
Benar apa yang di katakan Agam. Pagi, ya jelas berbeda dengan malam. Dan hari ini, semua keindahan alam yang jarang sekali terlihat oleh mata bisa di nikmati olehnya. Udara yang menusuk ke kulit sudah tak terasa, seperti malah itu yang di nikmati sekarang.
"Enak banget disini Ki." Ya dia bisa tersenyum sekarang kan?
"Ayo, mereka semua sudah pada kumpul. Kita sebaiknya bantu-bantu." Kiki menariknya dari tempat yang masih Maudy kagumi. Benar semua sudah berkumpul, termasuk Ilham. Dia tersenyum melihat Maudy yang sudah berjalan ke arah mereka.
"Ki, bisa tolong ambilkan ikan sama penjaga villa? Soalnya tadi katanya lagi di cuci, tapi lama banget." Salah satu keluarga Agam meminta bantuan, Kiki segera pergi dan mengambilnya. Ilham masih sibuk membuat bara, mengipas asap hingga keluar api. Tapi dia tersenyum dan bangkit lalu berjalan ke arah Maudy.
"Suami kamu tau nggak kalau kamu nginep disini?" Maudy mengangguk saja, lalu mengalihkan pandangan untuk segera kabur dari hadapan Ilham.
"Apa dia nggak marah?" Menggeleng.
"Eh aku kesana dulu ya?" Akhirnya menemukan pelarian. Maudy berjalan ke arah dimana bumbu ikan di siapkan. Duduk disana bersama salah satu teman Agam.
Maudy melihat ke sekeliling tempat mereka akan melakukan acara bakar-bakar ikan. Di samping villa, dengan di suguhkan pemandangan alam hijau secara langsung. Langit biru menambah kesan indah seperti lukisan. Awan putih juga ikut bertebaran disana, menggambarkan berbagai macam kehidupan.
Hingga acara bakar-bakar di mulai, asap sudah mengepul ketika salah satu dari mereka mengipas ikan di atas bara api. Harus tercium di setiap hidung waras milik mereka. Sambal juga sudah tersedia di atas meja kayu yang di buat penjaga villa. Mata sudah tak singkron, rasanya ingin melahap sebelum semuanya matang. Entah kenapa, ini seperti tak bisa Maudy tunggu lagi. Perlahan, menggeser duduknya, mata liarnya melirik ke semua orang yang tengah fokus dengan ponselnya ataupun pekerjaan yang sudah di bagi rata.
Cup, Maudy mengambilnya. Eh dia bingung dan di kembalikan lagi.
"Kamu sudah lapar? Makan aja nggak apa?" Wajahnya ingin masuk ke perut bumi sekarang. Ternyata gerak-geriknya sedari tadi sudah di perhatikan oleh Ilham. Ah malunya, belum lagi Ilham yang seperti menahan tawa sekarang.
"Nggak." Mengalihkan pandangannya, bermain ponsel meski entah apa yang harus dia lihat sekarang.
"Sudah kalau pengen ya di makan, kenapa harus nunggu? Ini." Meletakkan satu ikan di atas piring lalu menyerahkannya kepada Maudy. Harus apa sekarang? Berterima kasih kah? "Kalau kurang nambah lagi." Ya ampun, Maudy menutup matanya sebentar lalu mendongak.
"Terima kasih Ham." Hitungan menit, piring sudah tandas.
Enak sekali,
Setelah satu jam, menunggu dan sudah mencicipi satu ikan. Kini mereka sudah berkumpul, makan dengan beralaskan tikar di bawah pohon rindang, makan bersama di mulai, nasi yang di letak ke atas daun, lalu ikan dan terakhir sambal.
Maudy makan dengan lahapnya, tidak malu lagi karena memang sekarang sudah waktunya makan. Suara sendawa juga terdengar kan ketika sudah kenyang.
"Ki, aku balik ke kamar ya? Aku ngantuk."
"Ya sudah, nanti kalau mau pulang aku bangunkan. Sebentar lagi mungkin." Maudy mengangguk lalu melangkah pergi.
Maudy berjalan di samping kolam renang. Menyusuri setiap sudutnya, sengaja mengulur waktu untuk masuk ke kamar. Air kebiruan membuatnya merasa ingin sekali berendam dan berenang. Pasti asik, batinnya.
Beberapa menit kemudian.
Maudy benar-benar mengganti pakaiannya, dia lupakan kata tidur yang di ucapkan tadi. Melihat semua masih berada di samping villa. Hal yang ia lakukan saat ini, masuk ke kolam renang dengan perlahan karena tak ingin menimbulkan suara. Air yang sangat dingin bahkan tak di hiraukan. Berenang kesana-kemari, menikmati kesegaran yang dirasa.
"Loh Dy, kamu katanya mau tidur?" Suara itu, Maudy langsung menoleh.
