Dia Bimaku

Dia Bimaku
Baby Endah dan Gio


__ADS_3

Dan pagi datang. Maudy pulang hari ini, dan lagi-lagi Kiki memohon kepada Bima untuk ijin hari ini tidak masuk, karena dia juga antusias menyambut keponakannya. Bima memang memberinya ijin, hanya saja menjebak Kiki, mau atau tidak dia melakukan hal itu.


"Ya Bim, boleh dong Bim. Nggak terima gajih bulan ini juga nggak apa-apa deh, yang penting bisa nyambut ponakan aku pulang kerumah."


"Hei, dia anakku."


"Aku hanya bilang keponakan kan?"


Maudy yang sudah selesai di buka infusnya duduk di tempat sambil geleng kepala melihat ulah Bima pagi ini.


"Oke. Tapi kamu juga harus menelepon Revan. Soalnya aku juga nggak masuk, dan kamu juga. Eh satu lagi, kamu harus antar Revan makan siang hari ini. Kasian dia kerjain semuanya sendiri Ki, aku yakin dia juga tidak akan sempat ke pantry ataupun pesan makanan."


"Oke aku pesankan via online aja deh ya, buat Revan."


"Oh no! Bukan begitu cara yang baik berterima kasih. Kamu harus langsung datang ke kantor dan berikan makanannya langsung."


"Ih nggak lucu ah Bim! Nanti kalau karyawan lain tau gimana?"


"Bukannya memang semuanya sudah tau?" Kiki langsung mendengus di seberang telepon. Percuma berdebat dengan pimpinan perusahaan, akan tetap kalah karena seorang pimpinan pasti pandai berbicara.


"Mau atau tidak? Kalau tidak ya kamu harus masuk hari ini."


"Hem iya, nanti aku antar."


Ah Kiki pasrah dan mengalah. Mematikan sambungan telepon dan tertawa.


"Bim, kamu tuh memangnya." Bima masih menyisahkan tawanya, dan segera membantu istrinya untuk pindah duduk di kursi roda. Mobil sudah menunggu tepat di depan rumah sakit.


"Sayang, apa yang di katakan dokter semalam itu memang serius?" Maudy mendongak ke atas.


"Yang mana Bim? Banyak hal yang di katakan dokter."


Bima diam dan terus mendorong kursi roda hingga sampai di lorong, dimana mobilnya sudah terlihat menunggu di depan sana.


"Tak boleh menyentuhmu selama 40 hari. Apa-apaan itu, kamu kan istriku sayang." Menggerutu pelan.


Maudy diam tak menjawab, bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Bima.


"Soal itu nanti kamu tanya sama mama atau ibu." Bima mengerutkan keningnya bingung.


Mereka sudah duduk di dalam mobil, duduk di belakang bersebelahan. Baby twins di antar oleh perawat, dengan menggunakan mobil lain. Maudy bisa tersenyum sekarang, bisa berbicara dengan anaknya secara langsung tanpa harus mengelus perutnya lagi supaya anaknya mengerti.


"Sayang terima kasih." Mengecup kening Maudy.


"Jalan pak." Supaya menyandarkan Bima kalau bukan hanya mereka berdua saja yang ada di dalam mobil.


***


Kamar Maudy sudah jauh berbeda sekarang, kedua orang tua ini bahkan rela untuk menginap di rumah anaknya. Mempersiapkan berbagai hal, mulai dari menyusun pakaian baby di lemari, dan box yang berukuran lebih besar agar muat untuk dua bayi sekaligus. Dan dia atasnya sudah ada mainan yang menggantung, bisa berbunyi jika di sentuh.


Box bayi di letakkan tepat di sebelah tempat tidur Maudy dan Bima. Dan juga tersedia ayunan listrik yang bisa bergerak otomatis tanpa harus di goyang dengan tangan, hal itu dilakukan untuk mempermudah Maudy karena bukan hanya mengurus satu anak, tetapi dua sekaligus.


"Mbak, kira-kira mbak setuju nggak kalau kita cari baby sister buat bantu Maudy merawat anak?"


