
Suasana yang terik karena panasnya matahari, tergantikan dengan dinginnya es kelapa muda yang masuk ke tenggorokan, ah begitu suara orang-orang yang kini sedang menikmatinya.
Hanya duduk di atas kursi plastik dan di teduh kan dengan tenda biru. Untungnya angin banyak datang, menyambut para pelanggan yang antri untuk membeli. Disini mereka saat ini, Maudy dan Kiki. Duduk di bawah tenda biru yang bergoyang karena tertiup angin. Sebelum menikmati kesegaran ini, mereka juga mengantri seperti yang lain.
Mungkin karena penjualnya ramah, juga es yang di buat dengan menggunakan 100% gula asli. Maudy sedikit melupakan kesedihannya karena duka yang menimpa keluarganya. Ia memandang ke sekeliling. Banyak nya pembeli yang duduk sepertinya. Rata-rata juga masih memakai seragam sekolah, sama sih sepertinya juga.
Tapi ada hal yang membuatnya selalu melihat ke arah orang-orang. Iya, sepasang kekasih. Yang lain datang kesini duduk dengan santainya bersama kekasihnya. Tertawa lepas dan bisa bercanda bersama.
Andai kamu bisa bebas seperti ini Bim. Aku pasti bakal lebih senang setiap harinya, bukan berarti tujuanku hanya untuk pacaran. Tapi aku ingin mempunyai sedikit kenangan yang selalu aku ingat, walaupun dengan cara sederhana. Setidaknya aku mempunyai masa-masa indah, sebelum aku pergi nanti keluar negeri.
"Kamu melamun?" Melihat Maudy yang masih terus memandang pasangan di ujung dekat tenda. Matanya menyipit ketika angin datang, dan meringis melawan terik matahari yang masuk dari tenda atas. Ya, karena tendanya juga ada yang bolong. Maklum, namanya juga penjual sederhana, entah terlalu sibuk atau apa sehingga belum mengganti tendanya dengan yang baru.
"Liat deh Ki." Kiki melihat apa yang saat ini di tunjuk oleh Maudy.
"Kenapa memangnya mereka?" Ternyata belum paham maksud Maudy.
"Enggak, ya udah lanjut minum aja lah." Malas rasanya menjelaskan tentang ini sama jomblo akut, batin Maudy.
"Neng, mau gorengan tidak?" Tawar penjual, selain es kelapa muda, ternyata juga ada macam-macam gorengan. Ada juga saus dan cabe rawit yang di sediakan. Cocok nih kalau di makan pas galau, bisa di makan banyak-banyak.
"Boleh pak. Rawitnya yang banyak ya pak."
"Siap neng." Segera mengambil pesanan yang di minta pelanggan nya.
Penjual datang membawa piring yang berisi berbagai macam gorengan, ada tahu isi (berisi sayuran tumis), juga ada tempe goreng berbalut tepung, ada juga bakwan (wortel dan kol yang di campur tepung). Dan tak lupa rawit yang di minta Maudy, banyak ada satu mangkuk kecil.
"Ini kenapa beneran rawitnya sebanyak ini ya Dy?"
Ia terheran, sebenarnya Kiki belum pernah memakan ini semua, karena ini juga termasuk jajanan pinggir jalan. Ya orang tuanya tidak pernah melarangnya untuk memakannya, tapi memang ia sendiri tidak pernah mencoba.
Kiki mulai menjelajah satu persatu, mencicipi dan mengomentari setiap rasanya. "Enak." Hanya itu yang ia utarakan dan kembali menyantap.
"Pakai rawit Ki, enak tau." Memamerkan cara memakan dengan rawit. Dan, tentu Kiki juga mau untuk mengikutinya.
"Wah pedas." Mengibaskan tangannya ke arah mulut.
"Huhah." Menirukan naga yang menyembur api dari mulut.
Gelak tawa mereka sudah tak terkendali. Sehingga mengambil perhatian dari sekumpulan anak sekolah lain, yang masih lengkap dengan seragam juga tentunya.
"Pedas ya kak?" Tersenyum ramah.
