak layak jika pasukanku memiliki suami model seperti kamu!"
"Nana... Nana.... Nana... aku disini untuk meminta maaf... bisakah kamu temui aku sebentar !" Nana!" Teriak Pramoedya keras-keras dan berulang-ulang.
'hei... kau menantangku ya!" Wanita berseragam tentara itu akhirnya menarik Pramoedya ke luar pintu gerbang dan mendorongnya secara kasar.
Sungguh ini perlakuan kasar yang pertama kali seumur hidup oleh wanita. Biasanya orang-orang disekitanya sangat hormat dan ramah padanya . Ia ingin marah pada wanita itu tapi ia ingat akan tujuannya. Kepalang basah, pikir Pramoedya, aku harus mendapatkan maaf darinya.
"Nana.... Nana ," Teriak Pramoedya keras dari luar gerbang.
__ADS_1
Tindakan itu memancing beberapa tentara wanita yang sedang berolahraga lari menengok dan tersenyum melihat ulahnya. para tentara itu masih melanjutkan larinya dan mengabaikan pria yang sedang berteriak-teriak di luar gerbang.
"Nana... Nana... maafkan aku!" Nana... temui aku sebentar saja!" Tolonglah nana!"
Beberapa saat Pramoedya masih berteriak-teriak di luar gerbang mess itu. Hingga sebuah mobil putih harus keluar dari asrama itu dan membuat petugas penjaga harus membuka pintu gerbang kembali.
Namun ketika pintu gerbang dibuka, mobil itu langsung melaju cepat dan mengarah ke tempat Pramoedya bersiap masuk dan itu cukup mengejutkannya. Nyaris tertabrak dan membuatnya menepi .
Pintu kaca mobil itu terbuka dan memperlihat sosok wanita berambut cepak yang menggunakan kaca mata hitam. Dari dalam mobil, wanita itu sedikit berteriak dan membuat Pramoedya tertegun memandangnya. Nana. Itu Nana.
"Masuklah mas Pram... jangan teriak-teriak!" Kita bicara di luar asrama !" Nadya berkata agak keras dan mendesak pria itu agar segera masuk ke dalam mobilnya.
Pramoedya tersenyum memasuki mobil putih itu. Ia tersenyum bahagia bisa melihat wajah yang begitu dirindukannya. Mobil langsung melaju ketika ia sudah duduk di samping kemudi.
Ketika Pramoedya memasuki mobil itu, Mobil yang ditumpangi Ballawa dan teman-temanya mengikuti dari agak jauh. Mereka harus bisa mengikuti tanpa terlihat, agar misi Pramoedya dapat berhasil.
Nadya terus mengemudi dengan sangat cepat menuju pinggir kota Semarang dan arah ke Salatiga. Hingga di suatu tempat yang agak sepi, mobil itu mendadak berhenti. Ia menarik nafas. Sepanjang jalan ia tahu, Pramoedya memperhatikannya dan memintanya untuk mengurangi kecepatan, tapi Nadya terus menyetir dengan sangat cepat.
""mas Pram mau bicara apa ?" Sahut Nadya dingin.
"Aku... aku ... aku, mau minta maaf, Na !"
"Sudahlah lupakan saja... kau lagi mabuk saat itu... anggap saja tidak ada kejadian apapun!" Sekarang Mas Pram harus pulang ke Jakarta dan aku akan antar mas Pram ke stasiun kereta api tawang , ya !"
"Iya sudah kumaafkan tapi kumohon mas Pram tidak menggangguku lagi !" Pulanglah, nanti orang tua mas Pram menyalahkanku !" Kumohon mas Pram, kumohon jauhi aku, biarkan aku bisa menata hidupku dengan baik...
"Nana... aku bisa menjagamu, aku ingin menikahimu dan menjadikan kamu istriku satu-satunya!"
"Pergilah mas Pram...!" Aku sudah memaafkanmu!"
"Na... kalau kau masih seperti itu, kau belum memaafkanku... aku lagi itu dibawah pengaruh obat... ada yang menaruh obat di minumanku, Na... kumohon percayalah padaku... ijinkah aku.."
"Sudahlah mas Pram... aku bahkan tahu siapa pelakunya yang melakukan itu !" Tapi bisa apa aku, kumohon biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang !"
Pramoedya terdiam. Dia menarik nafas dan mengingat apa yang dipesan Ballawa dan Leeroy di sepanjang perjalanan. Lepaskan gengsi dan memohonlah dengan kata-kata yang tepat. Itu pesan mereka. Aku harus melakukannya.
"Nana, tahukah kamu kenapa aku baru sekarang berani menemuimu, aku mengumpulkan seluruh keberanianku dan sudah berbicara dengan ayahku..... dia marah atas semua tindakanku... kumohon nana!"
Nadya terkejut dan refleks menoleh pada pria yang sedang memohon padanya dan hatinya sedikit tersentuh mendengar perkataan itu. Benarkah dia menceritakan pada ayahnya. Pria yang ingin dibunuhnya sudah ada di depan matanya. tapi ia ingin membunuh tidak hanya pria ini. harus dengan kakak perempuan dan ibunya yang sedang bermukim nyaman di istana.
"Nana..... Bagaimana aku bisa mengucapkan kata-kata, "Maafkan aku" ketika aku tahu bahwa kata-kata itu tidak cukup karena telah begitu dalam dan menyakitimu? "Bagaimana aku berani untuk memintamu agar memaafkanku ketika aku tahu aku tidak bisa memaafkan diri sendiri?" Maukah kamu memaafkan semua tindakan burukku, aku tahu aku tak layak mendapat maafmu... tapi ijinkan aku berubah menjadi pria yang lebih baik, dan kumohon percayalah padaku, bahwa mulai sekarang hubungan kita akan bebas dari air mata, kebohongan, dan penghinaan. Aku mencintaimu selamanya , maukah kau menikahiku !"
"menikah ?" Mas Pram yakin dengan ucapan mas yang sering aneh dan seenaknya?"
"ya... aku sudah memikirkannya selama ini dan aku akan menikahimu jika kamu bersedia."
__ADS_1
"Maaf aku tak bersedia menikahi mas Pram."
"Aku akan membuat ayahku melamarmu disini dan kau akan membuat semua orang jadi tahu tentang aku yang disembunyikan ayahku!" Kau pasti tahu dampaknya kan.."
"Mas Pram yakin keluarga mas Pram setuju dengan tindakan konyol mas Pram ?" Belum tentu berhasil ancaman yang akan dibuat mas Pram...
"tenanglah... aku akan buktikan ucapanku... tunggulah aku, akan kubawa kedua orang tuaku untuk melamarmu , akhir bulan ini kita menikah, bagaimana?" Kau mau tinggal dimana?" Aku sudah membelikanmu rumah di Palembang , gimana?"
"Hah... mas Pram jangan ngimpi deh !" Ingat status kita sangat berbeda dan juga aku tidak mencintaimu!"
"Gak papa... aku bisa membuatmu mencintaiku... aku akan berubah, Na ... Jadi kumohon maafkan aku , ya !" dan menikahlah denganku!"
*****
Happy Reading Guys !
Terimakasih telah berbaik hati membacanya, bolehkah kalian tinggalkan jejak disini ?" Thanks a lot.
__ADS_1