
"Urus pasien atas nama Bima Adi Nugroho. Dia akan saya bawa pulang ke Indonesia sekarang juga!" Berlalu pergi setelah mengatakan hal yang sangat sulit di mengerti oleh Rio.
Adi Nugroho, ia langsung berjalan keruangan dimana Bima di rawat. Dan Rio, ia juga langsung menyusul langkah papanya. Ada yang sangat ia takutkan sekarang, bukan tentang Bima yang terbaring. Lebih tepatnya, ketakutan untuk calon adik iparnya. Entah bagaimana nasibnya setelah ini.
"Om Adi?" Lirih dan hampir tak terdengar. Maudy langsung menundukkan wajahnya ketika melihat seorang Adi Nugroho sudah ada di hadapannya sekarang.
"Gimana keadaan Bima Siska?" Bertanya kepada menantunya. Belum menyadari siapa yang ada di samping Siska sekarang. Baginya saat ini kondisi anaknya lah yang paling utama.
"Belum sadar pa." Siska terlihat cemas.
"Pak maaf, kondisi pasien belum bisa untuk di bawa pulang ke tanah air kalian. Itu akan membuat kondisinya semakin lemah, setidaknya tunggu sampai ia sadar." Dokter datang dan memberi penjelasan.
"Iya pa, kasian Bima." Rio juga ikut bersuara.
"Kamu diam! Biar papa yang mengatur, semua juga karena kalian bohongin papa!" Ucapnya dan menunjuk wajah anaknya sendiri.
"Pa, maaf. Ini juga aku yang punya usul." Rio langsung membulatkan matanya, tidak percaya istrinya berani mengatakan itu.
"Siska, papa tau. Kamu tidak mungkin berbuat hal itu, memiliki ide semacam itu. Papa yakin ini ide konyol suamimu dan mamanya."
"Jadi bagaimana pak? Apa bapak bisa menunggu hingga pasien sadar?" Dokter kembali bertanya setelah melihat perdebatan keluarga, yang memang dia sendiri tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan.
"Baik, saya akan tunggu. Apa boleh saya masuk ke dalam?" Tanyanya. Ia sudah sangat khawatir melihat Bima, terlihat ia selalu mengintip dari balik kaca.
"Silahkan." Ucapnya dan membuka pintu ruangan. Dokter juga ikut mendampingi.
Mata papanya langsung berkaca melihat wajah Bima, melihat keadaan anaknya saat ini.
Bima, andai papa lebih ketat menjaga kamu kemarin. Pasti kamu tidak akan seperti ini sekarang.
Sambil menggenggam tangan Bima air matanya menetes. Hal yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan keluarganya, adalah kesedihan.
"Tolong, beri perawatan terbaik di rumah sakit ini. Berapa pun biayanya." Ucapnya tak mengalihkan pandangannya dari Bima.
Tak lama ia kembali bangkit dan keluar ruangan setelah dokter akan kembali mengechek keadaan Bima.
"Mas, aku pulang ya. Besok aku akan kesini lagi." Maudy pamit, tapi terlambat. Saat ia bangkit akan melangkah om Adi juga keluar dari ruangan, dan saat ini mereka saling tatap. Maudy langsung gugup, bingung, takut, semua ia rasakan.
Haruskah aku juga pamit?
"Tunggu?" Ucapnya dan buru-buru mendekat ke arah Maudy.
"Kamu disini juga? Apa kalian yang mengajaknya?" Menoleh ke arah menantu dan anaknya.
Mereka kompak menggeleng.
"Eh nggak om. Aku, aku memang tinggal disini sekarang. Aku akan kuliah disini." Terangnya, sebelum papanya Bima lebih jauh menyalahkan mas Rio.
"Oh jadi ini penyebabnya, kenapa Bima ngotot ingin ikut kalian pergi? Jadi karena anak ini?" Maudy sudah tidak ada harganya Dimata Adi Nugroho.
"Baik lah. Kamu pulang sekarang. Dan hidup lah lebih baik setelah ini."
Maksudnya? Aku nggak ngerti! Aku memang niat akan hidup lebih baik setelah ini.
Maudy mengangguk lalu pamit pergi. Ia tidak menoleh ke belakang lagi. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah doa, doa untuk kesembuhan Bima.