"Nggak mbak, jangan deh. Biar soal anak Maudy yang urus, dan kalau dia merasa repot kita kan bisa bantu. Aku sendiri paling nggak percaya mbak kalau anak harus di serahkan kepada orang lain, meski masih dalam pengawasan kita." Ibu Irma memberi penjelasan. Baginya, anak memang harus di urus orang tuanya sendiri, soal repot itu sudah menjadi resiko orang tua.


"Iya juga sih mbak, aku sebenarnya juga begitu. Dulu Siska juga nggak aku kasih, tapi masalahnya mereka kan nggak tinggal sama kita." Ya hal itu yang di pikirkan oleh mama Lisa. Keadaannya sekarang sangat berbeda jauh dengan menantunya yang berada dirumah. Maudy saat ini melahirkan dua bayi sekaligus, dan jauh juga dari jangkauan mereka. Sementara Siska dulu hanya melahirkan satu bayi, dan itu juga masih dalam pengawasannya karena mereka tinggal satu rumah.


"Begini saja mbak, selama 40 hari kita bagi tugas. Setiap berapa hari sekali kita bergantian untuk membantu Maudy." Mama Lisa langsung setuju dengan keputusan itu.


"Setelahnya juga kan sudah ada ART dirumah ini, jadi kalau perlu bantuan Maudy juga bisa meminta tolong mereka."


"Iya mbak iya."


Kedua wanita yang menghangat hatinya duduk di sofa ruang tamu. Menunggu cucu mereka sampai, karena Bima sudah mengatakan kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Permisi tante." Mereka langsung menoleh ke arah pintu.


"Kiki?" Kiki tersenyum mendekat.


"Kamu nggak kerja?" Dia menggeleng dan ikut duduk di samping ibu Irma.


"Aku minta ijin ke Bima karena mau nyambut keponakan aku pulang hari ini, hehe." Kiki nyengir. "Papanya Bima nggak disini tante? Om Subi juga?" Mencari, menoleh ke arah sekeliling. Sepi memang, sepertinya tidak ada yang lain.


"Nggak, papanya harus datang ke perusahaan untuk beri tau, kalau Bima selama tiga hari bakal tidak masuk dulu." Kiki manggut-manggut.


"Kalau ayahnya Maudy dirumah, soalnya Tisha kan sekolah. Kalau tau tidak ada orang dirumah, Tisha bakal pulang telat dan mampir dulu entah kemana." Jelasnya.


"Anakku satu itu memang beda sekali sama mbaknya, walau di depan orang tuanya menjawab iya tapi kadang tetap saja suka melanggar aturan ayahnya." Ibu Irma mengutarakan isi hatinya.


"Memang gitu mbak, kalau di dalam rumah pasti salah satu anak ada yang beda. Ya Bima itu gimana mbak, pemalunya itu dulu luar biasa. Sekarang aja bisa hilang, mungkin karena sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang di kantornya."


"Iya ya mbak, jadi ke ingat dulu pertama kali Bima datang kerumah." Mereka tertawa, ah ya ampun semoga Bima tidak tersedak.


"Tapi bersyukur deh mbak, Maudy sama Bima bisa berjodoh. Mereka juga sama-sama menemukan cinta pertama kan?" Ibu Irma mengangguk dan tersenyum.


"Cuma terkadang aku masih berpikir banyak salah sama Maudy mbak. Kalau teringat masa dulu." Kiki langsung menunduk. "Teringat dimana papanya Bima menentang sekali hubungan mereka." Menghela nafas.


"Sudah mbak, yang terpenting sekarang kan mereka sudah menikah dan papanya Bima juga bisa menerima Maudy anakku dengan baik. Soal ekonomi dulu yang jadi pembatas hubungan mereka, aku juga wajar mbak. Hal itu lumrah dikalangan masyarakat." Mama Lisa memeluk ibu Irma. Rasanya, memilih Maudy sebagai menantu dan besan baik seperti ibu Irma, mama Lisa sangat bersyukur atas itu. Tak salah dulu selalu membela dan membantu Bima untuk bisa bertemu Maudy secara diam-diam.


