Dia Bimaku

Dia Bimaku
Bapak Adi Nugroho


__ADS_3

Ada nafas yang berhembus menampakkan kelegaan, ada senyum yang mengembang di senja ini. Jemari tangan saling mengait, memandang ke depan dengan bola mata mereka tanpa berkedip, mengagumi setiap isi dunia yang jarang sekali terlihat.


Bima berlinang air mata, entah apa yang membuatnya saat ini menangis, dengan lembut Maudy menghapusnya. Bima tersenyum, ya dia kembali tersenyum hanya dengan di sentuh dengan ujung jemari.


Disini mereka saat ini, di sungai yang airnya sangat jernih, arus deras dan di hiasi bebatuan besar. Maudy sengaja mengajak Bima kesini, karena menurutnya bisa membuat pikiran Bima jadi lebih relax.


"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang terucap. Mungkin mampu mewakili seluruh pertanyaan.


"Rindu mama." Kembali menatap ke depan sebelum sempat melirik wanita pujaan hatinya itu.


Helaan nafas berat kembali terdengar. Mungkin memang anak sepertinya sadar, tidak bisa jauh dari orang tua, terutama mamanya.


"Pulang lah jangan egois. Ikuti perintah papa mu." Bima langsung menggelengkan kepalanya.


Apa maksudnya kau akan pergi menjauh setelah ini.


"Bima, kita masih muda. Setelah mendengar semua yang di katakan mas mu tadi. Aku sadar, hubungan kita hanya sebatas cinta monyet, tidak lebih."


"Bukan kah kamu sudah berjanji untuk berjuang sama-sama?" Suara Bima berubah dingin.


"Apa setelah ini kamu benar-benar akan menjauh dariku dan memutuskan hubungan kita?" Kembali bertanya untuk memastikan semuanya.


"Apa kamu ngajak aku kesini hanya buat bahas masalah ini? Aku kira kamu akan terus berjuang, aku salah. Kamu tidak pernah sekalipun memikirkan aku, terpuruknya aku tanpa kamu."


"Bukan itu maksudku. Tapi nanti jika aku sudah pergi ke luar negeri, aku tau kamu pasti akan lebih terpuruk Bim."


"Aku akan menunggu!" Langsung menjawab sebelum Maudy berkata lagi. Suara tegas yang sebelumnya tidak pernah Maudy dengar.


"Kita pulang hari mulai sore. Aku takut mang Sugi dan istrinya khawatir karena kamu nggak kunjung pulang." Menghidupkan mesin motornya. Bima sudah tidak mampu lagi berbicara, ia langsung naik dan segera siap menerima kenyataan.


Sampai di rumah mang Sugi. Maudy berhenti hanya di pinggir pasar, tidak mau mengantarkan sampai ke halaman rumah. Tidak untuk saat ini, karena keraguan itu kembali muncul setelah mas Rio mengatakan sesuatu hal yang membuatnya sadar saat ini.


"Jangan telat makan ya Bim, aku pulang."


Langsung tancap gas sebelum Bima menjawab. Dan memang Maudy sedang tidak ingin membahas apa pun lagi saat ini.


Sampai di rumah Maudy langsung mandi dan masuk ke kamarnya. Mengurung diri, dan tidak ikut bergabung dengan keluarganya yang tengah berbincang di ruang TV.


Lain hal dengan Bima, ia langsung di sambut dengan kehangatan di rumah mang Sugi. Dan tentu kekhawatiran juga mereka tunjukkan, karena Bima pulang di sore hari.


"Maaf bi. Tadi ada belajar kelompok."


Meminta maaf sebelum di tanya dari mana, kenapa sampai sore.


"Kamu di tunggu mang Sugi di dalam Bim. Masuk lah."


Ikut mengantar Bima masuk yang di tunggu suaminya. Entah hal apa yang akan di bicarakan.


"Bim, duduklah." Wajahnya seirus, begitu juga dengan nada bicaranya.


"Mamang nggak keberatan kalau kamu mau disini, tapi mama kamu kasian Bim." Melihat ke arah istrinya. Karena perkataan ini akan bisa di artikan dengan mengusir.


"Iya mang. Aku mengerti, ijinkan aku menginap untuk malam ini, setelah itu aku akan pulang ke rumah. Dan melihat keadaan mama."


"Maafkan mamang, mamang nggak bisa banyak membantu kamu."


Bima hanya diam, pikiran kalut itu kembali datang di pikirannya. Yang membentuk opsi tersendiri, ketakutan akan di jauhi Maudy, dan peraturan yang dibuat papa, juga mamanya yang sakit karena ulahnya.


"Sudah kamu bersihkan diri dulu, supaya pikiran kamu jernih."