Maudy sudah menghubungi omnya. Dan supir sudah dalam perjalanan menjemputnya. Hanya 30 menit, dan Maudy sudah berada di dalam mobil. Entah supir dari mana yang masih stand by di jam yang sudah malam seperti ini. Itu sudah tidak ia pikirkan lagi. Yang terpenting pulang, membersihkan diri karena ada darah Bima yang menempel di tubuhnya saat ini.
***
"Gimana keadaan teman kamu mo?" Omnya sudah menunggu di depan. Ternyata saat ini resto juga sudah tutup.
"Belum sadar juga om." Wajahnya sangat terlihat lesu, juga pucat. Jelas, Maudy bahkan belum makan dari siang hari.
"Sebenarnya dimana kecelakaannya? Om sudah menghubungi beberapa rekan om disini, tapi tidak ada terjadi kecelakaan di jalan raya." Sepertinya ia meminta penjelasan kepada Maudy, hanya saja bertanya secara tidak langsung.
Maudy menghela nafas berat, rasanya sudah saatnya menceritakan semuanya.
"Om, sebenarnya dia pacar Maudy." Omnya langsung merubah ekspresi wajahnya, seperti orang yang terlihat bingung mendengar perkataan keponakannya.
"Dia anak salah satu pengusaha terkenal, Adi Nugroho om."
"Apa? Adi Nugroho? Kamu serius?"
Maudy mengangguk.
Maudy menceritakan semua tentang Bima. Tentang gimana keluarganya, dan yang terakhir tentang hubungan mereka yang tidak di setujui oleh papanya Bima. Sampai kejadian hari ini juga Maudy ceritakan. Ada air mata yang siap untuk menetes.
Omnya memeluknya dengan hangat, mengelus puncak kepalanya.
"Kamu bisa buktikan, kalau kamu juga bisa sukses!" Menyemangati Maudy dengan senyuman. Padahal ini sudah larut malam, tapi mereka masih lanjut mengobrol duduk di bangku taman depan rumah.
__ADS_1
Sampai datang istrinya, baru lah mereka masuk.
***
Keesokan paginya, Maudy kembali bersiap menjalani rutinitasnya. Belajar mengemudi, dan setelah itu baru akan kerumah sakit. Tidak peduli dengan keadaannya sendiri, padahal tubuhnya terasa lemah sekali saat ini.
"Dy, kamu sakit?" Tantenya menegur setelah selesai sarapan.
"Nggak kok tante, mungkin karena kelelahan aja." Mencoba tersenyum.
"Kalau kamu nggak enak badan, kamu nggak usah belajar mengemudi dulu. Biar tante yang bilang sama om kamu."
"Nggak usah tante. Aku masih bisa kok."
Tantenya tersenyum dan mengusap pipinya lembut.
"Nggak, kamu jangan bohongi tante. Om kamu udah cerita semuanya kok. Tante ngerti, ya udah kamu langsung ke rumah sakit aja sekarang." Tersenyum lagi.
Ya Tuhan, aku bersyukur di kelilingi orang baik seperti ini.
"Tante, makasih ya?" Memeluk tantenya dengan kehangatan.
Aku jadi rindu ibu.
Maudy langsung menghentikan taxi. Soal belajar mengemudi ia tunda dulu saat ini, tantenya juga udah janji akan mengatakan kepada omnya.
Bima semoga kamu baik-baik aja sekarang.
***
Maudy berjalan ke arah ruangan dimana Bima di rawat semalam.
Kok sepi? Apa mas Rio ada di dalam ya?
Maudy mengintip dari kaca yang ada di pintu ruangan. Tapi nihil, tidak ada pasien yang di rawat di dalam. Semuanya kosong.
Apa Bima sudah siuman? Lalu pindah ruangan? Syukurlah kalau begitu.
Hatinya sedikit lega, ada senyum yang terpancar di wajah pucat nya pagi ini.
"Suster, permisi. Apa pasien di ruangan ini sudah di pindah tempat? Kalau boleh tau ruangan yang sekarang dimana ya?" Saat berbalik ternyata ada salah satu perawatan yang kebetulan lewat.
"Maaf, saya tidak tau. Silahkan tanya ke resepsionis." Dengan ramah ia menjelaskan.
Tapi mana mungkin Bima di rawat di ruangan biasa seperti ini pasti papanya akan memindahkan keruangan VVIP.