"Tante, itu mereka sampai." Kiki yang sangat bersemangat sekali saat ini, bahkan sampai meninggalkan kedua ibu-ibu ini dan berjalan lebih dulu keluar rumah. Langsung berdiri di samping mobil mereka dan menunggu pintu di buka.


"Ki, kamu hutang penjelasan sama aku ya." Maudy memperingatkan hal itu lagi, karena Kiki memang belum mengatakan hal apapun tentang perjodohannya.


"Sayang, nanti saja bahas itu. Sekarang aku bantu kamu buat jalan." Bima memapah Maudy yang turun dan mobil. Kiki membantu membawakan barang-barang seperti tas yang berisi pakaian.


"Pelan-pelan sayang." Maudy membuka langkahnya sedikit demi sedikit. Karena jahitan di area intimnya sangat terasa nyeri jika melangkah terlalu lebar.


"Gimana caranya Maudy naik ke atas?" Ibu Irma yang sudah menggendong satu cucunya saat ini, dan yang satu di bawa oleh mama Lisa.


"Aku gendong aja bu." Bima langsung membawa Maudy, dengan membopongnya, perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Hingga sampai di depan pintu kamarnya, Bima mendorong dengan satu kakinya.


"Dy, selama 40 hari kamu nggak boleh naik turun tangga ya. Jadi kamu menetap saja di dalam kamar. Nanti mama dan ibu yang akan bergantian jaga kamu disini."


Bima langsung terdiam, disini maksudnya dimana? Batinnya bertanya.


Lalu aku tidur dimana?

__ADS_1


"Bim, kamu tidur di kamar bawah ya." Deg. Bima langsung mematung. Kiki sengaja lewat di hadapannya dan menertawakannya.


"Tidak boleh tidur satu kamar, bahaya!" Mama Lisa menekankan kalimatnya lagi.


"Bim? Anak kamu mau di kasih nama siapa?" Mama Lisa yang tengah menggendong baby boy bertanya. "Eh dia nangis, sepertinya haus. Dy? ASI kamu sudah keluar?" Maudy menggeleng lemah.


"Ada susu formulanya ma." Bima segera menyerahkan kepada mama Lisa.


"Eh ini juga nangis." Ibu Irma mencoba menenangkan baby girl yang tengah di gendongnya, Bima langsung cekatan untuk membuatkan susu. Karena semalam sudah di ajarkan oleh perawat, dan seberapa takaran untuk usia bayi.


"Ya ampun lucunya." Kiki mengelus pelan pipi mungil anak dari sahabatnya ini. "Pandai sekali dia minumnya." Gemas, begitu batin Kiki.


"Iya lah kayak papanya." Dengan bangga Bima menyombongkan diri.


"Dih, Bima." Maudy tersenyum malu, kenapa bisa mengatakan hal itu seperti papanya, dasar!


"Bim, kamu belum jawab siapa nanti nama anakmu?" Bima tertawa kecil.


"Jangan bilang rahasia!" Mamanya sudah menatap tajam.


"Hehe." Bima masih cengengesan, tau saja kalau memang mau menjawab begitu.


"Untuk baby boy aku beri nama, Gio Nugroho ma." Mama Lisa tersenyum. "Dan yang perempuan aku beri nama, Endah sari Nugroho." Ibu juga tersenyum.


"Nggak berunding dulu ya Bim." Maudy yang sudah duduk di atas tempat dengan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap tajam ke arah Bima, sungguh Bima tidak ada sekalipun berunding dengannya soal nama. Walah sebenarnya dia suka nama yang diberikan Bima.


"Namanya lembut, Endah." Ibu lagi-lagi mengecup pipi cucunya.


"Iya, Gio juga. Kamu terinspirasi dari mana Bim?"


"Nggak ada ma. Cuma aku mau anakku Endah, menjadi wanita lembut. Dan Gio, nama yang tegas. Aku mau anakku nantinya begitu karena dia seorang laki-laki." Kiki sampai bertepuk tangan.