Bima langsung berdiri dan menuju kamar mandi. Mencoba yang di katakan mang Sugi. Supaya pikirannya tidak kacau.


Apa aku menuruti keinginan papa saja? Ku rasa itu berat, dan mustahil aku bisa tanpa Maudy nantinya.


***


"Bagaimana? Apa dia mau pulang?" Suara tegas terdengar sedang menahan emosinya.


Disini seorang wanita paruh baya terbaring lemah, menunggu anaknya yang tidak pulang, dan memang tidak ingin pulang. Rumah mewah yang seperti neraka, itu yang ia simpulkan.


Oksigen akan terus terpasang, karena kondisinya yang sangat lemah. Bahkan menyentuh makanan pun tidak mau. Kamar yang di sulap seperti rumah sakit ini, dan di tunggu dengan banyak penjaga. Dokter hebat juga di datangkan. Tapi belum juga ada perubahan, ia masih tetap lemah. Yang ia mau hanya anaknya, anak lelaki nya. Walau suaminya sendiri setia mendampingi tapi tidak ada pengaruh baik untuknya.


"Dia tidak ada, tadi aku juga udah nunggu di gerbang sekolahnya pa. Tapi semua yang di tanya, tidak melihatnya, dan juga lebih banyak yang tidak mengenalnya." Berkata dengan jujur.


Suara geram kembali terdengar. Seperti sudah bosan menunggu orang yang mampu menjadi obat untuk istrinya.


"Apa harus papa sendiri yang turun tangan?"


"Jangan pa!" Langsung menjawab secepat kilat.


Duh kenapa malah aku larang!


"Kenapa?"

__ADS_1


Aku yakin papa pasti akan menanyakan alasannya.


"Bima nggak mau kalau orang-orang tau, kalau sebenarnya dia anak papa."


Tidak bisa berbohong kali ini.


Memang dari awal masuk sekolah Bima sudah menyembunyikan identitas nya, bukan berarti memalsukan namanya, tapi hanya tidak ingin orang lain tau, siapa dia, anak dari siapa. Karena tidak ingin orang-orang di sekitarnya semakin segan padanya.


"Kenapa?" Bertanya lagi, dengan mengeraskan rahangnya.


Aku harus jawab apa sekarang?


"Kenapa?" Membentak dengan suara keras, sehingga penjaga rumah nya pun ikut terlonjak kaget.


Rio kembali menegang. Mendengar bentakan keras dari papanya sendiri. Lidahnya kaku seirama dengan tubuhnya saat ini.


"Maaf pak. Istri bapak kembali kritis." Kabar dokter harus membuatnya meninggalkan Rio tanpa mendapat jawaban.


Dengan langkah berat ia kembali melihat istrinya yang terbaring lemah. Dengan di penuhi alat yang membantunya untuk bertahan saat ini. Bahkan, ia rela meninggalkan pekerjaannya demi memastikan kesehatan istrinya, tapi pengorbanannya tidak membawakan hasil.


"Sampaikan pada Rio untuk menghubungi Bima, sekarang!" Memberi perintah pada Bodyguard nya. Tanpa berpaling sedikit pun dari istrinya, ia tetap menggenggam tangannya.


"Nomornya tidak bisa di hubungi tuan." Kembali dengan membawa kabar buruk untuknya. Entah berapa kali sudah ia menghela nafas berat di hari ini.


Bahkan untuk menghubungi anaknya saja dia tidak mau. Kerasnya bahkan tidak membuahkan hasil, malah memperkeruh keadaan.


Dengan berat hati, seorang Adi Nugroho saat ini mencoba bersabar. Menunggu anaknya yang telah di usir olehnya pulang ke rumah. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, menunggu.


Kenapa tidak berusaha mencari? Bukan kah kuasanya mampu menemukan anaknya itu dengan waktu beberapa jam saja? Atau beberapa menit. Tidak, dia tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk itu. Karena menurutnya, dunianya adalah bisnis, bukan untuk menakuti orang-orang.


"Pa, mama bagaimana?" Rio datang dengan sejuta kekhawatiran. Papanya hanya diam tidak menjawab. Menoleh sebentar, dan kembali memandangi wajah pucat istrinya.


"Pa, sebaiknya papa sendiri yang menjemput Bima. Mungkin dia mau pulang, karena waktu itu kan papa yang mengusirnya." Entah keberanian dari mana, sehingga Rio mampu mengatakan ini, dan artinya ia juga menyudutkan papanya, dan tentu menyalahkan semua ini adalah karenanya, mengusir anaknya sendiri.


"Tidak ada kata lain yang bisa kamu ucapakan?"


Pasti, Rio sudah menyangka kalau papanya masih tidak terima kalau di salahkan, dan di katakan dia lah orang penyebab semua ini terjadi.