"Iya ni, biasa anak orang kaya nggak pernah makan gorengan, haha. Sekalinya makan pakai rawit eh malah kepedasan." Melihat wajah Kiki yang memerah karena pedas, Maudy terus saja tertawa sampai perutnya terasa kram.
"Boleh gabung kak?" Merasa omongannya di sambut baik, jadi merasa ngelunjak sedikit boleh lah ya, toh mereka hanya berdua berarti tidak ada pacar, pikir lelaki itu.
"Oh boleh silahkan." Kiki menjawab. Maudy langsung menghentikan tawanya, diam. Tidak setuju sebenarnya dengan Kiki.
"Agam." Mengulurkan tangannya ke arah Maudy.
"Oh iya, Maudy." Menyambut uluran tangannya.
"Aku Kiki." Ikut memperkenalkan diri sebelum di tanya.
"Kalian berdua aja? Pacarnya mana?" Memandang Maudy lalu Kiki.
"Lagi-"
"Nggak punya pacar." Cepat, sebelum Maudy menjawab lebih dulu. Memamerkan pacarnya yang tampan dan juga kaya.
"Oh baguslah."
Bagus? Bagus apanya, maksudnya apa coba! Rese nih Kiki nerima aja orang lain duduk disini.
Ternyata Agam orangnya lucu, baru 10 menit ia duduk, Maudy sudah mengeluarkan air mata karena terus tertawa. Entah apa saja yang di bahas sampai mereka tertawa seperti itu. Agam memandang Maudy kagum.
Cantik, natural. Hanya itu yang ia ucapkan dalam hati.
"Kamu sendiri disini?" Kiki bertanya.
"Enggak, itu sama temen juga." Menunjuk ke arah anak-anak lain.
Kalau sama temennya, kenapa harus gabung sama kita sih? Maudy protes, tapi hanya dalam hati.
Sesi tanya jawab juga mereka lakukan, sekolah dimana, rumahnya dimana, dan juga saat ini sudah kelas berapa. Mereka juga gamblang menjawab setiap pertanyaan Agam.
__ADS_1
Agam, lelaki tampan, tubuhnya kekar. Nampak kalau ia seorang atletis. Anak seorang anggota PNS. Itu sih katanya. Yang berarti sama dengan Maudy, tapi bedanya. Orang tuanya mempunyai usaha lain, cukup lah jika untuk berfoya-foya.
"Aku juga main basket disekolah."
Itu juga Agam jelaskan, pamer atau apa juga mereka tidak tau. Toh, buktinya selama ia berbicara Maudy dan Kiki mendengarkan.
"Kalian bisa datang kok, ke cafe aku. Besok malam, atau nanti malam. Gratis lah buat pelanggan baru."
Oh cafe toh usaha orang tuanya.
"Itu cafe milik kamu atau papa kamu?"
Kelihatannya Kiki tertarik nih.
"Ya punya orang tua aku sih, cuma kalau malam giliran aku yang jaga, jadi ya aku juga ikut ngelola gitu."
"Wuih keren tau nggak gam, masih muda udah belajar berbisnis." Kiki kembali memuji. Maudy hanya diam, tidak berkomentar.
Yang di puji juga semakin besar kepala tuh.
"Jadi kalian mau nggak datang kesana? Aku jamin gratis!" Masih mengharap ternyata.
"Gimana Dy?" Melirik Maudy.
"Ha? Ya terserah kamu Ki." Mengalihkan pandangannya ke ponsel. Melihat ada notif pesan dari Bima atau tidak, dengan merasa kesal Maudy kembali mematikan layar ponselnya. Ternyata Bima belum memberi kabar.
"Boleh minta nomor ponsel kamu? Nanti aku telepon, jadi kalian bisa hubungi aku kalau udah sampe cafe."
Melihat arah Maudy, tandanya Agam memang meminta nomor ponsel milik Maudy.
Perasaan aku belum setuju deh, kok kesannya ngarep banget. Ah tapi nggak apalah, kan dia juga baik kelihatannya.
"Nih catat aja." Menyerahkan ponsel nya ke tangan Agam.
"Dy?" Bima datang! Dari mana asalnya?