Saat meja resepsionis rumah sakit sudah terlihat Maudy tiba-tiba menghentikan langkahnya. Detak jantungnya seperti melemah, ia teringat sesuatu.
Kalau Bima sudah sadar? Itu berarti???
Maudy kembali mempercepat langkahnya, untuk memastikan keadaan.
"Permisi. Saya mau tanya, pasien yang berada di ruang ICU atas nama Bima Adi Nugroho. Apa dia di pindah ruangan?"
"Sebentar saya check dulu?" Maudy meremas jarinya sendiri menunggu pihak rumah sakit melihat data di komputer.
"Oh. Maaf, tadi malam sekitar pukul 01. Pasien sudah di bawa pulang ke negaranya."
Deg..
Benarkan!!
"Ya sudah terima kasih." Maudy berjalan dan duduk di salah satu bangku halaman rumah sakit. Pandangannya terasa kabur, kepalanya juga terasa berdenyut. Padahal ia sudah mendengar sendiri kalau papanya Bima mengatakan itu tadi malam. Tapi, rasanya masih tidak terima. Tidak untuk sekarang! Ia masih sangat ingin melihat keadaan Bima.
Bim, apa kamu sudah sadar sekarang? Maafin aku ya Bim.
Maudy kembali bangkit dan melangkah. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Tubuhnya juga terasa sangat lemas sekarang. Mungkin sudah lelah fisik dan juga pikiran.
***
Dua hari berlalu begitu cepat. Maudy juga di rawat di kamarnya. Tangannya terpasang selang infus sejak semalam. Demam tinggi melandanya. Ia menolak saat akan di bawa kerumah sakit, karena ia sangat tidak suka itu. Dan seumur hidupnya, baru kali ini lah Maudy harus merasakan rasanya di tusuk jarum. Sebelumnya, bahkan tidak pernah membayangkan hal ini. Ia merasa dirinya kuat. Kuat fisik dan hati, tapi saat ini keduanya malah melemah.
Karena kegigihannya tetap ingin di rawat di rumah. Dengan terpaksa omnya juga menuruti kemauannya.
"Dy, ada yang datang mau jenguk kamu." Tantenya yang setia menjaga dan menunggunya disini. Karena ia sendiri tidak memercayakan kepada ART yang ada dirumahnya.
"Siapa tante?" Tanyanya dengan suara lemah.
"Maudy?" Suara yang sangat ia rindukan dan ia kenali.
"Kiki?" Langsung ingin bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Eh udah jangan gerak, biar aku yang kesana." Langsung berjalan mendekat ke arah Maudy.
"Kamu sendiri?" Tanya Maudy.
"Nggak. Sebentar lagi bakal ada yang masuk. Tunggu ya." Ucapnya dan mengelus lengan sahabatnya.
"Tante keluar sebentar ya, kamu siapa tadi namanya?" Tanya tantenya.
"Kiki tante." Tersenyum ramah.
"Oh Kiki, tante titip Maudy sebentar ya." Tantenya keluar, mungkin ia juga akan membersihkan diri selagi ada yang menggantikannya menjaga Maudy.
"Apa kamu tau kabar Bima Ki?" Kiki menggelengkan kepalanya.
"Sejak kamu telepon aku, sejak kamu kasih tau kalau Bima tertimpa musibah, aku selalu hubungi dia Dy, tapi teleponnya nggak pernah aktif." Maudy membuang pandangannya. Ada kecewa dan kesedihan yang ia sembunyikan.
"Udah, kamu fokus dulu sama kesembuhan kamu ya, nanti kalau aku udah balik aku janji bakal cari tau kabarnya." Tersenyum dan kembali mengelus lengan Maudy.
"Maudy!!" Suara yang kencang terdengar.
Maudy dan Kiki serempak menoleh ke arah pintu. Bahkan masuk juga tidak mengetuk pintu.
"Ibu, ayah?" Kali ini tidak peduli dengan tubuhnya yang lemah. Maudy langsung duduk dengan sekuat tenaganya.
"Anak bandel! Kamu kok bisa sakit??" Ibunya memeluknya.
"Hehe." Maudy malah tersenyum. Sekarang tenaganya seperti terisi kembali. Dengan kedatangan orang tuanya. Orang yang sangat ia rindukan.
"Ayah?" Merentangkan kedua tangannya, ayahnya tau kalau ia juga minta di peluk.