Rio diam tidak menjawab dan memilih pergi dari kamar yang di sulap seperti ruangan rumah sakit, dimana tempat mamanya terbaring lemah sekarang.


Hingga malam menjelang, dan pagi pun menyambut. Seorang Adi Nugroho masih tetap setia menunggu dan tidur di samping istrinya yang belum memiliki tanda-tanda untuk membuka matanya.


Kantung matanya mulai terlihat, mungkin dua malam ini tidurnya tidak nyenyak. Tapi itu semua kemauannya sendiri. Tidak ada yang memaksanya untuk tetap disini. Dokter juga sudah mengingatkan untuk ia kembali beristirahat, tapi ia seperti tidak menghiraukannya.


Bima, Bima. Kenapa tidak pulang saja! Selain menyiksa mama kamu juga menyiksa ku.


"Baik pa."


"Katakan pada salah satu penjaga untuk menyiapkan mobil, papa akan datang ke sekolah Bima hari ini!" Mungkin semalaman ini ia tidak tidur hanya untuk memikirkan bagaimana cara membawa anaknya itu pulang.


"Iya pa. Aku pergi dulu."


Itu benar papa kan? Papa mau datang ke sekolah Bima? Apa yang bakal terjadi nanti? Bukan kah para guru juga tidak tau kalau orang tau Bima Adi Nugroho adalah papa.


Begitu yang Rio pikirkan saat mendengar perkataan papanya di pagi hari. Tapi biarlah, mungkin saatnya orang-orang tau siapa Bima. Dan berasal dari keluarga mana. Bahkan setiap pembagian raport hanya mama yang hadir, tentu orang-orang di sekolah termasuk guru tidak tau, karena wajah Lisa tidak pernah di ekspos media. Hanya orang tertentu saja yang tau. Dan mama Lisa juga tidak pernah berpenampilan elegan jika datang ke sekolah anaknya untuk keperluan tertentu, tapi hari ini. Papanya sendiri yang akan datang, entah bagaimana nanti reaksi orang-orang kalau sampai tau Bima adalah anak salah satu pengusaha terkaya di negeri ini.


Pukul 10 pagi. Adi Nugroho berangkat dengan di antar Supir pribadinya. Dan satu mobil di belakang sebagai pengawalnya. Berhenti di depan gerbang sekolah anaknya.


"Maaf pak, ijin mau masuk. Bapak Adi Nugroho mau menjemput anaknya." Permisi terdahulu dengan security penjaga sekolah. Karena itu sudah salah satu aturan ketat disini, tidak bisa sembarang masuk ke area sekolah.


"Bapak Adi Nugroho? Maksud bapak seorang pengusaha ternama?"


Salah satu pengawal mengangguk.


"Tapi, bukan kah anaknya tidak ada yang sekolah disini." Menurutnya alasan itu sungguh tidak masuk di akal, kalau iya kenapa bisa tidak ada yang tau, pikirnya.


"Anak saya memang sekolah disini. Saya ada keperluan dan harus menjemputnya, sekarang!" Penekanan di akhir kalimat. Ternyata Adi Nugroho memutuskan untuk langsung turun dan meminta ijin, karena melihat pengawalnya nampak kesusahan mendapat ijin.


"Maaf pak, silahkan pak." Langsung menarik dan membuka gerbangnya lebar-lebar.


Wajahnya nampak pucat karena sempat meragukan tadi, dan seperti orang yang sangat merasa bersalah.


Itu yang tidak ingin Adi Nugroho mau, semua orang menyeganinya tapi dengan bahasa tubuh yang bisa di baca, kalau takut dengannya. Padahal dia bukan penjahat, buka mafia juga. Hanya seorang pengusaha sukses yang namanya banyak di kenal orang-orang di negeri ini.


"Permisi pak, bu. Saya ingin menjemput anak saya karena ada keperluan." Berbicara lembut dengan berdiri di depan pintu ruangan para guru. Sontak semuanya menatap tidak berkedip, melihat lelaki yang berwibawa ini, walau umurnya sudah separuh abad tapi wajah tampannya tidak tertutupi.


Bapak Adi Nugroho? Anaknya sekolah disini? Siapa???


Sontak semua guru menjerit dalam hati.


"Silahkan masuk pak, duduk pak." Salah satu guru yang masih sadar langsung mempersilahkan untuk duduk.


"Siapa nama anak bapak?" Menunggu namanya di sebut, ada jantung yang hampir keluar dari tempatnya. Karena detik ini juga mereka akan tau kalau mereka disini mengajar anak dari bapak Adi Nugroho. Padahal masih banyak sekolah yang lebih elit, tapi menyekolahkan disisi, batin mereka.