Kiki sampai tersedak saat kembali meneguk segarnya es kelapa muda.
"Bim, Bima? Kamu kok bisa disini?"
Bima berbalik langsung pergi tanpa berkata lagi. Ada mendung gelap di hatinya saat ini, bukan ingin menangis, tapi siap mengeluarkan petir yang berada di dadanya. Emosi hampir meluap, tapi Bima tak mampu mengeluarkan itu di hadapan orang lain, apa lagi ada orang yang tak di kenalnya.
"Aku kesana dulu ya." Langsung berlari mengejar Bima. Sementara Agam bingung.
"Itu siapa?"
"Hem, itu pacarnya." Kiki menjawab dengan keraguan.
His, bagaimana ini, pasti bakal berantem deh mereka. Eh pasti hanya sebentar, dan lalu baikan lagi.
Agam masih santai, ia juga tidak merasa bersalah saat ini, jelas lah. Kan tadi ia mendengar sendiri kalau Kiki bilang belum punya pacar.
Bima kembali berjalan menghampiri mobilnya, mobil yang baru saja siap di ganti ban oleh montir. Iya bannya pecah, dan harus menunggu montir datang baru lah bisa di ganti. Bima tidak bisa melakukannya sendiri.
"Bima tunggu." Menarik tangan Bima sebelum masuk ke mobil.
"Bim, maaf tadi aku nggak bilang sama kamu kalau mau kesini."
"Kenapa kamu bisa disini Bim?" Bertanya lagi dan belum mendapatkan jawaban.
"Sayang, maaf."
Luluh Bim, luluh.
"Masuk." Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh Bima.
Saat ini Maudy sudah duduk di sampingnya. Dengan memegang tangan Bima dan menggenggamnya. Sungguh, saat ini Maudy merasa bersalah.
"Maaf sayang." Kembali mengulang kata yang sama.
"Siapa lelaki itu?"
"Itu hanya pembeli lain yang datang, terus dia juga ikut duduk sambil nunggu pesanan." Sedikit berbohong menutupi kenyataan yang sebenarnya.
"Oh iya. Lalu, mana ponsel mu?"
__ADS_1
Mati aku, kenapa sekarang aku takut sekali kalau Bima marah.
Maudy gelagapan. Ia bingung sendiri, harus jawab apa.
"Itu tertinggal di tas Bim."
"Oh. Lalu yang di pegang sama laki-laki itu tadi apa? Bukannya kamu sama dia tukeran nomor ponsel ya?" Dengan sedikit tertawa menutupi kekecewaan nya saat ini.
"Enggak kok Bim, dia cuma minjam karena mau hubungi temannya, iya gitu tadi katanya. Ponsel Kiki lowbet, jadi ya terpaksa ponsel aku yang dipinjam. Lagian kan, cuma minjam Bim, kasian kalau enggak di kasih."
Udah aku duga, kamu pasti akan tetap bodong Dy.
"Ya udah sekarang, kita liat ponsel Kiki ya, lowbet atau tidak." Sudah memegang handle pintu mobil, bersiap turun untuk membuktikan omongan Maudy.
"Bim, Bim tunggu. Udah ya, udah kita pulang sekarang. Kamu antar aja aku pulang ke rumah, biar nanti Kiki yang bawa ponsel aku ke rumah, gimana?"
Bima mengurungkan niatnya untuk turun, pasalnya ia malu karena terlalu ramai. Dan, pastinya Maudy akan kembali bertatap muka dengan lelaki yang tadi. Bima hanya diam saat ini, memegang kemudi mobil. Hanya tinggal menghidupkan mesin, tapi tangannya belum bergerak.
"Bima sayang, maaf. Ampun."
Luluh sih Bim.
"Kenapa, kenapa harus berbohong. Itu udah kebiasaan kamu ya? Apa setiap hari kamu juga bohongi aku? Atau jangan-jangan memang sebenarnya kalian udah janjian mau jumpa disini."
"Bim, pikiran kamu terlalu jauh tau nggak!" Membentak Bima yang saat ini juga masih emosi.