"Katanya kuat, tapi bisa sakit juga?" Memeluk anaknya dan mengelus puncak kepala Maudy.
"Ibu, kenapa repot-repot datang kesini? Lalu Tisha mana?"
"Ibu sama ayah khawatir saat om kamu ngasih tau kalau kamu sakit dan di rawat di rumah. Ibu langsung meminta ayah mengajukan cuti, biar bisa pergi kesini." Terangnya. "Tisha ikut, dia ada dibawah. Lagian dia juga libur sekolah sekarang."
"Kenapa dia nggak kesini? Apa dia nggak rindu aku bu?"
"Hem, dia lagi keliling rumah om kamu tuh sama Bian."
Saat di beri kabar kalau Maudy sakit, ibunya langsung memohon kepada ayahnya, untuk menggunakan uang tabungannya membeli tiket dan segera pergi menjenguk Maudy. Dan ternyata adiknya Wisnu malah lebih dulu memesankan tiket online untuk keluarganya berangkat. Mereka juga tidak menolak, karena memang mereka butuh.
"Mbak." Tisha datang bersama Bian.
"kirain kamu lupa sama mbak." Tisha memeluknya meluapkan rasa rindunya.
"Sepupu kamu tampan ya Dy, kalau aja udah dewasa pasti aku bisa sama dia." Bisik Kiki di telinga Maudy.
"Kalau dia dewasa juga belum tentu mau sama kamu." Kiki yang mendengar langsung mendengus.
Ah Bim, padahal disini semua keluarga ku berkumpul. Tapi masih saja terasa sunyi nggak ada kamu. Apa kamu baik Bim disana?
"Kamu udah makan Dy?" Ibunya membuyarkan lamunannya.
"Udah kok bu baru aja."
Ibunya menginap sampai dua hari ke depan. Ia ingin memastikan keadaan anaknya sampai sehat kembali. Menjadi Maudy yang kuat. Maudy ingin sekali berbicara berdua dengan ibunya. Mengungkapkan isi hatinya saat ini, tentang keadaan Bima dan apa yang terjadi padanya. Dan untungnya, yang lain pada keluar. Termasuk Kiki dan Tisha mereka juga pamit keluar untuk jalan-jalan, itu juga di temani oleh Bian. Sementara ayahnya keluar ingin melihat usaha milik adik iparnya.
"Kamu kenapa bisa sampai sakit? Biasanya kamu nggak pernah begini. Ini belum juga satu bulan disini kamu udah sakit. Apa kamu terlalu capek bantu om kamu di resto? Kalau iya, biar ibu bilang kamu nggak usah disini, kamu pulang ikut ibu, mau?" Maudy langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan bu, bukan itu. Om disini buat aku istimewa kok. Aku hanya kepikiran Bima."
"Kenapa Bima?" Ibunya bertanya dengan lembut.
"Dia sakit bu."
"Kamu juga sakit Dy."
"Bukan, Bima bukan sakit seperti ini bu. Dia sakit karena di hajar preman?"
"Ha?" Mulut ibunya sampai menganga karena kaget.
"Iya bu." Kemudian Maudy menceritakan kronologis kejadiannya. Ini juga sudah entah ke berapa kalinya ia mengulang cerita, pertama Rio, lalu omnya belum lagi Kiki dan sekarang pada ibunya. Cerita pahit yang selalu terbayang di pikiran Maudy.
"Terus gimana keadaan Bima sekarang?"
"Itu yang buat aku kepikiran bu. Bima nggak ada kabar, ponselnya juga tidak pernah aktif semenjak itu." Maudy meneteskan air matanya. Ini menjadi kesakitan tersendiri untuk seorang ibu yang melihat anaknya.
"Sudah. Nanti kalau ibu sudah pulang, ibu coba telepon mamanya. Siapa tau mamanya kasih tau keadaan Bima." Maudy buru-buru menghapus sisa air matanya.
"Beneran bu?" Ibunya langsung mengangguk.
__ADS_1
Dan setelah mendengar hal itu. Malam ini Maudy bisa tidur dengan nyenyak. Sekarang ia tau, bahwa Bima yang aneh begitu penting baginya selain orang tuanya. Bima yang penuh drama, begitu ia sayangi. Walau panggilan itu jarang sekali Maudy ucapkan di hadapan Bima.
--__