"Tadi aku nanya sama Kiki." Ikut duduk di pinggir kolam dengan kaki yang ia masukan ke dalam air. Tak peduli jika celananya juga akan basah.
"Iya, tiba-tiba aja kepengen renang. Sudah lama juga." Tersenyum.
"Nanti juga bisa kalau resto kamu selesai. Kamu bisa renang kapan aja kalau pengen." Maudy tertawa kecil, benar juga tapi tidak mungkin kan jika resto nantinya sedang ramai gimana, batinnya.
"Kenapa tertawa? Kan benar yang aku bilang Dy." Dan sekarang tubuhnya benar-benar ikut masuk ke dalam kolam, Maudy juga merasa tidak keberatan. Dia kembali menyusuri setiap sudut kolam dengan berbagai macam gaya yang dia tau.
"Dy?" Ilham berenang mendekat.
"Iya?" Mereka sama-sama mengentikan aktivitas dan bersandar di pinggir kolam dengan satu tangan memegang tangga kolam.
__ADS_1
"Carikan aku pacar." Haha, Maudy tertawa dulu. Kenapa? Apa sebegitu putus asanya?
"Serius Dy. Kalau ada, aku bahkan mau langsung menikah saja!" Dengan wajah seriusnya.
"Kenapa?" Eh malah Maudy bertanya.
"Kenapa apanya?"
Kenapa tiba-tiba ngomong gitu, aneh!
"Aku pengen aja kayak kamu gitu, sepertinya enak kalau menikah."
"Dari sudut pandang mana yang di maksud kamu enak?" Berenang lagi, meninggalkan Ilham yang masih ingin terus berbicara.
Langit biru hilang, berganti dengan awan hitam. Secepat itu?? Maudy melihat ke atas, hilangnya sinar matahari membuatnya benar-benar harus melihat ke atas.
"Dy?" Lagi, dia mendekat. Mau apasih sebenarnya.
"Iya nanti aku Carikan. Tapi, aku belum tau siapa. Soalnya teman aku ya cuma Kiki, yang lain banyak juga. Kan nggak mungkin aku bilang ke mereka kalau mau aku jodohin kan?" Tau saja kalau Ilham akan menanyakan hal ini, huh.
"Iya-iya. Kamu nggak merasa dingin apa?"
"Belum sih, masih pengen renang. Tapi kayaknya udah mau hujan." Mengarahkan pandangannya ke atas langit. "Emangnya bakal pulang jam berapa sih?"
"Sebentar lagi mungkin. Kan janji mereka sore." Maudy mengangguk.
Ilham lebih dulu naik ke atas, duduk seperti tadi sebelum ia benar-benar menjeburkan dirinya ke kolam. Memeluk tubuhnya sendiri, karena angin mulai datang.
"Sini aku bantu." Melihat Maudy kesusahan ingin naik ke atas. Mengulurkan tangannya dan Maudy juga menyambutnya.
"JANGAN PERNAH SENTUH ISTRIKU!!" Suara lantang yang sama-sama terdengar di telinga mereka, bahkan semua yang sedang berada di samping villa langsung ikut melihat.
"Bima? Kamu, kamu kenapa bisa disini?" Menatap ke sekeliling. Sudah ada Kiki yang berjalan dengan tergesa-gesa, wajah panik tak bisa ia tutupi. Kenapa? Ini semua kan karenanya yang mengajak Maudy pergi.
"Seberapa besar nyalimu? Kamu bahkan berani menyentuh milik orang lain?"
Bima?
Tidak, jangan marah di hadapan mereka Bim. Batinnya berteriak. Maudy berjalan mendekat dengan tubuhnya yang memang sudah basah. Menampakkan bagaimana lekuk tubuhnya. Ia sudah memegang tangan Bima, tapi Bima langsung menepisnya. Bahkan menoleh pun tidak.
Bima membuka jasnya, memakaikan ke tubuh Maudy. Maudy sendiri tau maksudnya. Dan sekarang keadaan benar-benar hening, tidak satupun yang mengeluarkan suaranya. Entah aura apa yang di ciptakan Bima disini.
"Masuk segera ganti pakaian mu." Berbicara pelan, dan hanya Maudy yang mendengarnya, tapi tidak ada suara kelembutan disana.
Maudy enggan pergi, takut jelas ia rasakan. Bahkan juga takut kalau Bima akan kembali bertengkar, dan adu jotos. Tentu dia sendiri tidak mau meninggalkan Bima.
"Sayang, apa kamu tidak dengar?" Kali ini menoleh dan tersenyum ke arah istrinya. Mengelus pipinya lalu mengulang lagi ucapannya.
"Bim." Menggoyangkan lengan Bima.
Maudy menoleh ke arah Ilham, menyuruh Ilham untuk pergi dengan bahasa mata. Tapi Ilham malah terlihat santai dan malah tersenyum ketika Maudy menatapnya.