__ADS_1


"Bima Adi Nugroho. Saat ini dia kelas 3."


"Nama itu hanya ada satu disini pak. Tunggu akan segera saya panggilkan." Langsung berjalan ke luar ruangan dengan cepat untuk segera memanggil satu-satunya Bima yang ada di sekolah ini.


Sementara guru lain yang mendengar.


Jadi Bima anak pak Adi Nugroho?


Masih tidak percaya, dan menunggu sampai Bima yang di panggil akan datang. Benar atau tidak Bima yang mereka pikirkan saat ini.


Di ruang kelas. Bima masih fokus dan tidak banyak bicara saat ini, ia juga tidak mengganggu Maudy yang sedari tadi juga diam.


Tok..tok.. Suara pintu di ketuk.


"Permisi Bu Widya. Mau panggil murid yang di jemput orang tuanya."


"Silahkan bu." Tersenyum ramah.


Seluruh siswa yang ada tampak tenang dan tidak terganggu. Hanya saja pikiran mereka pasti, siapa ya? Siapa yang di jemput?


"Bima, sini nak. Orang tua kamu sudah menunggu di kantor guru." Memanggil Bima dengan lembut dan melambaikan tangannya.


Bima yang bingung menatap Maudy, dan begitu juga Maudy. Mereka saling tatap dan Bima pun menggeleng.


Tentu Kiki kaget, karena yang tau kan hanya ia dan Maudy.


Orang tua? Maksudnya papa? Mana mungkin, tapi kalau mama? Bukan kah mama sakit?


"Tapi bu, memang nya ada apa?" Berbicara dan melirik ke seisi kelas, karena saat ini seluruh siswa sedang menatapnya. Tentu Bima merasakan malu sekali walaupun hanya bertanya begitu.


Mereka tidak terkejut, karena memang mereka tidak tau siapa orang tua Bima. Terkecuali wanita yang ada di sampingnya saat ini.


"Pergilah Bim." Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh Maudy saat ini.


"Bima, soal itu hanya orang tau kamu yang tau nak, ayo cepat dan bawa tas kamu. Orang tua kamu sudah menunggu." Ucap Bu Widya lembut, dia sedang mengajar di kelas saat ini jadi tidak tau kalau Bima anak siapa. Sementara guru yang menjemputnya hanya tersenyum lega karena bu Widya sudah mewakilkan jawaban dari pertanyaan Bima untuknya.


"Aku pulang ya." Setengah berbisik dan segera pergi meninggalkan kelas.


"Aku permisi bu."


Bu Widya mengangguk, dan masih tetap tersenyum.


"Kita lanjutkan pelajarnya ya, ayo fokus sebentar lagi ujian." Kembali dengan topik utamanya, yaitu belajar.


***


"Papa?" Ucapnya lirih tapi masih bisa di dengar orang lain, terutama untuk orang yang ia panggil dengan sebutan papa.


"Ini pak suratnya untuk membawa Bima keluar." Menyerahkan surat kecil sebagai bentuk persetujuan kalau Bima memang di bolehkan untuk pulang, dan harus di serahkan pada securitty penjaga sekolah.


"Terima kasih, saya permisi."


Bima hanya menunduk, karena ia tidak ingin protes di depan orang lain. Bisa tambah runyam saja hidupnya nanti.


Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali, dengan bentuk penyesalan atau kata maaf, tidak ada. Mulut mereka sama-sama terkunci rapat. Seperti memberi pembatas antara seorang ayah dan anak.


Tak ku sangka aku akan kembali dengan cara seperti ini.


epilog.


Saat bel sekolah berbunyi, Kiki lebih dulu berjalan keluar gerbang untuk menunggu jemputan supirnya. Seorang lelaki tampan yang memang ia kenal menegurnya.


"Kamu pasti tau kan, apa Bima sudah keluar?"


Bertanya langsung ke intinya. Kiki tidak mampu menjawab.


"Ha itu ada Maudy mas, tanya saja sama dia, itu supir udah jemput, duluan ya kak?" Langsung pergi meninggalkan Rio.


"Maudy." Memanggil Maudy yang sudah menuntun motornya keluar gerbang sekolah.


Mas Rio?


Melihat ke arah belakang, dan Bima belum nampak keluar.


"Ya mas, ada apa?"


"Kamu pasti tau Bima dimana kan?"


Maudy diam tidak menjawab dan hanya menunduk.


"Maudy, aku tau kalian memiliki hubungan, dan tentu perasaan. Tapi, jangan egois. Perjalanan kalian masih panjang."


Perkataan itu sudah mampu membuat Maudy sadar diri. Bahwa saat ini dirinya belum sepenuhnya istimewa di mata seseorang.

__ADS_1


--__


__ADS_2