"Asal jangan pemalu kayak kamu Bim." Kiki menyindir, mereka langsung serempak menertawakan Bima.


"Dy, kamu mandi harus pakai air hangat ya?" Maudy mengangguk. "Kalau mau mandi biar ibu bantu, kamu juga belum mandi kan?"


"Belum bu." Ibu Irma menyerahkan baby Endah ke Kiki, Kiki tampak ragu. Karena sebelumnya juga belum pernah menggendong bayi yang baru lahir.


Bima tak henti-hentinya mengejek Kiki, yang menggendong anaknya dengan tubuh yang kaku.


"Coba Bim yang kamu gendong." Bima langsung terdiam.


"Eh, aku juga belum berani Ki."


"Kamu harus belajar lah Bim."


"Iya ma." Kiki menjulurkan lidahnya.


"Ma? Aku mau tanya." Mama Lisa mengangguk, lalu meletakkan baby Gio ke dalam box karena dia sudah tertidur sekarang setelah selesai minum susu.


"Kamu mau tanya apa?" Mama Lisa duduk di sampingnya.


"Sayang, Endah nggak tidur?" Kiki bangkit dan menggoyangkan tubuhnya agar baby Endah merasa nyaman dan juga tidur.


"Hem gini ma, dokter bilang kalau aku nggak boleh nyentuh Maudy selama 40 hari. Dan memang dokter juga bilang sebaiknya kami tidur terpisah, sama seperti yang mama katakan tadi. Memangnya kenapa ma? Maudy kan istriku." Kiki diam mendengarkan sambil terus memenangkan baby Endah agar segera tidur.


"Bim, Maudy kan baru saja selesai melahirkan? Dan Maudy itu masih merasakan sakit di area intimnya. Jadi, luka itu bakal sembuh setelah 49 hari, Maudy juga akan terus mengeluarkan darah seperti menstruasi. Jadi haram untuk kalian berhubungan sebelum 40 hari. Kenapa mama menyarankan untuk kalian tidur terpisah? Karena takut kalian akan tetap nekat, dan itu memang tidak boleh. Aura wanita yang sehabis melahirkan itu terbuka, walaupun Maudy tak memakai make up, bedak dan lipstik, kamu tetap aja seperti mempunyai selera." Bima manggut-manggut, begitu juga dengan Kiki.


"Tante, baby Endah sudah tidur. Aku letakkan di box ya?"


"Kamu bisa kan Ki?" Kiki mengangguk dan dengan hati-hati agar baby Endah tidak terbangun, begitu juga dengan Gio, supaya tidurnya tak terganggu.


Kiki memandang dua keponakannya ini, tersenyum senang. Membayangkan hal jika ini adalah anaknya, dan berada di posisi Maudy saat ini. Di perhatikan oleh suami, ibu dan juga mertuanya.


Sungguh, ini adalah impian setiap wanita di dunia, menikah dan memiliki anak. Dan satu harapan setiap wanita, bisa memiliki mertua yang baik seperti mamanya Bima.


"Sudah?" Melihat Maudy yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan di papah dengan ibu Irma.


"Kemarin berapa jahitan Dy?" Ibunya bertanya sambil membantu Maudy menyisir rambut.


"Cuma tiga jahitan bu."


"Iya? Padahal kamu melahirkan dua anak sekaligus loh, kamu hebat bisa nggak banyak gerak." Mama Lisa bersuara.


"Aku dulu melahirkan Maudy dan Tisha nggak ada jahitan mbak, karena nggak ada yang robek." Terang ibu Irma.


"Kalau aku sih melahirkan Rio sampai delapan jahitan mbak, karena berat badan Rio sewaktu lahir hampir 4kg. Kalau melahirkan Bima baru tidak ada jahitan, mungkin karena Bima juga kekurangan berat badan sewaktu lahir."


"Prematur ya mbak?" Mama Lisa mengangguk.


Dan disini, ada dua manusia yang berpikir tentang jahitan, jahitan apa? Apa yang di jahit?