"Aku juga tidak suka kamu tersenyum ke arahnya." Kata-kata yang di tunjukan untuk Ilham tetapi ia menoleh ke arah Maudy.
"Bim, maaf ya?" Kiki bersuara, tapi Bima langsung membungkam mulutnya dengan bahasa tangan, sehingga untuk meneruskan kata-katanya Kiki juga enggan.
Apa aku bakal lihat kemarahan Bima lagi? Untuk yang kedua kalinya. Menyeramkan.
__ADS_1
Kiki langsung membawa Maudy, menarik lengannya untuk segera berganti pakaian. Melihat Maudy yang bibirnya sudah memucat dan bergetar.
Samar-samar Maudy bisa mendengar sedikit apa yang dikatakan Bima kepada Ilham. Menoleh lagi sebelum benar-benar masuk ke dalam villa.
***
"Jadi itu suaminya? Itu Bima kan? Anaknya pengusaha sukses?"
"Dia juga sudah sukses, dia sekarang memimpin perusahaan papanya."
"Gila! Tampan sekali, cocoklah sama kak Maudy." Sambil terus mengintip dari samping villa, sayangnya mereka tak mendengar apa yang dikatakan Bima dengan Ilham. Pembicaraan yang sangat serius, ah angin tak bersahabat. Kenapa tak mengarah ke kami sih? Jadikan bisa mendengar. Gerutu saudara Agam yang tengah melihat.
"Kalian ngapain?" Agam yang baru saja kembali dari kamar mandi sepertinya sudah tertinggal berita hangat. Matanya langsung mengarah dimana saudaranya melihat.
Bima??? Ilham? Kenapa?
"Ada apa sih?" Sudah ingin melangkah, tapi kedua saudaranya menahan dan menggelengkan kepala.
"Jangan kak, tunggu disini aja. Mereka lagi bicara serius." Tak mengalihkan pandangannya. Dan sampai Ilham pergi dari sana, Agam memberanikan diri untuk berjalan kesana.
Bima juga tidak beranjak, masih tetap menatap sebuah kamar yang tadi Maudy masuki. Tatapan tajam tanpa berkedip masih ia perlihatkan. Kemarahan yang harus di lampiaskan dengan siapa, istri atau lelaki yang terus mengganggu istrinya.
"Bim? Kamu disini?" Berpura-pura tidak tau apa-apa, walau sebenarnya memang tidak tau.
"Kalian yang bawa laki-laki itu?" Tanpa menoleh ke arah Agam.
"Iya karena dia memang kami-"
"Baiklah, sepertinya Maudy harus menjauhi orang-orang di sekitarnya." Agam langsung terdiam. Siapa yang mengira dia akan datang? Bahkan katanya sedang berada di luar negeri. Pikiran dengan perasaan rasa bersalah mengelilingi kepala Agam. Dia tidak berbicara lagi, bingung.
Hingga melihat Maudy keluar bersama Kiki, Agam menghela nafas lega. Ternyata pacarnya sudah tau.
"Kita pulang." Dua kata itu tak bisa Maudy tolak. Tangannya langsung di genggam erat. Bima terus menariknya pergi.
"Bim?" Tidak ada jawaban sama sekali, Maudy menoleh ke arah Kiki dan Agam sampai beberapa kali, terlihat Kiki yang melemas dan berjongkok, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ya ampun, gimana ini??
Terus saja Bima menarik tangannya, hingga sampai di depan mobil.
"Masuk." Bahkan Bima lebih memilih untuk duduk di depan bersama supir dan membiarkan Maudy duduk sendiri di belakang.
Pasrah, ya hanya itu yang bisa Maudy lakukan sekarang.
Apa Bima akan menceraikan aku setelah ini?
Bahkan pikiran itu sudah masuk ke dalam kepalanya, berputar terus.
"Huek." Mual tiba-tiba datang. Bima langsung menoleh.
"Sayang?" Panik. "Pak berhenti." Supir langsung menepikan mobilnya.
"Huek." Lagi, untuk menjawab pertanyaan Bima rasanya sudah sulit.
"Sayang?" Bima langsung berlari keluar dan membuka pintu mobil kemudian ia duduk di samping Maudy.
"Aku mual, pusing." Suaranya lirih, Bima semakin panik. Dan langsung meminta supir untuk segera mencari rumah sakit terdekat disini.
__ADS_1
Bahkan Bima juga meminta supir untuk melajukan mobilnya dengan cepat. Sesekali mengecup kening istrinya, keringat dingin keluar dari tubuh Maudy. Entahlah, kesadarannya perlahan hilang. Dan detik berikutnya, Maudy benar-benar tak mendengar apapun lagi. Matanya menutup sempurna dalam pelukan Bima.
--__