"Dy, kenapa sih. Jujur sama aku, aku tau Dy, aku yang terlalu cinta sama kamu, sementara kamu enggak! Aku tau Dy, tapi nggak gini caranya. Kalau kamu bosan atau apalah, aku tau kamu juga ingin seperti pasangan lain kan, yang bisa bebas pacaran tanpa peraturan ketat dari orang tua? Aku juga ingin Dy, mengukir setiap waktu jadi lebih berharga, bukan diam-diam seperti ini. Aku juga bisa marah kalau kamu dekat sama yang lain, karena perasaan Dy, perasaan aku, apa kamu nggak mikirin? Ya udah, aku tau sekarang Dy, aku sadar diri. Bukan kamu yang nggak pantes buat aku, tapi aku Dy, aku nggak pantes buat kamu. Pergi lah, kamu sekarang bebas." Semua emosi telah Bima ungkapan. Maudy kaget, karena selama ini Bima selalu luluh ketika ia sudah meminta maaf.
Hal ini terjadi lagi, sama seperti ia melawan papanya waktu itu.
"Maksud kamu, kamu mutusin aku Bim?"
Diam, tidak menjawab.
"Jawab Bim!" Mengguncang lengan Bima menunggu jawaban yang pasti.
Bima diam, tangannya ia lepas dari Maudy. Dan kembali memegang kemudi dengan kedua tangannya.
"Baik, oke. Makasih."
Langsung turun dan membanting pintu mobil milik Bima.
Kiki sudah berdiri di depan mobilnya, melihat Maudy yang menghapus sisa air matanya yang jatuh. Sudah di bayangkan oleh Kiki, mereka akan bertengkar hebat.
"Dy?" Khawatir melihat sahabatnya ini.
"Kita pulang sekarang Ki."
Masuk ke dalam mobil. Maudy melihat mobil Bima melaju dengan kencangnya, tanpa turun mencegah atau mengejarnya.
"Ponsel ada di tas kamu, tadi udah aku bawa. Tenang udah aku bayar juga kok." Padahal perjanjian Maudy yang akan traktir hari ini. Tapi Kiki nggak mungkin bahas ini sekarang. Untuk menanyakan bagaimana Bima juga ia urungkan.
Tega kamu Bim. Ah, kali ini aku merasakan patah hati yang sebenarnya.
Flashback.
Bima mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Maudy saat ini. Keadaan yang lagi berduka. Bima sangat ingin sekali ada di sampingnya. Tapi, bagaimana caranya bisa keluar dari rumah.
Dengan terpaksa Bima memohon pada mamanya, merengek agar di beri ijin keluar. Tapi Bima mengatakan yang sebenarnya kalau Maudy masih berduka, dengan menggunakan alasan sebagai teman harus ikut berbelasungkawa.
"Ya udah. Tapi jangan sore kamu pulangnya ya, takut keduluan papa kamu yang sampai rumah."
Bima langsung mengambil kunci mobil, dan berangkat menuju rumah Maudy. Ini sudah ia siapkan, membeli beberapa cemilan untuk kekasihnya itu, dan tidak perlu memberi kabar terlebih dahulu, anggap aja ini surprise, pikirnya. Tapi dalam perjalanan ban mobil pecah, mau tidak mau ia menunggu montir datang yang telah ia hubungi, untuk mengganti ban mobilnya yang pecah.
Bima sengaja iseng membuka GPRS melalui email. Melacak keberadaan Maudy saat ini. Tapi titik itu sangat dekat dengannya, semakin dekat ketika ia membuka titik keberadaannya.
Tidak mungkin Maudy berada disini.
Tapi Bima terus berjalan, dan melihat kalau Maudy bersama Kiki tertawa bersama dengan lelaki lain. Bima juga melihat Maudy menyerahkan ponselnya kepada lelaki asing itu. Dengan cepat ia melangkah. Dan benar, ia tidak salah, itu benar pacarnya.
"Dy." Panggilnya dan Maudy menoleh.
Kekecewaan itu langsung berkabut di hatinya. Rasanya tidak percaya melihat pemandangan di hadapannya ini. Mimpi? Bukan itu nyata. Sakit tapi tidak berdarah.
--_
__ADS_1