Maudy sudah merasakan sudah tau sekarang.


"Tante, yang di jahit apanya?" Kiki bertanya, karena tak salah jika dia juga ingin tau.


"Ya jalan buat keluar bayinya toh Ki?" Ibu Irma menjawab. "Kalau robek ya di jahit." Kiki langsung meringis ngilu mendengarnya.


"Kamu juga bakal ngerasain nanti Ki. Tapi itu semua nggak akan sebanding rasa sakitnya, semua akan terbayar lunas ketika kamu mendengar suara tangis bayi yang kamu lahirkan."


Duh, bagaimana itu rasanya.


"Eh tapi Maudy beruntung, karena Maudy tak merasakan apapun sewaktu akan melahirkan, karena sudah di tukar oleh Bima. Bima yang merasakan sakitnya, jadi jika ditanya bagaimana seorang ibu berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan Bima sudah tau." Terang mama Lisa.


"Masak sih tante?" Beralih menatap Bima yang diam dan memandang ke arah bawah.


"Bim, kamu mandi dulu sana. Kamu juga belum mandi kan?" Bima mengangguk dan keluar kamar, sebelum itu Bima sudah membawa pakaian untuknya. Bahkan mandi saja Bima sudah di kamarnya sendiri.


"Mbak, kita siapkan makanan untuk Maudy ayo? Biar Kiki yang jaga Maudy dulu disini. Nitip Maudy ya Ki."


"Iya tante, aman."


Menunggu mama dan ibunya keluar kamar, Maudy sudah bersiap akan menyerang Kiki dengan berbagai pertanyaan.


"Jelaskan Ki." Kiki menghela nafas dan sudah menebak soal itu, Maudy memang susah untuk melupakan sesuatu yang baginya itu adalah janji. Walau hanya penjelasan, itu juga harus dia dengar.


"Iya itu orangnya Dy." Kiki langsung menunjukkan jari manisnya ke hadapan Maudy yang sudah melingkar cincin disana.

__ADS_1


"Kamu memang serius? Kamu nggak nolak kan atau keberatan?" Kiki menggeleng.


"Lalu Revan bagaimana?" Kiki terdiam, lalu membuang pandangannya ke arah jendela.


"Ya dia sekarang kayak sering bicara soal hati gitu, yang dia bilang aku tega lah, inilah itu lah."


"Tapi Revan juga sudah punya pacar kan?" Kiki menggeleng pelan. "Tapi kamu yang bilang sendiri Ki?"


"Iya itu aku salah paham. Tapi ya udahlah Dy, buktinya walaupun sudah jelas Revan nggak punya pacar, dia juga tetap nggak pernah nyatakan perasaannya sama aku kan?"


"Iya juga sih ya. Eh tapi itu Niko, Niko kan namanya?" Kiki mengangguk. "Ganteng parah Ki, serius." Kiki tersenyum kecut. Entahlah yang mana akan menjadi jodohnya semua sudah di pasrahkan pada Tuhan.


Hingga siang, Kiki langsung pamit untuk pulang. Tidak, lebih tepatnya datang ke kantor mengantar makanan untuk Revan. Barulah setelah itu pulang kerumah.


Kiki sudah berada di resto Maudy yang baru saja buka, memesan makanan take away tiga porsi sekaligus, untuknya, Revan dan juga mamanya. Kiki mau juga makanan itu di masak khusus oleh Edi.


"Edi, pokoknya harus enak ya!" Kiki bahkan langsung ke dapur memantau Edi memasak.


"Iya siap. Ini juga hampir matang." Jawab Edi sambil memperlihatkan kemampuannya dalam memasak.


"Ya udah aku tunggu di depan." Kiki berjalan menuju kursi tunggu khusus para pembeli yang melakukan take away.


15 menit menunggu, akhirnya makanan siap. Kiki meminta yang satu di pisahkan.


****


Kiki sudah berada di depan kantor, lebih tepatnya berada diluar gerbang. Kiki yang sangat malas untuk turun sebenarnya, tapi juga malas untuk menghubungi Revan. Terpaksa turun dan meminta securitty untuk menghubungi Revan.


"Sudah pak?" Meringis karena wajahnya terkena sinar matahari.


"Iya mbak sudah, tunggu sebentar. Mbak Kiki nggak masuk kerja hari ini?" Kiki hanya menggeleng. Berdiri tidak tenang karena menunggu Revan yang belum juga terlihat.


10 menit berlalu, barulah terlihat Revan yang berjalan keluar kantor. Dari jauh dia tampak bingung melihat ada Kiki yang berdiri di depan gerbang, Revan segera mempercepat langkahnya.


"Ki?" Kiki menoleh. Dengan satu tangan ia gunakan untuk menutup wajahnya.


"Nih Van, aku antar kamu makan siang?" Revan berjalan keluar gerbang dan mendekati Kiki untuk mengambil kantung plastik yang bertuliskan nama RESTOKU disana.


"Kenapa repot-repot?"


Nggak mungkin kan aku bilang Bima yang suruh, tapi kalau aku nggak bilang Revan malah berpikir aku kasih harapan ke dia.


Kiki menjadi serba salah.


"Ah iya, hanya ucapan terima kasih karena aku nggak masuk dan kamu yang handle pekerjaan aku." Revan mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya?" Kiki mengangguk.


"Cie mas Revan, enak bener makan aja di anterin." Revan dan Kiki menoleh ke arah securitty yang berdiri di dekat pos.


"Saya juga mau." Ucapnya lagi. Kiki hanya tersenyum.


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya?"


"Eh iya, Hem Ki?" Kiki berbalik.


"Bagiamana keadaan anaknya pak Bima?"


"Baik."


"Oh syukurlah."


"Kalau keadaan kamu?" Ah Kiki tau kalau Revan sengaja mengulur waktu.


"Baik lah, kan kamu lihat sendiri."


"Baguslah." Kiki mengangguk dan berjalan mendekati mobilnya. Lalu ketika Kiki sudah membuka pintu, tiba-tiba saja Revan menarik tangannya.


"Maaf." Lalu melepaskan.


"Nanti malam aku mau kerumah kamu?" Kiki mengerutkan keningnya. "Aku cuma main aja kok." Kiki hanya mengangguk.


"Tapi kamu jangan makan dulu ya, nanti malam aku bakal bawakan kamu makanan. Buat mama kamu juga, anggap aja ini balasan untuk ini." Revan menggoyangkan kantung plastik di hadapan Kiki.


Kiki tersenyum senang, iya senyum tulus yang dia berikan untuk Revan.


Kenapa aku merasa senang?


"Bolehkan?" Bertanya lagi karena Kiki belum menjawab.


"Boleh kok, ya sudah aku sudah boleh pulang sekarang kan?" Kiki melirik lagi ke arah tangan Revan yang belum terlepas.


"Eh iya. Hati-hati ya?" Ucapnya sangat lembut.


Kiki langsung masuk dan duduk di dalam mobilnya sambil memegang jantungnya yang saat ini berdegup.


Dalam perjalanan, Kiki melirik ke arah ponselnya yang berdering.


Niko calling..


"Ya Hallo?" Kiki langsung mengangkatnya, dan memperlambat laju mobilnya.


"Kamu lagi dimana Ki?"


"Di jalan kak mau pulang kerumah, hari ini nggak masuk kerja karena ada urusan." Terangnya sebelum Niko bertanya.


"Nanti malam kita dinner ya di luar? Aku jemput kamu jam delapan malam."


Deg. Kiki spontan mengerem mendadak.


"Hem, kak."


"Sudah ya, aku tutup."


Belum sempat Kiki memberi alasan dan menolak, heh. Kiki menghela nafas lalu beralih menatap ke jari manisnya dimana saat ini cincin yang sudah beberapa hari ini melingkar di jarinya.


Beribu andai sekarang Kiki pikirkan.

__ADS_1


Aku harus pilih di antara mereka, jauhi Revan atau jauhi kak Niko.


--__


__ADS_2